Langsung ke konten utama

Mencicipi Rendang Kelinci yang Gurih dan Maknyusss

Daging kelinci dimasak rendang @Ihan Sunrise

AKU barangkali salah satu dari sekian banyak orang yang awalnya menduga daging kelinci itu nggak halal untuk dikonsumsi. Ternyata eh ternyata, kelinci itu halal kok. Sama seperti unggas kayak bebek atau ayam, atau kayak mamalia sejenis sapi dan kerbau.

Bahkan, daging kelinci mengandung protein hewani yang low kolesterol. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita kolesterol tetapi tetap ingin memenuhi kebutuhan protein hewaninya.

Ngomong-ngomong soal daging kelinci, aku memang belum pernah mencoba sebelumnya. Sampai kemarin sore, saat buka bareng sejumlah anggota GamInong Blogger di Masjid Raya Baiturrahman, olahan daging kelinci menjadi salah satu menu yang kami santap.

Ceritanya Kak Aini, salah satu GIB-ers, sehari sebelum hari H udah halo-halo di grup kalau dese mau bawain daging kelinci. Tawaran itu langsung saja kami sambut dengan sukacita. Pasalnya, seumur-umur kami (aku) memang belum pernah mencoba seperti apa rasanya daging kelinci. Jadi, wajarlah ya kalau penasaran banget sama daging yang konon katanya sangat enak itu.

Bagi orang-orang seperti aku yang doyan makan segala macam ini, salah satu hal yang paling disenangi adalah mencoba kuliner-kuliner baru. Tentu saja selama itu masih halal dan aman dikonsumsi.



Back to daging kelinci, jadi pas udah sampai di Masjid Raya, kami mengambil lapak di bawah payung di bilah kanan masjid. Kebetulan yang datang kemarin cuma empat orang GIB-ers; aku, Kak Aini, Liza dan Eky. Tapi tetap ramai karena masing-masing pada bawa anggota keluarganya.

Setelah sampai langsung saja kita pada keluarin bekal masing-masing. Sejak awal acara buka bareng ini konsepnya memang potluck, jadi kita kayak piknik dan bawa bekal masing-masing. Terus kita tukar-tukaran menu gitu. Ah.... pokoknya seru deh.

Salah satu yang menarik perhatian adalah si daging kelinci ini. Karena sejak sehari sebelumnya kita udah pada omongin duluan. Begitu Kak Aini keluarin rantangnya, muncullah penampakan daging kelinci yang dimasak rendang. Hm.....langsung deh ambil handphone lalu jepret-jepret. Soalnya belum bisa diicipin karena belum waktunya berbuka. Perlu diabadikan sebagai bukti. Di era digital ini no picture is hoax soalnya.

Nggak lama kemudian suara sirine pertanda waktu berbuka berbunyi...horee.... Allahuma laka sumtu....

Langsung deh aku yang udah nggak sabaran pengen coba rendang kelinci minta izin ke Kak Aini. Pertama ambil sepotong dulu terus taruh di piring, hanya berselang detik itu daging sudah pindah ke mulut. Mulai kunyah-kunyah dan oh.....ternyata rasanya sangat enak. Terbayar sudah rasa penasaran selama ini. Rasa dagingnya sangat empuk. Apalagi dibikin rendang, bumbunya aja memang sudah enak kan? Terus ambil lagi hahaha....

Hilang semua rasa 'geli' yang selama ini tertanam di dalam benak. Bukan apa-apa, membayangkan kelinci yang imut dan menggemaskan nggak pernah terbayangkan bisa mencicipi dagingnya. Ini juga yang bikin banyak orang nggak sanggup makan daging kelinci. Lagi pula, di Aceh belum familiar mengonsumsi daging kelinci dan tidak ada yang menjualnya layaknya ayam atau bebek.

Tapi eh tapi Kak Aini ini peternak kelinci lho. Beberapa hari lalu baru panen tiga ekor katanya. Satu ada yang beli, terus duanya dimasak sendiri dan dibawain buat kita-kita ini. Barangkali pengen beli buah dikonsumsi boleh kontak beliau di nomor ini +62 812-6939-344. Asli, rasanya enak banget lho!

Komentar

  1. Iwaaah iya kah? Akhirnya bertambah satu lagi yang bakalan nggak bisa lupa legit dan empuknya daging kelinci yang sehat itu. Makasiih ulasannya Ihaan Sayaang!

    BalasHapus
  2. Duh, Aini udah dari setahun yang lalu pengan rasa daging kelincinya Kak Syarifah Aini, malah Kak Ihan duluan yang dapat rezeki. :(

    BalasHapus
  3. Wah., enak-enak ya menunya, saat bubar kemarin! Btw, darimana ya kak Aini dapat daging kelincinya tu? Jangan sampai kelinci peliharaannya yang jadi menu untuk bubar, kasihan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya, Yelli. Baca postingannya pelan-pelan, Kakak dengan suami sudah sejak 2011 beternak kelinci pedaging. Kalau di Jawa biasanya Flemish Giant , Satin atau New Zaeland White lebih populer, cuma susah dapat bibit di Aceh, jadi kami ternakkan Rex, Lokal dan Resa (Rex Satin). So... pada dasarnya kelinci itupun seperti ayam, ada ayam hias ada ayam pedaging. Kami nggak akan potong New Zaeland Dwarf, Jersey Wolly atau English Angora untuk dimakan. Itu baru kasihaan, imut, lucu untuk piara.

      Hapus
  4. Duh, komentar loza kenapa susah banget masuknua ya? Pinhin sate kelinci nih cc kak aini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, paling enak nih disate kalau Rex Liza. Yuk, ah, kapan-kapan kalau panen ya...

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…