Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 17 September 2013

Rumput Liar

Ilustrasi
Akhirnya hujan yang turun sejak siang tadi reda juga. Bau tanah basah menyeruak. Segar. Di pegunungan yang tak jauh dari tempatku tinggal, kabut mulai muncul. Putih. Bagai bunga-bunga es di lemari pendingin. Aku bergegas ke kamar. Mengambil syal berbahan wol motif garis putih biru dan langsung kucantolkan ke leher. Hawa dingin menusuk-nusuk. Masuk hingga ke sum-sum tulang. Setelahnya aku segera pergi.

Sudah beberapa belas menit aku menunggu taksi. Tapi belum ada satupun yang nongol. Aku khawatir sementara aku masih di pinggir jalan seperti ini, hujan kembali turun. Butir-butir air yang jatuh dari pucuk pohon angsana menetes di tubuhku. Menambah gigil kala angin bertiup agak kencang. Aku merapatkan jaket sambil mataku tertumbuk pada sebatang rumput liar yang tengah meliuk-liuk. Bunganya kuning pucat dengan beberapa kelopak yang masih utuh.

Segaris senyum melengkung di bibirku. Bersamaan dengan butir air yang tepat jatuh di di hidungku. Rumput liar itu. Kamu! Seolah telah mengirimkan energi untuk mengeluarkanku dari kemalasan akibat cuaca yang tak bersahabat. Kau tahu, aku hampir saja membatalkan janji untuk ketemu denganmu sore ini. Rasa-rasanya meringkuk dalam balutan selimut tebal sambil memeluk guling lebih menyenangkan. Tapi entah mengapa, akhirnya aku bergegas dan sekarang berada di tepi jalan. Menunggu taksi yang tak kunjung datang.

“Nanti setelah bertemu denganku kau akan merasa hangat,” godamu dalam pesan pendek yang tak sanggup kutolak.

Aha! Taksi yang kutunggu-tunggu akhirnya melintas juga. Begitu taksi itu menepi segera aku masuk. Sebelum kembali melesat di jalan raya sempat kutoleh pada rumput liar berwarna pucat itu.

Jalanan cukup lengang. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Warnanya kuning temaram. Tampak indah dan berkilau saat memantul di air yang tergenang di beberapa ruas jalan. Mendekati tempat pertemuan kita hatiku mulai dag dig dug. Tanganku menjadi lebih dingin. Parahnya aku merasa semacam salah tingkah. Ah, seharusnya aku bersikap biasa saja bukan? Lagipula ini bukan kali pertama aku janjian bertemu dengan orang asing. Asing? Tidak. Kau tidak asing. Selama ini kita cukup intens berkomunikasi. Kita sering mengobrol di jejaring sosial. Berbalas-balas komentar. Kita juga sering menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk membicarakan hal-hal tidak penting. Pada akhirnya menjadi penting. Menjadi semacam kebutuhan. Ya, seperti kosong jika sehari saja tidak mengontakmu.

Kusapu uap air yang menempel di kaca jendela mobil yang kutumpangi. Aku mengedarkan pandangan. Jaraknya sudah semakin dekat. Hanya tinggal satu perempatan lagi. Gugup semakin menyergapku. Jantungku berdetak lebih kencang rasanya. Saat aku sedang sibuk memikirkan kalimat apa yang akan kukatakan saat berjumpa denganmu nanti, tiba-tiba teleponku berdering. Aku tersentak! Kukira itu dari kamu, rupanya dari bosku.

Taksi yang kutumpangi berbelok ke kiri. Ini artinya tempat yang kutuju telah sampai. Setelah membayar ongkos aku segera turun. Tanpa canggung aku langsung masuk ke satu-satunya hotel berbintang lima yang ada di kota ini. Sembari berjalan kuedari pandangan ke sekitar lobi, mencari tempat kosong untuk duduk. Sebelum kutemukan tempat duduk teleponku kembali berdering. Rumput liar. Kau!

“Kau tunggu sebentar, aku segera turun,” katamu.

Aku duduk di sofa yang menghadap ke kolam renang. Di tepi kolam lampu-lampu berbentuk lentera menyala dengan indah. Replika penyu yang terdapat di sekeliling kolam seperti tak pernah bosan memuntahkan air. Gemericiknya terdengar hingga ke tempatku duduk. Dari pantulan kaca langit mulai terlihat gelap. Malam ini baik bintang atau bulan sepertinya enggan muncul.

“Za!” sebuah suarah dari arah belakang membuatku kaget. Lamunanku tentang air kolam yang bening dan bercahaya karena pantulan lentera buyar. Aku segera berdiri.
“Kau!” kataku gugup. Bahkan aku tak bisa menyebut namamu dengan benar.
“Duduklah,” katamu mempersilakan.

