Kamis, 12 Maret 2009

Kole & Melo

Kole & Melo
-->
Beberapa orang teman mengatakan kalau saya terlalu ambisius, yah...mungkin saja, untuk beberapa hal yang menyangkut dengan masa depan dan apa yang saya inginkan memang saya sangat ambisius. Dan untuk memperoleh itu semua saya berusaha menjadi pribadi yang se-fleksibel dan se-teachable mungkin. Belajar bagaimana untuk dapat menerima dan mengaplikasikan informasi positif dari siapapun tanpa pernah melihat apa latar belakang si pemberi informasi tersebut.
Dalam beberapa waktu terakhir saya dan beberapa orang teman dapat membentuk sebuah komunitas yang sangat positif dan hal ini sangat membantu perkembangan diri saya yang memang sangat tergila-gila dengan mobilitas. Berjam-jam masa dihabiskan untuk membicarakan hal-hal yang unik dan menarik adalah hal yang paling menyenangkan bagi saya pribadi. Bahkan kadang-kadang hingga menjelang malam hari, tetapi tentu saja tetap memperhatikan aturan yang berlaku dan yang saya tetapkan sendiri.
Lebih lengkap lagi ketika setiap hari ada jadwal khusus untuk bertemu dengan setiap orang yang memiliki aktivitas dan latar belakang yang berbeda dengan saya. Proses ini sering saya sebut sebagai proses pengayaan diri. Bayangkan, bila saya tidak ambisius, saya tentu tidak akan mengenal seseorang yang selama ini namanya selalu saya lihat di sebuah koran terkemuka. Ketika hal itu terjadi benar-benar ada kepuasan yang tidak dapat diceritakan dengan kata-kata biasa.
Namun, kadang-kadang kekesalan dan kemarahan kerap menghinggapi diri yang memang berwatak koleris ini. Tapi beruntungnya sifat melo mampu menetralisir kemarahan yang meledak-ledak. Seperti malam ini, pulang menjelang pukul sebelas malam, mendapati rumah kosong tanpa penghuni. Ini memang bukan masalah karena saya terbiasa seorang diri. Tetapi ketiadaan air di rumah inilah yang membuat saya kerap naik darah bila berada di rumah. Tapi untungnya kamar kecil ini cukup bisa memberikan kekuatan untuk menyedot perasaan tak nyaman tersebut.
Saya juga bersyukur mempunyai banyak hal yang bisa meredam emosi saya, kadang-kadang bila sedang sangat kesal saya putar lagu diamond saya yang berjudul de’sire yang dipopulerkan oleh Life dan freedom. Ke dua lagu tersebut benar-benar bisa membuat saya lega dan kemarahan saya mencair, dan semua hambatan-hambatan kecil melebur. Kalau ini terjadi saya ingin malam segera berakhir dan matahari segera benderang, tak sabar rasanya untuk segera beraktivitas dan bertemu teman-teman.
Sehabis mendengar lagu biasanya saya suka memutar cd-cd yang menceritakan tentang bagaimana ketangguhan mental ataupun tentang pembentukan karakter menjadi pemimpin berkualitas. Ini sungguh menyenangkan, mendengarkan cd sambil menulis atau sambil membaca buku, atau bisa juga sambil me-review pekerjaan, tapi diantara semua itu yang paling menyenangkan adalah mendengarkan cd sambil menelepon. Karena biasanya akan terjadi diskusi-diskusi kecil mengenai topik yang dibicarakan dengan teman tersebut. Satu lagi, saya orang yang senang terlibat diskusi.
Pribadi yang koleris kadang-kadang membuat saya tidak dapat mentolerir sesuatu, bila mengingat ini memang lucu karena sering kali orang-orang yang plegmatis menjadi korban bila saya sedang kesal.

