Kamis, 16 Juni 2016

Sakitnya Dikhianati, Mengaku Duda Ternyata Masih Beristri


“Jangan pernah merasa terpuruk, meski di saat kau merindukan butir-butir embun di pagi hari, yang kau dapatkan justru uap dari air mendidih ~


Perempuan yang saya kenal itu, bisa jadi satu di antara banyak perempuan di dunia ini yang benar-benar berharap bahwa pernikahan adalah sumber kebahagiaan. Karena itulah dia menikah, hampir sepuluh tahun yang lalu. Dan saya turut menyaksikannya ketika itu.

Saya belum lupa bagaimana sepasang matanya yang indah menatap wajah suaminya manakala fotografer akan membidik mereka. Ya, sepasang pengantin baru dalam balutan baju pengantin. Tatapan itu sungguh membuat saya iri.  Bagai kelopak mawar yang merekah menebarkan aroma semerbak, penuh binar, kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Meski cukup mengenalnya tapi kami jarang bertemu. Belum tentu setahun sekali. Pun begitu ada banyak hal yang saya ketahui tentangnya.  Seperti hubungan mereka yang tidak mendapat restu dari orang tua si perempuan. Hal itu membuat resepsi pernikahan mereka terpaksa digelar di rumah neneknya. Dan pamannya  yang menjadi wali nikah. Kekuatan cintalah yang membuat mereka tetap bersatu. Lagi-lagi saya iri, sebab saya bel

Kamis, 09 Juni 2016

Ketika Ustaz 'Harus' Berpoligami

ilustrasi

ISU cerai Ustadz Zacky Mirza dan istrinya Shinta Tanjung memang sedang menjadi bahasan hangat di media. Perceraian itu disebut-sebut terkait dengan praktek poligami yang dilakukan sang ustaz.

Tapi tulisan ini tidak akan mengulas tentang itu, karena, secara pribadi saya tidak mengenal dan tidak mengikuti perkembangan kasus Ustaz Zacky Mirza dengan istrinya. Saya khawatir apa yang saya tulis nantinya justru akan mengarah pada fitnah karena menerka-nerka.

Saya hanya ingin bercerita tentang seorang ustaz di kampung saya, yang pada akhirnya 'harus' berpoligami. Ya, poligami, suatu perbuatan yang tidak bertentangan dengan Islam tapi menjadi sangat amat ditakuti, khususnya oleh kaum hawa, karena berbagai propaganda.

Masyarakat memanggil ustaz tersebut dengan sebutan Abu. Ini istilah yang lazim bagi masyarakat Aceh. Serupa kiyai di Jawa. Abu adalah seorang ulama kharismatik di Aceh Timur. Beliau selalu dilibatkan di setiap lini kehidupan masyarakat, khususnya di desa kami.

Abu memiliki wajah yang tampan. Kulitnya putih. Perawakannya sedang. Dengan janggut tipis di dagunya, ciri khas seorang ustaz. Ia mempunyai istri yang sangat cantik, dipanggil Ummi. Ummi memiliki postur tinggi besar, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam legam. Anak-anaknya jangan tanya, dua putra dan dua putrinya sangat sedap dipandang mata.

Beberapa tahun lalu Abu menikah lagi, dengan seorang perempuan yang secara fisik bisa dibilang 'kalah' dengan istri pertamanya. Pertanyaannya, mengapa Abu menikah lagi?

Sabtu, 04 Juni 2016

Selamat Jalan, Z Sayang...



“Perlukah menangisi kepergianmu yang ingin ‘menjauh’ dariku? Selamat jalan Z sayang... selamat jalan... aku akan terus berpuisi untukmu... ya.... hanya untukmu...”

Sudah kuputuskan untuk tidak menuliskan apapun lagi tentangmu.  Tapi aku gagal setelah berhari-hari mencobanya.  Dan aku akan terus mencobanya. Sampai kapanpun.

Jantungku seperti mau meledak manakala setiap ingatanku melompat pada semua kenangan yang pernah ada. Hatiku terasa hancur berkeping-keping, saat menyadari semuanya sudah dengan cara seperti ini. Dalam hening yang panjang, dalam diam yang bisu, tanpa sempat mengatakan selamat tinggal. Semuanya serba tiba-tiba.  Tak ada tanda-tanda.

Aku akan mengubur semua kenangan ini, bersamamu yang telah terkubur oleh waktu. Aku akan menghapus semua tentangmu, seperti angin menghilangkan jejak kaki di pasir pantai. Aku akan mengikis semua cerita yang pernah kau kisahkan hingga bekasnya tak terbentuk lagi.  Dan kaupun tahu semua itu akan membutuhkan waktu yang teramat sangat lama. Ya, kita hanya perlu satu detik untuk saling jatuh cinta, tapi berapa banyak waktu yang akan kita habiskan agar bisa melupakan?

Bagaimana aku akan melupakanmu, jika aku tetap menulis. Dan bagaimana bisa aku berhenti menulis jika aku ingin tetap hidup. Dan kaupun tahu, sudah bertahun-tahun lalu kau bereinkarnasi menjadi ruh dari setiap narasi yang lahir dari benakku. Sesungguhnya kaulah tulisanku.  Jika aku terus menulis bukankah itu artinya kau akan terus hidup di ingatanku? Aku tak ingin kau terus ‘hidup’ hanya untuk melukai perasaanku. Aku tak ingin kau mengiris-iris hatiku dengan cara yang tak kausadari. Aku tak ingin, bahkan setelah kau tiada, kau masih bisa membuat hatiku bergerimis. Aku tak ingin duniaku menjadi sendu dan muram karenamu.

Tapi aku akan terus melakukannya, aku akan tetap menulis, hingga aku tak bisa berpikir lagi, hingga tanganku tak kuasa menekan tuts-tuts laptop mungilku lagi.  Ya, aku akan terus menulis karena hanya dengan itu lukaku bisa tersembuhkan.

Bagiku kau serupa aroma uap kopi yang tak pernah bosan untuk kusesap. Yang sudah setahun ini tak pernah kusentuh lagi. Aku khawatir tak akan terlepas dari candumu yang memabukkan. Maka aku meninggalkannya perlahan-lahan. Setidaknya itu cukup membantu saat kau meninggalkanku dengan cara tak terduga seperti ini.

Ah, memangnya siapa aku ini bisa menduga-duga rencana Tuhan? Jika Tuhan ingin mengambilmu dariku, aku bisa apa? Aku tak akan protes pada Tuhan,  aku tak akan marah, aku tak akan menangis. Apa perlu menangisi kepergianmu, Z? Apa aku perlu mengatakan kau jahat karena telah melupakan apa yang pernah kau ucapkan? Tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku akan membiarkanmu tenang di duniamu sendiri. Ya, dunia kita selalu berbeda bukan?

Jumat, 03 Juni 2016

Surat Cinta untuk Ety Sayang

ilustrasi @pixabay.com

ETY Livia Harahap namanya. Perawakannya tinggi. Langsing. Kulitnya putih. Matanya sipit. Kesan 'judes' di wajahnya membuat ia makin terlihat cantik. Dia juga pintar, kritis, teliti dan sangat 'kolerik', kombinasi yang tepat untuk mengantarkannya menjadi seorang akuntan seperti yang digelutinya sejak beberapa tahun terakhir. Dia bekerja di sebuah perusahaan bergengsi di Banda Aceh.

Saya memanggilnya Ety. Kami bersahabat sejak masih kuliah. Sudah lama.... lebih dari 10 tahun, walapun intens bertemu baru sejak beberapa tahun terakhir ini saja karena berbagai faktor.

Ety salah satu sahabat dekat saya, ya, sahabat dekat, karena kami sering bertukar cerita tentang hal-hal yang pribadi seperti soal keluarga dan pekerjaan. Pembuka 'hidangan' di atas sama sekali tidak bermaksud untuk 'mempromosikannya' tapi memang itulah faktanya. Dan kalau ada yang tertarik pada profilnya silakan sewa detektif untuk cari tahu lebih banyak. :-D Satu lagi, dia juga sangat pandai menjahit, dan bikin kue.

Hari ini Ety berulang tahun. Soal ulang tahun yang ke berapa, biarlah Ety, saya dan Tuhan yang tahu. Notif di sosial media yang memberi tahu saya pagi tadi. Keterlaluan ya... tapi itulah fungsinya produk teknologi. Dan dengan sedikit kebanggaan kita bisa mengatakan; inilah saya.... manusia anti gaptek.

Dan selaku orang dewasa tidak perlu kado-kado segala seperti yang dilakukan anak-anak TK. Makanya saya tidak memberi Ety kado berupa hadiah yang dibungkus dengan kertas mahal. Saya hanya ingin memberinya sepotong surat cinta, yang ditulis di tengah kepungan tugas yang tak pernah mau selesai. Baiklah.... begini isi surat cintanya:

Dear Ety tercinta,

Sebuah notif masuk ke emailku pagi ini, oh bukan, tepatnya saat aku membuka email pagi tadi, ada sebuah notif yang mengingatkan tentang hari ulang tahunmu. Hm.... lebih enak menyebut hari lahir saja ya. Karena tidak ada yang perlu dibangga-banggakan kali dari hari ulang tahun selain sisa umur yang terus berkurang.

Lantas aku berpikir, ingin segera meng-sms dirimu dan mengucapkan selamat ulang tahun..... tapi rasanya terlalu biasa. Lalu, aku terpikir mengapa tidak kutuliskan saja di sini, agar kau bisa membacanya dan dengan itu hatimu menjadi mekar, serupa daun-daun di dalam pot di beranda rumahmu. Atau, aku menerka-nerka pastilah hatimu akan mengembang, seperti kue-kue di dalam oven yang sering kau buat dan hidangkan saat aku berkunjung ke rumahmu.

Aku ingin memberimu sekeping doa, tapi.... doa apa yang akan kupanjatkan untukmu. Jujur saja aku bingung, sungguh, aku bingung. Apakah aku akan memintamu menjadi lebih cantik, karena sejak aku mengenalmu kau sudah cantik, kalau aku mendoakanmu agar pintar, dirimu sudah sangat pintar. Dan dengan kepintaranmu itu seringkali aku termangu-mangu saat mendengar cerita-ceritamu. Apalagi saat kau menceritakannya dengan penuh gebu, dengan emosi yang kadang-kadang membuat nyaliku menciut, dan aku nyaris seperti landak yang duri-durinya bersujud. Dengan mata mengerjap-ngerjap karena takjub.

Hm... apakah aku akan mendoakanmu menjadi seorang yang penyayang? Kaupun sudah cukup penyayang. Lihat saja pohon tin, pohon pandan, pohon jeruk, dan aneka pohon lainnya di beranda rumahmu, tumbuh subur, pertanda kau merawatnya dengan baik, pertanda kau adalah seorang penyayang.

Aku berhenti sejenak, tidak tahu harus menuliskan apa lagi, bingung, pusing, aku hampir lupa kalau hari ini Jumat.

Baiklah Ety sayang.... aku cuma mau bilang semoga Bang Jali lekas datang.[]

Rabu, 01 Juni 2016

Tradisi Meugang yang Dirindukan

ilustrasi kari daging @iffinbiru.blogspot.com


Serupa aroma kuah daging yang mengepul, begitulah aroma Ramadan mulai menggoda, yang selalu dinanti, yang selalu dirindukan, yang selalu didamba, dan sebelum Ramadan hadir izinkan saya menghaturkan maaf atas segala khilaf dan alpa, agar saya bisa menjemput Ramadan dengan lega ~ Ihan Sunrise

+++

Hmm... aroma Ramadan mulai mengusik indera. Baunya, rasa-rasanya seperti uap kuah daging yang dimasak Ibu di hari meugang. Ya, hari meugang yang selalu kutunggu-tunggu. Hari paling istimewa di dalam hidupku. Dan aku yakin istimewa pula bagi masyarakat Aceh pada umumya.

Meugang atau makmeugang adalah istilah khusus yang dipakai masyarakat Aceh untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Makmeugang ini ditandai dengan 'pesta daging' sehari atau dua hari sebelum puasa dimulai. Disebut juga sebagai meugang sa atau meugang dua. Di Aceh tradisi ini sudah terjadi turun menurun sejak zaman Kerajaan Aceh dulu. Tak berlebihan jika kukatakan terasa hambar menyambut puasa tanpa tradisi meugang ini. Tradisi meugang semacam simbol suka cita umat Islam di Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Secara teknis meugang dilakukan tiga kali dalam setahun. Yaitu menjelang Ramadan, menjelang hari raya Idul Fitri dan menjelang hari raya Idul Adha. Inilah momen paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Aceh selain hari besar Islam.

Mudah sekali mengenali sedang berlangsungnya meugang di Aceh. Pasalnya pasar akan tumpah ruah dengan manusia yang turun dari berbagai pelosok. Tujuan utama mereka utamanya adalah pasar daging, pasar ikan dan pasar sayur. Kita akan melihat orang tua muda berdesakan untuk membeli daging. Entah itu daging sapi, daging kerbau atau unggas, juga ikan basah sebagai pelengkap belanjaan. Umumnya memang kaum pria, meski tak sedikit juga kaum perempuan yang turun ke pasar untuk berbelanja daging.

