Bacalah tanpa harus menerima begitu saja.
Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong.
Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik.
Dan, jika anda memiliki pendapat,
kuasai dunia dengan kata-kata.
sejak kecil saya selalu punya keinginan untuk menjadi berbeda dari orang kebanyakan. walaupun ketika itu belum tergambar dengan jelas menjadi berbeda yang seperti apa. mungkin dari sini pulalah proses kreatif saya berawal, saya senang berimajinasi, membayangkan hal yang indah-indah dan menantang, yang dalam imajinasi saya hanya saya yang bisa melakukan tantangan tersebut.
untuk menjadi berbeda dari orang kebanyakan memang tidak mudah, karena dengan begitu harus ada hal-hal berbeda yang bisa kita lakukan. ketika kuliah dulu, saat on the job training saya memilih sebuah media sebagai sarana, dan itu akhirnya jadi wacana dalam keluarga, entah darimana informasi itu tersebar yang jelas saya pernah ditegur oleh ibu, beliau takut saya jadi wartawan. dan tak lama setelah itu, saya benar-benar jadi wartawan di sebuah surat kabar nasional.
ketika selesai kuliah teman-teman yang lain memilih pulang ke kampung untuk berbakti pada sekolah-sekolah dasar, saya lebih memilih bekerja serabutan di sini, tekad saya supaya saya menjadi berbeda dari mereka. ketika yang lain sibuk mendaftar untuk ikut menjadi calon pegawai negeri, saya dan beberapa teman malah sedang mengikuti sebuah seminar internasional yang sangat spektakuler. ketika yang lain bermuka lesu karena tidak lulus pegawai negeri, saya dan komunitas saya malah tertawa senang karena kami sudah punya perencanaan yang baik untuk masa depan kami.
ketika yang lain sibuk membuka koran mencari lowongan kerja, kami malah asik berdiskusi membahas buku-buku yang fenomenal dan inspiratif. ketika yang lain sibuk dengan pikiran mereka tidak bisa berubah, kami malah berfikir akan membuat perubahan bagi orang banyak. ketika yang lain sibuk berfikir untuk dihormati, kami justru berfikir bagaimana caranya mencetak pemimpin yang kharismatik.
saya selalu berfikir untuk bisa berbeda dari orang kebanyakan, dalam keluarga saya dianggap paling berbeda karena saya paling tidak betah berlama-lama di kampung. saya juga dianggap berbeda karena pekerjaan saya yang paling "tidak" jelas, karena saya bukan guru, saya bukan karyawan, dan bukan pegawai negeri. mereka lebih kaget lagi karena saya bekerja bukan pada "kantor" yang jelas hehehehhe. dan mereka menjadi sangat kaget ketika saya memaparkan rencana hidup saya lima tahun yang akan datang.
terakhir, meminjam kata-kata teman saya, hanya orang-orang aneh yang bisa memahami orang aneh. buatlah keanehan yang fenomenal, jangan sekedar keanehan sosial yang bisa menimbulkan sanksi adat.
entah mengapa tiba-tiba saya menjadi sangat gugup, berkeringat dan tangan gemetar, jari jemari berubah pucat dan lemas. segaris senyum tipis membentuk membayangkan apa yang tengah terjadi pada diri sendiri. untuk menghilangkan rasa gugup ini sayapun melakukan beberapa hal kecil seperti meremas-remas tangan, merapatkannya dan meniup-niup agar hangat, dan terakhir melepas kaca mata. tetapi tindakan ini juga tidak efektif, dan saya masih gugup, jantung berdebar kencang dan hati seperti bergetar.
saya kembali tersenyum, dalam perjalanan beberapa menit yang lalu, di sebuah tikungan tiba-tiba sesuatu terlintas di benak saya. bagaimana bila saya bertemu dengan seseorang yang saya sangat sayangi dan dia bertanya "apakah saya merindukan dia?". ketika itu saya berfikir keras, kira-kira jawaban apa yang akan saya jawab. lalu, entah darimana timbullah ide. kalau benar pertanyaan itu ada saya akan menjawab begini " Rindu itu seperti obat, kalau digunakan sesuai dosis dia akan bermanfaat, tetapi bila disalah gunakan dia akan menjadi racun."