Rabu, 25 Februari 2009

Hilang

Hilang
ia menjelma menjadi udara
namun hadir dengan suhu di luar kelaziman
ia sering ada namun dengan wujud yang tak lagi terdefinisikan

dan aku mulai tak peduli
walau sebenarnya ingin menyublimnya
lalu meletakkannya di tempat biasa


biarlah cerita berjalan dengan skenario alamiah
bahwa bukan permulaan yang menjadi soalan
tetapi bagaimana cara menyelesaikannya

Selasa, 24 Februari 2009

Komitmen

Komitmen
sediakan aku sepuluh orang yang semangat, dan satu orang yang mempunyai komitmen, maka dintara ke duanya aku akan memilih satu orang yang mempunyai komitmen. seseorang yang mempunyai semangat belum tentu mempunyai komitmen yang bagus sementara orang yang mempunyai komitmen sudah pasti memiliki semangat.


banyak aku menemui orang yang begitu menggebu-gebu, bersemangat dan tampak sangat antusias, ceritanya akan membuai siapapun yang mendengarnya, tulisannya memukau, membuat orang terpana betapa ia sangat pintar. tapi ia tak punya komitmen, meski untuk dirinya sendiri. dan akhirnya ia hidup sebagai orang kebanyakan yang nyaris tak punya pengaruh apapun, bahkan pada titik ekstrimpun barangkali ia tak dapat mempengaruhi dirinya sendiri.

sebuah komitmen dimulai dari sebuah keputusan, keputusan untuk menjalankan sesuatu yang telah direncanakan dengan baik dan terperinci di atas kertas.
komitmen, kata yang belakangan menjadi begitu berarti bagi diriku sendiri. maka, setiap ada yang bertanya apa yang kau inginkan dalam hidup ini, dengan mudah aku menjabarkannya, dan aku dengan segala semangat dan komitmen yang kupunyai akan terus berusaha untuk mewujudkannya.

komitmen, adalah setipis kulit bawang untuk membuat orang bisa bertahan dan menghilang pada satu fase tertentu. sesuatu yang abstrak tetapi pelaksanaannya sangat rumit dan tak mudah. seratus persen komitmen, berawal pada sebuah pertemuan pada bulan februari lalu, dengan seseorang yang sangat luar biasa, yang namanya tertera di setiap perencanaan yang kubuat. nama yang memberikan kekuatan luar biasa, dan nasehatnya yang terus terngiang hingga sekarang, bukan hanya mendengar tapi aku melakukan, maka jadilah aku seperti sekarang.


bila ada kesempatan ingin sekali aku memperingatkan, berhati-hatilah pada orang-orang yang menunjukkan semangatnya dengan berlebih-lebihan, boleh jadi besok dia sudah tidak ada lagi bersama anda.

bagaimana caranya mengukur komitmen? memang tidak mudah, sebab ia adalah sesuatu yang tidak memiliki satuan seperti luas dan lebar. caranya adalah tuliskan tentang apa yang kita inginkan di atas kertas, lalu jadikan wall paper di dalam kamar tidur. lihatlah sesering mungkin dan rasakan, apa yang terjadi setiap kali kita melihat tulisan tersebut?


Teruntuk

Teruntuk
Mei semakin dekat, setahun yang lalu aku berjanji untuk menemuimu pada mei kali ini, aku ingin bernostalgia, merasakan lembut wajahmu dan bening matamu pada pagi mei yang sejuk, seperti beberapa tahun yang lalu.

masih ingat? ketika kita berjalan kaki menaiki bukit kotamu yang tinggi. lalu mendorong mobil menuju atas yang terseok-seok menahan beban yang berat. aku ingin mengulangnya, sebab mei subuh bertahun-tahun yang lalu telah memberikan kenangan yang begitu membekas di hatiku. bahwa aku mempunya seseorang yang sangat berakal budi dan perasa selembut jiwa.

aku ingin menapaki kembali kota bukitmu, sambil menggandeng tanganmu mesra dan sesekali memeluk punggungmu yang kokoh, betapa aku sangat nyaman dalam dekapmu. suaramu yang lembut dan ceria, seperti isyarat bahwa hidup hanya ada keceriaan dan keindahan.

tatkala aku bercerita tentang galau yang semakin galau, kau mengingatkanku bahwa apa saja bisa terjadi di dunia ini. dan kau, meski tak pernah tahu telah memberikan kekuatan yang luar biasa untukku.

