Rabu, 14 Januari 2009

Jejak

Jejak
Angin kecil yang berubah menjadi beliung besar tidaklah terjadi dengan sendirinya, begitu juga hujan yang mengikis seluruh tanah dan kerikil. Kepompong yang pada akhirnya memilih menjadi kupu-kupu, juga manusia... yang memutuskan menjadi salah satu dari kumpulan warna-warna...



seperti pohon besar, yang pada awalnya hanya kecambah dari biji kecil yang nyaris tidak terlihat, lalu tumbuh dan berkembang, membentuk daun dan ranting, menjadi cabang yang kokoh dan besar, sehingga mampu menjadi tempat berteduh bagi para musafir.


lalu, seperti apa bentuk lara itu sendiri? seperti daun-daun berguguran, karena memang sudah masanya gugur, atau seperti kuncup yang patah karena kepakan sayap yang terlalu kuat.


lalu, bila itu lara, apa penawarnya?

seperti apa rupanya? katakan di mana letak jejaknya, mungkin suatu hari, aku akan mendiamkannya dalam hati, menyemayamkannya menjadi jasat yang tak bergerak. biarlah membatu, lalu pelan-pelan menjadi prasasti yang akan selalu terkenang.


bahwa, pada suatu hari, suatu masa, pernah ada persinggahan yang teramat singkat, dengan cara yang amat sederhana, dengan ritme yang biasa, tetapi mampu menghasilkan riak sepanjang sejarah usia. perkelahian batin, persengketaan amuk amarah, dan riuh gemuruh rindu yang bercokol mengendap.



ini bukan akhir, juga bukan awal, ini adalah fase, yang harus dilalui sesulit dan seberat apapun.

bahwa segala sesuatu yang diputuskan secara sadar, akan melahirkan konsekwensi yang tidak ringan. bukan satu dua kerikil yang terpijak, tapi mungkin puluhan, berkumpul menjadi kelemahan-kelemahan diri yang sulit diprediksi.


ini bukan kali pertama embun menetes

juga bukan untuk yang terakhir

selama ada perjalanan

selama ada pendakian

ceruk akan selalu ditemui

Jumat, 09 Januari 2009

Jean

Jean
Mengapa Jean?
Karena dia adalah angin
Yang selalu hadir dengan wujud yang entah

Karena dia bisa menjelma sebagai oase
Yang hadir bukan hanya pada saat terik
Dia angin yang sepoi
Hujan yang basah

Dia Jean
Yang sepi penyesalan
dan seasin dirinya sendiri

Karena Jean adalah Jean
Yang hidup dalam suara yang patah-patah
berbalut hasrat yang tak pernah putus

Itulah mengapa harus Jean

Mahaguru*

Mahaguru*
Matahari hampir terbenam, ketika perempuan itu tergopoh-gopoh mendekati kiosku. Dari jauh ia mengirimkan isyarat melalui tatapan matanya agar aku menunggunya sejenak. Karena aku mengenalnya maka kuterima isyarat itu dengan senyuman. Aku mengenalnya. Tapi tak tahu siapa namanya. Apa pekerjaannya, di mana ia tinggal. Aku hanya sebatas mengenal wajahnya. Karena ia sering datang tergopoh-gopoh menjelang senja ke kiosku.

“Satu atau dua?” tanyaku begitu ia menghampiri.

“Dua.” Jawabnya sambil membuka tasnya. Lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan empat lembar ribuan kepadaku. Dan dua Koran lokal kini berpindah tagan. Setelah itu ia pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Awalnya, - aku tak ingat lagi kapan pertama kali ia membeli Koran di kiosku- ia hanya membeli satu Koran lokal. Itupun yang baru terbit. Namanya belum popular ketika itu. Tapi selalu Koran itu yang ia beli sampai-sampai aku meneliti setiap halamannya apa yang menjadi kelebihan Koran itu. Rasanya tak ada, usianyapun baru beberapa bulan. Beritanya biasa-biasa saja. Lalu apa?

Minggu berikutnya ia kembali datang menjelang magrib. Tergopoh-gopoh. Pada saat aku menawarkan ‘Satu’ dia malah meminta ‘Dua’. Aku senang sebab dagangan koranku laku satu lagi. Begitu setiap Minggunya, menjelang senja, tergopoh-gopoh, perempuan yang tak banyak suara itu cukup bilang ‘Dua’ saja dan aku segera mafhum. Tapi ia hanya datang menjelang senja saja. Untuk membeli Koran hari Minggu. Seingatku ia bahkan tak pernah bertanya “Apakah ada Koran kemarin?”

Karena begitu rutinnya ia membeli Koran di kiosku, nyaris setiap Minggu. Aku selalu meninggalkan Koran untuknya. Supaya dia tidak pulang dengan kecewa. Dan aku, seperti tak ingin membuatnya kecewa. Melihatnya datang tergopoh-gopoh menjelang senja –kadang dengan rok tersingkap dan menampakkan bulu-bulu halus di kakinya- aku tak tega. Koran hari Minggu sepertinya amat berarti baginya.

Hari ini, lagi-lagi ia terlihat terburu-buru. Seperti sudah hafal kedatangannya, bila biasanya aku menutup kios pukul enam maka bila hari Minggu kuperlambat lima belas menit atau sampai dia datang.

“Dua?” tanyaku memamer senyum. Aku senang bisa mendahului katanya.

Tapi perempuan itu tak langsung menjawab.

“Tambah satu.” Katanya beberapa menit kemudia

“Tiga?”

