Rabu, 30 Mei 2007
Surat cinta kepada Aby dan Umy

Surat cinta kepada Aby dan Umy
(Catatan Kecil Untuk BRR Dan Gerak)
Atau…barangkali Aby dan Umy akan bercerai? Maka lengkaplah sudah kemeranaan kami, anak-anak Aby dan Umy tercinta yang mencintai kalian dengan segenap jiwa raga kami.
Sebagai anak tentu kami sangat merasakan gundah gulana Umy, setiap malam ia tak pernah tidur memikirkan kami, berdoa kepada Tuhan agar Aby kembali seperti Aby saat pertama sekali kalian berkenalan, menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga dengan benar, mencukupi kebutuhan anak-anaknya yang sampai hari ini masih ada yang belum mendapatkan rumah layak huni, dan, satu hal yang paling penting menurut Umy agar Aby tidak mencaplok wilayah kerja yang bukan tanggung jawabnya. Kasihan sekali Umy, bekerja keras menelusuri setiap angka, menghitung setiap debet dan kredit, mengadvokasi ini dan itu, tetapi ia malah menemukan penyimpangan justru dilakukan oleh Aby sendiri, sehingga pelan-pelan rasa tidak percaya muncul dihati Umy dan dengan sendirinya jarak terbentang sedepa demi sedepa diantara kalian, semoga masih ada cinta dihati Umy.
Sedangkan Aby, tetap dengan romantismenya yang luar biasa menaggapi
Atau…Aby dan Umy memang perlu honey moon kedua, sekedar merilekskan kembali saraf-saraf otak setelah bertahun-tahun mengurusu rumah tangga ini, anak-anak yang nyaris terlantar, pusing dengan uang belanja rumah tangga yang begitu besar, harus menyelesaikan sekitar 128.000 rumah dari ujung barat hingga timur, utara dan selatan. Dalam banyak kesempatan hampir tidak pernah Aby dan Umy tersenyum dengan lepas, sebab bayangan ribuan anaknya yang masih berada ditenda selalu menahannya untuk tersenyum lepas, keluh kesah anaknya yang dililit kemiskinan dan berbagai persoalan berputar-putar dibenak mereka. Banyak sekali pekerjaan yang tidak terselesaikan dengan baik dan terkesan amburadul. Aku yakin, semua itu bukan karena Aby dan Umy yang tidak pandai mengurus rumah tangga mereka tetapi Aby sebagai kepala keluarga tampaknya memang harus lebih tegas dan bisa mengambil sikap.
Atau apakah Aby mulai berselingkuh? Lupa pada mandat yang diterima pada awal tahun 2005 yang lalu? Kalau itu benar terjadi tentu sangat menyakitkan dan mengecewakan, sebab bukan hanya Umy yang sakit hati tetapi juga kami anak-anak mu. Kalau itu kekhilafan masih ada waktu tersisa untuk memperbaiki diri. Dengan kembali menjalin harmonisasi antara Aby dan Umy, menumbuhkan kembali romantisme dan sikap terbuka diantara kalian. Agar bisa bersama-sama mengayuh bahtera rumah tangga ini menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Sebab dahulunya keluarga ini dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang sebagaimana yang dijelaskan Aby dalam
Dengan membaca kedua
Aby dan Umy, janganlah membuat kami anak-anak kalian bingung, karena apapun yang kalian lakukan sebenarnya adalah untuk kesejahteraan kami semua, ekspresi cinta orang tua kepada anak dan jangan sampai Umy melayangkan surat cerai kepada Aby hanya karena tidak bisa memaafkannya. Kalau sekedar
salam cinta
Ihan's
Senin, 28 Mei 2007
Pelecehan Baru Berkedok Penegakkan Syariat

Pelecehan Baru Berkedok Penegakkan Syariat
Tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan aneh apa yang sedang terjadi dan tengah di ‘perjuangkan’ di Bumi Serambi Mekkah ini, niat awalnya tak lain adalah untuk memperjuangkan islam kaffah sebagaimana yang telah diemban oleh Nabi Muhammad pada masa dahulu tetapi dalam pelaksanaanya ‘perjuangan’ inilah yang tampaknya dijadikan bola pingpong permainan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu muncullah oknum-oknum yang menawarkan kearogansian dan menyalahgunakan tanggung jawabnya dilapangan serta ulah konyol sebagian masyarakat yang masih gemar main hakim sendiri hingga mencemarkan pelaksanaan syariat itu sendiri.
