Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 09 Mei 2014

Jadi Pelajar di Tengah Kepungan Konflik

ilustrasi pelajar SMP @kompasiana

Baru ingat kalau kemarin (Kamis, 8 Mei) adalah hari terakhir Ujian Nasional bagi pelajar SMP sederajat di seluruh Indonesia. Bagi mereka yang baru saja selesai UN bolehlah menarik napas lega sesaat, sembari menunggu hasil pengumuman pada awal Juni nanti.

Lima belas tahun lalu aku juga seorang pelajar SMP lho (mendadak ingat umur :-D), masih terekam jelas bagaimana hari-hari terakhirku sebelum seragam putih biru itu benar-benar kutanggalkan. Di masa-masa ini banyak kejadian yang sama sekali tak pernah kuharapkan terjadi. Potongan-potongan kejadian itu sampai sekarang masih terus membekas di ingatan. Tak mau hilang. Tak mau pergi!

Waktu SMP aku kost di Idi Rayeuk, Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur sekarang. Aku sekolah di SMP N 1 Idi Rayeuk, fyi kalau Wakil Gubernur Aceh yang sekarang juga alumni SMP tersebut. Waktu masuk SMP dulu umurku baru sebelas tahun (aku tidak TK, belum genap lima tahun sudah keterima di SD) jadi memang masih anak-anak banget. Rasanya tak bisa dibayangkan anak sekecil itu sudah harus pisah dengan orang tua, tapi demi sekolah apa pun dijabanin deh.

Awal-awal sekolah, aku bersama seorang sepupu kost di Kompleks Asrama Koramil di Idi Rayeuk. Cuma betah beberapa bulan kemudian pindah ke daerah Kp. Blang, lumayan tahan dua tahun, menjelang naik kelas tiga pindah lagi ke Lr. Blang Pidie. Jadi selama tiga tahun SMP sempet tiga kali pindah kost. Pertengahan kelas tiga tahun 1999 aku dan sepupu memutuskan untuk tidak kost lagi. Kami kembali ke rumah orang tua, karena sudah bisa mengendarai sepeda motor kami pergi ke sekolah naik sepeda motor dan menempuh jarak belasan kilo.

Jarak segitu mending kalau aspal, lha ini jalannya cuma berlapiskan tanah kuning, kalau hujan beceknya minta ampun. Belum sepanjang jalan yang ada cuma kebun-kebun penduduk. Tapi kami selalu bersemangat, karena kalau pergi ke sekolah selalu rombongan, ada kali hampir sepuluh orang masing-masing bawa motor sendiri. Seru euy!

Okai, lupakan sejenak cerita keseruan itu. Rentang waktu antara tahun 1989-1998 Aceh melewati masa-masa konflik yang parah karena penetapan status Darurat Operasi Militer. Kondisi itu tentu saja berdampak juga di daerah kami. Seingatku pergolakan pertama yang terjadi di kampung kami awal tahun 1990-an, waktu itu aku belum sekolah.

Pergolakan kedua terjadi pada tahun 1999, ini tidak termasuk kejadian-kejadian seperti demonstrasi besar-besar pada tahun 1998 efek dari krisis moneter. Sejak Soeharto lengser kita tahu kondisi Indonesia sangat tidak stabil, tapi di Aceh situasinya jauh lebih mencekam karena buntut dari konflik. Konflik inilah yang membuat Soeharto menetapkan DOM di Aceh pada tahun 1989, dicabut tahun 1998 saat aku masih kelas dua SMP.

Setelah pencabutan status DOM perlawanan dari pihak GAM jadi terbuka, inilah yang kumaksud pergolakan kedua tadi. Waktu itu mulai ada teror-teror, desas-desus yang meresahkan sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Menjelang pertengahan tahun kami mengikuti Ujian Nasional, kami pergi pagi-pagi sekali supaya tidak telat sampai ke sekolah.

Aku ingat, di hari pengumuman kelulusan kami, teman dekatku kehilangan ayahnya. Beberapa hari sebelumnya ayahnya diculik orang tak dikenal, hari itu mayatnya ditemukan. Saat mendengar kabar itu, aku yang tadinya girang karena lulus dengan nilai bagus langsung tak semangat, sedih, merasa kehilangan. Ayah temanku itu berteman baik dengan ayahku, pernah beberapa kali datang ke rumah kami dan makan bersama. Aku sempat datang ke rumahnya untuk samadiyah.

Setelah itu kampung menjadi kocar-kacir, surat kaleng ditempel di kios-kios kampung. Pokoknya dalam tempo tiga hari kampung harus kosong, kami semua mengungsi, yang sempat membongkar rumahnya ya bongkar, kalau tidak ya ditinggalkan begitu saja dan hanya bisa berucap saat rumah itu kemudian menjadi bangkai setelah dibakar.

Waktu itu aku ikut ke mana pun ayah pergi, ibu sudah hampir sebulan ke Bireuen karena kakek sakit parah, dua adikku dibawa ibu. Jadi di rumah, aku hanya tinggal dengan ayah, kalau malam nenek, om dan wawak beserta keluarganya menginap di rumah, ini salah satu cara untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku mengemasi barang-barang di rumah dibantu sodara-sodara yang lain. Kami semua meninggalkan kampung itu sampai sekarang.

Kami sekeluarga mengungsi ke kampung nenek dari pihak ayah, jadi kampung halamanku yang sekarang. Kemudian aku mendaftar ke SMA, pergi ke tukang jahit dan belanja keperluan sekolah bersama ayah. Tak lama kemudian aku diterima di SMA. Melanjutkan hari-hari sebagai remaja di tanah yang bising dengan desing peluru.

Di lain waktu aku akan menyajikan cerita ini dengan utuh.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email