Langsung ke konten utama

Alasan

Banyak hal yang bisa membuat manusia terus bergerak atau berhenti pada satu fase tertentu dalam hidup mereka. Namun semua itu tidak terlepas dari sesuatu yang bernama alasan. Alasan merupakan suatu hal yang paling sering digunakan oleh manusia untuk menyelamatkan dirinya dari satu kondisi tertentu.

Ada alasan yang logis namun tak sedikit alasan yang terkesan dibuat-buat tanpa memikirkan apa dampak yang ditimbulkan dari alasan mengada-ngada tersebut. sekilas memang terlihat biasa-biasa saja, tetapi menjadi menggelikan ketika yang membuat alasan tersebut adalah orang yang ‘berpendidikan’. Berpendidikan dalam artian jenjang pendidikan yang ditempuh rata-rata mencapai perguruan tinggi, namun sedikit yang mengalami kematangan berfikir sehingga sikap dan perbuatan mereka tidak mencerminkan kedewasaan.

Kadang-kadang apabila tidak jeli, seringkali kita tertipu dengan pola orang-orang semacam ini. Mereka menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi terhadap suatu hal namun beberapa saat kemudian mereka bisa saja membuat keputusan lain yang sangat bertolak belakang.

Ironisnya, dalam kondisi apapun, dari setiap alasan yang dibuat selalu saja ada pihak yang menjadi korban, apakah secara langsung maupun tidak, benda hidup maupun benda mati. Bagi yang sudah menikah, pasangan kerap kali menjadi alasan utama, padahal kadang-kadang pasangannya tersebut sama sekali tidak tahu menahu dengan hal yang sedang dilakoni oleh pasangan mereka. Sehingga secara tidak langsung, yang akan menerima dampak buruk yang dibuat oleh suami/istri mereka adalah pasangannya, bukan yang memberikan alasan tersebut.

Bagi yang masih sendiri, orang tua kerap menjadi alasan utama dalam mengambil keputusan apapun. Bahkan dalam konteks tertentu, yang memiliki pacar kerap menjadikan pacarnya sebagai alasan.

Alasan, dalam kondisi tertentu memang kita membutuhkannya. Namun, sebagai manusia dewasa yang cerdas, hendaknya dapat menelaah mana yang baik dan tidak, mana yang berguna dan tidak untuk dilakukan, sehingga sebelum alasan dibuat benar-benar sudah dianalisa dengan analogi yang benar setiap tindakan yang sedang dilakukan.

Namun, dalam praktiknya banyak orang yang belum mengerti apa hak dan kewajibannya, apakah sebagai anak, sebagai istri, suami, teman atau bahkan pacar. Sehingga kerap kali mereka tidak dapat membuat keputusan yang bijak untuk diri mereka sendiri.

Bagi orang-orang reaktif, membesar-besarkan alasan memang memiliki kesenangan tersendiri bagi mereka. Ketika dengan sadar mereka telah membuat lingkungan sekitarnya menjadi labirin, dan dengan sadar pula mereka masuk ke dalamnya. Lalu secara sadar pula mereka akan menyalahkan, bahwa lingkungan telah menjebaknya dalam labirin yang sukar diurai.

Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan kehidupannya. Nyaman dengan apa yang mereka punyai. Namun, konteks nyaman ini sendiri sangatlah kompleks, tergantung dari sisi apa kita melihatnya. Namun yang pasti, nyaman berbeda dengan aman. Dalam satu kondisi tertentu kita kerap merasa nyaman, namun belum tentu merasa aman. Bukan saja aman dalam hal non material tetapi juga dalam hal material.

Orang-orang reaktif ini adalah kebalikan dari orang-orang pro aktif yang suka menjadikan rintangan menjadi tantangan. Mereka dapat melihat sesuatu yang berbeda dari setiap kejadian yang tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakan. Dan mereka biasanya senang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Kenyataannya, dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan, orang-orang pro aktif ini akan menerima banyak komentar dari masyarakat di sekelilingnya. Terlepas apakah itu positif maupun negatif. Tetapi, kalaupun yang mereka terima adalah komentar negatif, orang-orang proaktif akan mampu mengolahnya menjadi energi positif yang akan membuat mereka terus menjadi petualang hingga akhirnya apa yang mereka inginkan benar-benar tercapai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.