Langsung ke konten utama

Yang Lebih Kurindukan Daripada



"Selamat pagi, Cinta."

Sayup-sayup kudengar suaramu mampir ke telingaku. Aku menggeliat. Menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali.

"Sayang?"

Kembali kudengar suaramu. Aku mengerjap-ngerjap. Mengumpulkan seluruh kesadaranku. Kutoleh ke kiri, mataku langsung menangkap berkas-berkas cahaya yang menembusi jendela kaca berlapis tirai putih dan cokelat muda.

"Sudah pagi rupanya..." aku membatin seraya menangkap sosokmu di sudut ruang.

Beberapa saat kemudian setelah mandi dan berkemas-kemas aku segera ke ruang makan. Setelah sebelumnya mendapat hadiah berupa pelukan yang hangat dan erat darimu, serta ciuman yang membuatku nyaris terbakar. Kau menyusul belakangan.

"Mau kopi?" tanyaku.

Kau menggeleng. Kau memilih jus jeruk segar dan beberapa potong sus. Sedangkan aku memilih sarapan dengan secangkir kopi, dua potong puding dan beberapa potong dadu semangka. Rasanya itu menjadi ritual pagi yang menyenangkan.

"Kita ke bawah saja," katamu sesaat setelah kita usai sarapan. "Di sana kita bisa ngobrol dengan leluasa."

"Kamu tampak lebih kurus," ujarmu semalam, sesaat sebelum kita menyusuri kota ini sambil bergandengan tangan.

"Itu karena tergerus rindu," jawabku setengah bercanda.

Kau ikut tertawa. Sangat bahagia rasanya bisa melihatmu tertawa seperti itu. Aku suka melihat senyum.

"Kita sudah lama tidak bertemu. Kamu punya cerita apa? Aku ingin mendengarnya..." suaramu bercampur dengan deru angin yang meliukkan pohon-pohon di sekitar kafe tempat kita duduk. 

"Aku hanya ingin memelukmu. Menyatukan detak jantung kita," jawabku. "ada kalanya duduk diam, saling menatap, saling bertukar senyum lebih kurindukan daripada kalimat-kalimat panjang kita."[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Puisi Langit

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang langit?
Konon katanya langit berada di suatu tempat di ketinggian sana Keberadaannya tak terjangkau segala apa yang ada di bumi
Jangan bilang bahwa kau selalu melihatnya,  Sebab itu hanyalah sekumpulan awan yang menjadi salah satu penghalang antara kau dan langit.
Kau,  Sama seperti aku mungkin juga punya hasrat untuk menatap wajah langit  Konon katanya wajah itu bertabur cahaya  Berpendar seperti kunang kunang  Merekah seperti kelopak mawar jingga yang merona.
Konon, banyak makhluk bumi yang begitu merindukannya  Berharap suatu saat ia mau membuka selubungnya dan membagikan sedikit cahaya kunang kunangnya.
Di meja makan kita berharap bisa duduk saling berhadapan Tak perlu saling bertukar kata Sebab langit memiliki kode dan bahasa yang berbeda Baginya semua begitu kompleks Ah, ya, mana ada sih yang sederhana di atas sana
Kesederhanaan itu milik bumi sepenuhnya  Tempat bagi daun daun luruh  Tempat bagi cacing membelah diri  Tempat bagi tanah bersemayam  Tempat bagi…