Sabtu, 11 Agustus 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIII


Sudah sepuluh menit lebih aku berada didepan komputer, tetapi belum ada satupun pekerjaan yang ku kerjakan. Aku samasekali tidak bisa berkonsentrasi sementara beberapa proposal yang ku rancang harus siap dicetak hari ini. Sejak tadi aku hanya duduk diam dan memperhatikan layar monitor ku saja. Sementara lagu Making love out of nothing at all-nya air supply terus mengalun tak henti-hentinya membuat ku semakin larut dalam suasana hati yang tidak menentu.

Aku tahu Direktur ku terus memperhatikan ku sejak tadi, tapi sepertinya ia juga mengerti dengan gelisah yang sedang menggulana dihati ku. Sehingga ia tidak mengatakan apa-apa dan diam saja. Sesungguhnya dikantor ini semuanya sama, kami bekerja lintas sektoral tetapi karena tuntutan organisasi tetap saja harus ada yang menjadi petinggi dan ada yang menjadi bawahan.

“Kamu ada masalah Jingga?”

Pertanyaan Andra si ibu direktur mengagetkan ku. Aku mencoba untuk tersenyum tapi terasa hambar dan getir. Aku membuka beberapa file untuk menutupi ke-kikukan-ku.

“Kalau kamu menganggap aku sahabatmu, berbagilah Ngga. Kita bisa cari solusinya bersama-sama kan?” kembali ucapan Andra masuk ke gendang telinga ku.

Aku kembali tersenyum. Tapi dengan air mata yang mengambang dipelupuk mata. Terpaksa aku berkedip-kedip berkali-kali agar air mata itu tidak jadi jatuh.

“Kalau memang tidak sanggup mengerjakan pekerjaan mu, sebaiknya jangan dikerjakan dulu. Biar nanti Sarah saja yang mengerjakan. Kan tinggal di print out saja.”

“Aku memang sedang tidak enakan. Akhir-akhir ini aku kurang istirahat dan banyak pikiran Kak. Tapi bukan karena pekerjaan, tapi soal yang lainnya.” Aku mulai bersuara. Ku pikir ada baiknya juga bila aku berbagi dengan Andra, dia sudah menikah dan paling tidak bisa memberikan jalan keluar pada persoalan yang sedang ku hadapi ini.

Dan tidak enaknya air mata ini mulai berloncatan lagi begitu aku mulai mengawali ceritaku. Rongga hati ku serasa sesak dan sengkak, lidah ku menjadi kelu. Andra memperhatikan ku dengan serius, ia tidak lagi berkomentar apapun, hanya menunggu kelanjutan cerita ku.

“Aku sedang menghadapi masalah yang membingungkan, Kak. Kepalaku mau pecah rasanya menghadapi semua ini.”

“Masalah apa itu?”

“Kakak masih ingat dengan Juan yang pernah bertemu di Kafe Kita yang aku kenalkan sama kakak beberapa bulan yang lalu?”

“Ya. Kakak ingat. Kenapa dengan dia?”

“Aku dan Juan sebenarnya punya hubungan khusus, kami saling menyukai dan berniat meneruskannya ke jenjang pernikahan. Tapi orang tua ku tidak menyetujuinya.” Mata ku menerawang, menatap langit-langit ruangan kantor yang berwarna biru muda. Ku gigit bibir bawah ku kuat-kuat agar air mata ku tidak lagi keluar.

“Tidak setuju kenapa, Dek?” jawab Andra. Ia memang begitu, kalau sedang serius selalu memanggil ku begitu. Dek!

“Karena Juan sudah menikah.”

“Apa? Sudah menikah? Dan kamu mau?” Tanya Andra beruntun.

Sudah ku duga. Dia pasti akan kaget. Aku mengangguk.

“Tapi dia sudah bercerai dengan istrinya sejak lima tahun yang lalu, dan menurutku tidak ada yang cela dari Juan yang bisa membuat ku untuk menolaknya.” Kata ku lagi. Andra tampaknya sedang berfikir, ia pasti tidak mau salah memberikan pendapat dalam hal ini. Takut aku tersinggung.

“Dan sekarang, aku diusir dari rumah karena aku tidak mau menolak Juan.”

“Apa!? Diusir?! Sejak kapan? Kok kamu ngga pernah bilang sama kakak?”

“Sudah satu bulan kak. Memang tidak ada yang tahu, dan aku tidak mau orang-orang tahu.”

“Apa aku orang lain Jingga? Jingga….sudah selama itu kamu diusir keluarga mu, mengapa baru sekarang kamu cerita sama kakak?” Andra terlihat gemas.

“Aku tidak mau persoalan pribadi ku diketahui oleh orang lain Kak. Aku merasa sanggup mengatasi semua itu, tapi ternyata tidak. Sekarang aku menjadi bingung, bingung untuk membuat keputusan.”

“Apa Juan tahu?”

“Juan tahu, itulah persoalannya. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa batas waktu pasti. Saat Juan mengajak ku menikah sekarang, aku jadi ragu, tapi bukan karena persoalan orang tua ku melainkan karena persoalan lainnya.”

“Masalah apalagi?”

“Kak?”

“Ya”

“Kakak janji ya, kalau aku bercerita yang sebenarnya kakak tidak akan mencela ku.”

“Apa selama ini kakak pernah berbuat begitu?”

“Tidak. Tapi ini masalahnya lain.”

“Ayo katakan saja,”

“Sebenarnya sebelum ada Juan, ada laki-laki lain dihati ku. Dan sampai sekarang pun masih. Aku sangat mencintainya, dan aku yakin dia juga begitu. Tapi karena sesuatu dan lain hal kami tidak mungkin bersama. Karena itulah aku tidak bisa sepenuhnya menerima kehadiran Juan. Namun, saat aku mencobanya dan keputusan ku sudah mantap untuk menerima Juan, aku baru tahu kalau ternyata Juan teman dekat lelaki yang ku cintai itu. Kakak bisa bayangkan bagaimana robeknya hati ku? Menikah dengan teman dekat kekasih ku sendiri, yang dengan sendirinya kami akan semakin menjadi sering bertemu nantinya. Itulah yang membuat ku takut dan tidak berani meneruskan hubungan dengan Juan. Tapi…dilain hal aku juga tidak ingin kehilangannya.”

“Kakak juga tidak tahu mau beri komentar apa Dek, tapi, kalau boleh kakak tahu apa yang membuat kamu dan kekasih mu tidak mungkin bersama.”

“Karena dia sudah menikah.”

“Jingga…” desis Andra kaget

Aku mengangguk.

“Kakak bukan bermaksud menyalahkan mu, tapi ini memang rumit.”

“Menurut kakak, apa sebaiknya yang harus aku lakukan?”

“Kakak hanya bisa memberi saran, tidak bisa mendikte keputusan pada mu. Tapi…coba kamu fikirkan lagi, apa untungnya bagi kamu mempertahankan laki-laki yang tidak bisa kamu nikahi, dan apa buruknya menerima Juan dengan setengah hati mu. Awalnya memang terasa sedikit berat, tapi seiring dengan berjalannya waktu, kalau kamu sudah bersamanya nanti rasa suka dan cinta yang sebenarnya itu akan hadir.”

“Itulah yang aku tidak yakin Kak.”

“Keraguan mu itu sebenarnya adalah racun bagi masa depan mu, sampai kapan kamu akan terus memenjarakan perasaan mu begitu? Apa kamu tidak ingin punya keluarga sendiri yang utuh dan bisa kamu atur sendiri? Dan…ini hanya sebagai perbandingan saja, apa kamu mau dan rela kalau suami mu nanti diam-diam menyimpan cinta untuk perempuan lain Jingga?”

“Kak…aku tidak tahu. Aku bingung sekali.” Aku mulai menangis

“Kakak tidak ingin melihat mu menderita di kemudian hari. Katakanlah kamu menikah dengan laki-laki itu, kamu memang akan bahagia karena menikah dengan belahan jiwa mu, tapi bagaimana kedepannya? Apa kamu mau hidup sendiri nanti dimasa tua mu? Membesarkan anak-anak sendiri tanpa suami? Sementara dia entah ada dimana?”

“Kakak…”

“Sakit diawal memang tidak begitu enak, tapi itu masih jauh lebih baik daripada berantakan pada akhirnya.”

“Apa menurut kakak, sebaiknya aku menerima Juan?”

“Kalau kamu sudah yakin dengan keputusan itu, jangan menunda-nunda sesuatu yang akan membuat mu menyesal suatu hari nanti.”

Aku menatap Andra dalam-dalam. Dengan lembut ia menyeka air mata ku dan menuntunku dalam pelukannya. Tangis ku pun kembali pecah dan terisak-isak.

“Makasih ya kak…”

“Sama-sama Jingga. Jadikanlah ini pelajaran, jangan takut berbagi dengan orang lain. Paling tidak itu akan membuat mu merasa tidak sendiri.”

“Aku takut orang-orang akan mencemooh ku.”

