Langsung ke konten utama

Kau, Semestaku!



Kawasan pantai di Ulee Lheue Banda Aceh @+Ihan Sunrise 

Tiba-tiba aku teringat pada sebuah catatan yang kau kirimkan untukku, Zenja. Isinya tentang betapa dahsyatnya sepotong senyuman. Tulisan yang kau buat karena terinspirasi dari sikap baik seorang rekan kerjamu. Kau masih ingat kan?

"Aku ingin mempublikasikan tulisan ini, tapi sebelumnya tolong kau periksa," pintamu melalui layanan chatt box.

"Mengapa tidak langsung kau publish saja?"

"Kau tahu kan, aku bukan penulis yang baik hehehe... "

"Baiklah, tunggu sekejap. "

Tak sampai lima menit kemudian aku mengembalikannya untukmu. Kau membalasnya dengan emoticon. Kau kegirangan sekaligus takjub.

"Cepat sekali."

Aku tak menganggap itu sebagai pujian. Tulisan yang kau kirim hanya beberapa paragraf. Aku hanya perlu mengubahnya sedikit, seperti mempertajam konteks tulisan, mengoreksi tanda baca, atau huruf yang kurang dan typo. Jadi, tak terlalu banyak menyita waktuku.

"Sekarang postinglah, kita lihat bagaimana reaksi rekan-rekanmu pada tulisan itu," perintahku padamu.

Beberapa detik kemudian kau mengirimkan tautan untuk tulisanmu itu.

"Aku senang membaca tulisan-tulisanmu, aku selalu mengintip 'rumahmu', kau punya kata-kata yang apik, tidak seperti aku yang berantakan," katamu di lain waktu.

"Itulah satu-satunya modal yang kupunya untuk mencintaimu," jawabku tergelak.


"Satu tapi melampaui semuanya. Adakah yang lebih sulit daripada mengungkapkan perasaan kita kepada seseorang? Sebab, i love you saja tidak cukup. Membuktikan saja tanpa pernah mengatakannya juga terasa hambar. Tapi kau, lewat narasi-narasimu, menyampaikan tentang apa yang hatimu rasakan langsung kepada hatiku. Jika sekali dua kau melakukannya, aku pasti akan menyangka itu sebagai gombalan, tapi jika kau melakukan itu selama kau mengenalku, dan aku menerimanya selama aku mengenalmu, itulah yang kita definisikan sebagai cinta."

Di lain waktu kau menyodorkan aku sebuah desain.

"Apa judulnya cocok? Apa kata-katanya sudah tepat? Apa warnanya serasi? Apa ilustrasinya oke?"

"Zenja, kau membuatku cemburu lagi."

"Hahaha.... Nanti kalau bukumu terbit aku janji akan menulis kata pengantar di halaman keduanya."

"Hmm.... "

"Apa sudah bisa begitu covernya?"

"Sudah. Itu sudah mewakili untuk buku teknis seperti yang kau tulis."

Zenja, jujur saja aku cemburu padamu. Selama ini aku 'merasa' telah menjadi penulis, tapi nyatanya kaulah yang sebenarnya penulis. Kau sering meminta bantuanku untuk memeriksa artikel-artikelmu yang kau tulis dengan cepat. Tapi memikat dan kaya makna.

Beberapa hari lalu aku mengirimkanmu email, sekadar mengabarkan kalau aku akan ikut semacam audisi antologi cerita pendek bertema 'kekasih'.

"Saat membaca temanya aku langsung teringat padamu."

"Kau ingin menuliskan tentang kita?"

"Tidak. Tentang kita adalah milik kita, aku lebih senang mengabarkannya pada angin atau pada debur ombak."

"Semesta adalah tempat menyimpan cerita paling rapat, bahkan seekor burung yang berusaha merapatkan telinganya tetap tidak bisa menguping, " jawabmu.

"Ya, itulah mengapa aku memilih namamu sebagai judul cerita yang kutulis. Karena kau adalah semestaku, Zenja!"[]

Komentar

  1. antara seru sama takut bacanya Han.. mirip2 menghadirkan seorang teman khayalan .. iiiiii

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…