“Iya.”

“Koran apa?”

Ia menyebutkan nama salah satu Koran nasional. Yang oplahnya menjangkau seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Mungkin juga Malaysia, Singapura, Asia Tenggara. Bagaimana kalau seluruh dunia?

Setelah menerima Koran dariku ia tak langsung pulang. Satu-satu dibukanya Koran itu. Entah apa yang dicarinya pada lembaran-lembaran lebar itu. Mungkinkah ia memasang iklan? Atau mencari keluarganya yang hilang? Atau mencari lowongan kerja? Tetapi mengapa tidak sampai di rumah saja.

Aku berdiri mematung. Menunggu reaksinya lima atau beberapa menit kemudia. Ingin kubertanya tapi kemudian urung. Sebab aku tak terlalu mengenalnya. Mengapa pula tak pernah terfikirkan olehku untuk menanyakan siapa namanya. Ah, bodohnya aku. Kalau saja aku menyapanya sebagai teman dengan menyebut namanya barangkali dia akan lebih bersahabat denganku.

“Bang! Coba lihat ini! Namaku ada di ketiga Koran ini.” Serunya berbinar-binar. Tampaknya ia lupa kalau kami tidak saling kenal. Aku melongo dan ikut tersenyum. Kujulurkan kepala.

“Nama?” tanyaku mengulang.

“Iya,” jawabnya sambil menunjukkan Koran.

“Tulisanmu? Ini ceritamu? Wah hebat! Hebat! Kau masuk Koran.” Aku takjub.

“Aku senang sekali.”

Sejak hari itu ia selalu meminta tiga Koran sekaligus. Dua Koran lokal dan satu Koran nasional. Kini bukan hanya dia yang sibuk dengan Koran-koran yang terbit pada hari Minggu tetapi juga aku. Sering aku menemukan namanya disalah satu Koran tersebut. Kadang-kadang disertai dengan foto kecil di sudut halaman. Aku senang menjadi temannya. Dan pada Minggu-Minggu berikutnya, bukan hanya dia yang datang tergopoh-gopoh menuju kiosku. Tapi juga aku yang berdebar-debar menunggunya. Dengan tiga Koran di tangan. Lalu ketika ia datang, sebelum ia sempat buka suara aku sudah siap dengan “Selamat! Aku menemukan namamu hari ini.”

Aku seperti memberikan bintang untuknya. Ia tersenyum senang. Mukanya lepas dan sumringah. Berkali-kali ia mengucapkan terimakasih padaku dan kujawab “Sama-sama” lalu ia pulang.

Entah pada Minggu keberapa, dan senja yang keberapa, aku lupa. Ia meminta satu Koran lagi. Semuanya menjadi empat. Dua Koran lokal dua Koran nasional. Kalau dulu ia memasukkan Koran-koran tersebut dalam tasnya, maka sekarang aku menghadiahinya sebuah kantong plastik hitam. Tasnya tidak muat menampung dua Koran nasional yang tebal dan berat. Aku senang bisa memudahkannya. Apalagi setelah ia mengangkat aku sebagai salah satu tokoh dalam ceritanya. Aku merasa jadi orang terkenal, padahal aku hanya pedagang Koran. Kalau ada orang yang kebetulan membaca cerita itu dan membeli Koran di kiosku pasti mereka akan bertanya. “Ini kios yang ada dalam cerita ‘perantau’ itu ya?”. Aku mengangguk.

Hari ini tidak seperti biasanya. Perempuan itu datang lebih awal. Aku baru saja selesai shalat Ashar ketika ia datang. Oh ya aku tak pernah menanyakan siapa namanya. Tapi aku tahu namanya; Mentari. Koran-koran itu yang memberi tahuku.

“Empat?” tanyaku sambil menyodorkan bungkusan plastik hitam.

“Lima.”

“Apalagi?” tanyaku takjub.

Ia menyebutkan salah satu majalan remaja yang berskala nasional.

“Kamu hebat!” pujiku tulus.

Ia tersenyum. Mukanya merona seperti matahari. Hangat dan bersahabat.

“Kamu mau mengajariku menjadi seperti kamu?” pintaku akhirnya

Mentari menggeleng. Aku kaget. Kenapa ia menolak? Apakah ia pelit ilmu? Apakah aku tidak pantas belajar darinya karena aku hanya pedagang Koran? Ah…

“Bagaimana mungkin aku bisa mengubahnya menjadi perempuan seperti aku.” Jawabnya tenang. Tapi kemudian kami sama-sama tergelak.

“Bukan itu maksudku. Aku mau belajar menulis seperti kamu. Biar terkenal.”

“Kamu ingin terkenal?” tanyanya serius.

“Iya. Seperti kamu”

“Kamu salah pilih kalau begitu. Kalau ingin terkenal jadilah artis, bukan penulis. Penulis Cuma terkenal nama saja.”

“Nama sajapun tak apalah…”

“Oh ya, jangan lupa selalu sisakan Koran untuk saya ya?”

“Pasti! Pasti!”

Hari itu aku senang sekali. Dia, si Mentari benar-benar telah membuat aku menemukan diriku kembali. Semangat hidupku muncul dan menggebu-gebu. Dari ketergopoh-gopohannya aku belejar sesuatu tentang arti hidup.

Akupun jadi menunggu-nunggu senja berikutnya pada hari Minggu. Tapi ketika senja itu tiba Mentari tak hadir. Bahkan pada minggu-minggu berikutnya. Berbulan-bulan dan sudah melangkahi tahun.

