Langsung ke konten utama

Kami Sudah Bercerai

ilustrasi cerai
Sebut saja namanya Faula. Dia teman saya waktu di pondok pesantren dulu. Setelah belasan tahun tidak bertemu, kami kembali bersua saat lebaran Idul Fitri kemarin. Saya dan Faula bertemu di rumah Abu, pemimpin pondok pesantren tempat kami mengaji dulu.

Tak ada yang berubah dari Faula, setidaknya saya langsung mengenali wajahnya begitu masuk ke rumah Abu.

"Faula kan?" Tanya saya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Dia mengangguk, sambil merengkuh sodoran tangan saya.


Saya duduk di sampingnya. Wajah Faula tampak cerah dengan setelan baju warna kuning telur dan kerudung warna senada. Bibirnya tak henti mengembangkan senyum, bicaranya juga masih sama seperti dulu; lembut. Sesekali ia berbicara dalam bahasa Indonesia dan saya jawab dengan bahasa Aceh.

"Kamu pergi dengan siapa, dengan Iyan ya?" Tanya saya kemudian.

Iyan, suami Faula adalah teman saya. Kami satu angkatan saat SMP dan SMA walau tak pernah satu kelas. Saat tamat SMA Iyan melamar dan menikahi Faula yang waktu itu baru tamat SMP. Saya sendiri tak bisa hadir di pesta pernikahan mereka karena begitu tamat SMA langsung ke Banda Aceh untuk melanjutkan kuliah. Tapi jauh-jauh hari sebelum mereka menikah, saat kami masih sama-sama mengaji di pesantren, Faula sering bercerita mengenai rencana pernikahannya dengan Iyan.

Saya masih ingat wajahnya yang berbinar-beniar kala menceritakan 'keberuntungannya' menikah muda. Apalagi saat itu Iyan sudah bekerja di PLN ranting di kecamatan tempat kami tinggal. Saya dan juga beberapa teman lain turut memberikan selamat dan ikut berbahagia. Tapi mendengar jawaban Faula hari itu sungguh membuat saya kaget.

"Kami sudah bercerai!" Kata Faula lirih.

Sesaat saya terdiam. Dalam hati ingin bertanya kok bisa?

"Makanya jangan menikah sama pria ganteng!" Katanya lagi.
Saya masih diam. "Ehm tapi tidak semua pria ganteng seperti itu." Lanjut Faula seolah meralat kata-kata sebelumnya.

Saya masih belum tahu apa yang terjadi dengan biduk rumah tangga mereka. Saya mencoba memancing dengan beberapa pertanyaan, dan Faula sepertinya tidak ingin masalah pribadinya diketahui. Ia cuma bercerita bahwa mantan suaminya itu sekarang menjadi tahanan luar karena kasus narkoba.

"Selama masih dengan saya aja sudah dua kali digerebek di rumah karena ketahuan nyabu," suaranya terdengar tertahan.

Saya menduga-duga, mungkin itu penyebab retaknya rumah tangga mereka. Faula juga bercerita selama sepuluh tahun menikah mereka belum dikaruniai buah hati, saya tak berani bertanya lebih jauh apakah itu juga menjadi salah satu pemicu. Bukankah banyak pasangan yang memutuskan berpisah karena tidak punya keturunan?

"Syukurnya kami belum punya anak," katanya sambil tersenyum.

Dua tahun setelah bercerai Faula pergi ke luar kota, ia bekerja di sebuah toko sepatu. "Ijazah SMA saja saya tidak punya," katanya.

Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Kehilangan kata-kata. Di usia yang begitu muda, belum genap 30 tahun Faula sudah menyandang status janda. Status yang saya yakin tidak seorang perempuan pun di dunia ini menginginkannya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis