Langsung ke konten utama

Surat Cinta Untuk Seorang Sahabat

memang tidak perlu berkecil hati apalagi sampai melayangkan surat 'putus cinta' kepada seseorang yang telah 'lupa' mengundang ku pada acara peusijuek 'rumoh' barunya beberapa waktu yang lalu. keinginan untuk mencicipi bulukat kuneng dan kupi kental racikan tangannya pun sirna sudah, hanya karena satu hal; emosi. dan momen yang ditunggu-tunggu itu tak ada untuk yang kedua kalinya lagi. artinya...apa yang selama ini ditunggu-tunggu memang bukan sebuah kesiaan tetapi merasa seperti ada yang tidak pas dihati. sebab, dari dulu aku memang sangat ingin dia punya rumah yang layak tetapi tanpa sepengetahuanku ternyata dia sudah merancangnya sendiri.

awalnya memang sempat sedikit sedih, tapi setelah direnungkan kembali dan dia menceritakan hal ihwal mengapa aku tidak diundang maka mengertilah diriku, faktor utamanya hanya karena satu hal; cinta.

sekedar kilas balik, jika saja hari itu dia tidak mengurungkan niatnya untuk mengundangku sudah pasti akan ada yang lain pada hari itu. emosi akan menguap bersama tempias hujan yang membuat tanah menjadi becek, dan cinta akan kembali ke muaranya, indah dan menenangkan, bukan benih dari perdebatan dan perselisihan seperti yang kami lakukan hari itu.

pun begitu... setelah membangun sepetak rumah, yang katanya masih tanpa aksesories cukup membuatku lega sekaligus kehilangan. yah...karena itu artinya pernak-pernik kata yang sesekali waktu akan dia hadiahkan kepadaku otomatis hilang dengan sendirinya, dan tentunya dia akan mengutamakan menghias rumahnya sendiri. seperti kemarin siang (sabtu, 26 mei 2007) saat ia memperlihatkan sepenggal bait cantik langsung terfikir oleh ku untuk dipajang disalah satu dinding rumah ku, dan dengan harapan akan menjadi lebih cantik dan bermakna dengan hiasan tersebut. tapi...1 2 3 dia sudah duluan menempelkannya didinding rumah barunya dengan gayanya yang unik, hm...tak apalah...

akankah selalu seperti orang yang sedang jatuh cinta? jadi teringat masa SMU dulu, guru sosiologi saya pernah bilang begini; bagi orang yang sedang jatuh cinta maka lewat saja didepan rumah orang yang dicintainya untuk sekedar melihat jemurannya saja sudah sangat senang sekali. tentu sangat berlebihan sekali ungkapan itu, tapi memang begitulah adanya, dan itu bukan cuma omongan angin lalu saja. diam-diam mengintip kerumahnya memang menimbulkan nuansa tersendiri yang berbeda, bait-bait kecil yang berhasil ku intip dari lubang kecil dindingnya memang sangat indah dan bermakna, seperti pemiliknya, beradab dan beretika.

ditengah aktivitas dan ritme kerja yang tidak teratur, sambil sedikit-sedikit mencuri-curi waktu bisalah untuk menjenguknya, sekedar untuk tahu kabarnya melalui pesan-pesan pendek yang ia selipkan dipintu atau dinding rumahnya. antara waktu sunnah dan wajib kami memang berbeda, sehingga susah sekali untuk bisa bercengkerama langsung atau sekedar untuk tanya apa kabar? kadang-kadang bila dengan teman-teman sedang berdebat atau berdiskusi saya jadi terbayang dengan dia, karena itu adalah rutinitas kami berdua, bertengkar. tetapi indahnya bertengkar dengannya dia akan selalu nrimo atau menerima, tidak menyalahkan apalagi menuding saya, barangkali dia tahu kalau saya hoby nya bertengkar.


entahlah...
tidak ada yang lebih menyenangkan rasanya selain berteman dan bersahabat dengan orang-orang dewasa, dikomunitas saya termasuk yang paling muda dan suka berbaur dengan para orang tua, dan jujur, saya merasa nyaman dan senang ketika bisa berinteraksi dengan mereka. berdikusi hal-hal yang unik dan menarik, bercanda, kadang dimarahi dan memarahi adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan teman sebaya. karena itu rasanya faktor kecocokan bukan pada uban yang menyembul dari balik hitamnya rambut tetapi sejauh mana kelancaran komunikasi dan menjadikan orang lain berarti bagi diri kita begitu juga sebaliknya.

ini hanya catatan kecil bagi seorang teman, diam-diam ada ke GR-an yang muncul setelah mengintip sesuatu di ruang tamunya. kata seorang teman...GR itu perlu, asal jangan minder. so...apa kabar hari esok?

senin, 19;58 wib
28 mei 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.