Jumat, 27 Juli 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian III

Sejak pertemuan di kafé dikawasan Lamprit sebulan yang lalu aku dan Juan sering berhubungan melalui telepon. Hari-hari ku menjadi lebih menyenangkan lagi, kami menjadi lebih dekat. Aku bisa melampiaskan semua kegundahan hati ku pada laki-laki itu. Terus terang sekian tahun menjalin hubungan dengan Zal membuat ku capek, membuat hati ku lelah karena aku seperti sedang menunggu buah Ara hanyut dari gunung. Dan itu artinya aku harus menunggu hujan besar yang akan mengalirkannya ke hulu. Tapi kapan hujan besar itu datang? Aku sendiri tidak pernah tahu.

Diantara kelelahan dan kesakitan itu aku mendapati Zal tetap menyayangi ku dan mencintaiku dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dan itu membuat cinta ku semakin bertambah besar terhadapnya. Aku semakin hanyut dan gila pada perasaan ku yang tak terbendung. Hanya Zal yang tahu sebesar dan sedalam apa cinta ku pada nya. Karena aku tidak pernah menyembunyikan perasaan dan isi hati ku kepada nya.

Disaat aku sangat menginginkan Zal hadir di dekat ku, Juan muncul dengan banyak kesamaan. Membuat ku sedikit lupa pada Zal, namun disisi yang lain kerinduanku terhadap Zal semakin menjadi-jadi. Namun…diam-diam aku berharap agar Juan selalu hadir dalam kehidupan ku. Selama hubungan pertemanan ini aku merasa nyaman berkomunikasi dengan nya, aku bisa mengekspresikan diri ku apa adanya tanpa perlu menutupi apapun. Hanya satu yang Juan tidak tahu, bahwa aku menyimpan cinta untuk seorang laki-laki, Zal.

Ku sulut sebatang rokok yang dari tadi tergeletak diranjang, asap putihnya mengepul, sebagiannya masuk menggelitik kerongkongan ku dan saluran pernapasan ku, lalu menyembul keluar melalui hidung. Aku sangat menikmati setiap hembusannya yang keluar dari mulut ku. Aku bukanlah perokok berat, hanya sesekali waktu saja bila aku menginginkannya. Disaat malam buta seperti sekarang ini, malam begitu dingin karena diluar sana hujan tengah turun begitu lebatnya. Membuat lorong-lorong menjadi becek dan tergenang, got-got meluap dan memunculkan aroma busuk yang kental dan menusuk hidung.

Sementara itu, gejolak didalam diriku meletup-letup seperti magma yang akan disemburkan gunung merapi, membuat ku hanya bisa meringkuk memeluk lutut disudut ranjang. Mata ku menerawang, memandangi nama Zal yang besar didinding kamar. Pikiranku sedikit menjadi liar. Dengan sebatang atau dua batang rokok ini ku harap yang menggebu-gebu itu bisa normal kembali.

Entah mengapa saat ini bukan hanya Zal yang berputar-putar dibenakku, tapi juga Juan. Laki-laki yang baru ku kenal sebulan yang lalu, tetapi cukup untuk membuat aku menyukainya. Tiba-tiba saj aku jadi sangat ingin bertemu dengannya, mengobrol apa saja yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Agar hati ku benar-benar rileks.

Juan…kembali aku memikirkannya, rasa penasaran ku kepadanya semakin besar dan menjadi-jadi. Dimana aku pernah melihatnya?

Dengan sedikit berdebar aku meraih hand phone dan menekan nomor ponselnya seperti yang tertera di kartu namanya. Selama sebulan ini hanya Juan yang rutin menghubungi ku, sedangkan aku sekalipun tak pernah menghubungi ataupun mengirimkan pesan untuknya. Entahlah, aku merasa bersalah setiap kali melakukan interaksi tak biasa dengan laki-laki selain Zal. Aku merasa seperti mengkhianati cinta ku sendiri.

Tapi…apakah Zal merasa begitu terhadap ku? Aku tidak pernah tahu, dan tidak mau tahu. Karena, walaupun ia begitu tetap tidak artinya bagi ku, jauh sebelum aku hadir dalam kehidupannya ia sudah mempunyai dunia sendiri. Sayang dan cinta Zal memang aku butuhkan, tapi mengharapkannya bisa bersama ku adalah mimpi. Mimpi besar yang tidak pernah terwujud. Dan aku tak peduli apakah Zal peduli atau tidak pada ku.

“Halo” kata ku begitu saluran telepon tersambung

“Ya, Halo juga. Sayang apa kabar?

“Baik, abang apa kabar?”

“Baik juga. Tumben nih telfon abang. Ada apa?”

“Kepingin ngobrol saja.”

“Abang masih dijalan, nanti abang telepon kamu ya? Sedang nyetir nih, ntar nabrak trotoar lagi heheh…”

“Okay kalau begitu, aku tunggu.”