Aku kembali duduk. Kau tersenyum. Memamerkan gurat-gurat garis ekspresi di sekitar wajahmu. Di mataku garis-garis ekspresi itu malah membuatmu terlihat lebih berkarakter. Dewasa. Kau tampak lebih muda dengan setelan celana jeans dan t-shirt bermerk yang kau pakai. Wajahmu cerah.

“Kau mau makan?” tanyamu kemudian
“Aku belum lapar,” jawabku apa adanya.

Di luar butir-butir hujan kembali jatuh. Rasa gugup yang tadi hadir pelan-pelan mulai sirna. Kita, tepatnya aku semakin menguasai diri dengan baik. Obrolan di antara kita pun mengalir begitu lancar. Selancar air yang dimuntahkan mulut penyu di pinggir kolam di hadapan kita.
“Bagaimana pendapatmu tentang kota ini?” tanyaku.

Kau tak langsung menjawab. Sampai di sini gayamu tak jauh berbeda saat kita berbicara melalui gelombang suara yang dikirimkan melalui telepon selular milik kita. Bicaramu cukup tenang, teratur dan penuh pertimbangan. Berbeda denganku yang spontan dan apa adanya.
“Tidak seperti yang kupikirkan,” jawabmu.
“Maksudmu?” sergahku cepat. “Kota ini jelek?” aku mencecar.
Bukannya menjawab kau malah tertawa. Sedikit lebih keras. Membuat beberapa orang di sekitar kita menoleh. Aku meletakkan telunjuk di bibir sebagai isyarat memintamu untuk mengecilkan volume.
“Jangan khawatir, tidak ada yang mengenal kita di sini,” ucapmu santai.
“Apa? Enak saja, kau mungkin tidak dikenal di sini, tapi aku, banyak yang mengenalku di sini,” aku protes. Kau kembali tertawa. Mau tidak mau aku menjawil lenganmu agar kau bisa berhenti.
“Bagaimana kalau sebaliknya?”
“Kau menyebalkan sekali, ditanya balik nanya, sungutku.
“Kalau begitu kau sudah tahu mengapa rumput liar harus dibasmi,”
“Kamu ini bicara apa, sih?”
“Nanti kuceritakan. Aku mulai lapar. Kita ngobrol sambil makan saja ya,” ajaknya.

Aku mengangguk. Perutku pun mulai terasa lapar. Lebih dari itu, aku perlu secangkir teh atau kopi untuk menghangatkan tubuhku. Kami beranjak. Meninggalkan lobi dan menyusuri lorong kecil sampai tiba di restoran hotel yang agak tertutup. Suasana di sini lebih temaram. Lampu-lampu hias dengan model minimalis menempel di beberapa sisi dinding. Dekorasi yang didominasi warna violet dan abu-abu tampak serasi dengan lampu-lampu tadi. Pengunjung restoran tidak terlalu ramai. Jadinya kami lebih leluasa memilih tempat duduk. Sesuai saranmu kita memilih duduk di sudut, bersisian dengan akuarium yang berisikan beberapa ikan cupang biru yang cantik.

“Di sini kita mudah mengamati orang. Tapi orang susah menjangkau pandangannya pada kita,” katamu memberi alasan.

Aku setuju karena memang aku tak terlalu suka jadi pusat perhatian. Kejadian beberapa bulan lalu membuatku sangat berhati-hati saat memilih tempat duduk di keramaian. Saat itu aku duduk di dekat dinding, rupanya dinding itu menjadi latar untuk memantulkan infocus. Orang-orang menonton bola yang terpantul di dinding tepat di atas kepalaku.

Makanan datang. Kita menyantapnya dengan nikmat. Saat aku sedang mengunyah beef steak lezat khas restoran ini, kau menyentuh tangan kiriku. Terasa hangat. Namun aku tak bisa bicara apa-apa karena mulutku masih penuh dengan makanan. Hanya saja aku terkesiap. Adrenalinku mengalir begitu deras. Mengontak katup-katup jantungku. Bagai sengatan listrik yang membuatnya berdegup kencang. Namun pancaran matamu yang teduh pelan-pelan menetralisir reaksi yang tiba-tiba tadi.

***
Usai makan kau mengajakku ke cafe hotel. Lampu-lampu berkelipan. Kita duduk sambil menikmati musik yang entah mengapa tiba-tiba menjadi terdengar indah di telingaku.