“Tidak semuanya begitu”

“Aku percaya pada Kakak.”

“Kakak juga tidak seluruhnya mengerti pada persoalan kamu, tapi kakak pikir memang seharusnya kita berfikir realistis. Persoalan cinta memang misteri Jingga…kalau kita tidak pintar-pintar memilahnya bukan tidak mungkin kita terjebak pada hal-hal yang tidak kita ingin kan.”

“Itulah yang membuat ku terkatung-katung sejak dulu kak. Kalau saja aku terlalu mengikuti keinginan ku, barangkali aku telah menjadi istrinya dan bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal buruk lainnya.”

“Sekarang buatlah pilihan yang berarti untuk hidup mu. Jangan sampai salah arahan, apa yang kamu alami sudah pernah dirasakan oleh orang tua ku dulu. Karena itu kakak sangat mengerti bagaimana kondisi psikologis seorang perempuan seperti mu. Bukan hanya kamu, tapi juga anak yang akan kamu lahirkan nanti.”

“Benar kah Kak?”

“Iya, ibu kakak sangat menderita karena itu, tapi karena rasa cintanya yang besar kepada ayah dia selalu menutupi rasa kesepiannya dan penderitaannya dengan kebesaran cintanya itu. Sebagai anak yang sudah dewasa tentu saja kakak tidak bisa dibohongi untuk itu. Tapi…kakak tidak pernah mempertanyakan soal itu pada ibu. Karena ayah kakak juga sudah tidak ada lagi, ibu juga sudah tua.”

“Aku benar-benar merasa lega sekarang Kak.”

“Banyak-banyaklah berdoa…”

Bersambung…

Rabu, 08 Agustus 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XII


Arloji ditanganku sudah menunjukkan angka pukul enam lebih tiga puluh menit. Sebentar lagi magrib menjelang. Tapi aku masih belum ingin beranjak dari tepi pantai ini. Dentuman-dentuman ombak yang menghempas karang terasa sangat menarik untuk ku perhatikan. Bertahun-tahun, selama panjang usia waktu karang itu terus menerus dipukul oleh ombak yang keras. Diterjang oleh badai yang ganas, tapi ia tetap kokoh. Tak bergeming apalagi retak dan hancur.

Tak sekalipun ia mengeluh menjadi karang, tak sekalipun ia protes mengapa Tuhan menjadikannya karang yang selalu berteman dengan laut dan gelombang. Dengan angin dan matahari. Dan ia tak pernah membantah saat Tuhan menyuruhnya menjaga pantai dari abrasi air laut. Ia tak takut oleh waktu yang membuatnya tua dan keropos.

Berkali-kali aku menghela napas, merasa malu sekaligus cemburu pada ketegaran makhluk bernama karang. Aku manusia, punya akal dan pikirian, karunia yang diberikan Allah yang tidak dipunyai oleh makhluk mana pun. Tapi mengapa aku serapuh ini? Mengapa aku tidak sekuat karang itu menghadapi kehidupan ini? Mengapa aku tak mau berjuang untuk merubah nasib ku sendiri? Mengapa cinta sampai bisa mempermain kan ku? Kurang bersyukur kah aku? Kurang berterima kasih kah aku?

“Sudah terlalu malam untuk terus berada ditepi pantai.” Sebuah suara menghentak kan ku. Aku menoleh. Seorang perempuan datang menghampiri ku. Aku jelas tak mengenalnya, tapi ia terlihat begitu bersahaja dan ramah.

“Saya juga mau pulang Bu,” jawabku sambil tersenyum

“Jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi dalam kehidupan ini, semua itu hanya akan membuat kita semakin tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Membuat kita semakin berjarak dengan Nya.”

“Ah ibu…”

“Pulanglah…matahari jingga mu sudah menunggu dirumah mu.”

“matahari jingga?”

“Iya.”

Lagi-lagi perempuan itu tersenyum. Aku menurut. Bangkit dan menyapu butiran pasir yang ada dibagian belakang rok ku.

“Tapi siapa matahari jingga yang ibu maksud?” tanyaku sambil menoleh.

Dan…alangkah terperanjatnya aku saat melihat perempuan tadi tidak ada lagi ditempatnya. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling pantai. Tidak ada seorang pun. Dan…kalaupun perempuan itu pergi tentu tidak akan secepat ini ia menghilang. Aku jadi merinding, bulu kuduk ku berdiri. Siapa perempuan itu? Dan apa maksudnya mengatakan demikian?

Ku percepat langkah kaki ku meninggalkan pantai, matahari telah tenggelam, berganti dengan gelap yang sebentar lagi akan pekat. Aku jadi merasa takut, padahal sesaat yang lalu ku rasakan tempat ini maish terang benderang. Mengapa berubah secepat ini pikirku berkali-kali.

Apakah ini yang dimaksudkan oleh perempuan tadi ditepi pantai? Matahari jingga telah menunggu dirumah ku. Dan saat aku pulang memang Juan tengah menunggu ku diteras depan. Apakah dia matahari jingga itu? Apakah ini pertanda baik untuk ku? Atau apa?

“Sudah lama bang?” tanya ku sambil duduk disebelah Juan

“Lumayan.” Jawab juan singkat

“kenapa tidak menelfon ku?”

“Abang tidak mau mengganggu aktivitas mu”

Aku tersenyum. Begitu juga dengan Juan. Wajahnya terlihat sangat tenang dan teduh. Matanya yang bersinar membuat ku ingin terus memandanginya lama-lama. Tapi entah mengapa kali ini hati ku tidak bergetar saat memandang mata nya. Aku juga tidak merasakan rindu yang berlebihan untuk nya. Walaupun ku akui aku ingin bersama dengannya.

“Jingga, ada yang harus kita bicarakan”

“Tentang apa?”

“Tentang hubungan kita.”

“Apa yang ingin abang bicararakan?”

“Apa tidak sebaiknya kamu mandi dulu, biar segar dan enakan.”

“Tidak usah, jingga sudah mandi tadi sore kok.”

“Soal pernikahan kita…”

“Abang mau bilang dibatalkan saja kan? Jingga sudah duga itu kok bang, dan Jingga terima keputusan itu.”

“Lho!” juan tampaknya sangat kaget dengan pernyataan ku barusan. Matanya memicing, alisnya berkerut. “Kamu ini kalau ngomong suka asal saja, bukan itu yang akan abang sampaikan. Tapi soal lain, kita kan akan menikah lusa, siapa yang akan menjadi wali kamu. Itu yang ingin abang bicarakan dengan kamu.”

“Kalau begitu ya tidak usah menikah saja.”

“Tidak usah menikah bagaimana? Kamu ini kok semakin aneh saja sih Jingga?”

“Sudah tahu Jingga aneh, tapi kenapa masih mau berhubungan dengan Jingga.”

“Abang tidak ngerti maksud kamu.”

“Abang sudah mengerti jauh sebelum kita seperti ini.”

“Maksud kamu?”

“Tanyakan semuanya pada diri abang.” Aku jadi tambah emosi dengan Juan yang pura-pura tidak tahu apa-apa. “Aku tidak ingin menikah dulu bang, dengan siapapun itu. Aku ingin menenangkan hati ku dulu, menenangkan pikiran ku.”

“Ruwet! Semuanya jadi runyam.” Gumam Juan

“Yang bikin runyam dan ruwet juga abang sendiri. Mengapa abang tidak katakan dari awal kalau abang temannya Zal? Mengapa abang menyembunyikan itu dari Jingga? Kenapa bang?” aku mulai merandek.

“Tapi…bukan kah Zal sudah bercerita semuanya?”

“Iya, memang sudah! Tapi itu bukan penyelesaian. Jingga merasa abang dan Zal telah mempemainkan Jingga. Abang sudah bohongi Jingga.”

“Tidak ada yang mempermainkan kamu.”

“Abang bisa beri Jingga waktu?”

“Sampai kapan?”

“Jingga tidak tahu bang.mungkin sampai jingga percaya dan yakin kalau abang benar-benar tulus mencintai ku.”

“Jingga…Jingga…harus seperti apa abang yakin kan kamu? Kalau abang benar-benar sayang dan cinta sama kamu?”

“Abang harus bisa mengembalikan orang tua ku.” Ucap ku asal. Padahal sebenarnya aku hanya ingin menghindar untuk sementara waktu dari Juan. Aku menjadi ragu akan cintanya.

“Iya, abang akan membuktikan itu.”

Aku mengangguk pelan. Bayang-bayang rembulan membuat ku cemburu, ia begitu setia pada malam. Ditemani bintang gemintang. Diam-diam ku amati wajah Juan, ada kesedihan dan mendung menggelayut diwajahnya yang bersih. Namun sinar harapan masih terpancar dimatanya yang hitam. Aku jadi kasihan dan tidak tega padanya. Tapi membohongi diri sendiri juga tidak ada gunanya.