Lorong-lorong pasar yang dilalui seolah menebarkan aroma daging yang segar. Juga aura kegembiraan dari wajah-wajah orang yang lalu-lalang. Alkhususan para pedagang yang kebanjiran pembeli.

Di hari meugang setiap rumah yang kita lewati otomatis akan menebarkan aroma kuah daging yang dimasak dengan berbagai macam rupa. Seperti asam keueng, masak puteh, masak mirah, semur, sop, rendang, atau daging goreng bercampur bawang dan cabai, seperti yang tak pernah absen di meja makan kami. Setiap orang yang berpapasan di jalan pasti akan menyapa dengan kalimat seumpama, "peu ka masak sie?" atau "peu ka lheuh bu meugang?"

Jangan Menangis, Adikku....


Jangan menangis adikku,

Karena air matamu adalah pedang yang sangat tajam. Mendengar suara tangismu seperti merasakan sebilah pedang menyayat hatiku secara perlahan. Mengiris-ngiris hingga menjadi remuk tak berbentuk.

Jangan menangis adikku,

Aku tak ingin mengatakannya, tapi harus kukatakan. Bahwa kehidupan itu hanya akan memihak pada mereka yang kuat. Karenanya janganlah pernah menjadi lemah apalagi menyerah.

Aku tak punya kata-kata yang tepat untuk menghibur hatimu yang lara. Aku memahami dengan sangat segala hal tak menyenangkan yang kau alami. Raga kita terpisah jauh, tapi percayalah jiwa dan hatiku selalu bersamamu. Kau adalah bagian dari doa-doaku yang panjang.

Jangan menangis adikku,

Sebab kekecewaan tak selamanya perlu diperlihatkan lewat air mata. Kita harus mendapatkan satu persatu bintang di atas sana, menolehlah ke atas, banyak hal indah yang bisa kau saksikan di atas sana. Langit-langit biru dengan gumpalan awan selaksa kapas, daun-daun yang tak pernah bosan bermanja dengan angin, burung-burung yang mengepakkan sayap dengan sempurna, membelah cakrawala tanpa pernah merasakan ketakutan.

Adikku,

Bukan karena jauh, lantas aku tak memahami apa yang kau rasakan. Bukan karena jauh aku lantas akan abai padamu. Sungguh, yang selalu kurindukan darimu adalah rengek manjamu yang kadang menyebalkan. Bukan suara tangis yang terasa lebih menggelegar dari gemuruh di tengah hari.

Selasa, 31 Mei 2016

Yang Menghapus Airmataku


HAMPIR setahun ini kami sekeluarga harus menjalani hari-hari yang teramat sulit. Seperti badai! Kesulitan itu datang tanpa pertanda apapun. Lantas memporak-porandakan apa yang ada di sekitar kami. Menghancurkan tiang-tiang yang selama ini menjadi tempat kami berpegang dan bersandar. Menerbangkan atap-atap yang selama ini melindungi kami dari hujan dan terik.

Semuanya terjadi begitu cepat. Berawal dari sakitnya Ibu pada awal September tahun lalu. Waktu seolah berlari. Tanpa terasa waktu setahun hanya tersisa beberapa bulan lagi.

Badai juga ikut memadamkan lampu-lampu yang selama ini memberi terang untuk kami. Lalu apa yang terjadi? Ya, kami terseok-seok, kesulitan mencari jalan sekadar untuk melangkah. Konon lagi untuk berlari. Kami terpisah satu sama lainnya. Kami terpuruk!

Kami seperti berada di sebuah lorong yang gelap dan panjang. Pengap. Saat kami melewati lorong itu yang terdengar hanya suara kami sendiri. Suara yang menyiratkan kegelisahan dan ketakutan. Kami terus berjalan meski belum tahu akan ke mana lorong ini menyeret kami.

Saat kondisi demikian tak menentunya, aku membutuhkan orang yang mau mengulurkan tangannya dan membantuku untuk bangkit. Mereka yang menyodorkan sapu tangan agar aku bisa menyeka air mata. Atau seseorang yang mengirimkan sepotong senyum, dan menempelkannya di bibirku yang telah kaku. Atau seseorang yang mengirimkan untaian-untaian doa dan kata-kata yang bisa menjadi obor.

Dengan obor itu aku mampu melihat, mampu melangkah, mampu mengetahui arah yang akan kutuju. Dengannya aku takkan tersesat dan salah langkah. Dengannya aku mempunyai tujuan dan harapan. Dengannya aku mengumpulkan puing-puing harapan yang telah diempaskan badai.