Langsung ke konten utama

puisi rindu kepada matahari

cinta telah merengkuh ku
dan aku merasa nyaman berada didekatnya
rindu telah mengapitku
dan aku betah dalam ketiaknya

isyarat yang lembut tetapi sedikit berkabut, menjuntaikan titik bening diselaput kornea mata dan mengukir aliran dipipi yang tak rata. tersembul dibalik jeruji hati yang mengkiaskan ketakutan akan kehilangan canda dan kasih yang sering kau sampaikan lewat angin. tapi syukurlah kau cepat mengerti kegelisahan ku, dan kau mengirimkan isyarat yang lain, aku tersenyum meski dengan ketakutan yang belum mengelupas.

ku pikir tak ada lagi air mata untuk hari ini dan seterusnya, tapi cinta..hidup dan besar dengan air mata, tak sempurna tanpa ada kesedihan dan gejolak yang menggelora, belum lengkap tanpa penderitaan dan pengorbanan. cinta...sekali lagi hanya cinta, yang mampu melahirkan air mata dalam bentuk yang tak biasa. hanya cinta yang mampu mengubah rindu menjadi ribuan kisah yang padat dan kental.

cinta mengajarkan ku arti sebuah kepahitan
mengajak ku berjalan bertemu dengan kelokan kelokan rumit dan bercadas

sayang, aku hanya ingin katakan
suatu hari akan ada sesuatu yang berarti dari semua ini
meski untuk itu aku harus mengejawantahkan semua perasaan dan alur hidup ku, menjadi orang yang mati rasa dan bahkan tidak berperasaan.

tidak banyak yang ingin ku sampaikan, selain rindu yang kembali hadir dan cinta yang kian meruncing.

cinta telah merengkuh ku
dan aku lega bisa memeluknya
rindu telah menarik ku
dan aku senang karena ia tak membiar kan ku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.