Demikian besarkah kekuatan cinta Zal terpatri didalam hati ku? Hingga aku tidak sanggup menukarkannya dengan laki-laki sebaik Juan sekali pun. Sepelik ini kah jatuh cinta? Serumit inikah menyayangi? Sesakit inikah mengasihi?

“Benar apa yang dikatakan Zal pada abang. Kesetiaan mu memang luar biasa Jingga. Zal boleh berbangga hati mempunyai kekasih seperti mu, tapi sayangnya dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak.”

“Abang, jangan ungkit-ungkit lagi soal itu. Jingga dan Zal sudah berakhir.”

“Justru karena itulah abang ingin menggantikan posisi Zal dihati mu. Abang ingin kesetiaan yang kamu miliki itu bisa abang peroleh.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Yah,”

Angin bertiup semilir, lembut dan sejuk. Merayap hingga ke palung jiwaku yang paling dalam. Namun semua itu belum mampu mendamaikan hati ku untuk menerima Juan. Aku akan mencobanya beberapa waktu lagi. Aku tidak ingin tergesa-gesa menikah dan menyesal kemudian hari. Dan aku…ingin melihat apakah Juan serius dengan apa yang dia ucapkan barusan. Mengembalikan kedua orang tua ku.

Bersambung…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XI


“Apa maksud abang menyinggung soal Juan? Abang kenal dia” Tanya ku curiga sambil melepaskan pelukannya. Aku memandangnya tak berkedip, menunggu jawaban darinya. Zal tersenyum.

“Kamu tentunya bertanya-tanya kan, mengapa selama delapan bulan terakhir ini abang sepertinya menjauh dari kamu. Dan kamu mengenal Juan juga selama waktu itu bukan?” Zal memulai pembicaraannya. Aku diam saja mendengarkan.

“Kamu belum lupakan kapan kamu menceritakan perihal abang kepada Juan?”

“Iya, Jingga masih ingat. Dan setelah itu Juan menghilang. Apa ada kaitannya dengan abang?” buru ku

“Abang juga yakin kamu belum lupa saat kamu bertemu dengan Juan di Kafe ini, dimeja ini beberapa bulan yang lalu. Setelah ia lama menghilang.”

“Abang terlalu bertele-tele.”

“Waktu dia menghilang setelah kamu menceritakan soal hubungan kita, Juan datang menemui abang, hanya untuk memastikan apakah Zal yang kamu maksud abang atau Zal yang lain. Ternyata Zal itu adalah abang, abang mengaku setelah dia mendesak dan memaksa abang. Waktu itu ia memang sempat shock karena memang tidak menduga kalau abang telah menjalin hubungan sangat lama dengan kamu, padahal kamu tahu sendirikan kalau abang sudah menikah dan punya anak. Juan sempat marah dengan abang, dan dia berniat untuk tidak lagi menemui kamu. Tapi waktu itu abang bersikeras dan memaksa dia agar balik lagi sama kamu. Karena abang tahu dia sangat sayang dan mencintai kamu dengan tulus. Dia memutuskan begitu karena merasa tidak enak, dan ia berfikir telah merebut kamu dari abang.”

“Waktu acara Saudagar Aceh Serantau sebenarnya abang juga ikut, tapi saat Juan bercerita dia bertemu dengan kamu dan dia jatuh hati sama kamu abang mengurungkan niat untuk menghubungi mu. Saat itulah abang berfikir ingin membiarkan kamu lepas, agar kamu bias leluasa menjalin komunikasi dengan Juan. Abang tidak ingin jadi benalu dalam hati mu Jingga. Tapi waktu itu abang tidak pernah bercerita kalau abang kenal kamu, hingga sampai akhirnya kamu menceritakan sendiri hubungan kita kepada Juan. Dan abang tidak bisa berbohong lagi.”

“Abang….kenapa abang jahat sekali pada Jingga?” air mata ku mulai keluar lagi.

“Jingga, tunggu dulu. Abang belum selesai berbicara.”

“Jingga tidak habis fikir dengan semua ini bang…”

“Waktu kamu diusir dari rumah dan menelepon abang, sebenarnya abang tidak bermaksud untuk menolaknya. Tapi karena Juan sudah duluan cerita pada abang, dan abang berfikir itulah saat yang tepat bagi abang untuk menarik diri dari kehidupan mu dan mengirimkan Juan terus menerus dalam situasi apapun untuk mu. Supaya kamu benar-benar yakin bahwa Juan mencintai kamu. Dan supaya kamu bisa melupakan abang.”

“Jingga jadi semakin tidak yakin dengan cintanya Juang bang…dia hanya kasihan kepada ku. Bukan karena cinta, tapi karena iba.”

“Jingga, abang jaminannya kalau Juan benar-benar menyukai kamu. Dan abang tahu persis Juan itu laki-laki seperti apa. Karena itu abang rela melepaskan mu untuk nya. Abang juga tahu kamu seperti apa, karena itu abang tidak mau kamu jatuh pada orang lain.”

“Tapi mengapa abang tidak bilang dari awal?”

“Abang ingin semuanya berjalan secara alamiah. Sesuai dengan proses yang kalian jalani, agar tidak ada kesalahan dikemudian hari.”

“Terus, kenapa abang datang malam ini menemui Jingga?”

“Atas permintaan Juan.”

“Abang lihat sendiri kan? Untuk apa Juan menyuruh abang menemui ku kalau dia tidak punya maksud apa-apa. Atau jangan-jangan abang dan dia memang berniat jahat terhadap Jingga.”

Air mata ku kembali terburai. Aku sama sekali tidak bisa mengilustrasikan seperti apa jiwa ku saat ini. Senang kah dengan semua cerita kebetulan ini? Atau sebaliknya.

“Juan memang punya maksud, tapi maksudnya baik Jingga. Agar hubungan diantara kita jelas dan beres. Itu langkah yang bijak menurut abang. Juan atau abang maupun kamu tentu saja tidak menginginkan ada konflik dikemudian hari kan? Karena itu Juan meminta abang menyelesaikannya sekarang juga.”

“Sekarang dimana Juan?”

Ada. Kamu tidak perlu khawatir. Dia tidak akan menghilang lagi.”

“Semua ini seperti sandiwara. Entah kebetulan atau memang abang sudah mengaturnya sedemikian rupa, agar aku terlihat lemah dan bodoh didepan abang. Agar orang-orang merasa kasihan dengan ku.”

“Jingga, berhentilah berkata seperti itu. Semua orang menyayangi mu, Juan, abang, semuanya.”

“Kalau semua orang menyayangi ku, mengapa semua ini terjadi pada ku bang?”

“Sejak kapan abang berteman dengan Juan?”

“Saat abang masih kerja di Lhokseumawe dulu.”

“Sudah sangat lama sekali.”

“Iya, karena itu abang tahu persis Juan itu seperti apa. Dan dia cocok untuk kamu.”

“Sudahlah bang, aku tak berminat lagi bercerita tentang itu.”

“Abang tidak mau kamu berfikir buruk tentang Juan.”

Bagaimana mungkin aku tidak berfikir buruk bila kenyataannya begini. Siapapun aku yakin akan berfikir tentang semua kemungkinan yang buruk.

“Kalau kamu tidak percaya abang dan Juan berteman, coba kamu fikirkan, darimana Juan tahu semua tentang diri mu, apa kegiatan kamu, apa kesukaan kamu, dimana tempat favorit mu. Semua itu abang yang beri tahu.”

“Sudah bang. Jangan teruskan. Jingga mau pulang. Kepala ku bisa pecah bila terus-terusan ngomongin masalah ini.”

“Tunggu sebentar lagi.”

“Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Semuanya sudah jelas. Abang atau Juan sama saja. Tidak ada yang tulus menyayangi ku.”

Aku menyeka air mata yang menetes dipipi.

“Jingga.”

“Jingga pulang. Salam!”

Aku mengambil tas dan terus berlalu dari hadapan Juan. Hati ku sakit dan perih. Kedua lelaki itu telah mempermainkan perasaan ku. Aku tak peduli saat melintasi orang-orang yang memandangku dengan heran. Hampir-hampir aku tak kuasa mengemudikan sepeda motor ku karena rasa lemas yang begitu sangat. Lemas bukan karena lelah bekerja, tapi karena akal ku yang kurasakan tak lagi mampu mengontrol hati ku. aku kecewa, sangat kecewa.

Ku hempaskan tubuh ku diranjang begitu sampai dikamar. Ku campakkan ransel begitu saja. Dan aku kembali menangis kuat-kuat, gaun pengantin yang menggantung didinding kamar membuat hati ku semakin teriris-iris. Aku merasa tak pantas mengenakan pakaian putih itu. Pakaian itu terlalu suci untuk orang yang hatinya sudah ternoda seperti aku. Untuk anak manusia yang lemah, rapuh oleh cinta yang ia miliki.