Kasus yang baru terjadi beberapa hari yang lalu dikawasan wisata Lhok Nga dan sempat diberitakan baik oleh media lokal maupun media nasional memang patut dicermati dengan teliti. beberapa kasus yang terjadi sebelumnya memang ada beberapa yang sengaja mendokumentasikan perbuatannya hingga pada akhirnya diketahui oleh public akibat keteledorannya sendiri, tapi apa yang terjadi dengan adegan mesum dipantai Lhok Nga yang diberi judul “Lhok Nga” tersebut memang membuat miris siapapun yang mendengarnya terlebih pelakunya sendiri, sebab yang mendokumentasikan film documenter tersebut adalah orang lain. Mengapa bisa terjadi? Ya, sepasang anak muda tersebut yang diketahui yang laki-lakinya baru kelas satu SMU sedangkan yang perempuan sudah duduk dibangku kuliah itu dipaksa untuk melakukan adegan ‘reka ulang’ atas perbuatan mereka yang tertangkap basah oleh sekelompok oknum masyarakat tadi. Belakangan diketahui oknum tadi merupakan anggota KPA dan bekerja di badan rehab rekon nanggroe aceh Darussalam.
Sebut saja namanya Ari, salah satu oknum yang ikut terlibat dan mendokumentasikan adegan tersebut mengatakan motivasi mereka menyuruh adegan reka ulang itu adalah untuk menimbulkan efek jera agar mereka tidak mengulangi perbuatannya. “Setelah itu mereka dinikahkan dan diberikan kepada tetua kampung,” jelasnya. Namun, saat ditanya mengapa ia tidak menunjukkan identitas diri yang sebenarnya ia mengatakan bahwa semua ini memang tidak ada hubungannya dengan latar belakangnya sebagai anggota KPA.
Dari beberapa sumber yang ditanyai mengatakan apa yang dilakukan oleh sekelompok oknum tadi adalah pelecehan terhadap apa yang tengah diperjuangkan dinegeri ini, karena mereka menjadikan penegakan syariat islam sebagai tameng. “itu hanya alasan saja untuk membenarkan diri mereka sendiri, apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan dan melanggar hak privasi orang lain. Selain itu juga akan membuat orang-orang yang tidak senang kepada islam akan mudah melakukan serangan dengan mengangkat isu-isu murahan seperti itu” Jelas Adi, warga Banda Aceh. Ungkapan itu memanglah tidak berlebihan sebab beberapa sumber yang lain dan sudah melihat film berdurasi enam menit tersebut mengatakan perbuatan mereka yang memaksa kedua anak manusia tersebut melakukan adegan reka ulang memang pelecehan dan tidak jelas dasar hukumnya dan sangat keterlaluan, karena keduanya juga dipaksa agar mengeluarkan suara dan dipaksa untuk menghisap payudara perempuan tersebut didepan mereka lalu mereka tertawa dan bersorak-sorak.
(akan dipercantik bila ada waktu luang)
Surat Cinta Untuk Seorang Sahabat

awalnya memang sempat sedikit sedih, tapi setelah direnungkan kembali dan dia menceritakan hal ihwal mengapa aku tidak diundang maka mengertilah diriku, faktor utamanya hanya karena satu hal; cinta.
sekedar kilas balik, jika saja hari itu dia tidak mengurungkan niatnya untuk mengundangku sudah pasti akan ada yang lain pada hari itu. emosi akan menguap bersama tempias hujan yang membuat tanah menjadi becek, dan cinta akan kembali ke muaranya, indah dan menenangkan, bukan benih dari perdebatan dan perselisihan seperti yang kami lakukan hari itu.
pun begitu... setelah membangun sepetak rumah, yang katanya masih tanpa aksesories cukup membuatku lega sekaligus kehilangan. yah...karena itu artinya pernak-pernik kata yang sesekali waktu akan dia hadiahkan kepadaku otomatis hilang dengan sendirinya, dan tentunya dia akan mengutamakan menghias rumahnya sendiri. seperti kemarin siang (sabtu, 26 mei 2007) saat ia memperlihatkan sepenggal bait cantik langsung terfikir oleh ku untuk dipajang disalah satu dinding rumah ku, dan dengan harapan akan menjadi lebih cantik dan bermakna dengan hiasan tersebut. tapi...1 2 3 dia sudah duluan menempelkannya didinding rumah barunya dengan gayanya yang unik, hm...tak apalah...
akankah selalu seperti orang yang sedang jatuh cinta? jadi teringat masa SMU dulu, guru sosiologi saya pernah bilang begini; bagi orang yang sedang jatuh cinta maka lewat saja didepan rumah orang yang dicintainya untuk sekedar melihat jemurannya saja sudah sangat senang sekali. tentu sangat berlebihan sekali ungkapan itu, tapi memang begitulah adanya, dan itu bukan cuma omongan angin lalu saja. diam-diam mengintip kerumahnya memang menimbulkan nuansa tersendiri yang berbeda, bait-bait kecil yang berhasil ku intip dari lubang kecil dindingnya memang sangat indah dan bermakna, seperti pemiliknya, beradab dan beretika.
ditengah aktivitas dan ritme kerja yang tidak teratur, sambil sedikit-sedikit mencuri-curi waktu bisalah untuk menjenguknya, sekedar untuk tahu kabarnya melalui pesan-pesan pendek yang ia selipkan dipintu atau dinding rumahnya. antara waktu sunnah dan wajib kami memang berbeda, sehingga susah sekali untuk bisa bercengkerama langsung atau sekedar untuk tanya apa kabar? kadang-kadang bila dengan teman-teman sedang berdebat atau berdiskusi saya jadi terbayang dengan dia, karena itu adalah rutinitas kami berdua, bertengkar. tetapi indahnya bertengkar dengannya dia akan selalu nrimo atau menerima, tidak menyalahkan apalagi menuding saya, barangkali dia tahu kalau saya hoby nya bertengkar.
entahlah...
tidak ada yang lebih menyenangkan rasanya selain berteman dan bersahabat dengan orang-orang dewasa, dikomunitas saya termasuk yang paling muda dan suka berbaur dengan para orang tua, dan jujur, saya merasa nyaman dan senang ketika bisa berinteraksi dengan mereka. berdikusi hal-hal yang unik dan menarik, bercanda, kadang dimarahi dan memarahi adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan teman sebaya. karena itu rasanya faktor kecocokan bukan pada uban yang menyembul dari balik hitamnya rambut tetapi sejauh mana kelancaran komunikasi dan menjadikan orang lain berarti bagi diri kita begitu juga sebaliknya.
ini hanya catatan kecil bagi seorang teman, diam-diam ada ke GR-an yang muncul setelah mengintip sesuatu di ruang tamunya. kata seorang teman...GR itu perlu, asal jangan minder. so...apa kabar hari esok?
senin, 19;58 wib
28 mei 2007
Kamis, 17 Mei 2007
The Soul

Jiwa adalah sumber kekuatan seseorang. Orang yang Jiwanya lemah, akan tampil sebagai sosok yang lemah. Sedangkan orang yang berjiwa kuat akan tampil sebagai sosok yang 'kuat' pula. Tentu saja, bukan sekadar dalam arti fisik. Melainkan 'kekuatan' pribadinya dalam menghadapi gelombang kehidupan.
Orang yang memiliki Jiwa kuat, bukan hanya berpengaruh pada keteguhan pribadinya, melainkan bisa digunakan untuk mempengaruhi orang lain, bahkan benda-benda di sekitarnya.
Anda melihat betapa besarnya kekuatan yang ditebarkan oleh Bung Karno sebagai ahli pidato. Ia bisa mempengaruhi ribuan orang hanya dengan kata-katanya. Ribuan orang terpesona dan rela berpanas-panas, berdesak-desakan, atau berjuang dan berkorban, mengikuti apa yang dia pidatokan.
Anda juga bisa merasakan, betapa hebatnya kekuatan yang digetarkan oleh Mozart dan Beethoven lewat karya-karya musiknya. Berpuluh tahun karya mereka dimainkan dan mempesona banyak musikus atau penikmat musik di seluruh dunia.
Atau, lebih dahsyat lagi, adalah kekuatan yang terpancar dari Jiwa rasulullah saw. Keteladanan dan risalah yang beliau bawa telah mampu menggetarkan satu setengah miliar umat Islam di seluruh penjuru planet bumi ini untuk mengikutinya. Bahkan terus berkembang, selama hampir 1500 tahun terakhir.
Bagaimana semua itu bisa terjadi? Dan darimana serta dengan cara apa kekuatan yang demikian dahsyat itu terpancar? Semua itu ada kaitannya dengan kekuatan Jiwa yang terpancar dari seseorang. Dengan mekanisme otak sebagai pintu keluar masuknya.
1. PANCARAN GELOMBANG OTAK
Mempelajari aktivitas otak, berarti juga mempelajari aktivitas Jiwa. Kenapa demikian? Karena seperti telah kita bahas di depan, Jiwa adalah program-program istimewa yang dimasukkan ke dalam sel-sel otak oleh Allah. Dan program-program itu lantas berkolaborasi membentuk suatu sistem di dalam organ otak. Karena itu, setiap apa yang dihasilkan otak adalah pancaran dari aktivitas Jiwa kita.
Bagaimana memahaminya? Banyak cara. Di antaranya dengan memahami produk-produk otak sebagai organ pemikir. Kalau kita membaca karya seseorang, baik berupa karya tulis, musik, pidato, atau karya-karya seni dan ilmu pengetahuan lainnya, kita sedang memahami pancaran jiwa seseorang.
Di dalam karya itu terkandung energi, yang tersimpan di dalam maknanya. Untuk bisa merasakan energi tersebut tentu kita harus menggunakan Jiwa untuk memahaminya.
Jika kita sekadar menggunakan panca indera terhadap suatu karya, tapi hati atau Jiwa kita tidak ikut dalam proses pemahaman itu, tentu kita tidak bisa merasakan besarnya energi yang terpancar. Karya itu tidak lebih hanya sebagai seonggok benda mati. Tapi, begitu kita melibatkan hati dan Jiwa, tiba-tiba karya itu menjadi hidup dan bermakna.
Yang demikian itu bisa terjadi pada pemahaman apa saja. Setiap kali kita ingin menangkap makna, maka kita harus melibatkan hati dan Jiwa. Hati adalah sensor penerima getaran universal di dalam diri seseorang. Ada yang menyebutnya sebagai indera ke enam.
Kombinasi antara panca indera dan hati akan menyebabkan kita bisa melakukan pemahaman. Tapi semua sinyalnya tetap dikirim ke otak sebagai pusat pemahaman atas informasi panca indera dan hati tersebut. Di situlah Jiwa bekerja sebagai mekanisme kompleks dari seluruh rangkaian software yang ada di sel-sel otak. Itulah yang difirmankan Allah dalam berbagai ayatnya, bahwa pemahaman mesti melibatkan hati, sebagai sensornya.
QS. A'raaf (7) : 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
QS. Ar Ruum (30) 59
Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.
QS. Al Hajj (22) : 46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
Jadi, otak memancarkan gelombang energi yang tersimpan di dalam maknanya. Makna itu sendiri sebenarnya bukanlah energi, meskipun ia mengandung energi. Makna juga bukan materi. Makna adalah makna alias ‘informasi’.
Selama ini, kita memahami eksistensi alam semesta hanya tersusun dari 4 variable, yaitu Ruang, Waktu, Materi dan Energi. Sebenarnya, 'Informasi' adalah variable ke 5 yang turut menyusun alam semesta.
Para pakar Fisika tidak memasukkan 'Informasi' sebagai salah satu variable penyusun alam, karena pengukuran 'Informasi' itu tidak bisa dilakukan oleh alat ukur material seperti mengukur Ruang, Waktu, Energi dan Materi. Makna atau informasi hanya bisa diukur oleh ‘perasaan’ makhluk hidup.
Tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi kini semakin bisa diukur secara lebih kuantitatif bukan hanya kualitatif saja. Sehingga, saya kira sudah waktunya kita memasukkan 'variable Informasi' sebagai Salah satu dari 5 variable penyusun eksistensi alam semesta.
Nah, variabel ke 5 inilah yang banyak berperan ketika kita membicarakan makhluk hidup. Khususnya yang berkaitan dengan Jiwa dan Ruh. Sebab, ukuran-ukuran yang bisa kita kenakan pada aktivitas Jiwa dan Ruh itu bukan cuma sebatas ukuran Ruang, Waktu, Energi dan Materi, melainkan ukuran 'informasi' alias 'makna'. Dan itu belum terwadahi oleh 4 varaibel tersebut.
Mungkinkah ada suatu peralatan yang bisa mengukur baik dan buruk? Atau adakah alat secanggih apapun yang bisa mengukur tingkat keindahan, kejengkelan, kebosanan, ketentraman, kebencian, kedamaian, dan kebahagiaan? Semua itu terkait dengan informasi dan makna. Sebenarnyalah ‘makna’ itu memiliki arti yang lebih mendalam dibandingkan sekedar informasi.
Meskipun, tidak bisa diukur secara langsung sebagaimana mengukur kuantitas Ruang, Waktu, Energi dan Materi, tapi informasi dan 'makna' itu bisa bermanifestasi ke dalam Ruang, Waktu, Materi dan Energi. Informasi dan Makna menjelajah ke seluruh dimensi tersebut.
