Senin, 19 Juni 2017

Apa yang akan Kukatakan?

@Diah Nurdin


Apa yang akan kukatakan pada diriku tentangmu?

Meski kau hadir di hidupku saat senja hampir tenggelam, tetapi kau masih sempat menunjukkan ranum matahari yang berwarna jingga.

Saat aku tergesa-gesa akan melangkah,
Kau masih sempat memanggil, menahanku sejenak, lalu mengatakan; jangan pernah berhenti menciptakan kebahagiaan.

Kau mengatakannya secara tersirat, dengan tatapanmu yang jenaka, dengan gelagatmu yang menggelitik.

Aku ingin bertanya, tentu saja pada diriku sendiri.
Apa yang hati kita inginkan dari sebuah pertemuan?
Dan apa yang akan dirasakan hati kita karena sebuah perpisahan?

Kita membersamai keadaan dalam waktu yang sangat singkat
Bahkan secangkir teh ini masih mengepulkan asap
Kita bahkan belum sempat membicarakan warna langit sore itu
Atau tentang rintik hujan yang menempel di pipi kita
Ah, itu bulir hujan atau air mata?

Permata Puni, 11 June 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Mencicipi Rendang Kelinci yang Gurih dan Maknyusss

Daging kelinci dimasak rendang @Ihan Sunrise

AKU barangkali salah satu dari sekian banyak orang yang awalnya menduga daging kelinci itu nggak halal untuk dikonsumsi. Ternyata eh ternyata, kelinci itu halal kok. Sama seperti unggas kayak bebek atau ayam, atau kayak mamalia sejenis sapi dan kerbau.

Bahkan, daging kelinci mengandung protein hewani yang low kolesterol. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita kolesterol tetapi tetap ingin memenuhi kebutuhan protein hewaninya.

Ngomong-ngomong soal daging kelinci, aku memang belum pernah mencoba sebelumnya. Sampai kemarin sore, saat buka bareng sejumlah anggota GamInong Blogger di Masjid Raya Baiturrahman, olahan daging kelinci menjadi salah satu menu yang kami santap.

Ceritanya Kak Aini, salah satu GIB-ers, sehari sebelum hari H udah halo-halo di grup kalau dese mau bawain daging kelinci. Tawaran itu langsung saja kami sambut dengan sukacita. Pasalnya, seumur-umur kami (aku) memang belum pernah mencoba seperti apa rasanya daging kelinci. Jadi, wajarlah ya kalau penasaran banget sama daging yang konon katanya sangat enak itu.

Bagi orang-orang seperti aku yang doyan makan segala macam ini, salah satu hal yang paling disenangi adalah mencoba kuliner-kuliner baru. Tentu saja selama itu masih halal dan aman dikonsumsi.

Selasa, 30 Mei 2017

Gemuruh Hati

Ilustrasi @analisadaily

Adalah hati,
Yang jika bergemuruh
Maka gemuruhnya melebihi gemuruh langit

Adalah hati,
Yang jika bergetar
Maka getarnya melebihi getaran bumi

Adalah hati,
Ketika ia berbicara
Maka seluru panca indera akan menjadi takluk

Rabu, 17 Mei 2017

Semangat Berlari dan Nostalgia Masa Kecil yang Penuh Petualangan

Jalan tembus Ulee Tuy - Japakeh yang memesona @Ihan Sunrise

Akhir-akhir ini lagi doyan banget buat lari. Tapi karena akunya tergolong manusia berkasta 'melankoli', jadinya nggak suka lari di tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian, semisal di Lapangan Blang Padang. Sukanya di tempat-tempat yang lengang-lengang aja seperti gambar di atas. Biar bisa menikmati suasana. Itu kan 'tipikal' kasta ini banget, suka alone tapi bukan berarti lonely lho ya hehehe.

Ada tiga jalur yang menjadi rute favoritku buat lari. Pertama, jalur potong yang menghubungkan Gampông Ulee Tuy dengan Kompleks TNI di Japakeh. Kedua, rute hutan trambesi yang ada di Kompleks Rindam Mata Ie. Ketiga, rute Kuburan Cina dari Gue Gajah tembus ke Mata Ie.

Di tulisan ini aku mau cerita yang rute pertama aja dulu. Soalnya dari tiga rute tadi, yang ini paling favorit dan berkesan. Menemukan rute ini adalah kejutan tersendiri buatku. Pasalnya bertahun-tahun tinggal di Permata Punie, baru sebulan terakhir aku tahu ada jalan di dekat kawasan yang pemandangannya bikin terus bertasbih.