Aku bangkit dan mengeluarkan sekotak rokok dari dalam laci, entah mengapa setiap kali aku mengalami kesedihan seperti ini, kurasakan hanya benda kecil ini yang mampu menghiburku. Padahal beberapa bulan yang lalu aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi. Tapi aku tak mampu. Aku ingin asapnya yang melayang-layang di udara ikut menerbangkan seluruh gundah dan resah ku. Menerbangkan seluruh kekecewaan dan rasa perih di hati ku.

Aku lelaki
Yang memangku cinta
Ada dirimu dalam dirinya
Kumiliki bersamaan dalam waktu tak bersama
Ada cintamu dalam dirinya
Sedang diriku begitu cinta
Tak terbelenggu dalam kekayaan cinta
Atas nama cinta dirinya dan dirimu
Ku memeluk jiwaku sendiri
Ketika hati gelisah tak bisa memiliki
Atas nama cintamu dan cintanya
Hati ini pun tak mungkin tak kubagi
Cinta ini hanya untuk yang mencintai
Untuk yang bersumpah mencintai

Sender:

Zal

081317xxxxxx

Ku baca berulang-ulang pesan yang disampaikan Zal kepada ku. Kalimat-kalimatnya yang ia tuliskan jelas tak dapat menyembunyikan bahwa ia sebenarnya juga sangat menyayangi ku. Tapi untuk apalagi ia mengirimkan kata-kata seperti itu? Sementara aku dan dia jelas-jelas tak pernah bisa bersama. aku kadang tak pernah mengerti dengan sikap Zal yang begitu. Ia mengatakan agar aku melupakannya, tapi ia terus-terusan memberi ku harapan, mengirimi ku matahari matahari jingga yang menyala terang. Menyinari relung-relung hati ku dengan kerlap kerilip kasih sayangnya yang besar.

Berkali-kali ku hisap rokok putih didepan ku dan puntungnya kubiarkan berserakan dilantai. Aku tak sanggup berfikir apa-apa lagi. Dengan marah ku robek-robek nama Zal yang ku gambar dikertas besar yang ku tempel didinding. Ku robek menjadi kecil-kecil tak tebentuk. Namun semua itu tetap saja tak membuat ku puas, tak membuat kekecewaan ku hilang. Serpihan kertas-kertas itu berserakan dilantai.

Kembali ku nyalakan sebatang rokok, tapi bukan untuk ku hisap. Melainkan untuk menyulut gaun pengantin yang telah bergantung selama seminggu dikamar ini. Aku tak lagi menginginkannya, apalagi memakainya. Dengan kasar ku remas-remas baju itu dan ku lemparkan ke lantai. Ku pijak-pijak hingga aku lelah dan terkapar dilantai.

“Maafkan aku…” desis ku. Entah kepada siapa. Mata ku semakin mengabur, basah oleh air mata dan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangku begitu kuat.

“Apakah matahari jingga ku masih ada?” lirih ku sebelum akhirnya tertidur.

Bersambung…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian X


Aku wanita

Yang punya cinta dihati

Ada dirimu dan dirinya didalam hidup ku

Mengapa terlambat cinta mu telah termiliki

Sedang diri ku dengan dia telah begitu cinta

Mengapa yang lain bisa mendua dengan mudahnya

Namun kita terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta

Atas nama cinta

Hati ini tak mungkin terbagi

Walau sampai nanti

Cinta ini hanya untuk engkau

Atas nama cinta

Ku relakan jalan ku merana

Asal engkau akhirnya dengan ku

Ku bersumpah atas nama cinta

Lagu atas nama cinta-nya Rossa mengalun dengan indah dari hand phone ku, nama Zal muncul disana. Hati ku berdebar-debar hebat, bergemuruh dan gerimis. Zal, ada apa ia menelepon ku. Apakah ia juga merasakan rindu yang sama kepada ku? Apakah hatinya juga merasakan gelisah dan sakit yang ku rasakan? Disaat aku hampir bisa melupakannya mengapa ia muncul lagi? Sengaja kah ia membuat aku begini?

Lama kubiarkan benda mungil itu meraung-raung, hingga akhirnya kembali diam. Namun saat panggilan ketiga aku tak tahan dan akhirnya ku terima juga. Suara Zal yang khas segera menyambutku dengan kerinduan yang penuh dan tertahan.

“Jingga, abang ada di Banda Aceh sekarang. Abang ingin ketemu dengan kamu sebentar, apa kamu punya waktu?”

“Jingga…Jingga…kapan abang sampai?” aku jadi gugup dan gemetar. Ku rasakan seolah-olah Zal ada didekat ku sekarang. Padahal aku tidak yakin kalau Zal ada di Banda Aceh sekarang. Bisa saja dia membohongiku.

“Kemarin.”

“Kemarin? Mengapa abang baru mengabari ku sekarang?” refleks aku berteriak dan menangis. Merasa tidak terima dengan sikap Zal yang tidak memberi tahu kedatangannya ke Banda Aceh kepada ku. Aku merasakan keanehan pada diri ku sendiri. Disatu sisi ingin melupakan Zal, tapi disisi lain aku seperti tak terima bila Zal sengaja tidak melakukan komunikasi dengan ku.

“Sekarang kan abang sudah hubungi kamu. Kamu kok malah nangis, apa kamu nggak mau ketemu sama abang?”

“Mau. Abang dimana sekarang?”

“Abang ada di kafe Kita. Datang saja kesana, abang ada di meja nomor sepuluh.”

“Iya, sebentar lagi Jingga sampai.”

Setelah selesai berbicara dengan Zal langsung ku sambar jaket yang tersangkut dibelakang pintu dan bergegas keluar setelah mengunci pintu. Rasanya sudah tak sabar lagi untuk segera bertemu dengan Zal. Lelaki yang sangat ku cintai dan ku sayangi sepenuh hati. Antara senang dan takut aku menyusuri jalan, melajukan motor ku dengan sedikit lebih kencang dan segera memarkirkannya dihalaman kafe yang luas tersebut.

“Jingga!” sebuah suara mengaget kan ku dari belakang. Aku berbalik. Zal berdiri dibelakangku dengan senyum mengembang dibibirnya. Tapi tidak dengan ku. Aku justru terpaku dengan mulut menganga dan mata berkaca-kaca, ingin mengatakan sesuatu tapi aku tidak kuasa.

“Kita duduk dulu.” Kembali kata-kata Zal membuat ku sadar, aku tengah berada diantara banyak orang.

“Iya.” Jawab ku pendek

“Kemana saja abang selama ini?” Tanya ku setelah kami duduk.

Zal menarik napas dalam-dalam, matanya maish belum beranjak dari memandang ku.

“Abang sengaja melakukan semua itu Jingga. Abang terpaksa melakukan itu. Demi kamu, demi abang juga.”

“Kalau begitu mengapa abang temui Jingga sekarang? Apa abang pikir itu lebih baik? Tidak bang, justru membuat kita lebih sakit lagi. Terutama Jingga. Abang tahu seperti apa rasa cinta Jingga kepada abang, kalau abang berbuat begitu itu sama saja dengan abang mempermainkan perasaan ku.”

“Jingga, sungguh, abang tidak bermaksud untuk mempermain kan kamu. Abang hanya berharap pertemuan kita ini bisa jadi obat bagi kita.”

“Obat? Obat apa? Racun iya.”

“Jingga, siapa yang harus dipersalahkan? Abang atau kamu?”

“Jelas-jelas abang” sela ku

“Kita bertemu bukan untuk bertengkar kan?”

“Tapi Jingga sudah kehabisan cara untuk mengatakan semua ini bang. Lusa aku akan menikah, malam ini abang menemui ku. Pertemuan ini membuat niat ku kembali goyah. Membuat ku kembali sakit. Entahlah…barangkali abang sengaja membuat ku begini…”

“mengapa kamu tidak memberi tahu abang kalau kamu akan menikah?”

“Apa itu perlu bang? Kemana abang selama ini, mengapa abang tidak pernah bertanya kabar ku, mengapa abang hilang, diam, bisu saat aku begitu rapuh dan lemah. Kemana?”

“Jingga…”

“Aku sudah berjuang besar untuk semua ini bang, belajar melupakan mu, belajar mencintai laki-laki lain selain mu. Tidak hanya itu, kedua orang tua ku pun tidak lagi mengakui ku sebagai anaknya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Mengapa semua itu bisa terjadi?”

“Karena aku memilih menikah dengan laki-laki yang sudah pernah menikah. Ayah dan mama tidak setuju. Waktu itu aku ingin sekali berbagi pada abang, tapi waktu aku telfon abang, abang malah menolaknya. Lalu sekarang abang datang dan bertanya mengapa aku menikah tanpa memberi tahu kepada abang?”

“Maafkan abang Jingga. Abang merasa bersalah bersalah telah membuat mu begini. Tapi abang juga tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Jingga tidak ingin dengar apapun lagi. Sudah cukup Jingga merasakan semuanya.”

