Langsung ke konten utama

SANGGAR MALAHAYATI BERPRETENSI PADA KEPENTINGAN POLITIK

Banda Aceh, Andalas

Peresmian sanggar Malahayati, sabtu (21/4) lalu yang dikelola oleh Pemko Banda Aceh disinyalir berpretensi pada kepentingan politik kekuasaan dan telah melukai hati masyarakat Aceh, terutama para pegiat seni dan budaya. Pasalnya, keberadaan sanggar tersebut jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh beberapa seniman Aceh untuk tidak meneruskan keberadaan sanggar Malahayati. Kata Anton Setia Budi kepada Andalas (6/5) di Banda Aceh.

Ditengarai sanggar tersebut akan mengakibatkan terjadinya hegemoni berkesenian dan monopoli aktivitas seni. Serta terjadinya penyimpangan peran dan fungsi pemerintah dan bisa mengakibatkan terpusatnya APBD/APBN dalam pemberdayaan seni dan budaya di Aceh.

Sebelumnya seniman Aceh sudah melakukan pertemuan dengan Illiza Sa’aduddin Djamal SE untuk untuk membicarakan tentang keberadaan sanggar tersebut. “Kita sudah ingatkan, kalau beliau (Illiza) tetap ingin disayang oleh rakyat Aceh maka sanggar tersebut tidak boleh diresmikan,” jelas Anton mengutip hasil temu muka mereka beberapa waktu yang lalu dengan Illiza seraya menambahkan yang hadir pada saat itu selain dirinya ada juga Rafli Kande, Din Saja (budayawan Aceh), dan beberapa perwakilan dari sanggar seni yang ada di Banda Aceh.

Dalam bincang-bincang dengan beberapa seniman Aceh di kantor perwakilan Andalas di Banda Aceh beberapa waktu lalu, dikatakan bahwa dengan munculnya sanggar tersebut otomatis akan mematikan kreatifitas sanggar yang lain, karena kurangnya perhatian pemerintah. “Kalau ada promosi sanggar keluar negeri atau keluar daerah, sudah tentu mereka mendahulukan sanggarnya.” Komentar Rudi, aktivis sanggar Putroe Phang Unsyiah. Ia memperkirakan pasca tsunami muncul ratusan sanggar baru di Aceh yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Tetapi impian itu hilang dengan sendirinya dengan munculnya sanggar Malahayati yang pengurusnya adalah istri walikota Banda Aceh yang sedang menjabat saat ini.

Sementara itu, wakil walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Jamal yang ingin dikonfirmasi tentang keberadaan sanggar itu pada beberapa hari yang lalu tidak berhasil ditemui. Sementara Humas walikota Banda Aceh Drs. Mahdi tidak berani berkomentar, namun begitu Illiza berjanji minta waktu kepada wartawan dalam beberapa hari ini. (Irma Hafni)

Komentar

  1. Ketika Radio yang diasuh Apa Kaoy mengundang saya untuk berdialog dengan Wakil Walikota Banda Aceh, sudah saya sampaikan kepada beliau tentang dampaknya sebuah sanggar yang dibentuk oleh pejabat sebuah negeri. Tapi, itu semua ternyata tidak mendapat tanggapan rendah hati dari wakil pemimpin saya itu. Sanggar tersebut tetap saja muncul. Tentu dengan cara pandang yang berbeda dari cara pandang saya dan teman-teman, kehadiran sanggar itu menjadi jelas keberadaannya. Artinya dia tetap saja hadir. Bahkan saya dengar sanggar tersebut sudah pernah melawat ke sebuah negara bekas koloni Uni Sovjet. Alhamdulillah. Itu semua kehendak Allah. Semoga apa yang menjadi kecemasan kita, tidak terwujud hendaknya. Tentang kehadiran saya dalam dialog dengan wakil walikota, sebagaimana disampaikan Anton SB, saya nyatakan bahwa saya tidak hadir dalam acara tersebut. Mari kita selamatkan iman kita masing-masing. Selamat menjalankan ibadah puasa. Saleum din saja

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.