kini mei semakin dekat, aku resah sebab tak bisa penuhi janjiku. sebab banyak hal yang telah membuatku untuk terus bertahan di kota berdengung ini. sebuah embanan tugas yang akan terus menjulang tinggi, bahkan melebih diriku sendiri. tapi itu takkan lama, tahun depan, mei yang akan datang, aku akan menemuimu dalam wujud yang berbeda, aku dengan jiwaku yang telah berpetualang, mungkin akan kubawakan beberapa miniatur bentuk cintaku kepadamu. mudah-mudahan aku bisa membuatmu senang...bukankah kau sangat menyukai sesuatu yang sangat berkesan?

mei adalah mei yang basah, sesejuk kumpulan air yang ada di kotamu, sesejuk embun yang menyelimuti tetumbuhan yang menopang tanah beraroma gelora. sebasah hatiku ketika menemuimu pada subuh yang dingin, sayangnya aku tak sanggup menggendongmu ketika itu.

ternyata benar katamu, kasih itu menyembuhkan, bagi yang memberi dan menerima, dan aku benar-benar merasakan itu. kasihku, cintaku, memberikan kesembuhan bertubi-tubi saat kekeringan dan kesakitan menggerontang dalam hatiku.

mei ini tak ada ciuman kerinduan untukmu, tapi aku akan mempersembahkannya dengan cara yang lain saja. tadi aku sudah mengawali, mudah-mudahan kau menyukai apa yang telah aku persembahkan, rembulan merahmu, mungkin tak mendekati sempurna, tapi beberapa hari ke depan, aku akan menyelesaikan setiap piguranya untukmu.

bila bukan kau mungkin aku akan acuh dan tak peduli, bila bukan kau mungkin aku tak mau bersusah payah, dan bila bukan kau mungkin sudah kutinggalkan tempat ini sedari tadi. tapi kau lain....marahku mencair mengingat manjamu, tawaku meledak mengingat rengekmu, dan rasa hormatku tak pernah berujung mengingat apa yang telah kau lewati.

darisanalah aku belajar, bahwa segala sesuatunya akan hadir sesuai yang kita butuhkan. mungkin untuk saat ini aku belum membutuhkan hangat pelukmu meski mei akan selalu basah, barangkali juga mei kali ini tak terlalu harus dilalui bersama untuk mengenang semua nostalgia negeri bukit yang berombak. betapa...kerinduan kadang-kadang menjebak kita.

Senin, 23 Februari 2009

Rahim Cinta

Rahim Cinta
ini kali yang tak terhitung ketika berbicara dan menulis harus terus menerus mengambil tema tentang cinta. mungkin memang cinta demikian uniknya hingga ia terus menerus hidup dan ada dalam ingat orang-orang sesuai dengan zaman yang mereka lalui. karena begitu unik ia kerap menimbulkan kebingungan yang meresah, menabrak-nabrak logika dan membuat pemiliknya terjerembab dalam arus yang pelik dan terjal.

ini bukan pula kali pertama aku mendengar gelisahnya, tatkala ia bercerita tentang cintanya yang berakhir tidak happy ending. dan seperti kali-kali sebelumnya, sebagai orang yang tak begitu memahami cinta ( cinta dalam pandanganku berbeda dengan bercinta) memandangnya sudah merupakan jawaban yang sakral, manik matanya yang hitam berkedip-kedip, sambil mendendang mengayun buah hati yang katanya lahir dari benih cinta. yang umurnya belum genap 60 hari tersebut.

cinta? mungkin benar ia dilahirkan dengan benih cinta dari rahim cinta yang agung. tapi benarkan si pemilik benih itu benar-benar mencintainya? itulah yang selalu membuatnya gelisah saban waktu, membuatnya tak bisa pejamkan mata hingga malam beranjak jula, dan itu pula yang membuatnya diam-diam sering menangis, kadang menangis pula dalam hati.


gelisah yang diam-diam merayap dalam hatiku, apakah semua orang mempunyai cinta seperti itu? cinta yang jahat dan picik hanya untuk mencari sumber nikmat? cinta yang diliputi kebohongan dan kelapukan akal budi. aku benar-benar gelisah sebab rasa benci mulai hadir dalam hatiku, rasa benci yang tak tahu harus ditujukan kepada siapa. rasa benci yang kadang membuatku begitu meletup-letup dan berteriak penuh kebencian. menuding-nuding si pemilik cinta yang tidak bertanggung jawab, kepada si pengecut yang meninggalkan istrinya tiga jam sebelum prosesi kelahiran buah cinta mereka.


