Senin, 01 November 2021

Selamat Datang, November

sumber foto: allaboutof.com


Selamat datang, November.

Biar seperti orang-orang, aku pun ingin menyambut hadirmu dengan sepotong basa-basi.

Hari ini, langit yang mula-mula begitu cerah, pada akhirnya takluk pada mendung, lalu hujan benar-benar mengambil alih cuaca.

November dan hujan. Seolah seperti karib yang tampak enggan berjauhan. Dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, guru Ilmu Pengetahuan Alam-ku bilang, Indonesia ini cuma punya dua musim; kemarau dan penghujan. 

Musim kemarau akan datang sepanjang Januari hingga Juni, seterusnya, akan masuk musim penghujan. Semua bulan yang berakhir dengan -ber akan menjadi bagian dari musim penghujan. Salah satunya kamu, November. Tapi kini, akibat anomali cuaca, hal itu sepertinya tidak lagi bisa menjadi patokan. Sama seperti hujan yang bisa datang kapan saja, kemarau pun seperti itu.

Di masa kanak-kanak dulu, aku selalu menantikan hujan. Bermain hujan selalu menghadirkan kesenangan tersendiri, walaupun setelah itu aku akan demam, asmaku kumat. Karena itu pula, Ayah selalu melarangku bermain hujan. Namun, jika hujan turun dan Ayah tidak di rumah, aku akan tetap bermain hujan. Merengek-rengek pada Ibu sampai hatinya luluh. Lalu saat hujan mulai reda buru-buru aku menyudahi dan selanjutnya tidur. Salah satu trik untuk mengelabui Ayah, seolah-olah aku tidak bermain hujan. 

Namun, manakala malam harinya atau esoknya tubuhku mulai memanas dan aku mulai kesulitan bernapas, Ayah akan segera tahu kalau aku pasti bermain hujan. Tetapi Ayah tidak pernah memarahiku, paling-paling cuma mengatakan itulah akibatnya kalau aku tidak mendengarkan amaran mereka.

Selamat datang, November.

Hari ini, saat melihat kalender di gawaiku dan mendapati sudah tanggal 1 November, aku merasa 'takjub' sendiri. Oh, betapa cepatnya waktu berjalan, uhm, padahal aku tahu, waktu itu bukanlah makhluk yang kasat mata, alih-alih punya kaki untuk berjalan. 

Rasa-rasanya, baru kemarin tahun berganti. Rasa-rasanya baru kemarin aku menikmati euforia tahun baru. Tahu-tahu, sekarang kau sudah tiba dan itu artinya enam puluh hari sejak hari ini, tahun akan kembali berganti.

Hari-hari yang begitu amat cepat berjalan, membuatku tak sempat untuk menengok ke dalam nganga luka di hati. Aku berterima kasih pada kesibukan yang telah merenggut sebagian besar waktuku, hingga sedikit sekali waktu yang kupunya untuk meresapi kehilangan. 

Satu hal yang kusyukuri dari waktu yang terus bergerak maju, yakni usiaku yang terus bertambah. Usia yang matang, membuatku kini punya banyak jendela untuk memandangi kesedihan yang terbit dari sebuah kehilangan. Kesedihan, sama halnya seperti kebahagiaan, harus dinikmati dengan paripurna. Kesedihan, yang sering kali hadir karena suatu kehilangan, merupakan jalan untuk membuka pintu bagi yang datang dan menjanjikan kebahagiaan.

Selamat datang, November.

Aku teringat pada sebuah kidung yang mengatakan bahwa tak selamanya mendung itu kelabu. Ya, hanya karena suatu kehilangan, tak lantas dunia jadi berubah muram, kan? Satu kehilangan, harus menjadi pemicu untuk menghadirkan tunas-tunas baru. Aku selalu meyakini, untuk melihat warna dunia, hanya pada bagaimana kacamata diletakkan.[] 



Previous Post
Next Post

Mencintai Pagi seperti Mencintai Zenja

2 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)