Langsung ke konten utama

Kole & Melo

-->
Beberapa orang teman mengatakan kalau saya terlalu ambisius, yah...mungkin saja, untuk beberapa hal yang menyangkut dengan masa depan dan apa yang saya inginkan memang saya sangat ambisius. Dan untuk memperoleh itu semua saya berusaha menjadi pribadi yang se-fleksibel dan se-teachable mungkin. Belajar bagaimana untuk dapat menerima dan mengaplikasikan informasi positif dari siapapun tanpa pernah melihat apa latar belakang si pemberi informasi tersebut.
Dalam beberapa waktu terakhir saya dan beberapa orang teman dapat membentuk sebuah komunitas yang sangat positif dan hal ini sangat membantu perkembangan diri saya yang memang sangat tergila-gila dengan mobilitas. Berjam-jam masa dihabiskan untuk membicarakan hal-hal yang unik dan menarik adalah hal yang paling menyenangkan bagi saya pribadi. Bahkan kadang-kadang hingga menjelang malam hari, tetapi tentu saja tetap memperhatikan aturan yang berlaku dan yang saya tetapkan sendiri.
Lebih lengkap lagi ketika setiap hari ada jadwal khusus untuk bertemu dengan setiap orang yang memiliki aktivitas dan latar belakang yang berbeda dengan saya. Proses ini sering saya sebut sebagai proses pengayaan diri. Bayangkan, bila saya tidak ambisius, saya tentu tidak akan mengenal seseorang yang selama ini namanya selalu saya lihat di sebuah koran terkemuka. Ketika hal itu terjadi benar-benar ada kepuasan yang tidak dapat diceritakan dengan kata-kata biasa.
Namun, kadang-kadang kekesalan dan kemarahan kerap menghinggapi diri yang memang berwatak koleris ini. Tapi beruntungnya sifat melo mampu menetralisir kemarahan yang meledak-ledak. Seperti malam ini, pulang menjelang pukul sebelas malam, mendapati rumah kosong tanpa penghuni. Ini memang bukan masalah karena saya terbiasa seorang diri. Tetapi ketiadaan air di rumah inilah yang membuat saya kerap naik darah bila berada di rumah. Tapi untungnya kamar kecil ini cukup bisa memberikan kekuatan untuk menyedot perasaan tak nyaman tersebut.
Saya juga bersyukur mempunyai banyak hal yang bisa meredam emosi saya, kadang-kadang bila sedang sangat kesal saya putar lagu diamond saya yang berjudul de’sire yang dipopulerkan oleh Life dan freedom. Ke dua lagu tersebut benar-benar bisa membuat saya lega dan kemarahan saya mencair, dan semua hambatan-hambatan kecil melebur. Kalau ini terjadi saya ingin malam segera berakhir dan matahari segera benderang, tak sabar rasanya untuk segera beraktivitas dan bertemu teman-teman.
Sehabis mendengar lagu biasanya saya suka memutar cd-cd yang menceritakan tentang bagaimana ketangguhan mental ataupun tentang pembentukan karakter menjadi pemimpin berkualitas. Ini sungguh menyenangkan, mendengarkan cd sambil menulis atau sambil membaca buku, atau bisa juga sambil me-review pekerjaan, tapi diantara semua itu yang paling menyenangkan adalah mendengarkan cd sambil menelepon. Karena biasanya akan terjadi diskusi-diskusi kecil mengenai topik yang dibicarakan dengan teman tersebut. Satu lagi, saya orang yang senang terlibat diskusi.
Pribadi yang koleris kadang-kadang membuat saya tidak dapat mentolerir sesuatu, bila mengingat ini memang lucu karena sering kali orang-orang yang plegmatis menjadi korban bila saya sedang kesal.

Komentar

  1. Memang plg suntuk klw plg ke rmh ga ada air...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.