Aku menunggu Juan menghubungi ku hingga larut malam, nyatanya sampai pagi tidak sekalipun nada dering di hand phone ku berbunyi. Aku menjadi semakin gelisah, jangan-jangan Juan benar menabrak trotoar, apalagi semalam hujan lebat, bisa saja itu membuatnya susah melihat ruas jalan dan mengakibatkan dia menabrak tiang listrik atau tembok. Berbagai macam kemungkinan berseliweran dibenakku.

Hingga matahari setinggi dhuha aku masih menunggu kabar darinya, tapi satu pesanpun belum ada yang masuk. Aku mencoba menghubunginya, masuk. Tapi tidak ada yang mengangkatnya. Ku coba kirim pesan menananyakan kepastian kabarnya, tidak ada balasan. Aku jadi semakin cemas, sekaligus kesal.

Keinginanku untuk bertemu dengannya hilang sudah. Mengalir bersama air hujan menuju lorong-lorong rendah dan berkelok. Sebatang rokok kretek kembali menjadi teman setelah sarapan pagi ini. Aku tahu itu tidak baik, tapi disaat-saat sepi seperti ini kepulan asap putihnya kerap kali menjadi mainan bibir yang menyenangkan. Mengamai gelembung-gelembung pintalan asapnya tak ubahnya seperti menyaksikan mainan puzzle yang menegangkan dan membuat senang. Membuatku lupa pada apa yang seharunya tak boleh ku pikirkan saat itu.

Masih dengan kecemasan yang besar ku coba redial nomor Juan, tersambung tapi tetap saja tidak ada yang mengangkat. Ku coba sekali lagi, kali ini tak lupa dengan selipan basmalah sebagai pengantarnya.

“Halo”

“Abang apa kabar?”

“Pak Juan sedang meeting.

“Ini siapa?”

“Saya Romi, anak buahnya,”

“Pak Juannya ada dimana sekarang?”

“Sedang di Bandung”

“Terimakasih kalau begitu,”

Aku menghela napas berat, kekesalanku semakin bertumpuk-tumpuk. Aku semakin tidak mengerti dengan dirinya, semalam ia masih berada di Banda Aceh, pagi ini sudah berada diluar kota. Mengapa Juan tidak pernah bercerita tentang ini kepada ku? Mengapa ia tidak memberi tahu ku?

Aku bangkit dan menyeruput susu coklat yang tersisa digelas sampai habis. Jarum jam di dinding sudah berada tepat di pukul sepuluh pagi. Aku harus bersiap-siap untuk beraktivitas. Juan dan Zal sama saja, sama-sama membuat ku bisa mengagumi mereka tapi juga sama-sama membuatku sakit dan gila. Hidup ini terlalu banyak warna, akankah aku bisa selalu menjaga agar hati ku selalu biru?

Bersambung…

Kamis, 26 Juli 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian II


Langit diatas bumi Banda Aceh tampak berkerlipan, bintang gemintang membentuk garis-garis yang unik, bulan muncul dengan sangat indahnya, disampingnya lingkaran agak kebiruan menghiasi, selayaknya seperti pagar yang melingkari tanaman hias yang paling indah. Atau mungkin seperti anak gadis yang dilingkari keimanan dari ganasnya alur kehidupan.

Ku ayunkan kaki untuk terus melangkah, menyusuri jalan dan masuk ke sebuah warung kopi langganan ku. Aku suka menyebut tempat ini sebagai warung, walaupun diplank namanya tertulis Café Kita dengan ukuran yang besar. Hingar bingar musik langsung menyambut kedatangan ku. Suara gelak tawa dan riuh tamu-tamu membuatku sengaja mengambil tempat dibelakang. Café ini terdiri dari dua ruang utama, dibagian depan dan bagian belakang yang digunakan sebagai lesehan, disinilah biasanya aku sering menghabiskan waktu sampai berjam-jam bila tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Duduk menikmati secangkir espresso yang kental dan nikmat dengan padanan pisang goreng keju adalah menu favorit ku bila berkunjung ketempat ini. Tak ayal, karena terlalu seringnya aku berkunjung ketempat ini, pelayannya tak perlu lagi bertanya aku memesan makanan atau minuman apa. Mereka akan langsung menyodorkan ku dengan kedua jenis makanan tadi.

Kembali aku menyeruput minuman ku, sembari itu pandangan ku masih belum beranjak memandangi seorang laki-laki yang duduk disudut ruangan. Wajahnya tidak terlalu putih tapi menurutku ia cukup pandai merawat dirinya, terbukti dari kulit wajahnya yang bersih dan mulus. Tak ada sebutirpun jerawat menghiasi pipinya yang bulat. Kami saling beradu pandang sesaat, aku tak sempat lagi membuang pandangan ku. Hati ku sedikit tak enak karena ketahuan memandanginya secara diam-diam. Tapi apa peduli ku, hati ku tak cukup gembira untuk terus memperhatikan laki-laki itu.

