Langsung ke konten utama

U Krang

"Jadilah seperti kelapa, makin tua makin berminyak, santannya bagus!" ucap Yah Nek kepada Mak Nek, istrinya. ia ingin mengatakan secara tidak langsung kepada istrinya agar bisa bersikap bijak sana karena mereka sudah tua. hal itu dilakukan Yah Nek karena Mak Nek masih gemar pilih kasih kepada anak-anaknya. yang dibangga-banggakan hanya Bang Gam yang punya rumah besar dan mobil double kabin sejak kerja disalah satu lembaga yang dibentuk pemerintah pasca musibah tsunami akhir desember 2004 lalu. maklum, gajinya lima puluh juta lebih sebulannya, padahal kerjanya cuma bolak balik dari satu ruangan ke ruangan yang lain.

Mak Nek tambah manyun dikatakan oleh suaminya begitu, tak mau kalah ia pun menjawab.
"itu pepatah lama, sudah ot of det," sejak beberapa orang asing sering bertandang kerumahnya ia mulai keranjingan memakai bahasa mereka, kadang entah apa yang dikatakannya, maklum, Mak Nek agak peutimang orangnya. dan ia tak malu walaupun yang dia ucapkan kadang salah tempat. " banyak kelapa yang krang, tidak ada santan apalagi minyak, dagingnya tipis, yang besar cuma bruek nya saja." ucap Mak Nek.

Yah Nek melongo mendengar jawaban istrinya, seketika ia berfikir dan membenarkan omongan istrinya. ia mengangguk-ngangguk. "tumben kamu cerdas kali ini," ledeknya. tapi sayangnya Mak Nek tak mengerti maksud suaminya, maklum, ia menjawab begitu hanya karena kesal dengan tudingan suaminya yang seperti meremehkannya. Mak Nek cuma melongo dengan alis berkerut menatap suaminya yang tengah menyeruput kopi buatannya.

"betul yang kamu bilang, banyak contohnya."
"Maksud abang apa? saya belum mengerti."
"banyak orang yang umurnya sudah tua, tapi sama sekali tidak bermanfaat bagi orang lain, hanya jadi pelengkap penderita orang lain saja." tukas Yah Nek, Mak Nek manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan suaminya.
"Seperti kita masak kuah pliek dengan kelapa yang krang tadi... sudah pakai kelapa banyak tapi tidak terasa leumak nya."
"ya...ya...." Mak Nek mulai conect rupanya.
"kayak banyak orang ditempat si Nyak Agam bekerja kan Bang? mereka itu tadinya diharapkan bisa meuleumakkan masyarakat korban tsunami, tapi malah jadi tabeu dan greu. kasihan mereka...."
"itulah....makanya jangan sering-sering kamu bela si Nyak Agam... dia itu sudah krang sekarang, sudah bercampur dengan orang-orang yang besar batok kepalanya, tetapi tidak ada isi apa-apa."
kali ini Mak Nek tidak menjawab apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.