Senin, 04 Maret 2013

Menikah untuk Apa?


SALAH SATU hal yang paling saya syukuri adalah terlahir di keluarga yang sangat demokratis. Almarhum ayah dan ibu saya tak pernah memaksakan saya dan anak-anaknya yang lain sesuai dengan kemauan mereka.

Saat sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi saya selalu diberi kebebasan untuk memilih. Orang tua, khususnya ibu hanya memberi pandangan. Namun semua keputusan tetap dipulangkan kepada kami anak-anaknya. Ayah saya seorang yang tegas, sikap demokratisnya tentu saja dibarengi dengan tanggung jawab apabila sudah menetapkan suatu keputusan.

Setelah saya besar dan dewasa, saya mulai menyadari ada tuntutan lain yang biasanya dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya. Khususnya pada anak perempuan; yaitu tuntutan untuk menikah.

Tapi saya melihat itu tidak dilakukan oleh ibu saya. Beliau tak pernah meminta saya untuk menikah, apalagi mendesak. Beliau justru sering mengatakan agar saya memanfaatkan waktu muda saya seproduktif mungkin. Ibu tak pernah mempersoalkan dunia kerja saya yang jam kerjanya ‘tidak jelas’. Ibu juga tak pernah meminta saya untuk menjadi atau bekerja di luar bidang yang saya tidak sukai. Sekali lagi, beliau hanya memberi pandangan secara halus.

Ngomong-ngomong soal menikah, apakah saya tak ingin menikah? Punya keluarga dan punya anak seperti teman-teman yang lain? Secara naluri iya, tetapi itu tidak terlalu mendesak. Ibarat barang primer, sekunder dan tersier, menikah bagi saya saat ini bolehlah diibaratkan sebagai kebutuhan sekunder.

Sekali lagi saya bersyukur ibu saya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dan saya yakin beliau mengetahui kondisi saya hingga akhirnya tak pernah memaksakan. Ibu selalu bilang menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Itu artinya saya akan menikah ketika saya benar-benar menemukan orang yang bisa saya “cintai”. Lalu, apakah saya belum menemukan orang itu? Jawabannya sudah, menurut saya cukup ideal, sesuai yang saya suka, kami berdua saling mencintai. Tapi mengapa belum menikah? Mari kita tersenyum untuk takdir yang berbeda J Saya tak pernah menyesal mencintainya.

Saat menuliskan ini di dekat saya ada seorang ibu muda. Ia seusia saya, bedanya sudah menikah dan punya seorang anak berusia sekitar dua tahunan lebih. Saya banyak belajar dari caranya berumah tangga. Kabar buruknya pelajaran yang saya terima bukan hal-hal positif. Untungnya saya cukup punya akal untuk menganalisa semua tindakan negatifnya.

Tulisan ini bukan untuk mencari cela orang lain, tapi sebagai perbandingan. Bahwa keputusan untuk menikah alangkah bijak jika disertai dengan perencanaan yang matang. Menikah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata tanpa mempersiapkan mental untuk menerima perubahan fisik saat hamil, dan melahirkan, kemudian status berganti menjadi orang tua.

Itulah yang tidak saya temui pada seorang tetangga yang saat ini berada di dekat saya ini. Saya mengambil contoh saat ia sedang kesal, anaknya yang belum bisa bicara dengan jelas itu akan disemprot dengan celaan yang tak pantas. Kadang disertai dengan cubitan atau helaan yang membuat anaknya menangis. Saya sering melihat tangannya tergerak refleks memukul atau mendorong ketika si anak melakukan kesalahan.

Perlakuan seperti itu bukan hanya ditujukan pada anaknya saja, tetapi juga pada suaminya. Saya sering mendengar ia melontarkan sebutan serampangan pada suaminya. Saya melihat tak ada sikap hormat atau respect yang diperlihatkan untuk suaminya. Jarang sekali terdengar pujian tentang suami jika ia sedang membicarakan pasal keluarganya.

Masih ada seorang lagi yang sering menyejajarkan nama anaknya dengan penghuni kebun binatang. Kadang disebutnya setan, dan sejumlah makian lain yang saya canggung menuliskannya. Lagi-lagi saya melihat organisasi pernikahan itu sendiri sebenarnya baru dimulai ketika seorang anak hadir. Karena pada saat itu kehidupan menjadi lebih kompleks, perubahan emosional yang tidak stabil dan faktor lainnya yang gampang membuat kondisi seseorang tidak stabil.[]

Minggu, 03 Maret 2013

Yamaha, Bikin Aku Jadi Macho!


Sumber foto internet. Jenis Yamaha RX King milik ayah saya
Siang tadi aku punya kesempatan berkeliling kota. Kebetulan aku sedang libur kerja dan bisa meluangkan waktu sedikit untuk mencari angin segar. Saat tiba di pusat keramaian Taman Sari aku melihat banyak umbul-umbul Yamaha. Rupanya sedang ada perhelatan yang dibuat oleh Yamaha Banda Aceh hari Sabtu ini, 2 Maret 2013.

Melihat logo Yamaha yang besar-besar dengan warna menyolok aku terkenang pada masa belasan tahun silam. Ingatanku terlempar jauh ke masa kanak-kanak saat aku masih tinggal di desa. Desa tempatku tinggal dulu memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit. Media transportasi utama masyarakatnya adalah sepeda motor.

Waktu itu sekitar tahun 1990-an aku melihat ada keragaman alat transportasi yang digunakan oleh warga di tempatku tinggal. Juga warga-warga di desa sekitarnya. Umumnya masyarakat yang membeli sepeda motor menyesuaikan dengan kondisi alamnya. Selain berbukit-bukit waktu itu jalan penghubung antar desa di tempat kami belum beraspal. Waktu musim hujan kondisi jalan tidak hanya becek, tapi juga berlubang di beberapa titik tak jarang ditemui mirip kubangan kerbau.

Seingatku waktu itu tidak ada masyarakat yang mempunyai sepeda motor jenis bebek, merek apapun juga. Umumnya mereka membeli sepeda motor yang tangguh, dan terkesan maskulin, sehingga mampu untuk mengendarai medan jalan yang berat.

Satu-satunya merk sepeda motor yang dipakai waktu itu adalah Yamaha jenis RX King. Tidak seperti sekarang sepeda motor sangat banyak macamnya. Yamaha saja memiliki beberapa jenis misalnya di antaranya Mio, Xeon RC, dan lainnya. Masyarakat jadi punya banyak pilihan.

Seperti warga lainnya, orang tuaku juga memilih Yamaha RX King sebagai alat transportasinya. Setiap hari ayahku mencari nafkah dengan sepeda motor itu. Almarhum ayahku waktu itu seorang pedagang hasil bumi, saat kami masih kecil ia berkeliling desa yang jaraknya sangat jauh untuk membeli kakao kering. Di jok belakang sepasang keranjang digantung, di dalam keranjang rotan itulah ia memasukkan biji-biji kakao yang ia beli.

Saat musim hujan tak jarang ayah pulang dengan kondisi sepeda motor penuh lumpur. Belum lagi beban yang begitu berat di jok belakang dan di keranjang. Tetapi sama seperti ayahku, Yamaha yang dikendarai ayahku tetap terlihat tangguh.

Bukan hanya ayahku, bahkan seorang mantra dari desa tetangga kulihat setiap hari berkeliling kampung dengan motor Yamaha. Ada juga seorang pekerja kebun yang menggunakan Yamaha untuk pergi ke areal perkebunan yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Anak-anak muda di kampung kami juga lebih menyukai Yamaha karena mereka terlihat gaya saat mengendarainya.

Aku sendiri, meski perempuan menyukai Yamaha RX King. Kesan maskulinitasnya sangat kental, aku merasa sepeda motor itu tak hanya tangguh, tapi juga keren. Itu juga yang membuatku terus menerus menahan rasa penasaran untuk mencobanya. Aku ingin bisa mengendarainya, menginjak remnya, menarik gas, dan mengoper persnelingnya. Saat SMP keinginan untuk belajar sepeda motor sangat kuat, apalagi saat teman perempuanku yang sebaya, juga sudah diajarkan mengendarai Yamaha RX King milik ayahnya.

Namun karena aku berawak kecil ayah selalu melarangku. Niat tersebut akhirnya kesampaian saat aku masih SMA. Saat ayah tak di rumah diam-diam kukeluarkan Yamaha RX King miliknya dari pintu dapur. Aku kemudian mengengkol motor tersebut memasukkan persneling dan menggenggam koplingnya lantas melesat di jalan. Sore itu aku senang sekali, bayangkan anak perempuan bisa mengendarai motor sekeren itu, pakai kopling pula. Aku merasa macho![]

Rabu, 27 Februari 2013

Musim yang memekarkan hati


Februari tinggal sehari lagi terhitung sejak hari ini. Lusa Maret akan bertandang di musim yang belum beranjak dari basah. Jika aku tak salah mengingat, Maret ini akan membawa kita pada kisah sewindu yang semakin rumit.

Apapun itu, mencintaimu adalah anugerah, karena inspirasi bisa lahir tanpa kantung rahim yang sempurna. Ya, apapun itu asalkan tentangmu adalah kisah yang menarik, karena engkau adalah musim yang mampu memekarkan hati sepanjang tahun.

Terimakasih telah mencintaiku, memberi warna dalam hidupku, mengajarkan arti dewasa, bersabar, berbesar hati, dan juga keikhlasan, dengan cara berbeda; tanpa pengungkapan, tanpa perintah, hanya dengan keadaan. Ya, keadaan!

Selamat pagi cinta

Yours

Jumat, 08 Februari 2013

Rindu Senyummu

Rindu Senyummu

"Semalam aku memimpikanmu," kataku tadi pagi. Saat itu aku belum lama sampai di tempat bekerja. Sambil mengedit pekerjaan aku menyempatkan diri mengirimkan pesan pendek untukmu. Memberitahumu perihal mimpi semalam.

"Mimpi apa?" balasmu beberapa saat kemudian.

"Mimpi bersamamu. Rindu melihat matamu," kataku.

"Oh,"

"Cuma bisa bilang oh?" balasku dengan nada bertanya.

"Ah ah ah lagi,"

"Ih,"

"Cuma bisa bilang ih?" tanyamu.

"I miss you honey," kataku.

"I miss you too say," jawabmu.

Setelah itu kabar-kabari pagi hari tadi pun selesai begitu saja. Kamu kembali sibuk dengan pekerjaanmu. Pun juga aku. Mimpi semalam bukanlah yang pertama kalinya aku alami. Sejak kita bersama entah sudah berapa puluh kali aku memimpikanmu.

Meski tak terjadi apa-apa dan tak menyelesaikan apa-apa, aku senang karena bisa menghadirkanmu di alam bawah sadarku. Tapi ada satu yang tak berbeda antara mimpi dan kenyataan; senyummu.

Kau tahu, senyummu itu indah sekali. Meluluhkan hatiku. Apalagi ketika kamu sengaja mengulum senyum itu. Rasanya ingin kucomot senyum itu dengan bibirku. Lalu kutelan bulat-bulat. Dan setelah itu kukembalikan lagi ke tempatnya, di bibirmu.

Beberapa hari terakhir ini aku dilesak rindu yang parah. Kuingat-ingat kapan terakhir kali kita bertemu. Dan, ah sudah berganti tahun rupanya. Pertemuan sehari sebelum hari jadimu rasanya terlalu singkat. Terlalu tergesa-gesa, dan sepertinya kita belum menyampaikan apa-apa. Tapi aku perlu berterimakasih pada kesibukan ini. Membuatku tak terlalu tersiksa karena rindu yang menggoda hati.

Aku juga teringat pada pertemuan kita sebelumnya, sambil menyesap teh kita bercerita tentang banyak hal. Pekerjaan, keluarga, peluang-peluang, kapan kita bisa melakukannya lagi? Secangkir teh itu menjadi lebih nikmat karena aku bisa meneguknya sambil menyentuhmu.

Aku juga teringat pada suaramu yang lembut, yang selalu tak pernah bosan membujukku jika aku merajuk. Hahahah...kadang-kadang juga marah sampai tak mempedulikanmu. Tapi senyummu, seperti panas yang mencairkan beku salju. Atau sebeliknya dingin yang membekukan panas hatiku.

Cinta...

Aku rindu menatap matamu, karena di sana aku menemukan keteguhan, di sana aku melihat harapan; meski wujudnya entah seperti apa. Di matamu aku menemukan lega. Di matamu aku menemukan getar yang mampu menghadirkan debar di hatiku. Berkali-kali meski telah sering kulakukan. Aku ingin tenggelam di sana.

Cinta...

Aku ingin kau tahu, ada rindu dan cinta yang banyak untukmu hari ini.

Luv you Z


00:38 am | 8 Februari 2013

Selasa, 05 Februari 2013

Life of Pi; Novel yang membuat kita percaya pada Tuhan


“DENGAN cepat hari menjadi siang. Perasaan lemah lunglai yang fatal merayapi tubuhku. Aku pasti mati tengah hari nanti. Agar kematianku lebih nyaman, kuputuskan untuk memuaskan sedikit rasa haus tak tertahankan yang telah begitu lama kuderita. Kuteguk sebanyak mungkin air. Kalau saja ada yang bisa kumakan untuk terakhir kali. Tapi sepertinya tidak ada apa-apa. Aku duduk bersandar pada tepi gulungan terpal yang berada di tengah-tengah sekoci. Kupejamkan mata, menunggu nyawaku meninggalkan raga.”

--------------------------------------
Itulah adalah salah satu paragraf yang menceritakan saat-saat di mana seorang pemuda berusia 16 tahun merasa sangat putus asa. Pemuda itu adalah Piscine Molitor Patel. Namanya yang susah disebut membuatnya menyingkat nama panggilannya menjadi Pi. Pi Patel. Pemuda itu berasal dari keluarga India; ia memiliki seorang kakak lelaki bernama Ravi.

Situasi di atas menggambarkan kondisi Pi Patel yang sedang terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik. Kondisinya sangat menyedihkan. Dua matanya bernanah dan menyebabkan kebutaan sementara. Tubuhnya kurus kerempeng. Perut lapar dan dibelit rasa dahaga yang luar biasa. Belum lagi kulit yang semakin melegam karena terus menerus terpanggang sinar matahari. Saat hujan atau badai turun Pi Patel hanya bisa meringkuk di atas rakit yang terbuat dari pendayung perahu. Saat itu Pi Patel sudah berbulan-bulan berada di Samudera Pasifik. Pemuda itu sedang menunggu ajal.

Kisah Pi Patel yang terombang-ambing di Samudera Pasifik ini berawal ketika keluarganya pindah dari India ke Kanada. Pi Patel, ayah, ibu dan kakaknya Ravi naik kapal barang Tsimtsum milik Jepang yang berbendera Panama. Ketika di India ayah Pi punya kebun binatang. Saat pindah beberapa binatang yang tidak habis terjual ikut dibawa.

Selasa, 29 Januari 2013

Ayah in Memoriam


Ini tahun kelima kepergian ayahku; Nurdin bin Yusuf Puteh. Bagiku kepergian ayah terasa sangat cepat, usianya belum genap 50 tahun ketika itu. Ia masih muda dan gagah. Apa yang kutulis saat ini mungkin hanya berupa luapan emosi, tetapi ini adalah proses membekukan sejarah. Di lain waktu aku akan menulis cerita-cerita lain tentang ayahku.
________________________


JANUARI hampir berakhir. Saat aku mulai menuliskan ini waktu di timer laptopku menunjukkan angka 22:53 pm, Senin, 28 Januari 2013. Januari akan berakhir pada tanggal 31, sesuai timer di laptopku berarti tiga hari lagi; 29,30 dan 31.

Januari memiliki arti tersendiri bagiku, bagi ibuku dan juga bagi adik-adikku. Sebelas hari lalu, tepatnya pada tanggal 16, ayahku meninggalkan kami semua karena penyakitnya. Itu terjadi lima tahun silam; 2008.

Lima tahun, bisa jadi waktu yang sebentar, bisa jadi sangat lama, namun yang pasti jika 365 x 5 berarti sudah 1.825 hari ayahku meninggalkanku, meninggalkan ibuku dan juga adik-adikku. Selama itu pula kami menyimpan kerinduan dengan cara kami masing-masing. Selama itu pula kenangan semasa hidupnya terus membayangi keseharian kami.

Sebelas hari lalu, pagi-pagi sekali aku masih ingat ibu meneleponku, ia berbicara lalu menangis. Ibu mungkin lupa hari itu adalah hari kepergian ayah kami. Aku tak berusaha mengingatkannya karena kutahu itu akan membuatnya semakin terluka. “Macam sudah kurasa sejak ayahmu tiada,” kata ibu sepotong. Kata yang bukan hanya kali itu saja kudengar, tetapi sudah berulang-ulang.