Sebagai contoh, rasa bahagia bisa terpancar di wajah seseorang (dalam bentuk materi dan energi), dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat (menempati Ruang dan Waktu).
Informasi tersebut juga bisa ditransfer kepada orang lain, sehingga memunculkan energi tertentu. Jika anda sedang merasa gembira, kemudian menceritakan kegembiraan itu kepada orang dekat anda, maka orang itu akan merasa ikut bergembira. Dan ketika dia ikut merasa gembira, dia sebenarnya telah menerima energi kegembiraan itu dari anda. Dia tiba-tiba terdorong untuk tertawa, atau bahkan menangis gembira.
Dalam bentuk apakah energi kegembiraan itu terpancar ke orang dekat anda? Apakah suara anda yang keras dan menggetarkan gendang telinganya itu yang menyebabkan dia tertawa? Pasti bukan. Apakah juga karena suara anda yang mengalun merdu, sehingga ia ikut gembira. Juga bukan. Yang menyebabkan dia ikut gembira adalah karena 'isi' alias 'makna' cerita anda itu.
Dan uniknya, energi yang tersimpan di dalam makna itu tidak bisa diukur besarnya secara statis, seperti mengukur waktu, atau energi panas. Energi 'informasi' itu besarnya bisa berubah-ubah bergantung kepada penerimanya.
Kalau si penerima berita demikian antusias dalam menanggapi berita gembira itu, maka dia akan menerima energi yang lebih besar lagi. Mungkin dia bisa tertawa sambil berurai air mata gembira, berjingkrak-jingkrak, dan seterusnya. Padahal, bagi orang lain, berita yang sama tidak menimbulkan energi sehebat itu.
Dimana kunci kehebatan transfer energi informasi itu berada? Terletak pada dua hal, yang pertama adalah makna yang terkandung di dalamnya, sejak dari informasi itu berasal. Dan yang kedua, sikap hati si penerima informasi. Keduanya bisa saling memberikan efek perlipatan kepada energi yang dihasilkan.
Jadi kekuatan energi informasi terletak pada 'kualitas interaksi' antara sumber informasi, penerima, dan makna yang terkandung di dalamnya. Dan, semua itu berlangsung dengan sangat dinamis. Itulah yang terjadi dalam mekanisme pancaran gelombang otak kita, sebagai representasi Jiwa.
Memang dalam kadar tertentu, otak memancarkan gelombang dengan frekuensi yang bisa ditangkap dengan mengunakan alat-alat perekam elektromagnetik tertentu. Katakanlah electric Encephalograph atau Magneto Encephalograph. Tapi yang terukur di sana hanyalah amplitudo dan frekuensinya saja. Atau, mungkin ditambah dengan pola gelombangnya. Sama sekali tidak bisa diukur berapa besar energi 'makna' yang tersimpan di dalamnya. Misalnya, apakah orang yang diukur gelombang otaknya itu sedang gembira atau bersedih. Atau, lebih rumit lagi, apakah dia sedang berpikir jahat atau berpikir baik.
Energi makna itu baru bisa diketahui ketika dipersepsi lewat sebuah interaksi dengan orang lain. Artinya, sampai sejauh ini alat ukur yang digunakan haruslah makhluk hidup, yang memiliki 'hati' dan Jiwa sederajat dengan sumber informasi.
Namun demikian, secara umum, kita bisa mengetahui kondisi Jiwa seseorang lewat jenis gelombang otak dan frekuensi yang dipancarkannya. Misalnya, kalau otak seseorang memancarkan gelombang dengan frekuensi 13 Hertz atau lebih, dia sedang keadaan sadar penuh alias terjaga.
Kalau pancaran gelombang antara 8 - 13 hertz, maka dia sedang terjaga tapi dalam suasana yang rileks alias santai. Jika otaknya memancarkan gelombang di bawah 8 hertz, maka orang itu mulai tertidur. Dan jika memancarkan frekuensi lebih rendah lagi, di bawah 4 Hz, ia berarti tertidur pulas. Dan ketika bermimpi, dia kembali akan memancarkan frekuensi gelombang yang meningkat, meskipun dia tidak terjaga.
Jadi, secara umum kita melihat bahwa 'aktivitas' otak seiring dengan aktivitas Jiwa. Aktivitas Jiwa bakal memancarkan energi Makna. Energi makna itu lantas memicu munculnya energi elektromagnetik di sel-sel otak. Dan berikutnya, energi elektromagnetik tersebut memunculkan jenis-jenis neurotranmister dan hormon tertentu yang terkait dengan kualitas aktivitas Jiwa itu. Misalnya neurotransmiter untuk kemarahan berbeda dengan gembira, berbeda dengan sedih, malas, dan lain sebagainya seperti telah kita bahas di depan.