nyatanya, pertanyaan itu memang tidak ada, karena orang yang amat sangat saya sayangi ada nun jauh di sana. tetapi entah mengapa, ketika berada di tempat ini saya selalu menjadi gugup dan gemetar. terbayang beberapa bait kata-katanya yang begitu membekas di hati dan terus terngiang di telinga. seolah-olah orang itu ada di dekat saya dan sedang memperhatikan saya, tatapan matanya, senyumnya yang lepas, wajahnya yang dewasa, dan kata-katanya yang hangat cukup mampu membuat saya salah tingkah seperti ini.
namun, dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang semuanya tidaklah seindah yang ada dalam fikiran kita. artinya, dalam setiap interaksi kita dengan orang lain tidak berjalan se ideal yang kita harapkan. seorang teman pernah memberi komentar terhadap statement saya begini " Jangan terlalu mudah merindu, karena kadang ia menyapa orang yang tak pantas dirindukan. dan jangan mudah minum obat kadang daya tahan tubuh kita lebih kuat dari dugaan."
bukan bermaksud menyalahkan, dan tidak pula membenarkan, karena saya sendiri adalah tipe orang yang gampang merindui. banyak hal yang membuat saya bisa dengan mudah merindui orang lain, dan anehnya kadang-kadang proses merindui itu bisa sangat lama dan bertahun-tahun tanpa pernah berubah. Rindu itu seperti pemantik bagi saya, yang setiap saat bisa memacu adrenalin sehingga setiap aktivitas yang saya lakukan selalu penuh dengan antusias dan semangat.
dalam pekerjaan saya misalnya, di mana saya di tuntut untuk bisa menjadi motivator dan mampu menggali impian dari orang-orang yang saya bina, tentu itu tidak mudah, apalagi yang menjadi binaan adalah orang-orang yang dari sisi usia berkali-kali lipat bedanya dengan saya. kadang-kadang muncul rasa jengkel dan sebal, tetapi pada saat itu saya menghadirkan rasa rindu kepada banyak orang. saya balikkan posisinya, saya bayangkan, orang-orang yang ada di depan saya adalah wajah-wajah orang yang saya cintai, sayangi dan rindui, dengan begitu rasa jengkel dan sebal itu akan hilang dengan sendirinya.
dan yang paling menggelikan adalah kalau dalam rute yang saya lalui ada foto caleg yang saya kagumi, saya akan sangat senang melewatinya, dan bisa dipastikan pekerjaan saya saat itu berjalan dengan lancar. karena saya bisa mensuplai energi positif dari foto caleg tersebut ke dalam diri saya. saya akan tersenyum terus sepanjang perjalanan. bahkan kadang-kadang teman saya suka memperhatikan pohon-pohon besar yang kami lewati. begitu ada foto caleg idola saya dia akan berkomentar .....tuh...ada foto si bla bla bla (menyebutkan nama seseorang yang sangat berarti di hati saya ) di sana. dan kami terbahak bersama.
saya akan sulit menceritakan hingga saya benar-benar bisa membuktikan. contoh lain, beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah perjalanan, di sebuah kota, saya mempunyai sesuatu yang layak untuk dirindui, hingga sampai sekarang saya masih terkenang dengan kota itu. meski hanya beberapa jam saya singgah di kota tersebut. kadang-kadang saya heran, rasa rindu dalam diri saya bisa muncul dari efek rasa tidak nyaman yang timbul di hati saya, rasa rindu yang melesak-lesak dan mendorong saya untuk melakukan sesuatu yang fenomenal di tempat tersebut.
rasa tidak nyaman itu lama-lama muncul seperti lilin kecil yang kemudian membuka jalan dan memberi terang dalam proses berfikir saya. bahwa segala hal negatif bila kita kelola dengan baik akan menjadi positif. dan sesuatu yang fenomenal itu hanya tinggal menunggu waktu hadirnya, dan pembuktian itu akan segera terwujud. pada saat itulah kerinduan akan kota itu tertebus, dan saya akan membuat kenangan yang lebih indah yang berawal dari rasa ketidak nyamanan.