Hening. Tak ada yang bersuara, aku sibuk dengan alam pikirku sendiri, begitu juga dengan Zal. Pertemuan ini bukanlah obat sebagaimana yang diinginkan Zal tapi adalah racun bagi diri ku. Mengapa aku sampai terjerembab pada persoalan ini berkali-kali. Membuat ku jatuh bangun dan kesakitan berulang-ulang.

“Jingga tidak tau mau bercerita sama siapa bang. Sedikit saja Jingga salah ngomong, jingga sudah dianggap perempuan ngga baik karena telah menjalin hubungan tidak resmi dengan suami orang. Disaat Jingga merasa telah menemukan obat untuk itu, petaka lain malah datang. Jingga diusir dari rumah, jingga merasa sangat tidak berarti. Jingga merasa…seperti tidak ada orang yang peduli dengan jingga.”

“Dan sekarang…abang datang. Aku jadi ingin menunda pernikahan ini bang. Aku…aku…seperti belum sanggup memasukkan nama lain dihati ku. Aku belum bisa melupakan abang, belum sanggup mencoret nama abang dihati ku.”

“Itulah yang ingin abang katakan sama kamu, selama ini mungkin telah banyak kesalahan yang kita lakukan Jingga. Khususnya abang, menyakiti perasaan mu, menyakiti kehidupan mu dan membuat mu jadi begini. Abang ingin kedepan kita lebih baik lagi, mungkin…inilah saatnya. Waktu yang kita janjikan itu telah tiba. Suatu saat, kelak jika kamu menikah…kamu akan sepenuhnya menjadi adik abang. Dan saat itu telah tiba bukan? Abang merasa hadir disaat yang tepat, bisa menjelaskan semua ini tepat pada waktunya. Kamu adalah adik abang, dan siapapun suami mu dia juga adik abang.”

“Apa abang fikir semudah itu bang? Membalik sampul dari kekasih menjadi teman biasa, mengganti nama dari cinta menjadi entah apa?”

“Kita harus bisa.”

“Tetap tak mudah bagi ku.”

Angin bertiup semilir, mataku mulai mengabur karena genangan air mata. Tapi hatiku menangis lebih hebat lagi. Tersayat-sayat bahkan lebih sakit dari sayatan sembilu sekalipun. Aku tak sanggup memandangi Zal, apalagi untuk kembali berkata-kata. Dada ku sesak, lidah ku kelu.

“Abang sayang sama kamu. Sangat. Tapi jangan sampai rasa sayang itu akan merusak apapun, itu yang tidak abang inginkan. Kalau selama ini abang mengabaikan mu, bukan berarti abang tidak memikirkan mu, bukan karena abang tidak peduli pada mu. Tak lain karena abang sayang sama kamu.”

“Abang?”

“Ya”

“Boleh aku memeluk abang? Untuk yang terakhir kalinya.”

“Boleh.”

Belum selesai Zal berkata aku sudah menghambur dalam pelukannya diikuti dengan isakan tangis ku yang pecah. Apakah mudah melupakan seseorang yang kita tahu dia juga sangat menyayangi kita? Itulah yang kurasakan. Walaupun berkali-kali telah ku coba untuk mengikis nama Zal tetapi selalu saja aku belum berhasil.

“Jingga sayang abang.”

“Abang juga.”

Zal memelukku dengan kuat. Kulihat Ia juga menitikkan air mata.

“Jingga tidak mau melepaskan abang lagi.”

“Sayang…waktu itu sudah tiba. Sudah saatnya kita berpisah.”

“Kita bertemu hanya untuk berpisah abang?”

“Bukan, tapi untuk kehidupan baru berikutnya.”

“Kehidupan yang seperti apa itu?”

“Kehidupan yang lebih indah, untuk sebuah kebersamaan. Kita tidak akan berpisah lagi.”

“Maksud abang?”

“Bukahkan mulai sekarang kamu telah jadi adik abang? Itu artinya kita akan selalu bersama sampai kapan pun. Bukankah antara adik dan abang tidak pernah berpisah?”

“Aku pikir abang akan melamar ku malam ini.”

“Aku tidak akan sejahat itu dengan Juan.”

“Juan?”

“Iya”

Bersambung…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian IX


Wajah Aliya sangat pucat, ia kelihatan tak berdaya dan putus asa. Tidak ada tanda-tanda semangat hidup lagi dimatanya. Matanya menerawang, memandangi loteng putih rumah sakit yang semakin membuat dadanya terasa sesak dan sakit. Ia masih beruntung, kami belum terlambat membawanya ke dokter. Kalau terlambat sedikit lagi jiwanya tidak bisa terselamatkan, begitu yang dikatakan dokter yang menanganinya.

Sejak semalam aku belum sempat beristirahat sejenak pun, aku menungguinya hingga pagi, Aliya tidak mau tidur. Ia terus menangis dan menceracau. Membuat ku semakin prihatin melihatnya. Namun aku juga tidak bisa melakukan banyak hal selain menyuruhnya untuk tenang. Syukurlah pagi tadi dokter menyuntiknya dengan obat penenang dan aku bisa bersih-bersih.

Hati ku benar-benar berkecamuk saat ini, trenyuh melihat kondisi Aliya, marah bila mengingat Firman dan ingin menjerit bila mengingat kejadian yang menimpa diri ku sendiri. Bersama Aliya membuatku tak sempat menangisi lebih lama kesedihanku. Dan kehadiran Juan benar-benar membuat ku tenang. Tadi pagi ia masih sempat menanyakan soal pernikahan kami, tapi aku tidak menjawab apa-apa. Aku belum sempat menceritakan persoalan ini pada nya.

Pukul delapan lebih seperempat Juan datang membawa sarapan untuk ku, dan Aliya tentunya. Aku jadi tidak tega juga melihatnya repot-repot begitu, padahal aku tahu pagi ini dia ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Tapi entah mengapa tiba-tiba Juan membatalkan pertemuan itu.

“Tidak ada yang lebih berarti untuk ku selain kamu Jingga.”

“Iya, tapi abang tidak sampai harus berkorban sebesar itu.”

“Kamu juga sudah berkorban untuk abang kan? Apa salahnya kalau abang juga ingin berkorban untuk mu?”

“Jingga berkorban apa?”

“Hati mu. Abang tahu kamu sudah bersusah payah melupakan Zal dan belajar mencintai abang. Itu pengorbanan yang sangat besar sayang…”

Aku menunduk. Hati ku kembali bergolak. Aku ingin menangis. Yah, aku sudh berkorban besar, melupakan Zal, meninggalkan orang tua.

“Abang?”

“Ya”

Ada yang ingin Jingga ceritakan pada abang.”

“Apa itu?”

“Mulai hari ini, Jingga sudah putuskan untuk memilih abang.”

“Bukankah sejak kemarin-kemarin kamu sudah lakukan itu?”

“Iya, tapi hari ini lain.”

“Lain bagaimana?” kening Juan berkerut.

Air mata ku menitik. Juan menggamit tangan ku dan menggenggamnya dengan erat. Ia menatapku dalam-dalam.

“Katakan ada apa?”

“Orang tua ku tidak merestui lagi hubungan kita. Sedang aku sudah putuskan untuk memilih abang, dan itu artinya…”

Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur napas agar aku bisa berbicara dengan enak. “Artinya….artinya….aku harus melepaskan orang tua ku.”

“Jingga, MasyaAllah. Mengapa bisa begitu? Kan abang sudah bertemu dengan ayah dan mama mu soal ini.”

“Jingga juga nggak tahu bang, alasannya ngga jelas. Aku sudah tidak boleh pulang lagi kerumah.”

“Mengapa jadi rumit begini ya?”

“Jingga Cuma minta, supaya abang tidak ikut meninggalkan ku. Aku takut bang…takut sekali. Takut abang mempermainkan ku dan meninggalkan ku. Seperti Aliya…” tangis ku pecah.

“Ssssttt….jangan bicara begitu, abang tidak akan membuat mu begitu. Kalau abang mau abang bisa saja, tapi untuk apa abang mengajak mu menikah kalau aban hanya ingin mempermain kan kamu?”

“Abang benar-benar mencintai Jingga?”

“Apa kamu berfikir abang tidak tulus mencintai kamu?”

“Aliya bang….dulu Firman juga bilang begitu padanya. Tapi lihat sekarang, setelah Aliya hamil, dia menghilang.”

“Sudah sudah, kamu jangan fikirkan yang lain dulu. Sekarang tenangkan diri mu dulu ya. Nanti kita pikirkan bagaimana setelah ini. Sekarang kamu sarapan dulu, jangan sampai kamu sakit, kasihan Aliya, tidak ada yang merawatnya nanti. Dia sangat membutuhkan kamu.”

“Terimakasih cinta…”

“Jingga?”

“Ya, ada apa?”

“Selama kita menjalin hubungan…baru kali ini abang mendengar mu memanggil abang sebaga cinta-mu.”

“Abang memperhatikan ku sampai ke ayat itu?” Tanya ku bergetar.

