Langsung ke konten utama

Pelecehan Baru Berkedok Penegakkan Syariat

Pelecehan Baru Berkedok Penegakkan Syariat

Tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan aneh apa yang sedang terjadi dan tengah di ‘perjuangkan’ di Bumi Serambi Mekkah ini, niat awalnya tak lain adalah untuk memperjuangkan islam kaffah sebagaimana yang telah diemban oleh Nabi Muhammad pada masa dahulu tetapi dalam pelaksanaanya ‘perjuangan’ inilah yang tampaknya dijadikan bola pingpong permainan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu muncullah oknum-oknum yang menawarkan kearogansian dan menyalahgunakan tanggung jawabnya dilapangan serta ulah konyol sebagian masyarakat yang masih gemar main hakim sendiri hingga mencemarkan pelaksanaan syariat itu sendiri.

Kasus yang baru terjadi beberapa hari yang lalu dikawasan wisata Lhok Nga dan sempat diberitakan baik oleh media lokal maupun media nasional memang patut dicermati dengan teliti. beberapa kasus yang terjadi sebelumnya memang ada beberapa yang sengaja mendokumentasikan perbuatannya hingga pada akhirnya diketahui oleh public akibat keteledorannya sendiri, tapi apa yang terjadi dengan adegan mesum dipantai Lhok Nga yang diberi judul “Lhok Nga” tersebut memang membuat miris siapapun yang mendengarnya terlebih pelakunya sendiri, sebab yang mendokumentasikan film documenter tersebut adalah orang lain. Mengapa bisa terjadi? Ya, sepasang anak muda tersebut yang diketahui yang laki-lakinya baru kelas satu SMU sedangkan yang perempuan sudah duduk dibangku kuliah itu dipaksa untuk melakukan adegan ‘reka ulang’ atas perbuatan mereka yang tertangkap basah oleh sekelompok oknum masyarakat tadi. Belakangan diketahui oknum tadi merupakan anggota KPA dan bekerja di badan rehab rekon nanggroe aceh Darussalam.

Sebut saja namanya Ari, salah satu oknum yang ikut terlibat dan mendokumentasikan adegan tersebut mengatakan motivasi mereka menyuruh adegan reka ulang itu adalah untuk menimbulkan efek jera agar mereka tidak mengulangi perbuatannya. “Setelah itu mereka dinikahkan dan diberikan kepada tetua kampung,” jelasnya. Namun, saat ditanya mengapa ia tidak menunjukkan identitas diri yang sebenarnya ia mengatakan bahwa semua ini memang tidak ada hubungannya dengan latar belakangnya sebagai anggota KPA.

Dari beberapa sumber yang ditanyai mengatakan apa yang dilakukan oleh sekelompok oknum tadi adalah pelecehan terhadap apa yang tengah diperjuangkan dinegeri ini, karena mereka menjadikan penegakan syariat islam sebagai tameng. “itu hanya alasan saja untuk membenarkan diri mereka sendiri, apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan dan melanggar hak privasi orang lain. Selain itu juga akan membuat orang-orang yang tidak senang kepada islam akan mudah melakukan serangan dengan mengangkat isu-isu murahan seperti itu” Jelas Adi, warga Banda Aceh. Ungkapan itu memanglah tidak berlebihan sebab beberapa sumber yang lain dan sudah melihat film berdurasi enam menit tersebut mengatakan perbuatan mereka yang memaksa kedua anak manusia tersebut melakukan adegan reka ulang memang pelecehan dan tidak jelas dasar hukumnya dan sangat keterlaluan, karena keduanya juga dipaksa agar mengeluarkan suara dan dipaksa untuk menghisap payudara perempuan tersebut didepan mereka lalu mereka tertawa dan bersorak-sorak.

(akan dipercantik bila ada waktu luang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.