karena, dari rasa tidak nyaman itu saya mulai membuat perencanaan tentang apa yang saya inginkan dan hasilkan dari rasa tidak nyaman itu. misalnya, siapa yang harus saya dekati di kota tersebut, lalu program apa yang harus saya kembangkan di sana, dan kepada siapa saya ingin membuktikannya.
pada dasarnya saya senang bertemu dengan orang-orang baru, apakah mereka yang mempunyai hobby yang sama dengan saya maupun dari latar belakang yang berbeda dengan saya. karena dari setiap pertemuan itu pasti ada sesuatu yang bisa didapatkan untuk mengayakan diri. terlepas dari pertemuan itu akan berakhir dengan baik atau tidak, berakhir indah atau dramatis, berakhir menyenangkan atau memilukan. yang pasti, setiap pertemuan adalah rindu yang berfungsi sebagai pemantik.
saya adalah perindu sempurna, bisa pada kata yang dingiangkan ke telinga saya, bisa pada kata yang dikirimkan melalui pesan pendek, bisa pada sinyal yang dikirimkan melalui isyarat mata dalam diam... bisa pada bahasa tubuh yang tanpa sengaja...
banyak cara untuk merindui, sama seperti banyaknya cara untuk tersakiti, tetapi mampukah mengelola rindu dan sakit itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi perkembangan diri kita? setiap orang punya jawaban berbeda, dan setiap orang punya cara sendiri untuk mengelolalnya. (Ihan)
Sejak mengenalmu aku ingin sekali untuk...untuk apa ya? Oh ya, untuk menatap matamu, memeluk pinggangmu, merebahkan kepalaku dipundakmu, menyentuh pipimu lalu mengecupnya penuh cinta. Sejak mengenalmu, sejak mendengar suaramu, sejak kita bercanda, sejak kau menjalari hatiku dengan cinta dan sayangmu. aku ingin sekali untuk.... ya untuk memeluk dan menciummu. Untuk mengatakan betapa aku sangat mencintaimu.
Bercelana Jeans, kita duduk berdampingan, aku ingat sekali, pada suatu malam, di bulan Januari, pada pertengahannya di awal tahun ini. Adalah kebahagiaan tak terhingga ketika aku bisa menemanimu duduk di suatu tempat, menyaksikan suapan demi suapan ke mulutmu, sambil melihat kiri dan kanan kau berdesis...."ayo suapi aku"
Aku tertawa. Lama kita tak bercanda, lama hangat tak menjalari tubuhku, dan lama aku tidak berdesir. Setiap detik bersamamu selalu menimbulkan getaran yang menyenangkan dan mendebarkan. "Aku tak ingin menyuapi makanmu, tapi ingin menciummu..."balasku setengah berbisik. aku tertawa saat kau menjulurkan wajahmu. Tapi tak juga kucium kau di sana.
Bertahun-tahun mencintaimu rasanya seperti baru kemarin saja kita jatuh cinta, seperti baru kemarin pertamakali aku mengenalmu, dan seperti baru kemarin aku mengatakan betapa kau telah menjadi bagian terbesar dalam hidupku. Merasakan hangat jiwamu seperti tak pernah habis tularkan hidup untukku. Dan cinta untukmu mampu mengejawantahkan semua rasa kepada yang lain yang pernah bercokol di hati. "Kamu lelaki paling istimewa yang pernah hadir dalam hidupku, kemarin, sekarang, dan selamanya."
Maka, ketika aku memelukmu, memandang matamu yang mesra, merasai hangat rengkuhmu, menyentuh dan mencium pipimu, adalah hal yang tak patut untuk dikatakan. semuanya terbenam dalam rasa yang abstrak dan hanya mampu dijawab oleh kediaman dan kebungkaman kata. Sebab cinta tak perlu diceritakan, semuanya hanya ritme yang perlu diikuti.
Cinta kepadamu mampu hilangkan gundah sebesar apapun, tuturmu mampu leburkan luka dalam hati yang lebar, dan memberi tenang yang damai, setenang ketika aku bersandar di dadamu yang bidang dan kekar. Senyaman ketika aku memanggilmu dengan Cinta.