Ku akui, selama beberapa bulan terakhir menjalin hubungan dengan Juan memang baru kali ini aku mengucapkan cinta kepadanya. Sebelumnya aku seperti tak pernah rela kata itu terlontarkan kepada orang selain Zal. Tapi mendengar Juan berkata begitu membuat ku benar-benar merasa berarti, aku merasa ia menganggap ku penting bagi dirinya.

“Makanlah dulu.”

“Iya.”

Bubur ayam yang dibawakan Juan tak sanggup ku habiskan, begitu juga dengan Aliya, ia hanya sanggup menghabiskan beberapa sendok. Tapi itu sudah cukup untuk menambah asupan dalam tubuhnya. Besok atau lusa ia sudah boleh pulang, dan itu artinya aku harus merawatnya. Kasihan dia hidup seorang diri, aku tak pernah mendengar Aliya menceritakan tentang keluarganya, sejak aku mengenalnya hanya Firman yang selalu terdengar dari bibir mungilnya.

Dari kejauhan ku pandangi Juan yang tengah berbicara dari telepon. Entah mengapa hari ini aku merasakan cinta Juan begitu besarnya untuk ku. Dan rasa sayangku kepadanya bertambah beratus-ratus kali lipat. Semoga aku tidak salah memilihnya sebagai qawwam bagi ku.

“Jingga…”

“Aliya, ada apa?” aku senang ALiya sudah mau berbicara

“Kamu kelihatan pucat. Kamu kurang istirahat karena menjaga ku. Aku tidak bisa membalas semua kebaikan mu Ngga.”

Aku tersenyum. Tak mampu menjawab apa-apa.

“Kita kenal belum terlalu lama, bertemu juga baru beberapa kali. Tapi pengorbanan kamu pada ku sudah seperti ini.”

“Al sudah lah…”

“Aku tahu kamu sedang dalam masalah besar.”

“Aku tidak ada masalah apa-apa kok.”

“Ngga, kamu jangan bohong sama aku. Tadi aku mendengar obrolan kalian.”

“Bukannya kamu tidur?”

“Iya, aku memang tidur, tapi kemudian terbangun. Maaf, aku tidak sengaja.”

“Begitulah Al. orang tua ku sudah tidak mengizinkan lagi aku memanggil mereka orang tua.”

“Jadi itu benar?”

Aku mengangguk. Ku belai rambut Aliya dengan lembut. Segaris senyuman menghiasi bibirnya yang pucat. Aku senang bisa melihatnya kembali tersenyum.

“Aku jadi malu sama kamu Ngga. Aku begitu rapuh. Lemah. Aku mau dikalahkan oleh nasib.”

Aku juga rapuh, lemah dan tak berdaya Aliya….batin ku.

“Juan mana?”

“Sedang mengambil resep obat untuk mu. Kamu jangan menyakiti dirimu lagi seperti itu ya? Kasihanilah dirimu sendiri, buktikan pada Firman bahwa kamu masih sangat berarti dan tidak akan mati tanpanya.”

“Aku akan mencobanya.”

“Bagus itu.”

Aku memeluk Aliya dengan erat. Dalam balutan selimut putihnya aku seperti mendapatkan kekuatan untuk menunggu matahari terbit esok pagi. Warnanya yang jingga membuatku tak ingin berhenti hanya sampai pada hari ini saja. Aku beruntung segera bertemu dengan Aliya sehingga tidak berlarut-larut dalam kesedihanku. Melihat Aliya setidaknya menuntunku untuk terus berhamdalah, apa yang aku alami tidak seburuk yang ia alami.

Hhh…Tuhan memang maha adil.

Bersambung…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian VIII


Tidak sedikitpun berani ku pandangi wajah kedua orang tua ku. Dimata mereka tengah menyala api kemarahan dan kemurkaan yang luar biasa. Karena itu aku memilih bungkam daripada tambah memperkeruh suasana. Untuk sesaat memang tidak ada satu orang pun yang berbicara. Aura kengerian dan ketakutan jelas terpancar dari setiap penjuru ruangan yang senyap ini. Membuat ku semakin tak sanggup berkutik, walau hanya untuk mengedipkan mata.

Aku sama sekali tidak menyangka, obrolan mama dan bibi haryati kemarin ternyata berbuntut panjang seperti ini. Entah apa yang ia katakan pada mama sehingga mama kembali tidak menyetujui hubungan ku dengan Juan. Padahal tadinya mereka sudah menyetujuinya dan sekarang malah berbalik menyerang ku. Memaksa ku untuk memutuskan hubungan dengan Juan.

Aku benar-benar tidak habis fikir dengan semua yang terjadi didepan ku. Mama dan ayah memberiku dua pilihan. Juan atau mereka. Dua pilihan yang telah membuat ku tidak berdaya dan tak kuasa menahan air mata ku untuk tidak keluar. Namun sebisa mungkin ku tahan agar isak tangis ku tidak sampai meraung-raung. Walau sesungguhnya aku ingin sekali melakukan itu, agar ayah dan mama tahu bahwa mereka telah memberiku pilihan yang teramat sulit dalam hidup ini. Ku akui aku sangat mencintai mereka, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Juan.

Cinta ku kepada Juan memang tidak sebesar rasa cinta ku kepada Zal, tapi melepaskannya begitu saja bukanlah keputusan yang bijak. Tidak ada satu hal pun yang kurang dari Juan, dan tak ada alasan untuk tidak menerimanya. Ini yang tak mampu ku jelaskan pada kedua orang tua ku, aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mereka bahwa aku ingin mereka bisa menerima Juan apa adanya.

Terlalu buruk kah seorang gadis menikah dengan lelaki yang pernah menikah dan sudah mempunyai anak? Dan terlalu muliakah seorang pria lajang yang setelah menikah suka memperlakukan istrinya dengan semena-mena? Aku ingin berteriak, mengatakan tak setuju dengan hukum tidak tertulis itu. Mengatakan tak benar dengan cara berfikir yang salah dan ortodok seperti itu.

Tapi siapa yang akan mendengarnya? Orang-orang telah lupa bahwa tidak semua hati sama, tidak semua keinginan manusia sama. Dan tidak semua anak bisa dikendalikan oleh orang tua.

“Kami sama sekali tidak menyangka, demi laki-laki itu kamu rela membuang orang tua mu sendiri Jingga.” Suara mama terdengar lirih namun sangat menyakitkan.

Aku mendongak, mencoba menatap matanya yang hitam bening. Tapi rupanya mama membuang muka ke arah lain. Disebelahnya ayah berdiri bagai patung tak berbicara sepatah kata pun. Tapi dari rona wajahnya aku tahu ia tengah mengandung kemarahan yang luar biasa, pipinya yang putih terlihat memerah. Giginya bergemeretak membuat ku semakin takut dan khawatir. Takut ayah marah dan memukul ku.

“Sekarang semuanya terserah sama kamu, kalau memang kamu memilih kami orang tua mu itu artinya kamu harus meninggalkan laki-laki itu. Tapi kalau kamu masih bersikeras mempertahankan hubungan kalian…kamu bisa lihat pintu yang terbuka itu…jangan pernah masuk kerumah ini lagi sampai kapan pun.” Suara mama menajam.

Aku terhenyak. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya. Air mata ku yang tadi sempat mengering kini menetes lagi. Bahkan lebih sakit dari yang tadi. Bagaimana mungkin mama sanggup mengatakan itu kepada ku. Anak satu-satunya yang selama ini begitu ia sayang dan kasihi.

“Mama dan ayah tidak mau lagi menghalang-halangi kamu, kamu sudah besar, sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk diri mu sendiri. Sudah bisa cari makan sendiri, jadi untuk apalagi keberadaan kami bagi mu.”

“Mama…” Jawab ku lirih dengan air mata berlinang. “Mengapa mama ngomong begitu? Apa mama sudah nggak sayang lagi sama Jingga?”

“Mama sangat sayang sama kamu Nak, tapi kamu sendiri yang tidak ingin disayang, kamu yang meminta mama dan ayah bersikap begini.”

“Tapi mama dan ayah kan sudah ngomong sendiri dengan Juan, dan mama sudah setuju. Mengapa akhirnya jadi begini mama?” ratap ku

“Sudahlah Jingga, tidak perlu menangis begitu. Toh kamu sudah putuskan untuk memilih Juan kan?”

“Mama, jingga sangat sayang pada mama dan ayah, tapi…Jingga juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Juan.”

“Tapi rasa sayang mu kepada kami tidak lebih besar dari cinta mu kepada dia Jingga.”

Aku tak lagi menjawab apapun setelah itu, tak ada gunanya lagi beradu mulut untuk masalah ini. Keputusan mereka sepertinya sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Aku tersungkur dilantai, memandangi bayangan diriku yang mengabur dilantai. Tak terperi perihnya jiwa ku, terobek-robek, berdarah-darah dan nyaris membusuk.

