Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 29 Oktober 2013

Sajak Hujan

Foto by Kompasiana
Kau! Katakanlah kau hujan, yang lahir dari pergumulan semesta. Yang selalu hadir setelah wajah muram sang jagat. Aku suka tempiasmu, yang jatuh satu-satu di pucak imajinasiku. Yang membasahi syaraf-syarafku. Yang melunturkan rasa, dan juga gelora!

Katakanlah kau hujan, yang selalu hadir dalam bentuk embun yang menempel di pucuk dedaunan. Lalu mengering bersama kehangatan yang tercipta antara aku dan engkau. Kau tahu, bulir-bulir itu mereinkarnasi menjadi keringat yang hangat. Yang muncul dari ruang pori percintaan semu.

Jika kau memang hujan, maka kau bisa ada dan tiada. Kau bisa muncul dan senyap, atau diam-diam hanya mengintip sebagai mendung. Aku? Apa bisa aku protes, meminta semesta terus menerus mengedan demi melahirkanmu. Ah, mana peduli dia tentang suasana romantis karena bulir-bulirmu yang melekat di keningku, atau di bibirku, atau di manapun. Ah....


5 komentar:

  1. aku suka tulisan kakak, aku sering baca di Atjehpost. jangan lupan berkunjung ketempatku juga kak ya http://negeridalamaksara.blogspot.com/

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email