Mencintaimu melahirkan inspirasi, merinduimu melahirkan gundah, gundah yang nikmat dan menakjubkan. Semakin gundah, semakin besar cinta dan rindu itu sendiri.
"Kesalahan terbesar yang paling sering dilakukan oleh banyak orang, adalah mereka tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasa dan inginkan"
maka ia tidak ingin begitu. kepadaku ia bercerita, sambil duduk menghadap mata, hampir-hampir saja keluar salju dari mata beningnya, lalu ia menggigit bibir, berharap tidak ada yang basah. "Biar saja hatiku yang basah," tuturnya sendu, sendu yang berbalut tawa yang entah.
aku menatapnya, penuh tanya dan heran. benarkah ia baik-baik saja? tanyaku dalam hati. benarkah ia setegar karang, benarkah ia seperti yang terlihat? ceria, senyum dan penuh semangat?
"banyak hal yang bisa membuat manusia menangis, tetapi dengan menangis semuanya tidak akan menjadi lebih baik. maka, tidak menangis adalah pilihan yang paling baik". ia berdiri, matanya menatap lepas. mungkin ia memandangi jalan yang ramai, atau manusia yang hilir mudik, kadang ia tersenyum, kadang menghela napas. tapi aku tahu, ia menyimpan sesuatu.
aku tahu, tidurnya sering gelisah akhir-akhir ini. nafasnya sering tertahan. matanya sering merah, tetapi ia mengaku hanya karena debu. maka, begitu kejam debu itu, mungkinkah ia hadir di tengah malam buta, ketika ia terjaga dari tidurnya?
maka, ia kembali menunggu april, untuk kembali mengatakan betapa ia sangat mencintai, betapa ia sangat merindu. ia ingin bernostalgia, ketika sejak pertama kali ia mengatakan cinta "Betapa aku mencintaimu melebihi siapapun."
dan, tak ada yang lebih membuatnya bahagia, ketika ia menyentuh wajah, memeluk pinggang, dan mencium mesra pipi kekasihnya. dengan mata mesra penuh cinta ia berujar lirih "Kamu adalah lelaki yang pantas kusebut jiwa..."
aku hanya menyaksikan, betapa besar cintanya, betapa kuat perasaannya, betapa kata-katanya tak pernah berubah, sejak beberapa tahun yang lalu. sejak pertama kali ia mengatakan ia mencintainnya. "Karena aku tak ingin menjadi salah bagi jiwa dan batinku, aku tak ingin menjadi pembohong bagi hatiku." demikian selalu ia menegaskan.
aku mendengarkan, tuturnya begitu mempesona. ia begitu pandai menyimpan rasa, pandai memindai luka, ia begitu pintar meredam emosi. "Karena kemarahan tak pernah menyelesaikan apa-apa." lagi-lagi aku hanyut dalam tuturnya.
lalu, ketika pada suatu waktu, ia berkata bahwa ada cinta lain yang menggerogoti jiwanya, aku terhenyak, sibuk pada wajahnya yang satir dan pias. kuperhatikan, ingin kubertanya, tetapi sikapnya menjawab semua gundahku.
ia membalut murung dengan senyum, memintal kecewa dengan semangat, dan menambah ingat dengan pepatah-pepatah bijak yang tidak pernah kumengerti seperti apa maknanya. "Berilah obat kepada orang lain, bila kita ingin mengobati diri sendiri." mengertilah aku mengapa ia selalu tegar dan teguh. "Dan jangan pernah memandang sesuatu dari sisi yang sama..."
ia kembali duduk. matanya kembali berbinar. aku heran. secepat inikah ia mengobati dirinya? padahal aku tahu baru saja ia sangat kesakitan.
kadang aku mengikutinya, menelisik apa saja yang ia lakukan, mengintip ke bilik hatinya. ada siapa saja di sana. sungguh...bertabur nama-nama yang panjang dan unik. ia memang pencinta yang bisa mencintai siapapun...
jika pada akhirnya aku kembali jatuh cinta, siapa yang salah? keadaan yang membawaku pada liku yang unik, atau diri yang memang menginginkan cinta itu kembali ada? lalu, bila itu benar terjadi, kepada siapa pertanggung jawaban dicari?
