Langsung ke konten utama

Tetap Walau Tanpa Pasir

Keterkejutan! saat tahu waktu yang sempit itu kian dipersempit lagi, dari yang semula tanggal 23 menjadi tanggal 16 dan itu besok. apa yang bisa dilakukan dalam waktu sesempit ini? yang tidak sampai 24 jam lagi, bahkan untuk sekedar menuliskan sesuatu lalu menyelipkan kesaku baju mu pun tak sempat, tapi yang telah kau selipkan ke hati ku jauh lebih dalam lagi ketimbang secarik kertas usang yang sudah tak berbentuk lagi ini. aku baru ingat sekarang, ada sesuatu yang tak bisa kau penuhi dari sekian permintaan ku sejak beberapa tahun yang lalu.

sangat sepele sekali, bila ia bisa diambil dari setiap pantai yang melintang di timur dan barat bumi itu. dan aku menyadari, permintaan itu sangat berat sekali, lebh berat dari seribu ciuman yang kita kiaskan kepada awan yang melintas dicakrawala. sebutir pasir, atau segenggam, memang bukan sebuah perlambang atas perasaan apapun. juga bukan bentuk sebuah ketulusan atau keinginan untuk berkorban yang luar biasa. sebab pasir ini tak sama, ia tak ada ditempat lain, apalagi ditempat ku duduk memandangi senyum mu saat ini.

aku akan mengatakan, cintaku akan dibawah sampai kenegeri asing berikutnya, meninggalkan jejak langkah diatas pasir yang dihembus angin diatas kepolosan bumi tanpa ombak dan riak, dengan gelombang yang berdendang mengikuti langkah angin.

aku pernah bermimpi, dengan pasir itu cintaku akan berkali lipat bertambah, rindu ku mungkin akan melebihi gurun tempat dimana ia berasal, tapi apakah semuanya akan berakhir karena memang ia belum boleh ku miliki sekarang? tidak untuk waktu sesempit ini, bahkan besok aku belum tahu. pesan-pesan panjang yang kau sampaikan saat detik-detik pertemuan kita kembali mengiang, menerawang mengapung dibayangan hati untuk tetap mengindahkan semua itu, sebagai bentuk penghormatan sebagai awal kehangatan pada waktu berikutnya. cinta telah mengajarkan kita bersabar kepada waktu, memberikan kita kehangatan sekalipun tengah berhujan-hujan. cinta, mengajarkan air mata yang sempurna dengan balutan senyum keihklasan, bahwa aku harus berfikir realistis, tidak ada yang kekal, apalagi tentang cinta dan perasaan.

tidak seperti kemarin-kemarin, kali ini aku benar-benar sedih, meski sebenarnya senyum itu telah kau titipkan beberapa hari yang lalu. rindu itu telah kau paketkan, dan kau kirim melalui mimpi tentang pertemuan diantara kita. mengapa pula yang ku pertanyakan tentang sesuatu yang tidak perlu dijawab? aku tak sama dengan orang lain, rindu ku tak bisa dibagi melalui cerita kepada tuan-tuan tanpa identitas.

ini barangkali adalah sebuah perjalanan waktu, banyak sekali persimpangan yang harus kita lalui, tikungan-tikungan, kembali aku teringat akan pasir yang pernah kita bicarakan beberapa tahun yang lalu.

ia akan terus berjalan walau tanpa pasir dengan wujud asli, sebab pasir yang sebenarnya telah terjalin dengan cinta dan rindu yang sempurna dalam jiwa. cinta itu tidaklah terlalu indah, tetapi menjadi sangat indah saat ia bisa dihargai dengan hati terbuka.
peluk cinta dan rindu; kepada yang memberikan pasir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.