Pisang goreng renyah itu hanya tinggal dua potong lagi didepan ku, sementara laki-laki dipojokan sana belum juga ada tanda-tanda untuk segera pergi. Ia sepertinya sedang menunggu seseorang, tetapi tidak ada tanda-tanda keresahan, padahal sudah sangat lama ia berada ditempat ini. Barangkali jauh sebelum aku tiba. Atau sama seperti diriku, ia tengah menyepi dari berbagai persoalan hati yang tak kunjung reda.

Aku menghela napas, dan sekali lagi kami beradu pandang. Aku mencoba menarik segaris senyum dan laki-laki itu membalas senyum ku. Senyumnya begitu indah dan menawan. Hati ku sedikit bergetar.

“Kamu sendirian?”

Laki-laki itu tiba-tiba sudah berada didepan ku. Aku terhenyak.

“I…iya…” jawab ku terbata. Sama sekali tidak menyangka dengan kehadirannya. “Silahkan duduk,” Lanjut ku lagi melihatnya masih berdiri.

Laki-laki itu menurut, ia duduk didepan ku. Wajahnya tampak bersahabat.

“Kenalkan saya Juan.” Ia mengulurkan tangannya dan menjabat tangan ku dengan hangat.

“Saya Jingga,”

Diam-diam aku meneliti raut wajahnya, entah dimana, tapi aku seperti pernah melihat wajah itu. Alisnya yang tebal, sorot matanya yang tajam, semua itu seperti aku kenal. Tapi dimana?

“Kamu sepertinya sedang tak bergembira, ada sesuatu yang sedang mengganjal hati mu?” tanyanya lagi, dan lagi-lagi membuat ku terhenyak.

Aku tak menjawab, sebaliknya malah membuang pandangan keluar ruangan, memandangi langit yang penuh dengan kerlipan bintang dan pijar bulan yang indah menyala. Wajah Zal seperti hadir disana, menyenyumi hati ku yang gelisah.

“Tidak ada, aku hanya sedang ingin makan pisang goreng ini lagi, tapi perut ku sudah kenyang.” Jawab ku seadanya.

Laki-laki yang mengaku bernama Juan itu hanya diam, memandangi ku seolah seperti menyelidik. Membuat ku agak nervous dan jadi salah tingkah. Aku sedang tidak ingin dipandangi seperti itu.

“Atau kamu sedang menanti seseorang?” tanyanya kemudian.

Aku masih diam. Tidak ada yang perlu dijawab, apalagi soal penantian. Sesungguhnya setiap malam bagi ku adalah penantian. Penantian yang tidak pasti dan tidak menantu. Aku lelah dan bosan dengan semua itu. Tapi apakah aku perlu menceritakannya pada lelaki yang baru ku kenal ini? kalau pun ia tahu, toh tidak akan ada yang bisa ia lakukan untuk ku selain memberi nasehat. Jangan begini, jangan begitu, dan aku sudah bosan dengan jutaan atau mungkin juga trilyunan kata tidak yang ku terima saban harinya sepanjang usia ku.

“Oke ngga apa-apa kalau kamu belum mau cerita, tapi ku harap kamu tidak keberatan berteman dengan ku. Jangan khawatir saya tidak berniat jahat, dan ku pikir kamu cukup besar untuk menentukan diri mu sendiri.”

Aku mendongak, membalas tatapan matanya yang tajam dan bersinar, segaris senyumannya membuat gelisah dan gunda dihati ku menghilang. Laki-laki ini ada benarnya juga.

“Saya seperti pernah melihat Abang.” Kata ku singkat.

“Oh ya? Dimana?”

“Nggak tahu, saya lupa, tapi…wajah abang sangat familiar sekali dimata ku.”

“Ya sudah, jangan dipikirkan, apa dan siapa kita biarlah diri kita yang tahu, yang penting kita berteman.”

“Okay”

Diam-diam aku mengamati wajah Juan dengan teliti, hati ini seperti ditarik dengan magnit untuk terus memandanginya sambil diiringi dengan obrolan-obrolan kecil yang ringan. Juan banyak bercerita tentang dirinya, tentang pekerjaannya dan tentang kehidupannya sehari-hari. Sementara aku hanya bercerita tentang pekerjaan ku sehari-hari, aku belum berani menceritakan latar kehidupanku lebih jauh lagi. Apalagi pada Juan yang baru ku kenal.

“Jingga senang berteman dengan abang. Ngomong dengan abang enak dan nyambung..”

“Kamu juga menyenangkan, setidaknya untuk anak sekecil kamu, kamu sudah hebat bisa mengikuti pola pikir ku. Kata sebagian orang cara berfikir ku aneh, atau mungkin juga mereka yang aneh heheh…”

Juan tertawa. Aku juga. Yah, ku akui memang beberapa tema yang diangkatnya lumayan berat dan terdengar janggal. Tapi ku pikir itu adalah bagian dari ekspresi berfikirnya sebagai seorang yang diberi akal dan pikiran oleh Allah.

“Aku tidak terlalu suka formalitas, jadi setiap berkenalan dengan orang aku tidak telalu menghiraukan latar belakangnya, siapa dia dan apa pekerjaannya, bagi ku baik buruknya seseorang tidak ditentukan oleh semua itu.”