Aku mulai putus asa. Menunggunya seperti menanti keajaiban. Dimanakah dia? Sementara ceritanya bukan hanya muncul di lima Koran terdahulu, tapi enam, tujuh, banyak sekali. Dan selalu kukumpulkan. Dengan harapan suatu hari nanti dia datang menjelang senja dengan tergopoh-gopoh.

Tapi lama sekali ia datang. Sampai entah kapan aku menunggunya, dan menunggu, dan menunggu. Dengan tumpukan Koran-koran hari Minggu. Dan selama itu pula aku menuliskan sesuatu, tentang kerisauan, kegalauan, kesedihan. Dengan mencontek cerita-cerita yang pernah ditulis Mentari.

Mulai dari satu cerita lalu kutambah menjadi dua, tiga, empat dan entah berapa. Satu diantaranya kupilih yang terbaik dan menurutku cukup menarik, kutitipkan di rental computer untuk diketik lalu dengan bantuan petugas warnet –aku masih gagap teknologi- kukirim tulisan tersebut pada alamat elektronik sebuah Koran. Seperti yang pernah dilakukan Mentari, maka setiap Minggunya selain menunggu Mentari dan mengumpulkan Koran untuknya aku melakukan hal yang sama untuk diriku. Menunggu-nunggu cemas bila-bila ada namaku di salah satu Koran lokal.

Hingga akhirnya aku mulai lelah. Lelah menunggu Mentari, meski Koran untuknya tetap kukumpulkan. Lelah menunggu kapan namaku muncul di salah satu Koran tersebut. Meski aku tetap mengirimkannya setiap Minggu. Oh Mentari! Di mana kamu? Mengapa pergi dan menghilang disaat aku sangat ingin menjadi seperti dirimu. Berat hatikah kau? Tak bersediakah mengajariku? Apa karena aku pedagang Koran, atau karena tidak bersekolah tinggi?

Mentari! Setelah berminggu-minggu, berbulan bahkan melangkahi tahun. Akhirnya sore itu, menjelang senja, aku melihatnya tergopoh-gopoh. Menuju kiosku. Benarkah itu Mentari? Matanya berbinar-binar, senyumnya terserlah. Dan aku, bagai tak percaya hanya menatapnya penuh longo yang amat bodoh.

“Kamu telah menjadi aku!” ucapnya dengan derail tawa berdecai-decai. Aku masih gugu dalam ketakjuban. Ini seperti mimpi. Mimpi yang indah. “Lihat, ini ada namamu di sini. Al banna!” sambungnya lagi penuh semangat.

Aku terkesiap. Tak percaya. Bagaimana mungkin semuanya menjadi serba kebetulan. Mentari yang kebetulan muncul bersamaan dengan munculnya namaku di Koran, ataukau namaku yang muncul di Koran kebetulan dengan munculnya Mentari.

“Aku telah menjadi seperti kamu?” tanyaku tak yakin.

“Ya!”

“Bagaimana mungkin, padahal kamu belum pernah mengajarkanku?” tanyaku bingung.

Mentari meletakkan korannya dan duduk di bangku kecil di bawah pohon Angsana. Aku duduk di sebelahnya.

“Dulu saat aku ingin belajar menulis seperti kamu. Terlebih dahulu aku harus belajar tentang sesuatu yang disebut kehilangan. Kehilangan yang amat sangat telah menjadikanku bagai seorang pesakitan yang larut dalam sedih, luka, pilu. Aku kehilangan ayahku, hampir bersamaan waktunya dengan hilangnya kekasihku yang pada waktu itu akan menjadi suamiku beberapa bulan lagi. Rasa sakit yang sangat menjelma menjadi bakteri jahat yang menggerogoti diriku. Aku hampir mati karenanya.” Mentari mulai bercerita.

“Aku mencari obat, tetapi tak ada yang bisa menyembuhkan rasa sakit dan rinduku kepada mereka. Hingga kebosanan itu datang. Lalu aku belajar berbagi pada kertas, aku menangis, mengaduh dan menjerit. Lalu kuberanikan diri mencetak tulisan-tulisan itu dan kikirimkan kepada beberapa Koran lokal. Kebosanan itu datang lagi. Rasa malas mendera-dera. Sebab tak satupun tulisanku diterima oleh Koran-koran itu.

Aku tak lagi menunggu untuk dimuat meski setiap Minggu terus kukirim cerita dengan judul yang berbeda. Aku terlanjur menjadikannya obat sehingga apabila aku tak menulis aku merasa sakit. Obat yang hanya boleh kutelan sendiri, dan tentu saja si redaktur Koran itu. Aku merasa seolah-olah menulis hanya untuk si redaktur. Bukan untuk dimuat apalagi dibaca oleh orang lain. Lama-lama aku merasa malah redaktur-redaktur itu yang sakit, dan tulisanku adalah obat. Karena itu ia tak membiarkan orang lain membaca tulisanku. Mereka tak memberi ruang untukku. Karena tak sekalipun mereka memberi kabar untukku, padahal aku sudah mencantumkan no hp, no telepon rumah dan email.”

“Makanya, waktu kamu minta diajarkan menjadi seperti aku. Tak ada yang terfikirkan olehku selain kamu harus merasakan apa yang aku rasakan, walaupun tidak harus setragis aku. Begitulah caraku mengajarmu. Sebab tidak ada teori khusus yang pernah kupelajari. Aku senang, akhirnya kamu menjadi seperti aku.”

Mentari! Oh Mentari! Berarti selama ini kau tak meninggalkanku? Ah, betapa liciknya aku. Telah berprasangka buruk padamu. Aku janji, akan selalu kusimpan Koran hari Minggu untukmu. Lalu kau datang menjelang senja dengan tergopoh-gopoh dan aku telah siap dengan “Aku menemukan nama kita hari ini!”

11:58 pm

22 Nov 2008

* cerpen ini sudah pernah dimuat di koran Aceh Independen, edisi ahad, 4 januari 2009

Minggu, 21 Desember 2008

Yang Terlupakan*

Yang Terlupakan*

Seperti biasa, pagi itu Nek Limah bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya, ia mengunci semua pintu, menutup jendela lalu keluar dengan sebuah ember hitam ditangan kanannya. Selembar kain panjang yang sudah pudar melingkar menutupi urat-urat lehernya yang menonjol, songkok hitam yang sudah bertahi lalat menutupi rambut-rambutnya yang memutih, dan sebagiannya kelihatan. Untungnya songkok tersebut berwarna hitam sehingga tahi lalatnya tidak kelihatan.

Nek Limah meletakkan kunci rumahnya diatas toek-toek yang dicat dengan dua warna; merah dan putih. Namun sudah terkelupas disana-sini dan hanya tinggal bekasnya saja, maklum itu peninggalan beberapa tahun yang lalu. Kendatipun Nek Limah tidak mengunci rumahnya bisa dipastikan tidak ada pencuri yang masuk kerumahnya karena tidak ada barang berharga apapun dirumah yang layak disebut gubuk.

Dengan agak tertatih dan sedikit bungkuk Nek Limah segera berjalan menuju kearah barat, tujuannya tidak lain adalah kebun melinjo milik Haji Banta yang terkenal kaya dan mempunyai kebun melinjo yang luas. Disanalah sehari-hari Nek Limah menghabiskan waktunya dengan bekerja sebagai pemilih buah-buah melinjo yang rontok untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan sebagai kerupuk melinjo atau emping.

Karena matanya yang sudah agak rabun Nek Limah tidak bisa maksimal melakukan pekerjaannya, ia sering tertinggal dengan teman-temannya yang lain karena buah-buah melinjo itu sering tersusup dibawah-bawah daun yang kering. Pun begitu perempuan tua itu tidak pantang menyerah. Ia terus mengumpulkan biji-biji melinjo yang merah dan ranum dan sore harinya ia membawa pulang satu ember biji melinjo, atas hasil jerih payahnya itu ia dibayar sepuluh ribu oleh Haji Banta, tapi ia sering mendapat bonus dan tambahan dari pengusaha kampung itu. Dari uang itulah ia memenuhi kebutuhannya sehari-hari, membeli beras, ikan asin atau telur sebagai lauk makan.

Ho neu meujak Nek?” tanya Hamid tetangganya saat berpapasan diujung jurong dengan Nek Limah.

Lon neuk jak u lampoh Haji Banta” jawabnya sambil membernarkan lilitan kain di lehernya.

“Hari ini tidak usah bekerja saja Nek, nonton tipi saja kita,”

“Apa? Nggak dengar saya”

“Nggak usah kerja hari ini Nek, nonton tipi aja kita, udah damai hari ini”

Hana meuphom, kajak keudeh

Hamid tertawa melihat Nek Limah yang menyuruhnya pergi, perempuan setua dia mana ngeh kalau sudah berbicara soal yang begituan pikirnya. Ia pun pergi meninggalkan Nek Limah.

“Ya sudah saya pamit dulu Nek.”

“Ya, bilang sama istrimu agar nanti sore mengambil telur asin pesanannya kerumah saya”

Kajeut

Nek Limah pun berlalu meneruskan perjalanannya menuju ke kebun Haji Banta, saat matahari tepat berada ditengah-tengah kepalanya ia pulang karena tadi lupa membawa minum, kerongkongannya terasa kering dan panas karena haus. Keringat memenuhi dahi dan bagian lain tubuh tuanya, ia mengipas-ngipas dengan kain panjangnya.

“Ada apa rame-rame?” tanyanya saat ia membeli sayur diwarung, laki-laki dan perempuan ramai berkumpul disana. Berkerumun menatap ke kotak kecil 21 inc berwarna. Tak ketinggalan anak kecil hingga bayi ada disana.

Ka damai Nek,” ucap seorang

“Damai apa?” Nek Limah bertanya kepada pemilik warung.

“Orang GAM dengan TNI, mereka hari ini sedang teken MOU”

“Awak GAM nyoe?”

Seketika perempuan itu terkenang pada masa dua puluh tahun silam, saat ia bertugas sebagai tukang masak orang-orang gerakan yang pada saat itu masih disebut GPK. Nek Limah sendiri sampai sekarang tidak tahu apa kepanjangan GPK yang dia tau dari dulu adalah mencari kayu bakar dan memasak untuk mereka, dan berkali-kali ikut berlari saat markas mereka terendus aparat.

Meskipun sekarang ia sudah tua dan jarang berhubungan dengan dunia luar tetapi saat nama GAM disebut ia langsung connect. Rasanya tidak ada yang tidak langsung nyambung saat nama itu disebut.

“Itu apa? Kok rame sekali?” tanyanya lagi menunjuk ke tv.

