Langsung ke konten utama

sayang...

kedekatan kita memang karena cinta
tanpa bantas
rindu yang dipintal dengan kehangatan dan kemesraan
sungguh seperti langit biru yang cerah
mengatup menggantung dihati ku


sayang, masih ingat kah semua dengan cerita kita? hari ini ku tulis kan kembali lalu ku baca satu persatu kalimatnya dengan senyum dan debaran dihati ku. aku rindu sekali kepada mu dan ingin memeluk, merasa dan mengikuti irama jantung mu. dan ini bukan yang pertama ataupun yang kedua tapi yang kesekian kalinya, sejak waktu bertahun-tahun lalu.

membaca ulang cerita cinta kita, lalu melukiskannya kembali dengan kanvas yang sepatah-patah karena marah dan cemburu. alangkah lengkap dan berpelanginya cinta ini, menyabung kita dengan waktu lalu menggeleparkannya diatas lelah mencintai. aku kagum dengan kebersamaan dan kedekatan kita- meski sesekali aku merasa semua ini kekurang ajaran- tapi aku menyukai dan menikmati semua itu.

sayang, masih ingat kah kamu dengan kelemahan kelemahan kita yang jatuh satu-satu? persis seperti daun yang gugur satu-satu karena angin menelanjanginya. ku kira, aku hanya jatuh cinta pada mu kemarin saja, tapi rupanya hari ini juga, esok dan sampai lusa. ah, aku malu sekali mengingt itu. mencintai mu jauh melebihi cinta pada diri ku sendiri. memuja mu persis seperti malam yang merindukan bulan dan bumi yang merindukan matahari.

ah, sudahlah, toh semuanya sudah berjalan seperti semula kembali, yang biru telah biru kembali, dan yang jingga akan selalu jingga. aku hanya mengabarkan, rindu telah berubah menjadi bait-bait kata yang panjang dan rumit. terkadang juga memusingkan dan harus mengernyitkan kening. semakin hari semakin yakin, sisa-sisa magnit itu masih ada dan membekas, menarik-narik rindu dan kemesraan menjadi lantunan puisi-puisi malam yang romantis.

aku mengenang mu sayang, mengingat mu dan memimpi kan mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…