Ceritanya, suatu sore aku dan Coach (sebut saja begitu) janjian buat lari bareng. Dia lari pakai kaki, aku lari pakai roda (baca: sepeda). Ini idenya dia, soalnya kalau sama-sama lari aku bakal tertinggal jauh dengannya, atau dia yang harus melambatkan 'intonasi' larinya.

"Yuk kita lewat sana, lihat kabut kita," katanya memberi aba-aba setelah melakukan pemanasan.

Ini gaya Coach sedang pemanasan sambil menatap ikan-ikan kepala timah di irigasi @Ihan Sunrise

Aku yang sudah bersiaga menurut saja mengikuti arahannya. Setelah menempuh jarak yang tidak begitu jauh sampailah kami di jalan beraspal yang mulus dan licin. Warna aspalnya masih pekat, pertanda jalannya belum terlalu lama selesai dibuat. 

Di kiri dan kanan jalan membentang areal persawahan yang baru saja selesai musim panen. Sisa-sisa batang padi terlihat kecokelatan, kontras dengan warna awan yang sore itu tampak biru dan bersih. Khas awan setelah diguyur hujan lebat.

Di kejauhan sana, di Bukit Barisan gumpalan-gumpalan kabut tampak seperti kapas yang mengapung di udara. Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdecak kagum. Masya Allah indahnya. Sekarang tahulah aku kenapa diajak lewat rute ini.

"Hahahah.... rugi dia tinggal di sini udah lama," celetuk Coach yang bikin hati terasa nyeri. Iya dong, malu dong ngaku anak Permata Punie, tapi nggak tahu ada jalan tembus segini cakepnya. Duh Ihan.... ke mana aja ente?

Selain pemandangan indah sehabis hujan seperti sore itu, pagi adalah pilihan tepat untuk melewati rute ini. Bayangkan, berlari sambil menghirup udara perkampungan yang bersih dan segar, dengan siraman matahari pagi yang hangat dan kaya vitamin D. 

Sembari itu, kita bisa memanjakan mata dengan menyaksikan sembulan pucuk Gunung Seulawah di kejauhan. Yang bentuknya bagaikan pucuk duri yang menancap di pohon kapuk. Sementara di sisi selatan indera kita dimanjakan dengan pemandangan berupa gugusan Bukit Barisan. 

Jika beruntung kita bisa menyaksikan kawanan burung enggang yang melintasi areal persawahan. Ohh... indah dan nikmat nian bukan? Sejak sore itu, meski seorang diri setiap kali berlari aku pasti melewati rute ini.

Adakalanya di perjalanan aku bertemu dengan orang-orang yang juga melakukan aktivitas sama. Ada yang sepasang perempuan paruh baya, ada ibu-ibu hamil yang berjalan dengan putri kecilnya, dan juga sejoli yang bersepeda bersama, lalu berhenti di salah satu titik untuk selfie berdua. 

Sepeda ini setinggi pemiliknya. Lumayan bikin biru-biru di area tertentu waktu pertama mengayuhnya @Coach

Bila akhir pekan, setelah puas berlari biasanya langsung ke kolam di kaki bukit untuk berenang. Datang pagi-pagi sekali sebelum pukul delapan, kolam serasa milik sendiri. Masuknya pun tak perlu bayar karena penjaga di pintu gerbang sudah tanda muka kami. Tapi sebagai 'barterannya', harus merasakan dinginnya air yang menusuk-nusuk hingga ke tulang. Nah ini perjuangan besar buat orang yang alergi dingin seperti aku. Tapi, 'anak kecebong' ini 'kan ingin jadi katak yang pandai berenang.

Mari menyebur dan nikmati gigil yang membekukan tulang belulang @Ihan Sunrise

Sebenarnya aktivitas lari dan renang yang aku giatkan akhir-akhir ini ada maksud terselubungnya. Selain karena memang ingin sehat dan untuk membakar kalori berlebih, juga sebagai latihan dasar sebelum memulai aktivitas baru berikutnya. Jadi ceritanya abis lebaran nanti mau serius main sepedaan, jadi mulai sekarang badannya harus dilatih dulu. 

Dengan lari misalnya, aku ingin melatih otot-otot kaki dan betis agar lebih kuat dan cekatan. Sementara dengan berenang, untuk melatih pernapasan dan bahu agar lebih kuat. Dengan sepeda, apa yang ingin aku dapat? Nah kalau ini, karena aku ingin sekali pergi ke air terjun yang sampai sekarang masih dirahasiakan keberadaannya oleh Coach. 

"Harus dengan sepeda baru bisa ke sana," kata Coach berkali-kali, bikin hati berapi-api karena panas.

Apapun itu, thanks to Coach karena udah nularin semangat berolahraga padaku. Aku jadi merasa kembali ke masa kanak-kanak yang penuh petualangan dan kebahagian. Kapan-kapan nanti aku cerita tentang masa kecilku. 

See, Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan hamba-Nya bukan?

Selasa, 16 Mei 2017

Secangkir Kopi Hitam dan Kolase Rindu di Bawah Rumoh Aceh Ar-Raniry

Ilustrasi @mrwallpaper.com


"Kupi saboh, Bang," kataku.

"Kupi?"

"Yap! Kupi!"

Jawabku mantap sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. "Bak meja nyan beh," kataku lagi sambil menunjuk sebuah meja di dekat kasir.

"Jeut!" Jawab si peracik kopi dengan ramah.

Setelah sepekan absen menyesap kopi, pagi tadi akhirnya aku kembali menyeruput minuman hitam dengan aroma yang khas itu. Kali ini aku memilih Solong Corner yang lapaknya ada di bawah Rumoh Aceh di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seorang diri, tanpa gawai, aku menikmati pagi yang dibaluri mendung dengan menyesap kopi yang hangat. Sembari membaca tulisan-tulisan lama di majalah tempatku bekerja dulu. Ah, bukankah kopi adalah teman paling syahdu untuk menikmati kesendirian?

***
Rumoh Aceh di UIN Ar-Raniry sebelum ada Solong Corner @Arkin Kisaran/ist


Sebenarnya ini agenda minum kopi tanpa rencana. Ceritanya, pagi tadi aku mengantar adik yang hari ini mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry.

Senin, 08 Mei 2017

Sate Belut; Hadiah Ultah Spesial Usia Cantik

Penampakan Mesjid Raya Baiturrahman dari Taman Bustanussalatin (Taman Sari) Banda Aceh @Ihan Sunrise




KESENDIRIAN selalu memberikan nilai lebih buatku. Di sini, di tempat ini, bersama bayangan, aku merayakannya sendiri. Dengan sekotak donat labu ketela dan sebotol minuman ringan.


Taman Sari, Saturday Nite, 6 Mei 2017.

***

Hingga memasuki usia yang lebih dari seperempat abad ini, ulang tahun bukan hari yang spesial buatku. Merayakannya juga bukan suatu kebiasaan. Aku bahkan kadang lupa dengan hari lahirku sendiri, sampai kadang-kadang Zenja mengingatkan, dengan satu atau dua puisi yang ia kirimkan. Begitulah cara kami saling merayakannya, hanya dengan saling bertukar puisi atau surat. 

Tapi kali ini, entah mengapa aku merasa penting ingin merayakannya. Tentu saja dengan caraku sendiri. Tanpa keriuhan, tanpa kue, atau lilin yang dinyalakan hanya untuk dipadamkan. Aku merayakannya dalam senyap. 

Bahkan sejak bertahun-tahun silam, salah satu laman media sosialku sengaja 'kugembok', agar orang-orang (baca: friend list) tidak bisa menuliskan ucapan selamat happy milad, happy birthday, atau sejenisnya di berandaku. 

Tak hanya di dunia nyata, bahkan di dunia maya pun aku tak suka keriuhan. Hanya satu dua teman yang mengirimkan pesan lewan inbox, dan itu sudah cukup buatku.

Tapi kali ini aku ingin mengingatnya. Sabtu malam, ketika semua orang rumah sudah pergi, aku pun pergi menuju salah satu taman yang menjadi pusat keramaian di kota ini. Ya, apalagi kalau bukan Taman Sari. 

Menikmati kesendirianku di sana. Mengamati lalu lalang manusia yang kali ini tidak begitu ramai seperti biasanya. Menyaksikan anak-anak bermain sepatu roda. Melihat aktivitas pedagang. Aku menemukan kebahagiaan lebih di sana. Aku merasa punya banyak waktu untuk kembali 'berkencan' dengan diriku sendiri. Aku menelusuri setiap detik waktu dari masa lalu hingga detik ini. Aku berdialog dengan diriku sendiri.

Dan menjelang tengah malam, aku menantikan detik-detik pergantian dari tanggal 6 ke tanggal 7 dengan menonton film India; Wake up, Sid! Dari sejumlah judul film yang ada, entah mengapa aku memilih film ini. Dan setelah menonton sebagiannya aku merasa surprise, Aisha, merayakan ulang tahunnya secara sederhana dengan Sid.

Sementara aku, 'merayakannya' dengan Ben. Semalam kami bertukar cerita sangat banyak dan lama. Aku rasa ini juga bukan kebetulan. Tuhan telah memilihkan kado yang berbeda untukku, sesuai keinginan dan harapanku. Obrolan dengan Ben kuanggap sebagai perayaan paling istimewa. Dan setiap kali berbincang dengannya aku merasa mendapatkan energi baru untuk melahirkan banyak narasi. Thank you Ben sudah menjadi teman yang berbeda. Dan kita akan selalu berteman dengan cara yang berbeda.