2. AKTIVITAS KELISTRIKAN OTAK
Salah satu aktivitas otak yang paling dominan adalah munculnya sinyal-sinyal listrik. Setiap kali berpikir, otak bakal menghasikan sinyal-sinyal listrik. Bahkan sedang santai pun menghasilkan sinyal-sinyal listrik. Apalagi sedang tegang dan stress. Sinyal itu dihasilkan oleh sel-sel yang jumlahnya sekitar 100 miliar di dalam otak kita. Jadi, sebanyak bintang-bintang di sebuah galaksi.
Kalau kita lihat dalam kegelapan, miliaran sel itu memang seperti bintang-bintang yang sedang berkedip-kedip di angkasa. Setiap kali sel itu aktif, dia bakal berkedip menghasilkan sinyal listrik. Jika ada sekelompok sel yang aktif, maka sekelompok sel di bagian otak itu bakal menyala. Di sana dihasilkan gelombang dengan energi tertentu. Bahkan bisa dideteksi dari luar batok kepala dengan menggunakan alat pengukur gelombang otak, EEG atau MEG.
Darimana kedipan itu muncul? Dari aktifnya program-program yang tersimpan di inti sel otak. Setiap saat di otak kita muncul stimulasi-stimulasi yang menyebabkan aktifnya bagian otak tertentu. Misalnya, kita melihat mobil. Maka, bayangan mobil itu akan tertangkap oleh sel-sel retina mata kita, dan kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke otak kita. Sinyal-sinyal kiriman retina mata itu bakal mengaktifkan sejumlah sel yang bertanggung jawab terhadap proses penglihatan tersebut.
Demikian pula ketika kita membaui sesuatu. Aroma yang tertangkap oleh ujung-ujung saraf penciuman kita bakal dikirim sebagai sinyal-sinyal ke otak. Dan sinyal-sinyal itu lantas mengaktifkan sel-sel untuk membangkitkan sinyal-sinyal berikutnya. Bahkan dalam keadaan tidur, otak kita masih mengirimkan sinyal-sinyal untuk mengatur denyut jantung, pernafasan, suhu tubuh, hormon-hormon pertumbuhan, dan lain sebagainya.
Otak adalah generator sinyal-sinyal listrik yang saling terangkai menjadi kode-kode kehidupan. Jika kode-kode itu padam, maka orangnya pun meninggal. Karena, sudah tidak ada lagi aktivitas kelistrikan di sel otaknya. Berarti tidak ada lagi perintah-perintah untuk mempertahankan kehidupan.
Tidak hanya berhenti di otak, sinyal-sinyal listrik itu merambat ke mana-mana ke seluruh tubuh, lewat komando otak. Menghasilkan gerakan-gerakan atau perintah lain untuk kelangsungan hidup badan kita. Gerakan sinyal listrik tersebut memiliki kecepatan sekitar 120 m per detik. Jalur yang dilaluinya adalah 'kabel-kabel' saraf yang menyebar dalam sistem yang sangat kompleks.
Pengukuran kelistrikan saraf ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat (ENG) dan menghasilkan data kelistrikan yang disebut Elektro Neuro Gram. Sedangkan untuk pengukuran kelistrikan otak menghasilkan data berupa Elektro Ensefalogram (EEG).
Dalam konteks ini, manusia lantas mirip dengan robot, yang aktivitasnya juga didasarkan pada sinyal-sinyal listrik. Pusatnya ada di hardisk atau chip yang memuat program-program pengendali fungsi 'kehidupan' robot itu.
Mekanisme kelistrikan di dalam tubuh manusia berjalan secara otomatis mengikuti pola sistem digital di dalam sel. Dalam keadaan istirahat, sel memiliki angka tegangan listrik sekitar -90 mvolt.
Namun, begitu ada rangsangan, maka ion-ion natrium yang tadinya berada di luar sel tiba-tiba ‘menyerbu’ masuk ke dalam sel melewati membrannya. Sehingga, suatu saat muatan di dalam sel itu jauh lebih positif dibandingkan dengan di luar membran sel. Tegangan puncak yang terjadi, kalau diukur dengan Galvano meter bisa mencapai +40 mvolt.
