Langsung ke konten utama

Percakapan

@Ihan Sunrise
Seberapa sering kita harus melempar batu ke danau, hanya untuk menikmati riaknya yang sesaat?
Dan berapa banyak batu yang harus tenggelam untuk itu?
Tidak, maksudku, mengapa kita harus memaksa agar danau terus ber(ter)iak, sementara dia tidak ditakdikan bergelombang.Kita bukan samudera yang memiliki ombak dan mampu mengeluarkan gemuruh. Kita hanyalah sunyi, sunyi, sunyi, bagai danau di perut gua karang. Tak tersentuh!

Zenja, aku tertidur usai menuliskan kalimat-kalimat itu semalam. Tidur dengan membawa rasa sakit kepala yang menusuk-nusuk. Kurasakan seperti ada dua tiga paku yang menancap-nancap di ubun-ubun dan puncak kepala. Rasanya ingin kucabut satu persatu rambutku untuk mengurai rasa sakit.

Sesaat sebelum mataku benar-benar terpejam, ada sesuatu yang mengalir dan mengapung di pelupuk mata. Tak bisa kubedakan apa itu keluar karena rasa sakit yang menancap, atau karena mengingatmu. Tapi syukurlah, aku merasa lebih baik saat bangun pagi tadi.

Berwarna apa langit di atasmu saat ini, Zenja? Samakah dengan langit yang kujunjung di atas sini? Matahari sangat garang, melebihi garangnya lidah api yang keluar dari mancis milik pria perokok. Atau teduh, seteduh matamu saat memandangiku. Dan karenanya aku tersipu, malu,  lalu membalasnya dengan mencubitmu bertubi-tubi.


Kau bisa bayangkan, kegarangan itu harus bercampur pula dengan aroma politik yang menyengat. Ya, di sini sedang riuh dengan pemilihan kepala daerah. Banyak orang memamerkan kelingking mereka yang telah dicelupkan ke dalam tinta biru. Eforia politik mengapung di udara bagai anai-anai yang diterbangkan angin. Tak sedikit yang sesumbar.

Ah, mengapa aku harus menceritakan ini padamu? Tanpa kuberitahupun, kau dengan mudah mengetahui segalanya. Sama seperti lima tahun lalu, saat kau mengabarkan ada seorang mantan orang nomor satu di negeri kita yang mendapat perlakuan tak enak di hari pelantikan.

"Kau bahkan tak memberitahuku kalau kau sedang ada di sini," rajukku.

"Hehehe.... kita tetap tak bisa bertemu di gedung itu bukan?"

"Ini bukan soal di mana kita akan bertemu."

"Lalu, tentang apa?"

"Tentang mengapa mereka harus mengundangmu untuk menyaksikan momen lima tahunan itu?"

Kau tergelak. "Sudah kukatakan, akan ada banyak sekali kejutan untukmu."

"Kejutan, sejatinya seperti meriam bambu. Jika kita tak awas letupannya akan membuat kita terbakar."

"Adakah yang lebih membuatmu atau aku terbakar selain cemburu?"

Aarrgghhh.... aku malas berdebat denganmu. Kau memang bukan jebolan fakultas ilmu sosial ataupun politik. Tetapi selalu mampu membuatku tak berkutik. Dan panca inderamu seolah mendukung untuk semua itu.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.