“Ya, aku suka cara berfikir mu. Moderat.”

“Sudahlah, jangan terkungkung dengan istilah-istilah itu, kita adalah seperti apa yang kita pikirkan, sepakat?”

“Oke, sepakat Jingga.”

Makin lama ngobrol dengan Juan terasa semakin menyenangkan, ia cukup fleksibel dan mempunyai wawasan yang luas. Selain itu aku juga kagum dengan sosoknya yang tenang dan penuh percaya diri. Dalam beberapa hal ia mempunyai kemiripan dengan Zal, caranya berbicara, tertawanya, selorohannya. Ah…Zal lagi Zal lagi.

Tapi sayang waktu di Hp ku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Padahal aku masih ingin berlama-lama dengannya. Aku harus segera pulang karena besok harus pergi pagi-pagi sekali. Aku berpamitan pulang pada Juan, tapi diluar dugaan ku ia menawarkan untuk mengantar ku pulang. Aku berusaha menolak. Tapi Juan memaksaku dengan alasan sudah terlalu malam. Akhirnya ku terima juga tawarannya. Kami berpisah setelah ia memaksa ku sekali lagi memberikan kartu nama ku padanya.

Bersambung…

Yang "Mendung" di Hari Anak Nasional 2007

Yang "Mendung" di Hari Anak Nasional 2007
"Tersenyumlah Kalian....Meski Kegetiran Tak Dapat Kau Sembunyikan"

Adalah Putra Alfredo (15) dan adiknya Jaka Saputra (13), disaat teman-teman sebayanya tengah asyik merayakan peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2007 yang lalu, kedua kakak beradik ini justru sedang asyik mengais-ngais gundukan sampah disekitar Taman Sari Banda Aceh. Botol-botol bekas air mineral mereka kumpulkan didalam karung besar untuk kemudian ditukarkan dengan uang kepada para penadah barang-barang bekas.

Ketika satu demi satu perlombaan diikuti oleh ratusan anak dari wilayah Banda Aceh dan Aceh besar, kedua bocah tersebut hanya bisa mengamati dari jauh. Niat hati ingin bergabung bersuka ria, tetapi saat menyadari mereka adalah kumpulan yang “terbuang” niat itupun hilang. Alfredo dan Jaka menggulung senyumnya bersama bibir karung yang kehitaman. Menguap bersama rintik-rintik hujan yang turun dari langit. “Kami malu Kak, ngga berani gabung dengan anak-anak itu,” ucap Jaka saat ditanyai oleh Crah (23/7).

Senyum tetap mengembang dibibir mereka, senyum yang lepas namun tetap saja hawa kecemburuan terpancar jelas dari sorot mata keduanya. Keinginan untuk bermain seperti teman-teman sebayanya membuat mereka harus berfikir seribu kali lagi untuk mengikutinya. Baying wajah adik-adik dan orang tuanya dikampung halaman menjadi alasan utama mengapa mereka tetap memilih memunguti botol-botol bekas air mineral.

Raut wajah penuh debu, jari-jemari yang kotor, kuku yang kehitaman, serta tubuh yang lelah dan pakaian yang tidak layak pakai membuat mereka terlihat berbeda dari ratusan anak lainnya yang terlihat rapi, bersih, dan wangi. Ditangan mereka menggantung karung besar yang berisi barang-barang bekas, sementara anak yang lain menenteng berbagai jenis makanan dan mainan, senyum Jaka dan Alfredo tertambat pada garis kehidupan yang getir.

Saat diatas panggung utama panitia mendeklarasikan Aliansi Lembaga Perlindungan Anak, kepada wartawan Crah kedua anak ini justru tengah menceritakan kepiasan hidupnya. Sesungguhnya ia baru satu minggu menginjakkan kaki di Serambi Mekkah ini, menyusul abangnya, Satrio yang sudah berada setahun disini. Seolah tak ingin ketinggalan kereta mereka langsung mendeklarasikan diri sebagai pemungut barang-barang bekas. Hasil dari menjual barang-barang tersebut akan dikirimkan kepada orang tua mereka yang saat ini berada di Sumatera Utara, tepatnya di Desa Sawit Sebrang, Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Keperihan hidup bukan hanya sekali ini saja mereka alami, pada tahun 2000 lalu saat konflik sedang bergejolak dinegeri ini keluarganya terpaksa pindah ke Sumatera Utara sampai sekarang. Ironisnya disana mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga kesulitan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Hidup dengan kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, sementara kebutuhan hidup sangat besar, Jaka masih mempunya tiga adik lagi yang masih kecil-kecil. Kondisi ini tentu saja membuat kondisi keluarga mereka menjadi tidak beraturan.