Aku juga menginginkan 'kado' yang lain di hari ulang tahunku kali ini. Tapi kado itu bukan berupa benda dan sejenisnya. Melainkan sepiring hidangan bernama sate belut. Dan alhamdulillah, lagi-lagi Tuhan mengabulkannya untukku. Bahagia malam ini menjadi semacam 'rapel' atas tahun-tahun yang telah lalu. Mendapatkan 'hadiah' sate belut adalah challange.

Hidangan sate belut dengan sambal yang khas @Ihan Sunrise


Juga membuatku jadi lupa kalau pada malam sebelumnya aku ingin sekali mencekik seseorang yang 'menyebalkan', karena batal menikmati sate belut hanya karena dia 'kehabisan daya'. Padahal dia yang awalnya begitu antusias buat ngajakin makan. Dia juga yang memberitahuku perihal sate tak biasa ini. Dan karenanya aku menjadi sangat terprovokasi untuk mencicipinya.

"Makan sate belut yuk. Kepingin kali udah ini," ajakku lagi petang tadi.
"Yuklah." Jawabannya membuat hati ini mengembang seperti parasut terjun payung.

Malam ini kami berhasil menuntaskan rasa penasaran yang kami bincangkan sejak pekan lalu. See, betapa mudahnya menemukan kebahagiaan. 

Buat seseorang yang namanya tak kusebutkan di sini, thanks berat sudah membawaku makan sate belut malam ini. Tengkyu juga sudah menjadi teman paling jenaka dan riuh. Yang telah 'menumpahkan' cat berbagai warna di usia pertemanan kita yang masih seumur tauge. Sayuran yang kau pesan malam itu, tapi sayangnya tidak ada. Bahkan mendapatkan sepiring belut lebih mudah dari pada sepiring tumis tauge hehehe.

***
Refleksi @Ihan Sunrise


Hidup sejatinya hanyalah tempat singgah. Di sini, di dunia ini kita menemukan banyak sekali persimpangan, kelokan-kelokan yang terjal, dan kabut yang menutupi jarak pandang. Tetapi selama kita masih membuka hati dan jiwa, Langit akan menuntun kita ke jalan yang benar dan indah.

Happy birthday, Ihan.
Teruslah menjadi mentari, yang menebar terang dan kehangatan, dinantikan saat akan terbit, diantar dengan bahagia ketika hendak terbenam.[]

Jumat, 05 Mei 2017

Cemburu yang Hangat dan Berisik

Ilustrasi

Zenja,

Ada apa gerangan tiba-tiba kau muncul di mimpiku semalam? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling mengingat, tidak saling bertukar pandang, tidak saling mengunjungi, sekalipun dalam mimpi?

Ah, tapi kita tidak pernah membuat perjanjian khusus tentang itu bukan? Artinya, kita (masih) boleh saling mengingat, boleh saling bertukar pandang, boleh saling mengunjungi, sekalipun hanya dalam mimpi.

Atau, karena ini Mei. Bulan yang selalu mengembalikanmu kepadaku, seperti aku yang kembali padamu di setiap September. Bulan di mana kau selalu berusah payah untuk membuat sepotong dua potong puisi, hanya untuk mengatakan bahwa aku begitu berarti untukmu.

Entahlah, aku hanya berpikir mengapa dua orang yang sama-sama keras kepala seperti kita bisa punya cerita sepanjang ini. Jika cerita ini kuilustrasikan sebagai benang, dan kita berdua memintalnya, sudah menjadi sebuah permadani yang berlapis-lapis tebalnya.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tentang langit jingga yang menyedotku dalam pusaran rindu, tentang ricik air pegunungan yang menghanyutkanku pada cerita-cerita kita, juga tentang kilau mentari pagi yang menghangatkan, sehangat ucapanmu yang tak pernah luntur.

Tentang ricik air ini, aku punya cerita khusus untukmu. Di sanalah aku memadamkan semua gejolak dan melumatkan semua rindu yang bersarang di dalam jiwa. Sebagiannya kuhanyutkan bersama riak yang mengalir deras. Entah ke mana riak membawanya.

Zenja,

Kau tahu, kemarin malam aku menikmati kembali seperti apa rasanya cemburu. Seperti apa rasanya hati ini menghangat dan berisik. Ya, rasanya indah, karena katamu cemburu yang sesuai takaran adalah tanda cinta yang sedang mekar bukan?

Kembali jatuh cintakah aku?

Padamu aku pernah mengatakan; tak apa cinta jatuh berulang-ulang, asalkan kepada orang yang sama. Sekalipun dalam mimpi jatuh cinta tetap saja menyenangkan, membuat bahagia, menggembirakan.[]