Kecup Terakhirmu Itu



Apa pun yang terjadi denganmu akan kucatat sedetail-detailnya. Jika tak mampu kunarasikan dengan baik, akan kucatat di dalam memori terbaikku. Agar kelak semua itu menjadi kenangan indah buat kita. Ya kan, Zenja?
Terima kasih untuk waktumu. Terima kasih untuk cintamu yang besar. Untuk tatapanmu yang selalu penuh gebu dan cinta. Untuk kecupan hangat yang kau daratkan di keningku. Untuk genggaman erat di jemariku. Untuk lenganmu yang bisa kugandeng dengan mesra.
Untuk langkahmu saat membersamaiku menyusuri sebagian lekuk kota ini. Untuk peluk yang menenangkan dan meredam semua emosi. Untuk ruang dan waktu yang hanya milik kita berdua. Ya, hanya milik kita berdua. Untuk kesabaranmu menghadapiku yang sering tak pernah sabar.
Aku tak pernah menghitung sudah seberapa jauh perjalanan kita. Yang kutahu jarak agar kita bisa bersama semakin pendek. Semakin singkat. Kepada Tuhan kita selalu berdoa bukan?
Setiap kali memandangmu aku selalu mendapatkan kekuatan baru. Melihat senyummu, hatiku ikut mengembang. Berubah menjadi energi besar untuk hari-hari berikutnya tanpamu. Semuanya memang tak mudah, tapi yang tak mudah itu mengajarkan kita banyak hal. Mengajarkan kita tentang apa itu bersabar.
Aku jatuh cinta (lagi) padamu, Zenja. Cinta yang tak bisa kunarasikan dengan baik. Cinta yang mengacaukan segala emosi. Cinta yang menerbitkan senyum matahari.
Januari atau Juli, kehadiranmu di kota ini selalu memekarkan bunga-bunga angsana di tepi jalan. Dan kecup terakhirmu itu, Sayang... akan kuingat hingga aku lupa bagaimana caranya mengingat.[]

Komentar