Jaka dan Alfredo terpaksa putus sekolah, kenyataan yang tak pernah diharapkan oleh anak manapun. Padahal, satu dari tigapuluh satu hak anak yang tengah diperjuangkan adalah hak untuk mendapatkan pendidikan, selain tentu saja hak untuk hidup layak, hak untuk dilindungi dan sebagainya. “Kami ingin sekali sekolah, tapi ya gimana Kak, nggak ada biaya, bayar uang sekolah kan mahal.” Tutur Alfredo mengutarakan kegundahan hatinya. Alfredo sedikit lebih beruntung, ia berhasil menamatkan hingga bangku sekolah pertama, sedangkan Jaka hanya bisa mengenyam sampai tamat sekolah dasar.

Dengan pekerjaan barunya di Banda Aceh ini, kedua kakak beradik ini mampu mengumpulkan hingga lima puluh ribu rupiah perharinya, semuanya tergantung dari kerja keras dan banyaknya botol minuman yang mereka kumpulkan. Dari uang itulah mereka hidup, dan menghidupi keluarganya.

Anak-anak tersebut juga menceritakan perihal teman-temannya yang juga berprofesi sebagai pengumpul barang-barang bekas, padahal orang tuanya terbilang mampu, mereka ada yang pegawai negeri dan tentara. Anak-anak itu sebagiannya dikoordinir oleh preman setempat, setengah dari hasil yang mereka dapatkan harus diserahkan kepada preman tersebut.

Cerita Alfredo dan Jaka membuktikan bahwa eksploitasi anak masih berlangsung ditengah-tengah kita, lebih daripada itu, juga membuktikan bahwa masih ada sebagian orang tua yang tak peduli pada perkembangan anak-anaknya sehingga semakin memperbesar celah dan melebarnya eksploitasi anak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dipenghujung obrolan, saat Crah menanyakan apakah mereka tahu bahwa tanggal 23 Juli adalah tanggal keramat bagi mereka? Serentak kedua anak-anak tersebut menjawab tahu tetapi saat ditanya apa harapan mereka kedepan keduanya sempat terdiam sesaat. Mata kecil mereka memandang iri kepada teman-temannya yang tengah berlarian ditaman. “Kami tidak punya harapan, Kak.” Jawab Alfredo sambil tertawa kecil. Sedangkan Jaka masih mempunyai harapan meskipun harapan itu adalah bagaimana hari ini ia bisa memperoleh botol bekas sebanyak-banyaknya.

Akankah kita masih menemukan hal serupa pada perayaan yang sama pada tahun-tahun berikutnya? Sebelum berpisah, dengan sedikit khawatir mereka berpesan agar cerita tentang mereka jangan sampai ke kampung halamannya. “Kami malu Kak, apalagi kalau orang kampung kami tahu, mereka suka menghina kami, apalagi kalau tahu kami kerjanya begini (pengumpul barang bekas-red).” Ujar keduanya lirih. (Ihan)

Minggu, 22 Juli 2007

Meretas Jalan Menuju JIngga Bagian I


Dihati ku yang setengah beku ini, telah terlanjur terukir namanya, terukir dengan pahatan-pahatan terindah selama waktu aku mencintai seseorang dalam hidupku. Dicat dengan pelitur-pelitur kerinduan yang takkan pernah terkelupas hingga ujung usiaku. Namanya tetap disini. Dihati ku. Zal!

Bilapun suatu hari nanti Tuhan mentakdirkan ku hidup bersama laki-laki lain, aku sendiri tak yakin apakah nama yang telah terpahat indah itu bisa luntur atau mengabur. Ataukah kenangan yang telah terlukiskan itu bisa dihilangkan dengan tiner kehidupan yang lain. Yang pasti, aku takkan pernah bisa memotongi kuku-kuku Zal seperti yang pernah ku katakan pada nya, atau menjadi makmum dibelakangnya saat kami sholat berjamaah, lebih daripada itu takkan pernah ada keceriaan dari halaman belakang rumah kami, atau rebutan buku dari pustaka mini yang ada dirumah kami seperti yang pernah kami mimpikan bersama. Semua itu hanya mimpi dan akan menjadi mimpi selamanya.

Sebab Tuhan hanya mentakdirkan kami saling menyayangi, saling mengasihi, merindui, mungkin juga mencintai tapi bukan untuk memiliki satu sama lainnya.

***

Sudah pukul dua malam lebih seperempat, tetapi belum sedikitpun rasa kantuk menghinggapi kedua mata ku. Bisa jadi karena pengaruh kopi yang kuminum sore tadi, bisa juga karena aku tengah menunggu sesuatu. Yah, sesuatu yang ku tunggu dimalam hari yang tengah menjadi rutinitas ku selama dua tahun lebih. Menanti-nanti jika saja ditengah malam buta ini akan ada satu panggilan ataupun pesan yang masuk ke hand phone ku. Sepatah dua patah kata cinta dari seorang lelaki yang ku panggil kekasih seperti yang ia kirimkan pada malam-malam yang telah lalu.