itukah cinta? yang katanya tulus tetapi definisinya adalah terus menerus ditinggalkan. begitukah cara cinta mengaplikasikan kesempurnaannya? ketika kesepian demi kesepian datang silih berganti seperti purnama yang tak jeda. ketika malam-malam berat dengan tangis bayi melengking harus dihadapi seorang diri, ketika sakit, rindu, .... apakah cinta benar-benar bisa memberikan jalan ke luar?

aku bingung, benar-benar bingung, sebab pagi hari ini saat aku menemuinya ia tertawa girang, ia mulai kembali menemukan cintanya, cinta yang dulu pernah hadir sebelum ia mencintai lelaki yang menabur benih dalam rahim cintanya yang agung. matanya yang kemarin berair berbinar terang mengerjap-ngerjap, sejak sedari semalam ia menyebut nama lelaki cintanya itu.

tapi cinta adalah cinta, keabstrakan yang penuh dengan keunikan dan ketidak mengertian. yang mampu melahirkan rindu yang begitu kuat, tetapi pada saat yang bersamaan juga melahirkan benci yang tak terkatakan.

Lelaki dan Hujan*

Lelaki dan Hujan*
Rintik-rintik hujan masih tersisa satu-satu, menghadirkan aroma tanah basah yang segar. Dingin yang menggigit tulang membuatku berkali-kali merapatkan jaket. Rambutku basah dan sebagian pakaianku juga basah karena terlalu lama berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan kota yang akan mengangkutku pulang kerumah. Tapi sampai setengah jam aku bediri, belum ada satupun angkot dari arah Ulee Kareeng yang melintas.

Tak habis-habis kumaki diriku sendiri, mengapa tadi lebih memilih naik angkutan umum dan meninggalkan sepeda motorku dirumah. Beginilah jadinya, kehujanan, dan akan kemalaman sampai dirumah. Aku benci sekali suasana seperti ini, berdiri dipinggir jalan dalam keadaan matahari sudah tenggelam. Dan sebentar lagi azan magrib akan menggema di belantara cakrawala, menerobos mendung dan kegelapan. Menyeru para pencinta Tuhan untuk membawanya pada tarian zikir dengan senandung-senandung doa yang khusuk.

Rasa kesal ku masih belum berkurang, sekonyong-konyong ingatanku melayang pada waktu sembilan tahun silam. Aku seperti merasa kembali pada waktu itu, berdiri dipinggir jalan, hujan dan juga malam. Tetapi bedanya saat itu ada Amirah disampingku. Gadis yang telah membuatku tergila-gila padanya dan mengantarku dalam ketidak pastian hidup seperti ini. Membuatku tidak bisa menemukan cinta yang lain karena ia telah memasungku dalam kekecewaan yang dalam dan menganga. Bukan hanya dia tapi juga orang tua, adat dan hal lainnya yang tidak pernah kumengerti sampai saat ini.

Kalau memang tidak bisa memiliki Amirah, aku sudah rela, tapi tolong jangan pasung hati dan perasaanku agar aku bisa mengais cinta dari tangan-tangan orang yang bersedia menyodorkannya kepadaku. Yang tidak melihat siapa aku, apa latar belakangku dan bagaimana aku hidup. Tapi ternyata Amirah, gadis minang nan lembut itu telah memenjarakan jiwaku sekian lama.

Hujan menjadi agak lebih deras, tapi beruntung aku sudah berada diatas becak yang akan mengantarkanku pulang. Tanpa bernego soal harga langsung aku melompat naik saat sebuah becak motor berdiri terpat dihadapanku, barangkali dia mengerti kegelisahan hatiku sehingga tidak perlu bertanya lagi apakah aku memerlukan jasanya.

“Jl. Todak nomor 21” Kata ku singkat sembari mengatakan nomor rumahku, rumah kontrakan tepatnya. Lelaki tua itu mengangguk. Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol dan menceritakan apa saja, juga tentang hujan.