“Itu di Banda Aceh Nek, di depan mesjid Raya, orang-orang datang kesana untuk menyaksikan penandatangan MOU yang saya bilang tadi. GAM dan TNI”

“GPK ya?” ia masih dengan pertanyaan yang sama

“Iya Nek, sekarang sudah damai ngga ada perang lagi” si pemilik warung masih sabar menjelaskan.

“O ya Allah…Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!” Nek Limah bersujud syukur agak kepayahan ditanah. Air matanya mengalir dipipi tuanya yang berkerut.

Geu that peudeh hudep yoeh watee nyan hai aneuk” ucapnya terbata sambil menyeka air matanya. Napasnya turun naik sehabis bersujud ditanah.

“Lari kesana kemari, kadang lapar kadang kenyang…” sambungnya

“Kadang ada yang sampai tiga hari berturut-turut kami cuma makan buah ubi, minum air sungai…pokoknya tidak bisa diceritakan bagaimana sakit dan pedihnya. Saya kehilangan suami, sekarang sudah tua anak pun tidak ada….” Ia kembali menangis. Perempuan tua itu mengenang hari-harinya yang pahit pada masa itu.

Kaboeh caplie rayeuk siribe…saya mau pulang” ucapnya kemudian setelah agak tenang. Si pemilik warung mengangguk, ia sudah kehilangan kata-kata dan ikut meneteskan air mata mendengarkan cerita Nek Limah.

Semua yang ada disitu merasa terharu dengan cerita perempuan tua itu, siapapun tahu di desa Meunasah Mawoe ini kalau dulunya Nek Limah termasuk salah satu gerilyawan perempuan, walaupun ia hanya seorang tukang masak. Dan sebuah perjuangan tentu saja tidak akan berjalan tanpa orang-orang seperti Nek Limah.

@@@

“Dengar-dengar orang seperti Nek Limah akan mendapat uang dari orang-orang GAM”

“Duit apa?”

“Ya duit…karena dulu mereka sudah menjadi bagian dari orang GAM”

“Ah, masak sih”

“Iya,”

“Wah, enak sekali Nek Limah, tidak perlu bekerja lagi.”

Nek Limah tidak menyahut apapun, ia hanya mendengarkan saja apa yang dibicarakan oleh teman-temannya. Ia tak mau ambil pusing dengan semua itu, apalagi hanya kabar angin, kalau dapat ya diambil tidak ya sudah. Yang penting banginya setiap hari sudah bisa mendapatkan sepuluh ribu dari hasil kerjanya sebagai pemilih buah melinjo ini. Jangan berharap yang muluk-muluk, begitulah pikirnya.

Tapi hari ini Nek Limah mulai berani sedikit berharap, siang tadi seorang anak muda datang kerumahnya untuk mendata namanya agar ia bisa memperoleh dana reintegrasi alakadarnya. Tapi sehari, seminggu, sebulan, uang yang dijanjikan itu pun tidak kunjung ia terima.

Pun saat menjelang lebaran, saat orang-orang eks gerakan mendapat sie makmeugang Nek Limah cukup berpuas diri dengan seekor ayam kampung yang selama ini dipeliharanya. Ia tidak pernah mendapat apa-apa.

Ia tak protes, dan cukup sadar dirinya dahulu hanyalah seorang tukang masak biasa yang tidak memanggul senjata. Saat para lelaki berlari dengan mengusung senapan ia justru berlari dengan periuk dan belanga menggantung dileher. Dengan dentingan sendok dan pisau dalam kelenditnya.

Hari ini, kembali seperti biasa Nek Limah menenteng ember hitamnya, dengan songkok hitam yang penuh tahi lalat menutupi rambut putihnya. Ia berjalan tertatih menuju kekebun milik Haji Banta disebelah barat.

10:03 pm

14/02/07


*Tulisan ini sudah pernah di muat di koran Aceh Independen edisi Ahad, 21 Desember 2008

Senin, 15 Desember 2008

Yusnidar Tak Berhenti Belajar

Yusnidar Tak Berhenti Belajar
Bingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencBingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencerna setiap informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Jumat, 28 November 2008, Yusnidar bersama puluhan peserta lainnya sedang mengikuti “Workshop Singkat Mengenal Photoshop” yang diselenggarakan oleh Tjute Event Organizer di Kafe Ummy Malaya, Jl. P. Nyak Makam No. 40, Lampineung Banda Aceh.

Pelatihan ini ditujukan bagi mereka yang sudah mengerti minimal program dasar komputer seperti Microsoft office. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memang berminat namun masih sangat awam dengan aplikasi computer. Maka, Yusnidar adalah salah satu dari pengecualian tersebut. Meski tidak mempunyai laptop seperti peserta lainnya, dan meski ia buta dengan perkembangan teknologi tersebut.

Perempuan berusia 29 tahun tersebut tetap mengikuti pelatihan dengan bersemangat. Ia menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Maimun Yulif, selaku pembicara yang sehari-hari bekerja sebagai Arranger pada Discover Studio, Lambhuk. Yusnidar juga mencatat setiap informasi yang menurutnya penting.

Yusnidar, adalah salah seorang guru honorer yang sudah mengabdi selama tiga tahun pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Montasik, Aceh Besar. Sehari-harinya ia mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), sesuai dengan jalur pendidikan yang ia tempuh selama menjadi mahasiswa pada program GPAI di Fakultas Tarbiyah, UNMUHA tahun 2003 lalu.