Ketika sel mencapai nilai ambang tegangan tertentu, maka sel itu menghasilkan sinyal listrik sebagai jawaban atas rangsang yang terjadi. Waktu pencapaian nilai ambang tersebut sangat singkat, sekitar 1/1000 detik. Saat itulah sinyal dihasilkan oleh sel. Di dalam sinyal itu ada kode-kode informasi yang harus disampaikan kepada sel-sel di sebelahnya, secara berkelanjutan.
Begitu tegangan listrik sel mencapai tegangan puncaknya, +40 mvolt, maka tegangan itu akan menurun kembali menuju tegangan istirahatnya yaitu -90 mvolt. Begitulah seterusnya, sinyal-sinyal terjadi di dalam sel sebagai respon atas rangsangan yang terjadi, secara otomatis.
Mekanisme kelistrikan itu terjadi bukan hanya di dalam sel saraf, melainkan di seluruh bagian tubuh. Sinyal listrik adalah mekanisme utama dalam seluruh aktivitas tubuh manusia. Dan kini, seiring dengan perkembangan teknologi, besarnya kelistrikan itu bisa diukur dengan baik.
Sebagai contoh, kelistrikan otot bisa diukur dan menghasilkan data yang disebut Elektromiogram (EMG). Otot adalah jaringan penggerak yang diladeni oleh banyak sekali unit-unit motor dari saraf otak atau tulang belakang. Ada sekitar 25 - 2000 serat otot yang terhubung ke saraf-saraf.
Sinyal-sinyal kelistrikan itu merambat lewat jalur tersebut. Ketika sel-sel saraf istirahat, maka sel-sel otot juga istirahat. Ketika sel saraf menghasilkan sinyal listrik, maka sel-sel otot juga terangsang, menghasilkan tegangan listrik, dan kemudian memunculkan sinyal dengan mekanisme yang sama.
Kelistrikan pada retina mata juga bisa diukur. Metode yang dipakai adalah rangsang cahaya pada retina, yang kemudian menghasilkan sinyal listrik di saraf-saraf sekitar mata. Sebelum diukur, mata diberi cairan NaD fisiologis, kemudian di korneanya dipasang lensa kontak yang berisi elektroda Ag-AgCl.
Pada sekitar mata dipasang elektroda referensinya. Elektroda itu bisa dipasang di dahi, atau di dekat telinga. Maka, ketika retina disinari cahaya, akan muncul sinyal-sinyal yang bisa diukur oleh sistem peralatan tersebut. Dinamakan Elektroretinogram (ERG).
Teknik lain untuk pengukuran kelainan fungsi mata secara kelistrikan adalah yang disebut Elektrookulogram (EOG). Sedangkan pada fungsi lambung dan pencemaan, pengukurannya disebut Elektrogastrogram (EGG). Pada saraf disebut Elektroneurogram (ENG). Pada otak disebut Elektroensefalogram (EEG). Dan pada jantung disebut sebagai Elektrocardiogram (ECG). Pengukuran kelistrikan pada jantung adalah yang paling maju di antara pengukuran kelistrikan yang lain, karena relatif ‘lebih mudah’ dan ‘lebih tua’. Tapi kita tidak akan membahasnya di sini lebih jauh.
Pada dasarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa tubuh manusia penuh dengan sinyal-sinyal listrik yang membentuk mekanisme sistem kehidupan. Sekali lagi, semua itu dikendalikan lewat program-program canggih yang terdapat di inti sel yang berjumlah miliaran itu. Dan organ komandonya adalah otak.
Lima tahun terakhir ini, perkembangan pengukuran dan pemanfaatan gelombang otak semakin maju. Terutama untuk membantu orang-orang yang mengalami kelumpuhan pada saraf tubuhnya dari leher ke bawah. Mereka sangat terbantu dengan adanya teknologi 'brain computer interface' (BCI). Sebuah teknologi yang mencoba menghubungkan otak dengan sebuah komputer.
Ke dalam otak seseorang dimasukkan sebuah chip berukuran 2x2 mm yang berisi 100 keping elektroda. Chip itu ditanam di lapisan luar kulit otak sedikit di atas posisi telinga untuk menangkap sinyal-sinyal yang keluar dari sel-sel otak.
Chip tersebut bisa menangkap sinyal-sinyal yang berasal dari sekitar 50 - 150 saraf otak. Lantas, diteruskan ke suatu alat pengubah data digital, dengan menggunakan kabel fiber optik. Sinyal-sinyal digital itu dihubungkan ke sebuah komputer. Hasilnya, seorang yang mengalami kelumpuhan saraf-saraf otot bisa memberikan perintah yang ada di benaknya lewat komputer tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh sebuah lembaga benama Cyberkinetics di Amerika Serikat menunjukkan bahwa si pasien yang lumpuh itu bisa melakukan banyak hal lewat bantuan alat tersebut. Di antaranya, dia bisa mengoperasikan komputer cukup dengan kehendaknya saja.