hidup ini memang seperti kumpulan puzzle yang rumit, kadang terlihat biasa saja tetapi membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa menyelesaikan setiap kepingannya. kadang, ia terlihat sangat rumit, tetapi padahal sangat biasa, dan memang biasa.
tetapi siapa sangka, kebiasaan itulah yang sering menjebak, karena rupanya yang tak jelas. dan rupa itu sering berubah-ubah wujud, kadang ia seperti malaikat yang menawarkan sejuta kedamaian dan salju yang sejuk, tetapi ia sedang menjebak. lain waktu ia berubah menjadi menyeramkan dan menakutkan, tetapi sebenarnya itulah yang nyata.
ketakutan kadang-kadang membawaku pada harapan yang aku sendiri sukar mewujudkannya. membawaku pada telikungan dan kelokan tindakan yang aku sendiri kadang tidak menginginkannya. tetapi darisanalah kenikmatakan terkadang bersumber. perselingkuhankah ini? mungkin iya, atau tepatnya perselingkuhan batin. tetapi janin yang mulai tumbuh bukan hasil dari buaian batin.
kenapa langit tiba-tiba berubah warna, ia tak lagi jernih, terpantul dari pikiranku yang gelap dan kalut. aku gelisah, seperti musafir yang rindukan oase. sementara hati semakin jerang, merindukan salju yang benar-benar putih. jika saja, sesuatu yang sudah terbentuk bisa kembali keasalnya. atau ia berusaha untuk mengerti seperti apa gelisahku, pastinya ia akan berfikir biarlah aku tak berwujud saja.
ini bukan kegelisahan biasa. ini gelisah yang dibalut dengan bahagia dan rumit. ketika sesuatu membelit dalam perut yang belum terbentuk, menerjang seperti ombak yang menyergah karang. maka jiwa inilah sakitnya. redamnya seperti serbuk yang ditumbuk dengan puluhan alu-alu panjang.
ketika aku berharap penyelesaian. bukan hanya soal iya dan tidak. karena sebenarnya kata tak lagi berarti bila diri telah terlanjur terjadi sesuatu. pantaslah bila ini kuberi nama Bahagia yang Tak Indah. menyenangkan tetapi juga meregam nyeri yang amat sangat. melesak seperti batu yang melesat dari ketapel tua yang hampir patah. maka...ketika cinta itu benar-benar datang...cinta siapa yang harus disambut? yang memberi kehidupan, atau yan menginginkan kematian????
*catatan seorang ibu, yang jatuh cinta lagi ketika usianya tak lagi muda.
ada badai yang bergemuruh dalam jiwa meliukkan seluruh pertahanan dan kebersahajaan ada gelombang yang bertali saling menghempas memukul dan menerjang tanpa permisi
kukurung matahari dalam ceruk batin lalu ia mendidih melahirkan amarah dan sengat dan diri terkulai penuh dalam lengkung yang hampir patah
inikah perjalanan buah dari fikir dan jiwa yang akan besar
Aku mengenal perempuan ini disebuah kafe, lima belas hari sebelum hari ini. Saat itu aku tengah berputar-putar mencari bangku kosong ditengah hiruk-pikuk orang-orang yang sama sekali tak peduli padaku. Kalau bukan karena sebuah suara, aku sudah akan meninggalkan tempat itu. Barangkali mungkin aku tidak diijikan menikmati semburan lampu sorot yang menjerla menelan awan, dengan segelas kopi khas kafe ini malam itu.
Aku berpaling diantara sekian banyak kakah-kakah tawa laki-laki, aku melihat seorang perempuan malambaikan tangannya padaku. Aku mendekat.
Hatiku berlonjak girang. Bukan apa, terbayang mengeluarkan motorku dari area parkir saja sudah membuatku lelah dan capek. Tapi perempuan itu, tawarannya, seyumnya, melucuti seluruh gerah dan lelahku selama seharian tadi.
“Terimakasih kamu baik sekali” jawabku tulus.
