Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 29 Agustus 2017

Aku Pernah Bertanya

By On Agustus 29, 2017

Pada langit senja aku pernah bertanya;Bisakah duri menusuk angin?
dan
Seberapa jauh angin sanggup menerbangkan daun?

Minggu, 27 Agustus 2017

Aku dan Koran Bekas

By On Agustus 27, 2017

SAAT masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, nyaris tak ada koran bungkusan cabai atau bawang yang terlewatkan olehku. Meski keadaannya sudah lusuh namun tetap menjadi sumber bacaan yang mengasyikkan.

Paling menyenangkan saat musim lebaran tiba, karena koran-koran yang digunakan untuk membungkus baju baru ukurannya lebih besar. Otomatis bahan bacaan yang bisa kubaca lebih banyak dan bervariasi.

Ketika itu orang tuaku tinggal di pelosok kampung yang bahkan listrik pun belum ada. Jangankan bicara mengenai sumber bacaan yang berlimpah, bahkan gedung sekolah kami waktu itu sebagiannya hancur karena ter(di)bakar saat konflik tahun 90-an. 


Aku menyaksikan sendiri saat lidah api dan asap tebal muncul dari salah satu ruangannya. Waktu itu aku belum bersekolah. Aku menyaksikannya dari dalam keranjang rotan di jok belakang motor ayah. Pengalaman mengungsi pertama di usia yang belum genap lima tahun.

Saat jam istirahat di bekas reruntuhan itulah kami bermain pasar-pasaran dan bongkar pasang. (jangan tanya kenapa kami main itu di sekolah )

Rabu, 23 Agustus lalu, bersama beberapa teman di komunitas, aku mengunjungi Ruang Memorial Perdamaian di Kantor Kesbangpol Aceh di Banda Aceh. Melihat artefak konflik dan berbagai objek foto yang dipamerkan di sana, kepingan kenangan masa kecil itu hadir kembali. Memunculkan seribu gejolak di dalam hati, antara rasa senang, sedih, haru, dan marah. Perasaan sentimental yang bisa datang kapan saja.



(Laporanku tentang kunjungan tersebut bisa dibaca di sini : Melihat Artefak Konflik di Ruang Memorial Perdamaian)

Sempat terbetik di hati, jika Aceh tidak berkonflik, mungkin aku (kami) punya fragmen masa lalu yang lebih beragam. Tapi suara hati yang lain langsung menyela, bisa jadi tanpa kondisi itu kami anak-anak Aceh tidak akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh.

Satu yang sangat kusyukuri bahwa dalam kondisi terbatas itu, selain senang bermain jitong dan patok lele, aku juga senang membaca. Meskipun hanya potongan-potongan berita di lembaran koran yang tak utuh. Yang kerap membuatku jengkel, sebab ada tulisan yang terpenggal, dan sering membuat penasaran.

Dan aku yakin --berkat karunia Allah-- kebiasaan membaca --dan mendengar haba jameun dari nenek-- itu pula yang menstimulasi diri ini menjadi sangat imajinatif. Imajinasi yang pada akhirnya membuatku bisa merangkai kata. Selalu ada kepuasan tiap kali selesai menuliskan sesuatu dari apa yang kulihat, kurasa dan kudengar. Termasuk cerita singkat ini sebagai pengantar foto di atas.

Saat masih SD pula aku sering berimajinasi --kulakukan saat pulang mandi sore yang jaraknya bisa berkilo-kilo meter-- agar kelak menjadi orang yang 'berbeda'. Entahlah, rasanya kini aku benar-benar menjadi orang yang berbeda seperti yang aku inginkan. Sebab, di antara teman-teman masa SD dulu cuma aku yang jadi blogger. 

Loc: Pustaka Ruang Memorial Perdamaian Aceh
Pict by Ibnu Syahri Ramadhan

Selasa, 15 Agustus 2017

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

By On Agustus 15, 2017
Istimewa/Rahmat Aulia

"Bendera, Pak! Bendera!" 
Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini.
Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari. 
Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim.
Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedang menjajakan miniatur bendera Merah Putih. 
Lebih memprihatinkan lagi, ia membiarkan kakinya yang telanjang langsung mencecap rasa panas trotoar yang terpanggang matahari. Di betisnya ada luka bakar kecil, seperti luka terkena knalpot sepeda motor.
Entah mereka anak yang sama atau tidak. Hanya saja dua potret di atas menggambarkan betapa beratnya perjuangan hidup yang harus dilalui anak tersebut. Jika kondisi ekonomi keluarganya mencukupi, harusnya ia tak perlu berpanas-panas di bawah siraman matahari untuk menjual selembar dua lembar bendera. Dan kalaupun ia menjual bendera untuk mencari penghasilan tambahan, mestinya tidak dilakukan di jam sekolah. 
Dan memang tidak ada alasan untuk tidak sekolah bukan? Apalagi pemerintah sudah menerbitkan Kartu Indonesia Pintar yang diberikan kepada anak usia 6-21 tahun dari keluarga kurang mampu, yang digunakan untuk kepastian pendidikan anak-anak Indonesia.
Bahkan baru-baru ini secara khusus telah disalurkan beasiswa kepada sekitar 20 ribu anak-anak tukang becak di Banda Aceh dan Aceh Besar. Berdasarkan berita yang kubaca di media massa, distribusi beasiswa tersebut merupakan program Indonesia Pintar yang disalurkan melalui anggota DPR RI. Setidaknya ini menjadi gambaran nyata 'Indonesia Kerja Bersama' dalam memerangi kebodohan. 
"Bendera!" kembali aku terngiang suara lelaki kecil itu saat menjajakan dagangannya kepada si pemilik mobil. Sayangnya, si pemilik mobil tampaknya tak berniat membeli. Bahkan untuk membuka kaca mobilnya pun ia enggan. Sehingga terpaksa si remaja tersebut menempelkan wajahnya dengan rapat, agar bisa mengintip pemiliknya di dalam sana. Saat lampu menyala hijau, dan mobil perlahan bergerak, masih sempat kudengar suara lirihnya merintih, "belilah, Pak."[]

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email