Tak lama berselang mama kembali muncul ke ruangan tengah, ditangannya bergantung ransel ku yang besar. Tanpa berkata apa-apa ia meletakkan ransel tersebut didepan ku. Aku mendongak. Memandangi raut wajahnya meminta penjelasan atas maksudnya.

“Ini ransel kamu” ucapnya sepatah lalu bergegas pergi lagi

“Mama....! Mama…!” teriak ku berulang-ulang. Tapi percuma saja, ia sama sekali tak mau menoleh kebelakang melihat ku meraung-raung seperti ini. Sudah demikian tertutup kah pintu hati nya? Sudah demikian rapatkah telinganya untuk sekedar mendengarkan teriakan pilu hati anakanya?

Setelah puas menangis segera ku hapus sisa air mata ku dengan sapu tangan yang pernah diberikan Zal kepada ku. Tak ada lagi yang bisa ku pertahankan untuk tetap berada dirumah ini, walau hanya untuk malam ini. Tak ada yang sanggup melukiskan luka yang menganga diruang hati ku. Dan berakhirlah semua cerita antara anak dan orang tua pada malam ini. Aku telah putuskan untuk memilih Juan, tapi bukan berarti aku benci kepada orang tua ku. Tidak! Mereka tetap orang tua ku sampai kapan pun. Bahkan sampai aku mati nanti.

“Jingga pergi Mama…” ucap ku lirih seraya menyeret langkah kaki ku keluar rumah. Sebelum benar-benar pergi ku pandangi sekali lagi seisi ruangan rumah ini. Aku hanya berharap agar mama tidak memindahkan foto-foto ku yang menggantung disetiap dinding rumah ini. Tak ada lagi yang sanggup ku harapkan selain daripada itu.

Pelan ku lajukan sepeda motor ku, melewati gulita malam, melewati jalan-jalan panjang yang berliku dan berkerlipan bintang diatasnya. Aku menengadah, bulan terlihat sabit dan agak gelap. Langit juga tak begitu indah, kalaupun banyak bintang berkerlipan tentu tak mampu membuat alam menjadi sangat indah karena mendung mulai menggelantung.

Tujuan ku kali ini adalah mendatangi rumah Aliya. Aku ingin menginap disana malam ini, aku ingin berbagi penderitaan dengannya, dan berharap ada setitik pencerahan nantinya. Aku berharap, semoga bulan yang sabit ini pertanda masih adanya secercah asa bagi kehidupan ku yang lebih baik dikemudian hari.

Rumah Aliya terlihat sepi, lampu luar yang biasanya selalu terang benderang kali ini sepertinya sengaja tidak ia nyalakan. Sudah dua kali aku menguluk salam tapi belum ada jawaban sekali pun. Ku ketuk sekali lagi sambil memegang gagang pintu. Tidak terkunci, Aliya pasti ada dirumah, batin ku sambil melangkah masuk.

Sampai didalam aku masih terus memanggil-manggil Aliya, pikiranku yang tadinya begitu kacau beralih pada Aliya yang entah dimana. Tubuh ku yang lelah dan mata yang mengantuk membuatku terpaksa menunda untuk beristirahat secepat mungkin sebelum aku bertemu dengan sang empunya rumah. Hati ku kembali gelisah dan cemas, teringat pada Aliya yang mengandung sementara firman tidak mau bertanggung jawab. Betapa kasihannya dia. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, mendadak aku jadi sangat rindu pada perempuan itu.

“Aliya…Aliya, dimana kamu?” panggil ku berulang-ulang. Tetap tidak ada sahutan. Aku jadi tambah cemas. Aku berjalan keruang tengah, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Korongkongan ku yang sejak tadi kering menjadi lebih segar.

“Aliya” panggil ku sekali lagi.

Saat itulah aku mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi, seperti orang mengerang karena menahan sakit. Sesekali terdengar rintihan dan desisan, serta gumaman yang tidak begitu jelas. Pikiran ku jadi semakin tidak enak dan bergegas berlari kekamar mandi. Aku mengetuk sambil memanggil nama Aliya, tapi karena tidak dijawab aku berinisiatif masuk karena pintunya memang tidak terkunci.

“MasyaAllah! Aliya! Apa ini?!” teriakku ku kaget melihat darah segar mengalir dilantai. Tubuh Aliya terkapar lunglai sementara tangannya masih terus meninju-ninju perutnya. Sepertinya ia ingin menggugurkan kandungannya.

“Aliya sudah! Jangan dipukuli lagi, ini berbahaya, kamu bisa pendarahan.”

“Jingga…” desisnya pelan

Kepala ku jadi pusing melihat darah kehitaman berceceran. Mata ku jadi berkunang-kunang, aku memang tidak bisa melihat darah. Tapi demi Aliya ku paksakan untuk membersihkan badannya yang berlumur darah.

“Kenapa kamu melakukan semua ini Al?” Tanya ku prihatin

“Aku frustasi Ngga,”

“Iya aku tahu, tapi ini bukan penyelesaian. Ini sangat berbahaya bagi jiwa kamu.”

“Aku hidup juga ngga ada gunanya lagi. Firman hilang dan tidak mau bertanggung jawab, aku tidak mau punya anak tanpa ayah Ngga.”

Aku menghela napas berat. Mengapa semuanya jadi kacau balau begini? Siapa yang bisa ku mintai tolong untuk mengantarkan Aliya kerumah sakit? Naik motor tidak mungkin, kondisinya sangat lemah sekali. Aku juga tidak bisa mengemudi dengan kondisi begini.

“Al…bersabarlah menghadapi semua ini. Percayalah bahwa Allah tidak akan menguji hamba Nya diluar kadar kemampuan kita sebagai manusia. Kamu masih punya aku. Kamu tidak sendiri menghadapi kemelut ini.” Aku memeluk Aliya kuat-kuat, tak ku pedulikan pakaian ku yang ikut terkena darahnya.

“Jingga…jangan terlalu percaya dengan laki-laki melebihi sebilan puluh persen. Aku sudah merasakan semuanya, cinta itu hanya omong kosong, yang ada hanya pemanfaatan dan pengkhianatan.”

“Aliya, sudahlah, jangan banyak bicara. Darahmu masih terus keluar, Kita harus segera ke dokter.”

“Aku tidak kuat lagi.”

“Kamu harus kuat. Sebentar aku hubungi Juan dulu.”

Entah mengapa tiba-tiba aku jadi teringat dia, padahal sejak tadi hanya Zal yang bermain dicangkang kepala ku. Barangkali ini juga satu pertanda dari Tuhan.

“Sabar ya Al, sebentar lagi Juan datang. Kita akan kerumah sakit”

Aku membopong tubuh tak berdaya Aliya kekamarnya, menggantikannya pakaian dan membersihkan wajahnya dengan air hangat. Semoga jiwanya masih bisa tertolong.

Bersambung…

Selasa, 07 Agustus 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian VII



Bukan kepalang senangnya hati ku saat tahu kedua orang tua ku sudah setuju dan mau menerima Juan sebagai calon menantu mereka. Aku sama sekali tidak mau tahu apa yang dikatakan Juan untuk meluluhkan hati mereka, dan juga tidak mau tahu apa jawaban orang tua ku selain mereka telah menyetujuinya.

Seperti baru pertama kali dalam hidup ku aku merasakan kebahagiaan sedalam ini, meskipun didalam hati kecilku seperti ada satu ruang kosong yang luas dan membuat ku merasa kehilangan. Aku tahu apa sebabnya tapi aku tidak mau terlalu memikirkan itu. Semua kesakitan dan kekecewaan itu adalah cerita kemarin yang ingin ku kubur dalam-dalam. Aku ingin melupakan dan mencoret nama Zal didalam hati ku dan menggantinya dengan nama Juan. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami ku.

Sambil bernyanyi-nyanyi kecil aku memberesi kamar, sudah ku putuskan besok untuk pulang kerumah orang tua ku. Selain ingin membicarakan lebih lanjut soal pernikahan ini aku juga sudah lama tidak pulang kerumah. Rasa rindu dan kangen kepada ayah dan mama jelas tidak tertahankan lagi, tapi beberapa perbedaan diantara kami membuat ku tidak betah dirumah dan memilih untuk kost ditempat lain yang agak jauh dengan mereka. Apalagi setelah mama tahu hubungan ku dengan Juan, aku jadi lebih malas lagi pulang kerumah. Karena setiap kali aku pulang selalu saja ada yang ia katakan tentang Juan, dan semua itu tentang yang buruk-buruk.

Segaris senyuman menyertai ku saat melangkah kan kaki ke halaman rumah kedua orang tua ku. Bunga-bunga disana masih terawat dengan indah dan rapi, beberapa koleksi bunga mama terlihat bertambah. Kolam kecil ditengah halaman juga masih mengalirkan airnya yang bening. Didalamnya beberapa ekor ikan mas koki besar terlihat berlalu lalang, barangkali saja ia sedang menyambut kedatangan tuan putri dirumah ini. Yang dulu sering memberinya umpan dan menggorengnya bila lapar. Aku jadi tersenyum geli mengenang semua masa kecil itu.