Karena profesinya itulah, Yusnidar menjadi bersemangat mengikuti worksop berdurasi tiga jam tersebut. Karena peminatnya banyak maka jadwal latihan dibagi menjadi tiga kelompok dengan hari yang berbeda. Terhitung sejak Jumat (28/11) dan berakhir pada Minggu (30/11). “Saya seorang guru, makanya saya harus terus belajar,” sebutnya dengan mata berbinar saat ditanya apa yang memotivasinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Yusnidar, menjadi guru berarti mengambil keputusan untuk selalu belajar.
Seorang guru, menurutnya harus pandai-pandai menyerap setiap informasi yang ada untuk mengembangkan diri mereka. Sehingga mereka bisa menselaraskan antara ilmu yang diterima di bangku kuliah dengan ilmu yang mereka terima dari jalur non formal. Dengan cara itu mereka selaku tenaga pendidik akan dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dinamis.Bingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencerna setiap informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Jumat, 28 November 2008, Yusnidar bersama puluhan peserta lainnya sedang mengikuti “Workshop Singkat Mengenal Photoshop” yang diselenggarakan oleh Tjute Event Organizer di Kafe Ummy Malaya, Jl. P. Nyak Makam No. 40, Lampineung Banda Aceh.

Pelatihan ini ditujukan bagi mereka yang sudah mengerti minimal program dasar komputer seperti Microsoft office. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memang berminat namun masih sangat awam dengan aplikasi computer. Maka, Yusnidar adalah salah satu dari pengecualian tersebut. Meski tidak mempunyai laptop seperti peserta lainnya, dan meski ia buta dengan perkembangan teknologi tersebut.

Perempuan berusia 29 tahun tersebut tetap mengikuti pelatihan dengan bersemangat. Ia menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Maimun Yulif, selaku pembicara yang sehari-hari bekerja sebagai Arranger pada Discover Studio, Lambhuk. Yusnidar juga mencatat setiap informasi yang menurutnya penting.

Yusnidar, adalah salah seorang guru honorer yang sudah mengabdi selama tiga tahun pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Montasik, Aceh Besar. Sehari-harinya ia mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), sesuai dengan jalur pendidikan yang ia tempuh selama menjadi mahasiswa pada program GPAI di Fakultas Tarbiyah, UNMUHA tahun 2003 lalu.

Karena profesinya itulah, Yusnidar menjadi bersemangat mengikuti worksop berdurasi tiga jam tersebut. Karena peminatnya banyak maka jadwal latihan dibagi menjadi tiga kelompok dengan hari yang berbeda. Terhitung sejak Jumat (28/11) dan berakhir pada Minggu (30/11). “Saya seorang guru, makanya saya harus terus belajar,” sebutnya dengan mata berbinar saat ditanya apa yang memotivasinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Yusnidar, menjadi guru berarti mengambil keputusan untuk selalu belajar.
Seorang guru, menurutnya harus pandai-pandai menyerap setiap informasi yang ada untuk mengembangkan diri mereka. Sehingga mereka bisa menselaraskan antara ilmu yang diterima di bangku kuliah dengan ilmu yang mereka terima dari jalur non formal. Dengan cara itu mereka selaku tenaga pendidik akan dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dinamis. “Karena itu saya sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini, walaupun saya tidak mengerti dan bingung. Tapi saya senang.” lirihnya polos.
Bingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencerna setiap informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Jumat, 28 November 2008, Yusnidar bersama puluhan peserta lainnya sedang mengikuti “Workshop Singkat Mengenal Photoshop” yang diselenggarakan oleh Tjute Event Organizer di Kafe Ummy Malaya, Jl. P. Nyak Makam No. 40, Lampineung Banda Aceh.

Pelatihan ini ditujukan bagi mereka yang sudah mengerti minimal program dasar komputer seperti Microsoft office. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memang berminat namun masih sangat awam dengan aplikasi computer. Maka, Yusnidar adalah salah satu dari pengecualian tersebut. Meski tidak mempunyai laptop seperti peserta lainnya, dan meski ia buta dengan perkembangan teknologi tersebut.

Perempuan berusia 29 tahun tersebut tetap mengikuti pelatihan dengan bersemangat. Ia menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Maimun Yulif, selaku pembicara yang sehari-hari bekerja sebagai Arranger pada Discover Studio, Lambhuk. Yusnidar juga mencatat setiap informasi yang menurutnya penting.

Yusnidar, adalah salah seorang guru honorer yang sudah mengabdi selama tiga tahun pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Montasik, Aceh Besar. Sehari-harinya ia mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), sesuai dengan jalur pendidikan yang ia tempuh selama menjadi mahasiswa pada program GPAI di Fakultas Tarbiyah, UNMUHA tahun 2003 lalu.

Karena profesinya itulah, Yusnidar menjadi bersemangat mengikuti worksop berdurasi tiga jam tersebut. Karena peminatnya banyak maka jadwal latihan dibagi menjadi tiga kelompok dengan hari yang berbeda. Terhitung sejak Jumat (28/11) dan berakhir pada Minggu (30/11). “Saya seorang guru, makanya saya harus terus belajar,” sebutnya dengan mata berbinar saat ditanya apa yang memotivasinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Yusnidar, menjadi guru berarti mengambil keputusan untuk selalu belajar.
Seorang guru, menurutnya harus pandai-pandai menyerap setiap informasi yang ada untuk mengembangkan diri mereka. Sehingga mereka bisa menselaraskan antara ilmu yang diterima di bangku kuliah dengan ilmu yang mereka terima dari jalur non formal. Dengan cara itu mereka selaku tenaga pendidik akan dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dinamis. “Karena itu saya sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini, walaupun saya tidak mengerti dan bingung. Tapi saya senang.” lirihnya polos.