Aku menarik kursi berkaki pendek berwarna hijau luntur. kuletakkan pantatku pada kursi yang tak empuk itu menghadapnya, perempuan! Nama yang unik, dan berani. Seberani dirinya yang menawarkan tempat duduk untukku. Itu jarang sekali terjadi di sini. Dimana para perempuannya masih banyak yang malu-malu (atau malu-maluin). Aku menduga-duga perempuan itu pastilah aktivis, aktivis perempuan, ataukah ia seroang feminis ?
“Sudah banyak yang bilang begitu,” jawabnya merasa tak berarti dengan pujianku.
“Oh ya ? Aku orang ke berapa yang mengatakan itu ?” Goda ku.
Perempuan itu tertawa lebar. Manalah mungkin ia mengingat semuanya. Tapi aku kagum, takjub, sekaligus heran, terbuat dari apa dirinya? Aku mengedarkan pandangan. Semua laki-laki, ya laki-laki, aktivis laki-laki. Politikus laki-laki, pengusaha laki-laki. Semuanya laki-laki. Walaupun ada perempuan satu-satu, mereka terlihat bersama pasangan atau temannya. Tapi dia ? Perempuan yang bernama Perempuan itu ?
Duduk seorang diri, ditemani segelas kopi dan beberapa bungkus kacang, dan buku. Di tengah kerumaunan laki-laki. Tidakkah ia merasa jengahkikuk, atau malu? Malu, apakah perempuan itu mengerti yang namanya malu? Semacam perasaan tak nyaman yang timbul karena berada pada situasi dan keadaan yang tidak tepat.
“Tapi kau sungguh berani” rasa penasaranku tak dapat kutahan lagi. Aku menunggu-nunggu jawabannya. Tanganku mengetuk-ngetuk meja.
“Atas dasar apa kau menilaiku begitu? “ perempuan balik bertanya.
“Lihat! Bukankah ia sungguh pemberani. Tanpa diberitahupun, aku yakin dia tahu kalau usia kami terpaut bebrap tahun, mungkin juga belasan tahun. Tapi coba dengar, dia memanggilku dengan “kau”.
“Tawaranmu,” jawabku apa adanya.
Perempuan itu tertawa datar, atau sinis?
“Apa karena di negeri ini ada undang-undang khusus yang mengatur tentang pola hidup, proses adaptasi dan bersosialisasi?” Tanyanya tanpa senyum
“Bukan… bukan itu maksudku,” jawab kaku.
Sial! Tatapan tajam penuh selidiknya membuatku bagai terjerat oleh situasi
“lalu apa?” Kejarnya.
Lalu apa? Aku berfikir-fikir, mencari jawaban yang cocok dan masuk akal. Perempuan ini pasti aktivis, ia sungguh pandai membelit keadaan.
“Tidak ada sejarah yang menulis tentang kepengecutan perempuan-perempuan aceh. Tapi kau beda, keberanianmu lain. Aku salut, takjub dan iri.”
Lagi-lagi perempuan itu tersenyum datar, aku jadi malu hati, jawaban itu terdengar konyol. Dan lugu. Pasti telah menggelitik urat syarafnya, makanya ia tersenyum, walau datar.
***
Perempuan bernama Perempuan itu, benar-benar telah mengusik ruang hatiku. Ia mampu mengendalikan pikirannku hingga aku terus memikirkannya. Bukan hanya memikirkan, tapi lebih dari itu, aku rindu! Ya, rindu! Tapi mungkinkah? Rindu pada pertemuan pertama, bagaimana kalau bukan rindu, tapi cinta?! Cinta ?
Aku menggeliat-geliat tak tenang, nyaring suara tawanya seperti berderai-derai pada liang gendang telingaku, memaksa mataku untuk terpejam, tapi bukan untuk tidur, melainkan untuk memikirkannya, ah, Perempuan!
Resah itu terlalu panjang, menderaku bagai pesakitan yang terpasung. Aku berontak, bangkit dari tidur, mencari air dari wastafel yang ada di dapur, lalu membasuh muka, mengapa wajahku lesu sekali. Karena terus memikirkannya kah? Permpuan itu.
Kuambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar, kusangkut di bahu, lalu kuseret kakiku menuju garasi.
“Mau kemana?” Istriku bertanya dari balik selimutnya.
“Ngopi.”
