Langsung ke konten utama

11 Fakta Menakjubkan Tentang Gaza

Masyarakat Aceh menggelar aksi simpatik untuk mendukung Palestina, Minggu 13 Juli 2014.
Foto by ATJEHPOSTcom

1). Ternyata warga negara asing yang disegani oleh warga di sana adalah warga negara Indonesia! Selain karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (semoga warga Palestina tidak mengetahui kondisi keIslaman Indonesia supaya tidak kecewa ), juga karena Indonesia selalu memberikan dukungan moriil dibandingkan dengan negara lain, baik negara di Timur Tengah lain sekalipun.

2). Walaupun tinggal di area konflik, anak-anak di Gaza tidak ada yang trauma sedikitpun. Wajah mereka selalu riang dan ceria!.

3). Ternyata rata-rata pendidikan minimal warga sana adalah S2 !

4). Saat mengunjungi panti orang cacat, disana juga para penghuninya juga tidak ada yang murung. Semuanya menampakkan wajah ceria! Yang mereka yakini adalah bagian tubuh mereka yang tidak ada telah mendahului mereka ke Surga.

5). Rata-rata masyarakatnya hafidz 30 juz.

6). Rata-rata ibu-ibu disana tidak tidur sebelum membaca 3 juz al Qur’an!

7). Saat komisi X DPR kesana, mereka sempat mengunjungi penjara hasil tawanan Israel. Dan ternyata di sana berisi ibu-ibu dan anak Palestina yang dikurung dengan dakwaan yang tidak jelas alasannya. Dan hukuman untuk mereka rata-rata tidak logis. 1000 tahun penjara! Sebegitu takutkah Israel terhadap Palestina?

8). Setiap anak kecil yang ditanya, mereka bercita-cita menjadi pasukan Izzuddin Al Qasam dan syahid di jalan Allah 

9). Angka kelahiran selalu sama dengan atau lebih besar dari angka kematian. Tanah yang takkan kekurangan Pejuang!

10). Sebagian dari warga dunia mengira rakyat Palestina memperjuangkan ‘tanah kelahiran mereka’.  Nyatanya jawaban mereka adalah, ’ kami disini memperjuangkan tanah yang memang ditakdirkan untuk umat Islam. Hanya saja karena kami lah yang ditakdirkan untuk lahirdisini, makan kami lah berkewajiban untuk melindungi tanah umat Islam ini’.


11). Di sana tidak ada pupuk. Namun ternyata semua hasil pertaniannya adalah grade A. Grade terbaik! Memang, tanah akan kian subur apabila disirami darah para Syuhada!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…