Dia juga bisa mematikan dan menghidupkan lampu, televisi, radio, dan memainkan video games, serta beberapa peralatan elektronik hanya dengan menggunakan pikirannya. Bahkan perkembangan berikutnya, ia bisa menggerakkan tangannya dengan bantuan alat tersebut.
Ya, manusia telah berhasil membuktikan bahwa otak memancarkan sinyal-sinyal listrik yang memiliki makna sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan. Karena itu, bisa diukur. Di dalamnya tersimpan energi tak terbatas yang bergantung kepada bisa tidaknya kita menerjemahkan sinyal pikiran itu lewat peralatan peralatan mutakhir..
Maka, orang bisa bermimpi dan berimajinasi apa saja dengan pikirannya. Kalau imajinasi itu bisa diterjermahkan tanpa batas juga, dengan menggunakan peralatan yang semakin canggih, maka energi yang tersimpan di dalam perintah itu pun bakal menjadi kenyataan!
Sumber : http://st-gallery.com/
Rabu, 16 Mei 2007
U Krang

Mak Nek tambah manyun dikatakan oleh suaminya begitu, tak mau kalah ia pun menjawab.
"itu pepatah lama, sudah ot of det," sejak beberapa orang asing sering bertandang kerumahnya ia mulai keranjingan memakai bahasa mereka, kadang entah apa yang dikatakannya, maklum, Mak Nek agak peutimang orangnya. dan ia tak malu walaupun yang dia ucapkan kadang salah tempat. " banyak kelapa yang krang, tidak ada santan apalagi minyak, dagingnya tipis, yang besar cuma bruek nya saja." ucap Mak Nek.
Yah Nek melongo mendengar jawaban istrinya, seketika ia berfikir dan membenarkan omongan istrinya. ia mengangguk-ngangguk. "tumben kamu cerdas kali ini," ledeknya. tapi sayangnya Mak Nek tak mengerti maksud suaminya, maklum, ia menjawab begitu hanya karena kesal dengan tudingan suaminya yang seperti meremehkannya. Mak Nek cuma melongo dengan alis berkerut menatap suaminya yang tengah menyeruput kopi buatannya.
"betul yang kamu bilang, banyak contohnya."
"Maksud abang apa? saya belum mengerti."
"banyak orang yang umurnya sudah tua, tapi sama sekali tidak bermanfaat bagi orang lain, hanya jadi pelengkap penderita orang lain saja." tukas Yah Nek, Mak Nek manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan suaminya.
"Seperti kita masak kuah pliek dengan kelapa yang krang tadi... sudah pakai kelapa banyak tapi tidak terasa leumak nya."
"ya...ya...." Mak Nek mulai conect rupanya.
"kayak banyak orang ditempat si Nyak Agam bekerja kan Bang? mereka itu tadinya diharapkan bisa meuleumakkan masyarakat korban tsunami, tapi malah jadi tabeu dan greu. kasihan mereka...."
"itulah....makanya jangan sering-sering kamu bela si Nyak Agam... dia itu sudah krang sekarang, sudah bercampur dengan orang-orang yang besar batok kepalanya, tetapi tidak ada isi apa-apa."
kali ini Mak Nek tidak menjawab apa-apa.
kalimat rindu

“Tanggal 16 abang keluar pulau. Masih ingat
“dua hari lagi? Bukankah seharusnya seminggu lagi?” Tanya ku dengan air mata yang berloncatan keluar.
“kamu menangis?”
“iya,”
“kenapa?”
“masih dipertanyakan kenapa?”
Kita sama-sama diam. Berkali-kali aku menghela napas, ini bukan yang pertama kali, tapi sudah menjadi rutinitas sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku selalu takut saat kau mengatakan, lusa, besok dan hari ini, pukul ini. “aku keluar pulau….” Tak ada yang bias ku lakukan selain menatap mu lama-lama dengan irama jantung yang tidak bisa diterjemahkan.
“aku rindu.” Ucap ku akhirnya melepas sunyi.
“sama”
“aku ingin memeluk, mengikuti irama jantung mu yang teratur….”
"bukankah aku selalu memeluk mu? menemani kemana pun kau pergi? begitu juga sebaliknya, sekalipun itu hanya ada dalam pikiran kita."