Aku akan sangat girang jika itu benar terjadi, tersenyum-senyum sendiri, bahkan saking girangnya kadang aku sampai mencium kata-katanya yang tertera dilayar Hp. Membaca berulang-ulang kalimat yang ia sampaikan. Lalu setelah itu aku tertidur dengan hati damai dan lega, bibirku tersenyum, hati ku menabur bunga ke seluruh pelataran hati ku, tak lupa ku sampaikan isyarat pada malam agar ia kembali menyampaikan salam rindu ku pada kekasih yang jauh disana. Agar ia tahu aku selalu mencintai nya, dengan kondisi apapun.

Tapi bila itu tidak terjadi, maka seperti sekarang lah aku. Hanya bisa memandangi namanya yang tersimpan di phone book ku. Mata ku berkaca-kaca menahan kecewa dan marah, sekaligus kerinduan yang membuncah dalam jiwa, hati ku bergejolak, meletup-letup seperti magma yang akan menyembul dari balik kawah gunung merapi. Aku meradang, tangis ku semakin menjadi-jadi, isak tangis ku berkolaborasi dengan suara hujan yang turun melahirkan gemericik diatas bebatuan. Bantal-bantal diatas tempat tidur menjadi pelampiasan ku, mengganggapnya serupa dengan Zal hingga aku memukulnya berkali-kali.

"Biar abang saja yang menghubungi kamu bila ada kesempatan, kamu harus janji untuk tidak pernah menghubungi abang ya?"
"Jingga janji..."

Pesannya yang satu ini akan selalu ku ingat sampai kapan pun, tak pernah sekalipun aku berniat untuk melanggar perjanjian itu. Kalaupun sekali waktu aku terlanjur menghubunginya tak lain adalah karena rasa rindu yang tak sanggup ku bendung lagi. Rasa rindu yang berlebihan yang kadang hampir mengejawantahkan akal sehat ku sendiri. Itupun dengan harap-harap cemas yang sampai membuat ku berkeringat. Ketakutan-ketakutan kecil yang membuat ku gemetar saat menekan dial di hand phone ku. Dilengkapi dengan letupan-letupan kecil dalam hati yang beriak menanti-nanti suara siapa yang menjawab diseberang sana, suara khas bariton nya kah atau suara nyaring milik perempuan.

Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan beberapa langkah menuju saklar lampu yang terletak didekat pintu. Beberapa detik kemudian lampu neon yang menggantung diatas plafon menyala. Ku pandangi seluruh tubuh ku didepan cermin besar yang terletak berseberangan dengan tempat tidur. Aku sengaja mengaturnya demikian, supaya bila aku bangun tidur aku langsung dapat melihat tubuh ku yang utuh.

Tubuh ku terlihat lebih kurus, berat badan ku memang turun lima kilo, tapi tetap saja masih terlihat berisi untuk postur tubuh ku yang tidak terlalu tinggi ini. Sisa-sisa air mata masih berbekas dipipi ku. Mata ku sembab dan basah. Kepala ku agak berdenyut dan pusing.

Kembali aku melirik benda mungil yang tergeletak diranjang, untuk kesekian kalinya aku berharap ia berdering malam ini. Berharap kekasih ku menyampaikan sesuatu kepada ku. Seperti yang ia janjikan tadi siang saat aku menghubunginya. Entah sudah berapa banyak rindu yang tertimbun dalam relung jiwa ku, bermain-main dengan cinta yang semakin hari semakin besar, semakin aku menyadari diantara kami terbentang jarak, semakin bibit cinta itu tumbuh menjadi besar dan tinggi. Melewati sekat-sekat waktu yang pernah aku tancapkan sebelumnya. Saat pertama sekali kami mendeklarasikan cinta dihati masing-masing.

"Aku hanya akan mencintai abang sampai batas waktu tertentu, yang pada waktu itu nanti, hubungan kita akan kembali seperti semula, aku sebagai adik mu dan abang sebagai abang ku. Tak lebih dari itu. Tak boleh lagi ada perasan lain selain itu." Kata ku suatu hari, pada waktu-waktu yang telah lalu saat kami tengah membicarakan tentang status hubungan kami. Dan itu memang tekad ku. Tak akan menikahinya dan tak mau dinikahi oleh nya. Aku akan mencari laki-laki lain yang akan memainkan peran berikutnya dalam kehidupan ku. Saat itu aku berpikir, melupakannya jika waktu itu telah tiba adalah sesuatu yang amat mudah, aku tak pernah berfikir cinta ku akan sebesar ini pada nya.

Tapi saat aku merasakan batas waktu itu telah cukup, justru saat itulah aku merasakan puncak mencintainya dengan teramat sangat. Aku tak bisa menggambarkan sebesar apa cinta ku pada nya. Dalam beberapa hal terkadang aku menyadari, terlalu berlebihan memperlakukannya bagai raja dihati ku, sementara pada saat yang bersamaan aku yakin puncak cintanya bukan untuk ku. Tapi untuk yang lain. Tapi entah mengapa aku merasa harus mengikuti pesan-pesannya, membeli pakaian seperti warna yang disukainya, membuatkan sesuatu seperti yang dimauinya.