Interiornya juga tidak ada yang berubah, ini bukanlah kebiasaan mama, biasanya sebulan sekali ia pasti mengubah interior ruangan, membeli satu atau dua barang-barang baru. Atau mengubah letak sofa dan hiasan dinding lainnya. Mungkin mama enggan melakukan semua itu lagi, karena dia hanya tinggal berdua saja dengan ayah dirumah.

“Mama! Mama!” teriak ku berkali-kali. Tidak ada jawaban. Aku melangkah ke dapur. Juga tidak ada orang.

“Kemana mama ya?” batin ku bertanya-tanya.

Aku kembali keruang tamu dan merebahkan tubuh ku disana. Tapi tak lama setelah itu aku kembali ke dapur, entah mengapa perasaan ku seperti mendorongku untuk keluar ke halaman belakang. Dari jendela dapur ku lihat mama sedang duduk dengan bibi Haryati, entah apa yang mereka obrolkan tapi sepertinya sangat serius. Aku yang tadinya ingin membuat kejutan jadi urung dan diam-diam tergerak untuk ingin mendengarkan obrolan mereka.

“Itulah, saya bingung bagaimana mau menyampaikannya kepada Jingga. Sementara saya sudah terlanjur setuju dengan hubungan mereka. Kamu juga, mengapa terlambat sekali memberi tahukan masalah ini kepada saya?” suara mama terdengar begitu jelas.

“Lho, kakak ini bagaimana, sudah untung saya mau kasih tahu. Toh kan Jingga belum jadi menikah dengan duda itu, jadi masih belum terlambat kan?”

“Iya juga, tapi…bagaimana saya ngomongnya ke Jingga ya?”

“Bilang saja kalau kakak tidak setuju. Habis perkara kan?”

“Tapi kan harus ada alasan yang jelas.”

“Lho, alasan apalagi, jelas-jelas Juan itu duda, punya anak dua, memangnya kakak mau punya menantu sudah pernah menikah? Jingga masih gadis lho kak, masih banyak laki-laki lain yang mau sama dia.”

Nanar ku pandangi mama dan bibi haryati yang sedang mengobrol diluar sana, ku tajamkan telinga ku berkali-kali untuk memastikan agar yang ku dengar bukan tentang Juan. Tapi berkali-kali itu juga yang dikatakan oleh bibi haryati, memaksa mama agar menolak hubungan ku dengan Juan.

Aku memang belum mendengar langsung penolakan dari mama, tapi apa yang dia katakan bukanlah pertanda baik bagi diri ku. Apalagi tadinya mama memang tidak menyetujui hubungan ku dengan Juan. Menurutnya Juan terlalu tua untuk ku. Tidak jelas asal usulnya, dan entah apa lagi yang mama katakan yang semuanya menurut ku tidak masuk akal. Aku juga menjadi tidak menyukai bibi haryati, padahal selama ini aku tahu dia sangat baik dan perhatian pada ku. Dan anehnya, sebulan yang lalu ia pernah bilang bahwa hubungan ku dengan Juan tidaklah seburuk yang ada di pikiran kedua orang tua ku. Dan ia akan berusaha meyakinkan mama agar menerima Juan. Tapi sekarang? Mengapa ia berkata lain pada mama? Ah…

Aku berbalik dan masuk ke kamar tidurku. Nama Zal terpampang lebar didinding begitu pintu kamar terbuka. Membuat hati ku berdesir kuat, kerinduan yang tadi sempat hilang kembali lagi menendang-nendang hati ku. Aku ingin sekali berada didekat Zal pada saat kondisi seperti ini, aku ingin bercerita tentang hidup ku. Tentang Juan, tentang semuanya. Tapi dimana Zal? Dia hilang, diam, dan bisu. Aku seperti terkapar lunglai dalam lelah panjang setiap kali rindu ini menyerang. Membuat ku tidak berdaya dan kesakitan. Sakit yang teramat sangat yang seorang pun tidak bisa merasakannya. Dan hanya aku yang tahu.

Dengan gemetar ku nyalakan layar computer dan mengetik beberapa baris surat untuk nya.

From : jingga@hati.com

To : zal@hati.com

Subject :Catatan Hati Yang gelisah

Hari-hari yang basah

Sebasah hati ku yang selalu merindui mu

Jiwa ku,

Adalah kamu yang membuat hati ku selalu bergetar

Adalah kamu yang telah menyelipkan sedikit cinta di hati ku

Membuat ku sedikit mengerti tentang arti kehidupan yang pelik dan berliku. Tentang perjuangan untuk bisa mencintai mu dengan segala keterbatasan dan kekurangan ku

Menunggu sesuatu dari mu adalah semangat bagi ku menjalani hari-hari. Sepatah kata dari mu adalah seribu bunga yang dikirimkan waktu kepada ku. Mendengar suara mu adalah ibarat tetes embun, oase atas kekeringan yang diserap oleh asa.

Aku sedang tak ingin menghitung, bukan juga sedang mengakumulasi, sekian tahun hubungan kita, tak pernah sekalipun ku dengar suara mu hingga jemu. Padahal sangat ingin sekali aku bukan hanya sekedar berbicara, tapi juga berteriak, menjerit, menangis, sebisa yang ku lakukan. Agar kau tahu bahwa apa yang ku katakana adalah benar. Aku mencintai kamu dengan sepenuh hati, menyayangi mu dengan segenap jiwa dan raga yang ku punya.

Aku melakukan itu barusan, walau hanya sepintas, tapi sepertinya itu memang tidak penting untuk mu. Kekasih…selalu saja begini, rindu, menangis, air mata adalah keseharian ku, saat kau pergi tak ada kabar untuk ku aku menangis, saat kau datang kau diam aku menangis, bahkan sesaat aku mendengar suara mu aku juga menangis. Sebab hanya itu yang aku punya untuk membuat diri ku percaya, bahwa kau begitu berarti untuk ku.

Aku tidak akan mengemis sayang pada mu, siapapun kamu, dimana pun kamu, aku yakin dan percaya, kamu pasti bisa merasakan cinta ku yang besar ini.

Aku bingung, bukan kepada orang lain, tapi pada diri ku sendiri. Aku lelah, aku capek, mencintai seseorang yang kerap kali membuat ku ragu apakah ia mencintai ku? Apakah ia menyayangi ku seperti yang sering ia katakana, sungguh, aku ingin mendengar cemburu-cemburu mu seperti dulu lagi.

Kau mungkin tak percaya, betapa hati ku telah beku saat ini. Aku tidak ingin mencintai selain untuk mu. Kalau pun itu terjadi, hanya karena keadaanlah aku bisa.

Aku selalu merasa yakin bahwa aku akan kuat menjalani semua ini, aku akan dengan mudah mengatur scenario untuk hidup ku, tapi ternyata tidak. Tidak ada yang bisa menggantikan nama mu dihat ku yang kecil ini.

Kau mungkin akan tertawa membaca surat ini, mungkin juga kasihan dan iba, tapi apakah aku perlu menyelubungi perasaan ku dengan kebohongan yang lain?

Zal, begitu aku sering mengkiaskan nama mu. Bacalah dalam semua cerita-cerita yang ku tulis, bacalah dalam tiap kalimat surat cinta yang sering aku kirim kan kepada mu. Semuanya tentang kamu. Kau tahu, cerita-cerita itu membuat mereka cemburu, kau terlalu istimewa kata mereka, hingga layak dan pantas disandingkan dengan puisi-puisi yang indah.

Aku tak lagi punya kata-kata untuk mengatakan apa yang sedang ku rasa saat ini. Aku hanya berharap angina segera menyampaikan pesan rindu ku untuk mu. Dan merpati menerbangkan lembaran surat ini kehadapan mu. Agar kau bisa membacanya, sebelum kaki mu menginjak tanah basah halaman rumah mu besok pagi.

Kau selalu membuat ku cemburu, kau bercerita tentang anak-anak, sedang aku hanya bisa mereka-reka, akankah kerinduan mereka sama besarnya dengan kerinduan yang ku simpan untuk ayah mereka? Mereka kapan saja bisa menghadiahi mu dengan seribu ciuman setiap waktu, sedang aku? Bertanya rindu saja tidak boleh.

Barangkali Tuhan sedang menyiapkan cinta yang lain untuk ku, dan mudah-mudahan aku bisa menjalaninya. Aku percaya akan ada yang lebih baik setelah hari ini. Matahari yang ku tunggu besok pagi adalah senyum mu, sebab kau adalah matahari hati ku.

09.57 p.m

Jumat, 27 Juli 2007

Ku baca sekali lagi hingga akhirnya ku tekan tanda send di bawah surat tersebut. Tangis ku yang tadi tertahan menjadi pecah dan terburai. Aku larut dalam tangis dan luka di hati yang kembali menganga. Kecewa pada Zal, kecewa pada diri ku sendiri, dan kecewa pada orang tua ku.



bersambung...