“Tapi ini sudah malam.” Protesnya
“Baru jam sepuluh”
Aku tak peduli,. Bertemu dengan istriku masih bisa nanti-nanti. Melepas kerinduan dengannya bisa pada malam-malam berikutnya, aku masih punya banyak waktu dengannya. Dan telah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Jadi, biarkan malam ini aku menikmati apa yang tengah berkecamuk dalam diriku, rindu!
Ini adalah pertemuan ke dua kami setelah pertemuan yang pertama, lima belas malam yang lalu. Saat aku berputar-putar mencari sesosok diri tiba-tiba “hey” dari mulut seseorang membuatku terlonjak, girang, bahagia, dan … aku segera menarik kursi warna hijau luntur. Duduk persis di hadapannya, persis seperti pada pertemuan pertama.
“Puan, kemana saja kau ?” Tanyaku memandang matanya lekat.
Puan tersenyum, matanya ia buang jauh-jauh, mungkin lebih jauh dari pencaran lampu sorot yang tengah ia pandang. Mengapa ia tidak berani memandang ku.
“Puan?” Ulang ku
“Ya”
“Aku memikirkanmu, keberanianmu, aku takjub, kagum”
“Sudah lah, tak ada yang istimewa denganku, aku hanya perempuan biasa, hidup dalam kebiasaan yang biasa saja, nyaris tak ada yang dibanggakan dariku, aku orang yang kalah. Kalah dalam keterbiasaanku.”
He! Apa yang dikatakannya, apa maksudnya, siapa yang kalah? Dan siapa yang menang.
“Tidak Puan, kau perempuan hebat, kau telah menemukan dirimu yang sebenarnya. Kau perempuan hebat,. Setiap perempuan iri padamu, aku tahu itu, kamu cerdas, mandiri, sudah mapan, apa lagi …..”
“Maksudmu?” Puan cengah dengan tanyanya, mungkin ia berfikir kalau aku tidak tahu siapa dia. Tapi teknologi informasi, telah membuat orang tidak lagi rahasia. Dan aku menemukan rahasia dirinya,
“Kau tahu semua tentang ku? Tanya Puan pias
Aku mengangguk, beberapa hari lalu tak sengaja kutemukan beberapa catatan-catatan penting puan dalam diary onlinenya.
“Karena itulah aku hadir, untuk bisa kau bagi sedikit resah dan lara mu,” desisku. “tidak semua sih, tapi aku memahaminya, “ ralat ku, aku tidak ingin terlihat sok tahu
“Aku sudah kalah, oleh cinta”.
“Tidak”
“Setiap lima belas hari sekali aku pasti ke tempat ini. Lima tahun yang lalu, aku pertama sekali mengenal cinta di tempat ini. Ketika seorang laki-laki sepertimu menyapaku, semuanya terjadi begitu cepat. Kami saling jatuh cinta, saling melengkapi, saling memberi suka dan duka. Tapi aku mencintai laki-laki yang salah. Dia sudah menikah, bergelar sebagai suami dan ayah. Delapan bulan yang lalu aku mengenal laki-laki ke dua, aku menyukainya, tapi bukan cinta. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak lagi memikirkan laki-laki pertama, aku ingin melupakannya.”
“Setelah aku memberi tahu rencanaku, laki-laki pertama tak lagi muncul, selama 4 tahun lebih, kami selalu bertemu di tempat ini, setiap tanggal 15 dan 30, dan sejak 8 bulan yang lalu, aku selalu menghabiskan tanggal 15 dan 30 seorang diri di tempat ini. Sampai kau hadir …”
Aku menarik napas
“Bagaimana dengan laki-laki ke duamu”
“Dia sedang mengurus perceraian dengan istrinya saat ini, rumah tangga mereka telah lama kacau”.
“Lalu kau hadir, dan si lelaki mempercepat prosesnya?”
“Entahlah, aku bingung, aku merasa tak mencitai laki-laki itu sama sekali, aku tak pernah rindu atau kangen. Tidak pernah bilang sayang apalagi cinta.”
