Langsung ke konten utama

Sepasang Burung Liar

ilustrasi @kutilang.co.id

Hei, apa kabarmu di sana? Semoga kau jauh lebih baik dariku. Semoga senyummu tak pernah berubah, senyum penuh goda yang selalu melekat di ingatanku. Senyum menyenangkan dan menenangkan yang pernah kulihat dan akan selalu kurindukan.

Juni baru saja berakhir, bersamaan dengan gugur terakhir kelopak angsana kuning. Juni pernah memekarkan kuncup-kuncup bunga di hati kita. Berawal dari musim panas bulan Maret yang kering. Memasuki Juli baru aku sadar bahwa kelopak angsana terakhir yang gugur itu adalah kamu.

Kau tahu apa yang tersisa sekarang? Rindu, rindu menggebu-gebu yang memaksaku menghadirkan wajah ranum dan senyum matangmu di setiap pejaman mata. Rindu yang memaksaku untuk bergumul dengan kata-kata karena itulah reinkarnasi terakhirmu.


Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak pernah tahu bahwa kau benar-benar berarti di hidupku. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu bahwa aku benar-benar bisa mengalahkan ego yang selama ini mengepungku. Ego untuk memilikimu seumur hayatku. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu betapa kau sangat pantas untuk dicintai dan dikasihi. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu bahwa kau bukan untuk dimiliki.

Karena kita adalah sepasang burung liar yang punya sepasang sayap untuk menentukan arah hidup masing-masing. Sepasang burung liar yang dipertemukan angin di dahan paling tinggi di pohon rasa. Sesaat kita berteduh, mengunyah buah-buah ranum yang memikat hati. Kemudian kita tertidur, lelap, sampai angin membangunkan kita.

Ah, untuk sesaat aku kehilangan imajinasku. Aku mulai kebingungan bagaimana menjalin kalimat-kalimat indah seperti yang sering kujalin dulu. Beberapa potong di antaranya kutitip kepada angin untuk disampaikan padamu. Bahwa aku rindu. Sangat!

Komentar

  1. Rindu ketika seharusnya berpisah, sepertinya itulah makna dari puisi ini ... Semoga bukan rindu terlarang, hehe ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.