“Hujan begini biasanya hujan penyakit. Karena hujan salah musim.” Katanya dengan suara nyaris berteriak, kalau tidak aku tidak akan bisa mendengar suaranya.

Aku tidak begitu mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh laki-laki itu, tapi dalam hati aku membenarkan, yah, ini hujan penyakit. Setidaknya hatiku lah yang sakit. Dan aku memang benar-benar sakit. Kembali bayangan Amirah memutar-mutar syaraf ingatanku.

“Aku senang berhujan-hujan begini dengan mu Sam,” katanya sore itu. Wajahnya memang terlihat sangat ceria, bibirnya tak putus melemparkan senyum. Rambutnya yang panjang terlihat lepek karena basah.

“Aku juga, saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang paling berharga bagiku Mirah, “ kataku menjelaskan sambil menggandeng tangannya. “Kamu adalah satu-satunya perempuan yang kukenal dinegeri ini, yang telah memberiku bukan cuma cinta tapi juga kehidupan, semangat dan kasih sayang.” Aku tersenyum, memandangnya tidak berkedip, dalam rintik-rintik hujan aku bisa melihat ia tersipu malu dan wajah hitam manisnya merona. Matanya berkedip-kedip karena tidak sanggup membalas pandangan ku.

“Kita akan selalu bersama kan Sam?” tanyanya lagi. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengangguk.

“Yah, kita akan selalu bersama.”

“Jangan pernah tinggalkan aku dalam kondisi apapun,” ucap Amirah lagi

“Pasti, karena aku juga tidak bisa hidup tanpamu Amirah…” jawabku meyakinkan hatinya. Senang sekali melihatnya tersenyum merekah seperti waktu itu.

Mengenal Amirah memang bukan kebetulan bagiku, ia perempuan yang mampu menjadi apa saja bagiku. Saat aku sedih ia hadir seperti ibu bagiku, membesarkan hatiku dan memberiku semangat hidup, dan karenanya aku berani menantang matahari esok paginya. Saat aku sedang marah, ia hadir sebagai kekasih yang mampu melunakkan kemarahanku dengan segala petuah-petuahnya yang bijak, ia mampu menjadi teman, sahabat, semuanya.

Tidak pernah ada perempuan istimewa yang kukenal dalam hidupku selain Amirah, sejak lahir aku tidak pernah mengenal ibu, bahkan waktu kecil dulu aku justru berfikir yang melahirkanku adalah ayah, lambat laun aku mengerti sampai kapanpun laki-laki tidaklah bisa melahirkan seorang anak. Lalu siapa ibu? Tetapi sampai sekarang tidak pernah ada jawaban yang membuatku puas. Ayah mengatakan ibu sudah meninggal, tetangga-tetanggaku mengatakan kalau ibuku kabur karena ayah sering berlaku kasar kepadanya. Aku tidak pernah mengenal nenek, bibi atau siapapun.

“Main-mainlah kerumahku Sam, ibu ingin sekali mengenalmu” ucap Amirah suatu hari. Aku menatapnya serius.

“Apa yang sudah kamu ceritakan kepada orang tuamu tentang aku?”

“Tidak ada, selain kau adalah kekasihku. Dan ku bilang pada ibu sebentar lagi kau akan datang melamarku. Seperti katamu beberapa waktu yang lalu.”

“Aku masih belum berani kerumahmu Mirah, aku takut kepada ayahmu.” Jawabku jujur. Siapapun tahu, ayah Amirah adalah pemuka adat ditanah minang ini. Ia mempunyai kebun yang luas, punya ternak yang banyak serta disegani oleh masyarakat. Bagaimana mungkin aku berani menghadapnya memperkenalkan diri sebagai calon suami anak bungsunya Amirah? Pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarganya.

“Ayahku baik Sam, jangan takut, aku selalu dibelakangmu.”

