Langsung ke konten utama

Rindu Mengubah Senja Menjadi Sendu

Ilustrasi senja @pixoto.com

Berbulan-bulan sudah rindu ini tertanam di dalam hati. Kukira sore ini adalah puncak dari semua pergumulan rasa yang tertanam itu. Rindu telah mengubah senja menjadi sendu. Bahkan butir hujan yang hinggap di kaca jendela tak lagi menarik untuk kunikmati. Pucuk-pucuk daun yang digoda angin menjadi tak lagi menghibur. Semuanya bergerak begitu datar, sama sekali tanpa ritme yang biasanya selalu merdu bagai kicau murai.

Dapatkah engkau merasakan betapa hati ini telah mendidih demikian hebatnya? Dapatkah engkau menangkap magma yang mengembun dari balik kata-kata? Dapatkah engkau mencium aroma kesepian yang kian menyengat?

Tidak! Kau tidak akan mengetahui semua itu, bahkan untuk secuil saja. Meski aku melolong panjang pada setiap purnama untuk menggaduhkan semua itu, gendang telingamu tak akan mampu menangkap semua jeritan itu.

Bukan karena kau tidak ingin mendengarnya, tapi aku mengurung semua lengkingan itu di ceruk hatiku yang paling dalam. Bahkan aku sendiri pun tak mampu mendengarnya, bahkan hanya untuk suara kecil serupa desis melata paling berbisa.

Berbulan-bulan rindu itu membesarkan api cinta yang kukira sebentar lagi akan meledak. Anak-anak imajinasi kemudian lahir berloncatan, satu-satu hadir di hadapanmu. Kukira pada saat itu kau akan mematung sejenak serupa seorang durhaka yang dikutuk ibundanya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…