"Dan memang aku tidak pernah berharap apapun dari hubungan ini bang, aku hanya ingin memastikan abang sayang dan cinta pada ku. itu sudah cukup." kata ku suatu sore.
"Abang selalu sayang sama kamu Jingga, kamu adalah adik yang paling abang sayangi, dan juga...abang cintai."


Itu sudah cukup bagi ku. Aku tak ingin lagi mendengar apapun setelah itu. Hanya itu yang paling berharga bagiku, kamu menyayangi ku.

Air mata ku kembali jatuh mengingat semua itu. Terbayang kembali obrolan-obrolan kami yang riang, tawanya yang nyaring, nasihat-nasihatnya yang bijak, kata-katanya yang romantis dan penuh pesona. Kemana semua itu? Kemana ia sudah dua bulan ini? Tak pernah kah ada sedetik pun waktu untuk menghubungi ku? Mengapa ia diam, mengapa ia bisu, apakah ia sudah lupa pada ku? Pada Jingga kecil yang telah berani jatuh cinta pada laki-laki yang dua kali lipat diatas usianya? Apakah ia sudah lupa pada pekik kecil ku ditelinganya berkali-kali, aku rindu, aku cinta, dan aku sayang pada nya?

ku hempaskan tubuh ku kembali ke ranjang, dengan tangan gemetar ku coba untuk menekan nomornya. Tapi belumpun tersambung aku sudah menekan tanda end di keypad.

"Aku harus kuat. Aku harus bisa!"

Ucap ku berkali-kali dalam hati. Akan ku jaga janji ku sekuat aku bisa. Apakah termasuk dengan menyakiti perasaan sendiri seperti ini? Bukan kah tadi siang Zal berjanji akan menelepon ku malam ini? Lalu apa salahnya bila aku mengingatkannya, mungkin ia terlupa, mungkin ia tertidur, mungkin ia sedang bersama temannya, atau mungkin pula...Zal hanya berbohong. Ia hanya ingin menyenangkan hati ku, membuat ku tersenyum sebentar lalu kembali menangis seperti ini.

Maka kembali benda mungil itu tergeletak disamping ku. Dengan malas ku tarik selimutku hingga sebatas dada. Dengan kemarahan yang merajai hati masih sempat ku lirik namanya yang tergambar besar dikertas ukuran A2. Ku coba hibur diri ku dengan menghadirkan semua hal yang indah-indah saat bersama Zal.

Sebenarnya aku tahu bila saat ini Zal belum bisa menghubungi ku, masih banyak kerikil-kerikil kecil yang aku ataupun Zal lalui untuk sekedar mengirimkan pesan kepada ku. Tapi rindu yang besar ini, siapa yang bisa menahannya untuk tidak berubah menjadi tangisan yang besar? Aku nyaris seperti ikan yang terhempas ke darat, terengah-engah dan terkapar tak berdaya. Jika saja Zal tahu....



bersambung...



Sabtu, 21 Juli 2007

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak
7 kata keramat yang diusung sebagai tema Peringatan Hari Anak Nasional 2007 ini, kumpulan kata yang mempunyai makna dan arti yang sangat luar biasa, sebagai bentuk apresiasi paling tinggi terhadap hak anak dan kesempatan untuk memberikan ruang berekspresi positif yang tak terbatas kepada mereka. untuk memperoleh cinta dan kasih sayang yang layak dari orang tua, teman, lingkungan, bahkan negara. untuk berkreasi dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan apa yang mereka kehendaki, untuk menentukan alur kehidupan, menentukan masa depan, memilih orang yang dicintai, memilih untuk berkarya....memilih untuk bertahan.

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

Aku bukan sedang ingin menceritakan tentang anak-anak yang tengah berlomba makan kerupuk, ataupun berlomba memancing botol, membawa kelereng dalam sendok, membaca puisi ataupun menari diatas pentas sana. bukan tentang semua itu, karena ditengah keramaian ini aku juga sedang merayakan hari anak ini untuk ku sendiri, sambil memasang foto-foto kegiatan yang telah kami lakukan selama ini, sambil memasang lukisan-lukisan anak didinding, sambil memakan kue yang diberikan panitia, dan terakhir dengan catatan kecil untuk menuliskan sesuatu diatas kertasnya yang putih.

aku, hingga sampai umurku ditelan bumi pun nanti tetaplah aku seorang anak. maka pantaslah bila aku juga ikut menikmati suasana keriaan hari anak ini. sekali dalam umur hidupku, menyadari benar bahwa hari ini adalah hari anak. dimana yang menjadi prioritas setiap orang adalah membuat anak-anak menjadi bahagia, yah entah itu dengan lomba makan kerupuk, lomba memancing botol ataupun mewarnai. tapi aku? dengan apa aku membuat diriku sendiri bahagia? paling tidak untuk hari ini saja.

adalah cinta, karena hanya itu yang membuat ku terus hidup sampai hari ini. cinta yang dikiriman oleh orang-orang melalui cara yang kadang aku sendiri bingung mengapa harus dengan cara itu.

