Langsung ke konten utama

Uang

Dalam konteks ekonomi, uang merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kita memerlukan uang untuk ditukar dengan bebagai kebutuhan tadi. Agar proses keberlangsungan hidup terus berjalan. Di nanggroe aceh Darussalam, pasca tsunami, fungsi uang tampaknya bukan sekedar sebagai alat tukar saja melainkan bisa bermakna lain yaitu “jarak”. Yah, jarak antara si kaya dan si miskin, jarak antara si korban tsunami dengan para “dewa” penolong mereka. Jarak antara buruh kasar dan pekerja yang bekerja diruangan ber air conditioner, jarak antara pekerja sosial yang murni memperjuangkan gerakan rakyat dengan pekerja sosial yang mengeruk keuntungan pribadi atas nama rakyat. Jarak antara pegawai BRR dengan orang-orang yang sampai hari ini masih tinggal di barak.

Uang telah menjadi orientasi utama, setelah itu tercapai barulah memikirkan hal-hal lain untuk menunjang orientasi utama tadi seperti misalnya mengurus rakyat. Pun begitu tetap saja membutuhkan perjuangan yang besar, perjuangan untuk menutup mata dan telinga, perjuangan untuk menambal nurani dan mematikannya, perjuangan untuk meningkatkan prestise walaupun dengan itu harus menunjukkan sikap arogan. Saat sudah mempunyai uang banyak, maka ia layak untuk dihargai dan dihormati, dengan sendirinya prestisepun naik ditengah-tengah masyarakat, tetapi ya dengan konsekwensi tadi, jarak.

“Perjuangan” inilah yang lambat laun membuat mereka dijauhi rakyat, dicurigai, dituding dan tidak dipercayai, lalu kembali rakyat disalahkan, dengan dalih sudah dibantu tapi tidak tahu berterimakasih. Sudah dubuatkan rumah malah tidak mau menempati dan yang membuatkan rumah malah di demo. Terang saja, karena rumah yang diberikan kepada rakyat tidak berkualitas alias rumoh-rumohan. Bahannya dibuat dengan racun, salahkan jika masyarakat menolak? Mereka yang kedinginan, kepanasan, kelaparan, tidak bisa berbuat apa-apa untuk “mengusik” pemimpinnya yang duduk manis dimenara gading sana.

Sementara yang selama ini sangat vokal membela rakyat malah memilih bungkam dan pura-pura tidak tahu menahu dengan dalih itu bukan urusan saya, ini bukan hak saya berbicara, dan bla..bla..bla..lainnya. uang! (Ihan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n