Langsung ke konten utama

Mengapa Mudahnya Pria Menganggap Perempuan Tak Ada?

ilustrasi

Mengapa laki-laki mudah sekali untuk tak 'menganggap' perempuan ada? Saya tidak pernah membuat penelitian khusus soal ini, tapi cerita di bawah ini mungkin bisa sedikit menjelaskan.

Sepasang suami istri yang cukup saya kenal, punya tiga anak dengan usia sekitar 14 tahun, 12 tahun dan 1 tahun. Mereka bukan keluarga yang berlebihan, tapi juga tidak terlalu kekurangan. Sudah punya rumah sendiri, dan punya kios kecil yang dikelola untuk membantu menopang kehidupan sehari-hari. Suaminya bekerja di sebuah bengkel dengan penghasilan yang tidak terjadwal.

Belum lama ini keluarga kecil itu mengalami cekcok. Masalahnya sepele, si istri rupanya membuka usaha sampingan tanpa sepengetahuan suaminya. Awal saya juga tak setuju dengan cara ini, bagaimanapun sepasang suami istri haruslah saling terbuka. Tak boleh ada yang ditutup-tutupi, begitulah salah satu 'trik' kelanggengan rumah tangga yang sering saya baca di buku-buku motivasi.


Setelah mengobrol lebih jauh dengan istrinya, sebut saja Annisa, barulah saya tahu kalau ia memang sengaja tidak memberi tahu suaminya.

"Nanti kalau semua persiapan sudah selesai baru saya memberitahunya," kata Annisa kepada saya.

Mengapa harus nanti? Terbersit tanya di hati saya. Ceritanya panjang kalau mau dijabarkan secara runut, yang pasti suaminya tak setuju kalau istrinya punya usaha karena takut kalah 'saing'.

"Baru punya usaha begitu saja sudah 'keras' bicaranya," begitulah tuduhan tak beralasan yang dilontarkan suaminya kepada Annisa.

Untuk memulai usahanya Annisa menjual emasnya yang tak sampai dua mayam. Ditambah dengan sedikit pinjaman dari tetangga, ia mulai memesan gerobak dorong, membeli peralatan dan juga perlengkapan lainnya. Annisa berencana membuka usaha martabak manis. Seorang keponakannya bersedia menjadi juru racik sekaligus penjualnya.

Baru beberapa hari Annisa berjualan meledaklah 'perang' di keluarga mereka. Si suami melontarkan semua uneg-uneg yang kadung menggunung di hatinya. Ia merasa tak dihargai, mengapa istrinya mesti main kucing-kucingan begitu? Si istri, demi menjaga 'keharmonisan' rumah tangga tidak sepatah kata pun ia membantah. Semua celaan dan ucapan-ucapan bernada mengungkit diterimanya begitu saja. Bukankah suami harus dihormati? Harus menjadi yang nomor satu?

Masih berdasarkan cerita Annisa, sejak dulu suaminya melarangnya untuk memiliki usaha. Saya perhatikan Annisa ini sangat cekatan, ia rajin membuat kacang goreng, kerupuk, kue, memotong buah untuk dijual di kiosnya dan dititip di kios lain. Uang itu ditabung dan dibelinya emas, pernah suatu kali saya mengetahui ia menjual emas yang belum lama dibelinya untuk melunasi hutang suaminya di rentenir.

Dulu waktu anak-anaknya masih kecil ia juga pernah berjualan cairan pemutih pakaian keliling. Belakangan suaminya tahu dan Annisa dilarang berjualan. Dalihnya, uang belanja yang diberikan suaminya sudah cukup.

Soal cukup mungkin memang ada perbedaan definisi antara laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki 'cukup' makan saja mungkin sudah cukup. Sementara bagi perempuan cukup itu artinya memiliki satu dua peralatan rumah tangga yang memadai, punya sedikit uang tabungan jika dibutuhkan mendadak sudah ada cadangan, belum lagi kebutuhan anak yang selalu merengek pada ibunya. Apakah semua itu bisa terpenuhi jika perempuan sama sekali tidak punya penghasilan sendiri?

Inilah yang dilakukan Annisa, ketika ia ingin sekali punya mesin cuci, ia rajin membuat kue dan uangnya ditabung. Setahu saya ia hanya meminta tambahan beberapa ratus ribu saja dari suaminya. Begitu juga ketika ia ingin membeli peralatan pecah belah.

Sebagai istri Annisa juga seringkali merasa tak dihargai. Suaminya selalu mengambil keputusan sendiri, ia tak pernah diajak bermusyawarah termasuk dalam memberikan uang pada anak-anaknya. Jika punya uang suaminya itu sering langsung memberikan uang pada anak-anaknya bukan melalui Annisa. Padahal sebagai istri Annisa ingin uang untuk anak-anaknya diberikan melalui dirinya. Supaya ia bisa 'mengatur' anak-anaknya sendiri.

Apakah bisa seorang istri tidak menggenggam uang sepeser pun ketika suaminya tidak di rumah? Bagaimana jika ada tamu datang tiba-tiba dan harus menjamunya. Untuk membeli sebutir telur dan sebungkus mie instan juga perlu uang. Bagaimana kalau anak tiba-tiba sakit? Apakah obat demam atau penghilang nyeri di apotik bisa didapatkan gratis atau ngutang dulu?

Tapi saya percaya tidak semua laki-laki seperti itu, mungkin kamu salah satunya :-)

Komentar

  1. Masih banyak kak pria yang seperti itu, yang melarang wanita ini dan itu tapi yang dia kasih juga hanya segitu saja.

    #eh
    #bukancurhat

    BalasHapus
  2. suka sama postingannya, tapi kelanjutannya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe nanti kalau luang disambung lagi mbak :-)

      Hapus
  3. Sebenarnya semua bisa dikomunikasikan dengan baik, hanya saja perempuan lebih banyak yg segan mengutarakan isi hatinya kepada suaminya. Coba saja bicara jujur dan terus terang, alasannya ikut mencari uang. Asalkan tdk meninggalkan urusan rumah tangga. Kalau istri bicara dgn baik, tdk menyinggung suami, jujur, dari hati ke hati, dilakukan sambil mijitin suami atau nyuapin suami, pasti deh suaminya mau mendengar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahhaah kalau bisa kayak gitu enak kali mbak :-D

      Hapus
  4. Sebaiknya memang kudu jujur dan terbuka dengan suami. :)

    BalasHapus
  5. Ini curhat atau apa ya kak? hehe
    tapi bagus cerita nya. Bisa jadi pelajaran :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…