Sedetikpun aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan Amirah, karena itu, undangan untuk menemui orang tuanya kuterima karena aku memang serius menjalin hubungan dengannya. Dengan rasa takut bercampur malu aku datang menemui ayahnya yang sering dipanggil orang Datuk Marajho. Usai pertemuan singkat itu aku amat senang, karena ayah Amirah menerima ku dengan baik. benar seperti kata Amirah, ayahnya memang baik dan ramah. Datuk Marajho tidaklah seseram yang selama ini dikatakan orang-orang, pikirku. Berbagai rencanapun mulai kususun untuk kedepan, aku akan segera melamar Mirah, lalu menikahinya dan kami akan hidup bahagia. Biarkan bidadari cemburu pada keserasian kami.

Tapi rupanya kesenanganku tidak berlangsung lama, tiga hari kemudian Datuk Marajho memanggilku lagi. Tapi kali ini ia langsung ke pokok persoalan, menanyakan asal usul keluargaku, dan semua-semuanya. Aku terdiam lama disini, karena sampai sekarangpun aku tidak mengetahui pasti, apakah aku orang minang, melayu atau bukan. Ayah tidak pernah menjelaskan keberadaanku dengan pasti. Dari seorang tetangga yang cukup dekat dengan ayah pernah mengatakan kalau ayahku keturunan campuran padang dan bugis, ibuku keturunan batak bercampur aceh. Aku jadi pening dengan semua itu. Rumit sekali garis kehidupanku.

“Seorang Datuk Marajho tidak akan menikahkan anaknya dengan orang yang tidak jelas asal usulnya seperti kamu anak muda,” ucapnya dengan tidak terlalu keras tetapi terdengar seperti halilintar ditelingaku. Wajahku bersemu merah, marah bercampur malu.

“Apalagi Amirah pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga ini, bagaimana mungkin ia menyunting seorang calon suami yang tidak jelas keturunannya, keluarganya.”

Lagi-lagi aku harus menahan pil pahit yang masuk ke hati, sebilah belati sedang merajang-rajang hati dan perasaanku.

“Ku pikir apa yang dikatakan oleh ayahku benar, Sam.”

Aku yang sedang menunduk tercengang mendengar apa yang dituturkan oleh Amirah. Bagaimana mungkin ia membela ayahnya. “Selama ini aku juga tidak pernah berfikir apa yang difikirkan oleh ayahku, dan sekarang aku baru sadar, kamu tidak pernah menceritakan tentang keluargamu sekalipun kepadaku.”

Aku kembali menunduk, menangisi diriku dan kenyataan yang disodorkan oleh Amirah, suaranya tetap lembut dan bersahaja, tetapi ia menyampaikan isyarat yang dalam sekali.

“Bukankah kamu pernah bilang padaku untuk tidak meninggalkanmu walau bagaimanapun, tapi dari cara bicaramu sepertinya kamu yang akan meinggalkan ku Mirah.”

“Aku tidak ingin dikatakan anak durhaka Sam,”

tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi, aku tidak mau merengek-rengek karena pasti Amirah semakin tidak senang kepadaku. Dan sejak itu Amirah meninggalkanku dengan sebuah pesan bahwa ia mencintaiku untuk selamanya. Tapi bagi ku semua itu hanyalah penghinaan dan cemoohan.

***

Aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada lelaki tua pemilik becak motor yang baru saja kutumpangi. Ia mengangguk sambil mengucapkan terimakasih, akupun demikian, kupaksakan seutas senyuman yang terasa getir dan hambar.

Sejak kejadian sembilan tahun lalu itu aku jadi petualang kehidupan yang tak pernah bosan menjajaki tanah Sumatra. Sesekali terlintas dalam benak ku, adakah dalam perjalanan panjang ku ini bertemu dengan perempuan dalam wujud ibuku, wujud bibi atau barangkali nenekku. Maka, dari sekian tanah pilihan terakhirku jatuh ke Aceh. Setelah Pekan Baru, Palembang, dan Medan terlebih dulu kutetesi air mata kepiluanku. Dari setiap langkah kaki yang kuinjakkan disana seperti tergraffir luka dan sakitku yang tak pernah kunjung pulih.