Ibu satu anak ini juga menyesalkan beberapa sikap teman seprofesinya yang mengikuti berbagai kegiatan hanya untuk mendapatkan sertifikat. Bagi guru, adanya program sertifikasi merupakan salah satu cara untuk menaiki jenjang karir mereka. Tetapi bagi Yusnidar itu menjadi tidak penting bila ia tidak mendapatkan nilai tambah apapun dari kegiatan yang ia ikuti.

Yusnidar merupakan salah satu potret guru kebanyakan di negeri ini. Di mana perbekalan mereka untuk menjadi tenaga pendidik yang professional belumlah memadai. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah menerapkan sistem pendidikan berbasis kompetensi. hhhh

Ibu satu anak ini juga menyesalkan beberapa sikap teman seprofesinya yang mengikuti berbagai kegiatan hanya untuk mendapatkan sertifikat. Bagi guru, adanya program sertifikasi merupakan salah satu cara untuk menaiki jenjang karir mereka. Tetapi bagi Yusnidar itu menjadi tidak penting bila ia tidak mendapatkan nilai tambah apapun dari kegiatan yang ia ikuti.

Yusnidar merupakan salah satu potret guru kebanyakan di negeri ini. Di mana perbekalan mereka untuk menjadi tenaga pendidik yang professional belumlah memadai. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah menerapkan sistem pendidikan berbasis kompetensi. “Karena itu saya sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini, walaupun saya tidak mengerti dan bingung. Tapi saya senang.” lirihnya polos.


Ibu satu anak ini juga menyesalkan beberapa sikap teman seprofesinya yang mengikuti berbagai kegiatan hanya untuk mendapatkan sertifikat. Bagi guru, adanya program sertifikasi merupakan salah satu cara untuk menaiki jenjang karir mereka. Tetapi bagi Yusnidar itu menjadi tidak penting bila ia tidak mendapatkan nilai tambah apapun dari kegiatan yang ia ikuti.

Yusnidar merupakan salah satu potret guru kebanyakan di negeri ini. Di mana perbekalan mereka untuk menjadi tenaga pendidik yang professional belumlah memadai. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah menerapkan sistem pendidikan berbasis kompetensi. erna setiap informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Jumat, 28 November 2008, Yusnidar bersama puluhan peserta lainnya sedang mengikuti “Workshop Singkat Mengenal Photoshop” yang diselenggarakan oleh Tjute Event Organizer di Kafe Ummy Malaya, Jl. P. Nyak Makam No. 40, Lampineung Banda Aceh.

Pelatihan ini ditujukan bagi mereka yang sudah mengerti minimal program dasar komputer seperti Microsoft office. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memang berminat namun masih sangat awam dengan aplikasi computer. Maka, Yusnidar adalah salah satu dari pengecualian tersebut. Meski tidak mempunyai laptop seperti peserta lainnya, dan meski ia buta dengan perkembangan teknologi tersebut.

Perempuan berusia 29 tahun tersebut tetap mengikuti pelatihan dengan bersemangat. Ia menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Maimun Yulif, selaku pembicara yang sehari-hari bekerja sebagai Arranger pada Discover Studio, Lambhuk. Yusnidar juga mencatat setiap informasi yang menurutnya penting.

Yusnidar, adalah salah seorang guru honorer yang sudah mengabdi selama tiga tahun pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Montasik, Aceh Besar. Sehari-harinya ia mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), sesuai dengan jalur pendidikan yang ia tempuh selama menjadi mahasiswa pada program GPAI di Fakultas Tarbiyah, UNMUHA tahun 2003 lalu.

Karena profesinya itulah, Yusnidar menjadi bersemangat mengikuti worksop berdurasi tiga jam tersebut. Karena peminatnya banyak maka jadwal latihan dibagi menjadi tiga kelompok dengan hari yang berbeda. Terhitung sejak Jumat (28/11) dan berakhir pada Minggu (30/11). “Saya seorang guru, makanya saya harus terus belajar,” sebutnya dengan mata berbinar saat ditanya apa yang memotivasinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Yusnidar, menjadi guru berarti mengambil keputusan untuk selalu belajar.
Seorang guru, menurutnya harus pandai-pandai menyerap setiap informasi yang ada untuk mengembangkan diri mereka. Sehingga mereka bisa menselaraskan antara ilmu yang diterima di bangku kuliah dengan ilmu yang mereka terima dari jalur non formal. Dengan cara itu mereka selaku tenaga pendidik akan dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dinamis. “Karena itu saya sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini, walaupun saya tidak mengerti dan bingung. Tapi saya senang.” lirihnya polos.


Ibu satu anak ini juga menyesalkan beberapa sikap teman seprofesinya yang mengikuti berbagai kegiatan hanya untuk mendapatkan sertifikat. Bagi guru, adanya program sertifikasi merupakan salah satu cara untuk menaiki jenjang karir mereka. Tetapi bagi Yusnidar itu menjadi tidak penting bila ia tidak mendapatkan nilai tambah apapun dari kegiatan yang ia ikuti.

