Langsung ke konten utama

Kantung Rahimku Berisi Tequila Ley


Apakah hidup hanya bermuara pada satu hal bernama pernikahan? Aku selalu tergelitik pada pertanyaan sederhana ini. Sebab kulihat, terutama perempuan akan merasa khawatir bila di usianya yang telah cukup untuk menikah tetapi belum menemukan pasangan yang cocok dan siap menikahi mereka.

Aku perempuan, dan aku sangat memahami bahwa menjadi perempuan terkadang cukup kompleks. Awal mula kompleksitas itu muncul ketika pertama kali kudapati celana dalamku dipenuhi bercak merah yang mengerikan. Kengerian yang kemudian memunculkan sensasi lain; semacam perasaan lega bahwa aku telah benar-benar menjadi perempuan, sebentar lagi payudaraku yang awalnya hanya seperti duri pohon randu akan tumbuh besar, padat, kenyal dan menggemaskan, dan bersamaan itu muncul pula perasaan lain dalam diriku, mungkin sedikit rasa bangga akan sesuatu yang menonjol di dada yang tak lagi bidang.

Menjadi perempuan berarti harus bersiap-siap untuk bermetamorfosis, bersiap-siap ketika tubuh mengirimkan sinyal ragawi, bahwa sebagai perempuan aku memiliki kantung rahim yang suatu saat harus diisi dengan wine memabukkan dari sperma para pria. Dan itu hanya terwujud dengan terjadinya pernikahan.

Oh yeah! Ini selalu menarik, sebab pikiranku selalu jauh dari keinginan untuk menikah. Aku tidak ingin ekstrim, tetapi sejauh ini menikah bukanlah prioritas dalam hidupku.
Lalu, bagaimana dengan wine di kantung rahim itu? Apakah mesti wine? Bagaimana kalau tequila ley.925?
Seperti kebanyakan perempuan lainnya, aku pernah membayangkan kira-kira seperti apa itu pernikahan, dimulai dari resepsi mewah, menjadi raja dan ratu sehari, menerima ucapan selamat dari rekan dan handai taulan, lalu malam pertama yang usai dengan kesan datar, dan kehidupan menjadi seperti biasa saja.
Bayangan-bayangan yang mulai hilang sejak payudaraku (kurasa) mulai berhenti bertumbuh, dan darah di celana dalamku tidak pernah muncul dengan warna berbeda, dan sejak aku memahami bahwa aku memiliki cinta luar biasa pada lelaki kekasihku. Aku tak pernah ingin menikah dan tidak terobsesi untuk menikah sejak aku mengikrarkan bahwa aku akan selalu mencintaimu.

Aku ingin mencintaimu dengan bebas, dengan lepas, tanpa ada tuntutan bahwa kita harus menikahi fisik satu sama lainnya untuk menyempurnakan keindahannya. Aku ingin menikah dengan jiwamu, dan ingin engkau menikahi jiwaku, karena kebahagiaan akan mencapai klimaksnya ketika jiwa dipenuhi kebutuhannya.
Menikah tidak akan pernah menyelesaikan masalah kita, juga kompleksitas kita sebagai manusia.

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…