“Bagaimana pekerjaanmu Za? Sepertinya kau cukup sibuk sekarang, kulihat kau jarang online,” katamu dengan bibir yang rapat di telingaku. Dengan suasana yang ramai seperti ini sangat tidak mungkin untuk berbicara dengan jarak seperti biasa. Tidak akan terdengar.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,”
“Pertanyaan yang mana?”
“Pendapatmu tentang kota ini,”
“Ya, seperti yang kukatakan tadi. Tidak seperti dugaanku. Ranjau-ranjau di kota ini masih sangat banyak rupanya Za. Ke manapun aku melengkah aku merasa berdebar. Deg degan.” Jawabmu.
“Ranjau?”

Kota ini memang pernah diselimuti konflik berkepanjangan. Saat itu dentuman bom tak ubahnya bagai suara petasan di malam lebaran atau tahun baru. Setiap orang berdebar-debar. Cemas. Takut. Tapi ranjau? Rasanya tak masuk akal masih banyak ranjau yang tertanam di perut tanah kota ini.

“Ya, ranjau asmara yang berasal dari dirimu,”

Kali ini aku tergelak. Lebih keras dari ketawamu tadi. Tapi orang-orang di sini sepertinya tidak peduli. Mereka sibuk dengan keasyikannya sendiri.

Kau!

Rumput liar itu.

Apakah sesuatu sedang merambati dirimu? Seperti yang sedang kurasakan sekarang. Entah apa itu, aku tak bisa menerjemahkannya. Agaknya engkau pun merasakan hal yang sama. Sebab sejak tadi kulihat kau terus mereject panggilan yang masuk ke handphonemu yang tergeletak di meja. Sekilas kulihat panggilan itu berasal dari my wife. Tiba-tiba aku ingat ucapanmu belum lama ini. Kau bilang rumput liar itu paling tak disukai karena semakin dibersihkan semakin tumbuh subur. Dalam temaram lampu kuberanikan diri untuk merapati tubuhmu.

“Ranjau itu hanya bisa meledak saat aku dan kamu bersatu!” kataku.[]

Permata Punie
Senin 16 September 2013

23:15 

18 komentar:

  1. Jiaaaahhh.... dahsyat! Ada magma dalam cerita ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak mau maen silat waeee pakeh jiaaahhhh jiaahhh hahahha, makasih pak atas catatan pentingnya

      Hapus
  2. Oooh..jadi yang di atas yang ente maksud tadi :p
    Han, cerpen ini cocok untuk majalah femina kayaknya. Cuma konfliknya coba ente pertejam lagi.
    berdasarkan cerpen-cerpen femina yang kubaca, meski tema sederhana, meski cerita sederhana, meski alur sederhana, tapi rerata konfliknya kuat. Femina begitu model cerpennya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh...iya ki, beliau yang kumaksud. Ki, aku masih perlu bimbingan banyak dari enteh heheh

      Hapus
  3. Deskriptif. Aku seperti bisa merasakan sedang berada di tempat cerita dan melihat semuanya, melihat semua yang dilakukan tokoh. Kukira ini berhasil. Kejutan di akhir membuat aku menepuk jidat, semacam ditipu tapi senang. Namun, kalau saja pada penutupan lebih meledak lagi (hanya tambah daya beberapa hitungan) tentu saja aku akan membacanya berkali-kali dan berkali-kali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trims anak muda :-) thx udah berkunjung ke blogku, dan berkenan meninggalkan komen baik ini, kurang dahsyat yaaa? heheheh

      Hapus
  4. Eeeehhh..tapi ente udah muat di blog ya. Femina itu paling selektif menerima cerpen, salah satunya gak boleh udah dimuat di media manapun, termasuk blog.

    BalasHapus
  5. wah2, ini bagus ya cerpennya...

    BalasHapus
  6. Sebuah cerita yang mengalir tenang, namun mampu menghanyutkan seorang atlit renang sekali pun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-) Bro bisa saja, ihan hanya bisa menghanyutkan atlit renang, tapi tidak bisa tembus ke tempat bro biasa "berenang" itu hehehe

      Hapus
  7. Menyimak aja kak. Perlu belajar banyak ni sama kakak tentang cerpen aliran romantik. kalau rahmad sendiri sih suka ke arah surealisme. Seperti pengarang favorit saya Ayu Utami hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ... :-) saya ilmunya belum sampai ke sana Rahmat

      Hapus
  8. 7 kali baca, belum ada timbul rasa bosan. Hebat. kapan nih, mau ajarin saya?
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zul, boleh-boleh, kapan aja mau, tapi yaaaa..kemampuan Ihan masih terbatas

      Hapus
  9. kerennnnnnnnnnnn.. dasar rumput liar. ude ada bini tetep aj menggatai kwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah seeblas dua belas sama Cara Jo Memaknai Cinta kan

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email