Yusnidar merupakan salah satu potret guru kebanyakan di negeri ini. Di mana perbekalan mereka untuk menjadi tenaga pendidik yang professional belumlah memadai. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah menerapkan sistem pendidikan berbasis kompetensi.

http://www.tgj.co.id/detilberita.php?id=1196

Rabu, 03 Desember 2008

Ayahku Sayang

Ayahku Sayang

Ayah sayang…


Siang itu aku mengantarmu, tanpa memeluk dan mencium wajahmu seperti yang dilakukan oleh orang-orang dan Ijal, adik lelakiku. Aku mengintipmu dari balik jendela mobil yang akan membawamu ke barat negeri ini. Setelah mempersiapkan semua keperluan ayah dan ibu, waktu itu aku banyak merenung. Kupaksa bibirku tersenyum, kupaksa tegar hatiku. Tak ingin gambarkan takut dan luka hati ini. Hati kecilku berbisik ketika itu, mungkin siang itu adalah pandangan terakhir mata kita ayah, aku, anak perempuanmu, dan kau, ayah yang kubanggakan.


Aku berdoa, terus menerus, hingga mobil yang membawamu hilang dari pandangan. Dan jerit dalam hati kian lebar. Ketakutan menganga Yah, merajai ruang hatiku yang sempit. Semoga di barat negeri ini ada penawar atas deritamu. Semoga sakitmu cepat berakhir, Yah.


Kutinggalkan rumah nenek, tempat sebulan terakhir ayah menetap. Ini pula yang sering kutangisi, sakitmu membuatmu jauh dari rumah. Aku tahu kau begitu rindu pada rumah yang telah kau bangun dengan keringatmu. Tempat kita berkumpul menghabiskan suka dan duka, susah senang. Ayah, kau tahu, aku sudah menyiapkan kamarmu dengan baik, membeli sprei baru berwarna merah hati, memasang gorden baru dengan warna yang sama, bahkan aku berniat mengecat ulang kamarmu, Yah. Sebagai kejutan ketika ayah pulang dari rumah sakit setelah lebaran tahun lalu.

Kembali kutelan kecewa, sakit ayah tak kumengerti. Bingung! Mengapa ayah tak boleh pulang ke rumah sendiri? Mengapa ayah bisa kian parah bila ada di rumah. Aku tak mengerti, ada apa di rumah kita.


Ayah sayang

Ini adalah hari menunggu yang pertama,

Belum ada kabar apa yang dilakukan orang-orang di sana untuk menyembuhkan ayah. Dan aku semakin takut Yah…sangat. Aku menangis dalam diam.

Tetapi tangisku pecah, ketika menjelang pukul sepuluh pagi, Ijal menyuruhku untuk kembali membereskan kamar ayah. Aku bertanya mengapa, dan untuk apa? Kamar ayah sudah rapi, sudah wangi, aku sengaja membeli pengharum ruangan yang menurutku paling wangi. Lalu kusemprotkan setiap hari ke kamar ayah.

Ayah akan dibawa pulang. Kata ijal, yang kutangkap dengan makna lain. Maka, kamar adalah pilihanku ketika itu. Aku tak bisa menangis dengan teriakan. Maka air mata mengalir adalah luka paling perih ketika itu. Tapi, itupun tak lama, Yah.


Kau telah mengajariku ketegaran, dan hidup tanpa air mata. Karena itu aku tak menangis terlalu lama, Yah. Aku ke luar, membereskan rumah kita. Mengangkut kursi ke kamar belakang. Menggelar tikar. Orang-orang mulai datang. Menunggu kepulangan ayah. Aku menanti dengan gelisah. Lara yang kembali nganga dalam keguguan.


16 Januari 2008

Ayah sayang…

Lama sekali engkau datang.

Meulaboh – Idi Rayeuk bukanlah jarak yang dekat. Aku tahu itu, apalagi aku tahu mobil ambulans itu tentu tak akan membawamu dengan sembarangan. Mereka pasti akan sangat hati-hati sekali. Hatiku teriris Yah, membayangkan wajah ibu, dan wajah Diah, adik perempuanku yang mengiringmu sepanjang perjalanan. Air mata mereka mungkin telah kering, seperti keringnya ketakutan selama ini. Yang hancur berkeping-keping. Karena masing-masing telah bergelar menjadi status yang baru.


Ya Allah…

Menjelang pukul 10 malam ayah tiba. Tapi mesjid sudah dahulu ayah singgahi. Dan orang-orang menshalatkan ayah di sana. Aku mencium kening ayah dengan takzim, dengan air mata yang kutahan agar tak jatuh pada dahimu yang memerah. Begitu sempurnanya luka malam itu, Yah. Aku seperti mendengar rumah kita menangis jerit. Terisak pilu karena kehilanganmu. Rumah kita hampir tak muat, menahan orang yang ingin bersimpuh untukmu.


17 Januari

Aku seperti melihat bayangmu ayah, senja hari ketika matahari memerah di langit Tuhan.

Kau berdiri di pintu tengah, aku melihatmu dengan jelas. Tapi hanya sesaat, karena setelah itu aku lebih memilih tidur, badanku menghangat.

Ayah sayang…

Pun ketika pada malam-malam berikutnya kau sering datang dalam mimpiku, itu tak lebih sebagai petunjuk. Kau menuntunku, untuk tetap bekerja keras, mengajariku tentang tugas dan tanggung jawab. Aku ingat sekali, ketika aku bermimpi, ayah memberikan kemudi itu padaku. Padahal ayah kan tahu aku tidak bisa menyetir. Tapi itulah petunjuk, yang ayah kirimkan untukku.


Ayah sayang…

Kau tak pernah mengajariku berdendam, maka kulapangkan hatiku untuk memberi maaf pada pemberi luka untuk hidupmu, hidup ibu, hidup kami.

21:46 pm

03 dec 2008