Hari Ini Aku Punya Hak,

memutuskan apa saja tentang hidup ku, memutuskan untuk mencintai siapa dan memilih hidup bersama siapa. memutuskan untuk mengukir nama siapa dan memilih badan yang mana. hati ku sudah memutuskan itu, dan aku tetap mencintainya.

Selasa, 17 Juli 2007

"Curhat"

"Curhat"
"Ada hal yang sampai sekarang tak pernah ku ceritakan pada mu sampai hari ini , Bi. kita memang dekat, tapi bukan berarti semua tentang ku kau harus tahu kan?" kata ku
sebuah perbincangan seru sepertinya akan segera dimulai, sebelumnya tak pernah kita bicara dari hati ke hati dengan sangat dalam seperti sore menjelang magris saat itu. tepatnya aku yang tidak pernah terbuka pada mu, karena memang begitulah aku, lebih senang membicarakan itu disaat aku bahkan barangkali sudah tak mengalami lagi hal itu. seperti saat ini.
kau menatapku dalam dan penuh selidik, "apa yang aku tidak tahu tentang mu?" tanya mu pada ku. aku hanya menunduk. sengaja membuat mu penasaran dan bertanya-tanya. dan dengan usil kau pun menggelitik-gelitikkan paha ku, memaksaku untuk berbuka suara. tapi aku masih belum bergeming. lalu, kembali kau menceritakan kisah mu yang sebagian sudah ku ketahui dan sebagiannya lagi belum. jarak yang jauh, waktu yang terbatas, dan pulsa Hp kita yang sering tersendat-sendat membuat komunikasi kita ikut tersendat pula.
"Pokoknya selama enam bulan terakhir ini sangat banyak kejadian-kejadian yang ku alami, perselisihan ku dengan kakak ipar ku, persoalan cinta ku yang unik dan lucu."
mata mu ku lihat memerah, hal pertama yang kau ceritakan juga membuatku sedikit ingin menangis. tega-teganya kakak ipar mu begitu, pikir ku. kakak ipar mu adalah bibi ipar ku, sebab ia menikah dengan abang mu, paman ku. umurnya sebaya dengan kita, tapi sikap kekanakannya masih juga belum hilang meskipun ia sudah bersuami dan mempunyai anak.
"Menggendong anak saja masih belum bisa," kata-kata itu ku dengar dari bibi yang lain malam kemarin saat aku menginap dirumahnya. kebetulan saat sedang tidur aku terbangun dan mendengar obrolan nenek dan bibi, istri paman ku yang lain. kata-kata tidak enak itu masih ditambah dengan ujung yang lain yang tidak kalah kecut nya. "Percuma saja dia sekolah tinggi, di keperawatan lagi, bila mengurus anak saja tidak bisa, kasian anaknya."
kembali kecerita kita
"Sebenarnya aku sudah lama menjalin hubungan dengan Zal. sudah dua tahun lebih." kata ku tanpa ba bi bu dan tanpa pengantar yang baik
"Kamu lebih parah lagi tuh...!!!" komentar mu setengah serius.
"Tapi jangan bayangkan yang macam-macam, kau kan tahu, aku dimana dan Zal dimana." ralat ku cepat-cepat tak ingin ia berburuk sangka. semua tentang Zal ia memang tahu, satu yang ia tidak tahu bahwa aku dan Zal punya hubungan istimewa.
"Tapi sekarang aku sangat ingin melupakannya, dan aku ingin hidup 'normal'. ingin melupakan bahwa aku pernah mencintai laki-laki beristri dalam hidupku, pernah sangat mencintai seseorang melebihi mencintai diri ku sendiri. tapi, aku sendiri tak yakin untuk itu."
kau tak ada komentar, hanya diam. sama seperti ku kamu juga bingung. meski kau tak katakan tapi sorot mata mu sudah menjelaskan itu.
"Percayalah, aku takkan jahat. cepat atau lambat aku akan meninggalkan dia meski dan dengan tanpa kerelaan yang utuh."
"kau pernah bertemu dengannya?" tanya mu tersenyum geli
"pernah,"
"hm... kalian melakukan apa saja?"
"apa yang terjadi diantara kami, biar aku dan dia saja yang tahu. tak perlu ku ceritakan kepada mu. aku yakin, kau pun akan mengerti mengapa kami melakukan itu."
"itu akan membuat mu lebih tak sanggup melupakan dia,"
"tapi dengan begitu aku telah merasai puncak mencintainya, begitu juga sebaliknya."
"kita sudah sama-sama dewasa, yang penting tahu konsekuensinya. dan satu lagi, siapa itu My Honey?"
"dia orang jauh, malam kemarin aku telah berbicara dengan ibunya. tapi aku juga tidak yakin dengan semua itu..."
"dia terlalu muda untuk mu, ya sudah, jadian saja dengan duda itu...."
"hahahahahhaha....itulah yang tengah ku pikirkan."
"rlgjeogelntlerj254075gndlfkhwehr;k2"
"galrehrg?;typ21yklur422@"