Aku diam dalam galau. Bingung harus berkata apa, entah mengapa rindu yang semula begitu menghentak-hentak dada tiba-tiba mengerucut. Aku menjadi takut. Takut menaruh suka dalam jiwanya, takut membuatnya berharap. Apalagi mengantungkan asa, tapi aku ingin, ingin ia selalu hadir dalam hidupku, membuai dan melenakan tidurku.
“Hei! Apa komentarmu dengan ceritaku? Menurutmu, aku perempuan seperti apa?” Kali ini ucapan Perempuan begitu riang, tak lagi sendu, matanya mengerjap-ngerjap memandangku. Indah sekali wajahnya yang hitam manis lebih mirip dengan gadis-gadis pakistan yang anggun dan bersahaja. Tapi bukankah kerajaan Aceh dahulunya dipengaruhi oleh budaya Hindi yang erat? Mungkin Perempuan adalah salah satu garis keturunannya, semua laki-laki pasti akan jatuh cinta padanya dan aku!
“Kamu ? Kamu tetap perempuan hebat, tangguh, yang membuatku takjub, kagum, dan iri,”
“Apa karena aku tidak menangis saat menceritakan ini pada mu?”
Aku terdongak, bagaimana mungkin ia tahu jalan pikiran ku
“ Iya. Apa kau akan tetap seperti ini bila tahu aku seperti lelaki pertama mu?” Ujar ku lirih.
Sejenak perempuan tertegun,meneliti wajah ku, merambat masuk dalam mata dan jantung hati ku, lalu ia mengangguk.
“Walaupun berkali-kali cinta mengalahkanku, berkali-kali pula aku jatuh cinta, pun, kepadamu”
“Pun kepada ku?”
“ Pun kepada mu?”
***
Sudah 5 kali tanggal 15 dan 5 kali tanggal 30 terlewati, begitu saja, seorang diri, berteman sepi, bertelekan rindu, pada rindu dan gelisah. Entah kemana Perempuan. Sms ku tak di balas, telepon ku tak diangkat, e-mailku tak digubris, oh, Puan ! Tahukah kamu aku seperti cacing di padang pasir sekarang.
Mengapa semuanya seperti terbalik, apa yang dulu pernah dirasakan Puan menjadi berpindah padaku. Aku menantinya setiap tanggal 15 dan 30. Hal yang sama yang pernah dilakukan puan saat menunggu lelakinya. Kopi-kopi di sini menjadi tak nikmat, berubah pahit dan pedas, apa karena Puan tak ada?
Lalu, Tuhan seperti mendengar do’a ku, maka malam ini, tanggal 15 yang ke 6 Puan muncul di hadapanku, terduduk lesu dan wajah pasi sepucat rembulan. Matanya tak berbinar.
“Puan? Kemana saja kau ?”
“Bertarung”
“Dengan cinta !”
“Dengan cinta ?”
“Dan aku kalah”
“Dan kau kalah ?”
Puan mengangguk, mengulum rasa berpeluh risau, tangannya memilir bungkus kacang.
“Tadi siang lelaki kedua telah resmi bercerai dengan istrinya”
“Dan itu artinya kau akan segera jadi istrinya, ah....” Aku kecewa, akan tidak ada lagi penantian sperti ini pada setiap 15 dan 30 pada setiap bulannya, tapi... Puan menggeleng ! Alisku mengeryit.
“Tadi siang juga aku bertemu dengan lelaki pertamaku, dengan cintaku, belahan jiwaku”
Hatiku bagai tersanyat nyeri, tak relakah atau cemburu ?
“Lalu ?“
“Aku bertarung, atas nama cinta, betapa tak berartinya diri ini sekarang, aib, cela, dan entah apa lagi, semuanya telah melumuri diriku bercampur nista yang meragam. Dan aku kalah, lan.”
“Dan kau kalah ?”
“Dan aku kalah”
“Tapi kau perempuan hebat, tangguh, yang membuatku takjub, kagum, dan iri padamu,”
“sebab aku tak menangis?”
Aku mengangguk, memeluk sepi yang menyergap dalam resah jiwa-jiwa kami.
09:45 pm
On Fri, 21 nov 2008
*tulisan ini sudah pernah dimuat di koran Aceh Independen edisi minggu, tgl 19 januari 2009