Langsung ke konten utama

Selamat Ulang Tahun Guru Kami Yarmen Dinamika

Sudah lama saya ingin menuliskan sesuatu tentang Pak Yarmen, tetapi belum ketemu momen yang tepat. Malam tadi, begitu pergantian waktu dari 'pm to am', di beranda Facebook saya langsung berganti pula nama teman-teman yang berulang tahun. Salah satunya muncul nama Yarmen Dinamika. Aha! Hati saya berteriak girang. Inilah saat yang tepat menuliskan tentangnya.

Sungguh, jika semalam saya belum memosting tulisan di Steemit beberapa saat sebelum pukul 00.00 WIB, maka saya akan menayangkan postingan ini. Anggaplah ini sebagai kado dari seorang murid kepada gurunya. Sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih atas ilmu-ilmu yang ia berikan untuk kami (saya) selama ini.

Saya sangat bangga bisa menjadi muridnya hampir setahunan ini melalui wadah Forum Aceh Menulis (FAMe). Merasa beruntung karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang saya dapatkan. Selama belasan tahun saya hanya mendengar namanya saja, bukankah istimewa jika pada akhirnya saya menjadi salah satu muridnya?



Pertama kali saya mendengar nama dan melihat Pak Yarmen pada 2005 atau 2006 silam. Waktu itu beliau menjadi salah satu narasumber untuk pelatihan jurnalistik yang dibuat oleh BEM Unsyiah. Saya salah satu pesertanya. Namun ingatan saya tak bisa memutar ulang fragmen masa lalu itu dengan baik. Memori saya juga tak mampu merekam seperti apa wajah Pak Yarmen ketika itu. Yang saya ingat, salah satu narasumbernya dari Serambi Indonesia.

Saya malah lebih ingat pada Srikawati, salah satu peserta pelatihan yang berasal dari Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah. Srikawati waktu itu kontributor untuk salah satu media di Jakarta. Jujur saja, itu sangat keren kedengarannya.

Nama Pak Yarmen mulai sering saya dengar sejak saya bekerja di The Atjeh Post dalam rentang waktu 2012-2014. Di pengujung 2013, untuk yang kedua kalinya kami berada di forum yang sama. Hari itu saya mendengar namanya disebut-sebut dalam diskusi seminar tesis Bang Alfi Rahman di Magister Kebencanaan Unsyiah. Beliau sempat berbicara, tapi sayang saya tak bisa melihat wajahnya.

Pertengahan tahun lalu ketika ada ajakan untuk mengikuti kelas yang diampu oleh Pak Yarmen, saya tak berpikir dua kali. Saya termasuk orang yang memercayai teori sederhana ini: bahwa manusia terbentuk berdasarkan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Maka saya memutuskan untuk membentuk diri saya dengan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang diajarkan langsung oleh Pak Yarmen. Sejak saat itu saya memutuskan agar bisa menjadi murid yang baik. Saya meyakini beliau adalah guru yang bisa mendekatkan saya pada impian-impian saya di ranah literasi.

Setelah hampir genap setahun menjadi muridnya, saya merasa menyesal. Duh, kok terlambat sekali saya mengenalnya sih? Kenapa tidak dari dulu. Aduh! Ke mana saja saya selama ini. Pada @hayatullahpasee sering saya katakan, betapa beruntungnya kami bisa menjadi murid Pak Yarmen.



Pak Yarmen guru yang asyik. Ia tak hanya menguasai banyak ilmu tetapi juga sangat baik dalam mentransfer pengetahuannya. Ia juga kerap mengedifikasi murid-muridnya di depan koleganya. Beberapa nama cukup sering ia promosikan di dalam forum.  Sikap positif yang ia tunjukkan ini tentunya akan menambah kepercayaan diri murid-muridnya.

Ia juga seseorang yang sangat rendah hati. Saya sering tak habis pikir, bagaimana mungkin orang sekaliber Pak Yarmen bersedia mengajarkan kami menulis sambil lesehan di kolong rumoh Aceh. Banyak waktu yang seharusnya ia habiskan bersama keluarga di akhir pekan justru ia habiskan bersama kami untuk kelas-kelas khusus. Ia juga menularkan semangat dan keikhlasannya kepada para koleganya sehingga kami, khususnya anak-anak FAMe bisa mendapatkan ilmu-ilmu lainnya secara gratis.

Tapi itulah Pak Yarmen kami. Hari ini usianya genap 53 tahun. Usia setengah abad rasa seperempat abad. Itulah Pak Yarmen kami. Guru kami. Semoga Allah memanjangkan usianya. Selalu melimpahkan kesehatan untuknya. Memudahkan rezekinya. Selamat ulang tahun guru kami Yarmen Dinamika.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.