Sama seperti ibu, aku pun menangis tapi air mataku tumpah di dalam hati. Dengan bibir bergetar aku mencoba menyaringkan suara. Membuat suara seriang mungkin, agar ibu menangkap kesan aku baik-baik saja. Tak lama kemudian ibu menutup telepon. Sejenak setelah itu aku mengirimkannya pesan pendek; ibu yang sabar ya, ini bagian dari ujian untuk kita semua, aku sayang mamak.

Tak lama kemudian ibu membalas; terimakasih Nak sudah mengingatkan mamak, mamak khilaf.

***
Ayahku memiliki karakter yang keras. Ia tegas. Pekerja keras dan pantang menyerah. Tak pernah sekalipun kulihat ia mengeluh di depan kami anak-anaknya. Jika pun harus mengeluarkan pernyataan tak enak biasanya disertai dengan analisis yang tajam. Ia pendiam, tak banyak bicara. Begitulah yang biasa aku lihat semasa hidupnya. Ia bicara jika memang sudah harus bicara.

Aku kecil sering merasa takut pada ayah, tapi juga merasakan kedekatan yang luar biasa. Sepotong kata-katanya dengan intonasi yang sedikit tinggi saja bisa membuatku menangis. Tapi aku jarang sekali dimarah olehnya. Dan aku tahu ayahku sangat menyayangiku.

Hingga hari ini sejak kepergiannya aku sering menangis diam-diam jika mengingat sosoknya. Kadang-kadang jika aku masuk ke dalam diriku aku melihat seluruh diri ayahku ada di dalam jiwaku. Aku tak suka memperlihatkan kecengengan di depan orang lain, bahkan ibuku sendiri. Aku tak suka membantah, sekalipun aku tak sepakat, tapi aku tahu aku seorang pemberontak. Ketegaran, itu juga yang diperlihatkan ayahku, bahkan dalam sakit sekaratnya ia tak pernah mengerang, hanya meringis, saat itu di rumah sakit kulihat mukanya sampai pucat menahan sakit yang parah.

Senin, 28 Januari 2013

Tetap Menulis Meski Bukan di Blog

MENULIS merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bagi sebagian orang menulis mungkin proses membekukan sejarah, atau (waktu?) Mungkin karena hasil tulisan itu bisa dinikmati di waktu bertahun-tahun kemudian. Sehingga seolah-olah waktu saat ini atau masa lalu bisa dibawa ke masa depan.

Bagi saya sendiri menulis tak ubahnya seperti obat atau suplemen. Menulis menjadi semacam terapi ketika saya sedang mengalami kekalutan. Banyak hal-hal tak mengenakkan dalam hidup saya akhirnya "sembuh" dengan terapi tulisan yang saya lakukan.

Menulis bukan hal sulit bagi saya, satu-satunya yang membuat sulit adalah kemalasan. Saya ingat, sejak masih duduk di Sekolah Dasar, tak pernah mengalami kesulitan setiap kali pelajaran mengarang. Namun baru intens menulis sejak saya punya blog pada tahun 2006 silam. Ya, blog!

Ngomong-ngomong soal blog, saya ingat kembali, sejak setahun terakhir sangat jarang mengupdate blog saya. Jika pun ada itu hanya satu-satu. Di catatan arsip blog saya, selama tahun 2012 hanya ada 25 judul postingan tulisan di blog saya, itu artinya, satu bulan saya hanya menulis dua kali di blog saya.

Sementara pada tahun 2011 ada 100 judul postingan di blog saya, tahun 2010 angkanya menurun, hanya ada 33 judul postingan. Tahun 2009 ada 58 judul postingan, tahun 2008 ada 43 judul, tahun 2007 ada 158 dan tahun 2006 ada 319 judul postingan.

Persentase menulis dari tahun ke tahun memang bervariasi, meski sepi tulisan di blog bukan berarti sama sekali tidak menulis, saya masih tetap membuat tulisan di catatan facebook, mengirim puisi pendek ke teman-teman melalui sms, atau membuat status putisi di facebook, intinya saya tetap menulis meski pun tidak saya posting di blog.

Namun blog ini sudah menjagi bagian dari hidup saya, semacam ada yang kurang jika tak pernah disentuh, atau jika dibiarkan tak terupdate terlalu lama. Blog ini mencatat semua perjalanan hidup saya, pahit, getir, senang, ah...semua, hingga akhirnya meski tak memperbarui saya selalu menyempatkan membuka sesibuk apapun.[]