“Jangan sering-sering bermain dengan hujan salah musim seperti ini. Nanti bisa sakit” Kembali terngiang ucapan bapak tua sipemilik becak dalam cerita-cerita kami tadi. Yah, aku memang sudah sakit. Dan hujan pesakitan ini hanya penyempurna dari segala rasa sakit yang ku miliki. (Ihan)

Banda Aceh, 27/4/07


cerpen ini sudah pernah dimuat di koran aceh independen edisi ahad, 22 februari 2009

Sabtu, 21 Februari 2009

Perubahan itu Rencana

Perubahan itu Rencana
pada tahapan tertentu dalam hidup, kadang-kadang ada fase di mana diri kita menjadi sangat asing, apakah dilihat dari sudut pandang diri kita sendiri, keluarga, teman-teman atau mungkin lingkungan sekitar. semuanya adalah karena pergerakan yang menimbulkan perubahan. orang yang proaktif dan fleksibel cenderung akan berubah, perubahan ini bisa saja menuju perubahan positif atau malah sebaliknya, perubahan negatif, tergantung kecenderungan orang tersebut.


berbicara tentang perubahan memang menarik, tapi yang paling penting adalah mengetahui dengan baik apa perubahan itu. bagaimana memulai sebuah perubahan dan apa yang harus dilakukan jika perubahan itu terjadi. berbicara tentang perubahan adalah berbicara tentang konsep dan perencanaan, secara lebih spesifik lagi hal mendasar yang harus kita tahu adalah seperti apa diri kita.

dari ke empat karakteristik manusia, yang mana yang paling dominan dengan diri kita, kolerik kah, melankolik kah, plegmatis atau bahkan sanguis. atau barangkali ada yang perpaduan diatara semua itu. ini penting karena semuanya terkait dengan perencanaan yang dibuat untuk menjemput perubahan itu sendiri.

menuju perubahan positif sama artinya dengan mengubah pola hidup, artinya memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru sesuai dengan perubahan seperti apa yang kita harapkan. jangan berharap diri kita akan menjadi seorang pemimpin yang berkualitas bila kita tidak melakukan kebiasaan seorang pemimpin berkualitas. untuk menjadi seorang dokter yang ahli tentu saja harus melakukan semua kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para dokter.

pada saat kita membuat perencanaan tentang hidup kita, tentang masa depan kita, pada saat itu sudah ada gambaran tentang bagaimana kira-kira kualitas hidup kita pada saat itu. apabila sudah dirancang secara detil, kita tinggal menyusun langkah-langkah apa yang harus dijadikan sebagai kebiasaan baru hingga keinginan kita benar-enar terwujud.

sebuah pertanyaan kecil yang menggelitik namun menjebak. sudahkah kita punya impian? untuk lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, dua puluh tahun ke depan? apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? sudah adakah? atau pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri?

95 % orang di dunia tidak punya impian dalam hidupnya, kenyataan yang tragis dan memilukan, kondisi ini ini membuat kita seharusnya tidak perlu bertanya mengapa masih banyak kemiskinan, mengapa masih banyak pengangguran, mengapa masih banyak kebodohan dan pembodohan. jawabannya hanya satu; mereka takut bermimpi.


hal lainnya yang perlu kita ketahui adalah segala sesuatunya tidak terjadi dengan tiba-tiba, tidak serta merta. ketika anda memutuskan untuk menikah, itu tidak terjadi begitu saja, ada tahapan yang anda harus lalui hingga prosesi ijab kabul. ketika anda punya anak, itu juga tidak terjadi dengan kecelakaan. semuanya ada tahap perencanaan. tetapi mengapa banyak sekali orang lupa membuat perencanaan tentang kehidupan pribadinya, secara personal yang tidak terhubung dengan orang lain. jangan pula bertanya mengapa setelah menikah tiba-tiba ruang gerak jadi terbatas, atau menjadi warga kelas dua dalam rumah tangga.

ada sebuah kutipan yang menarik "orang yang menunggu pasti akan mendapatkan sesuatu, tapi hanyalah sisa dari orang yang mengejar".
semua keputusan ada di tangan kita, mau menjadi orang yang menunggu atau menjadi orang yang mengejar. dua hal yang sama barangkali memang akan didapatkan oleh dua orang dengan katagori berbeda tadi, tetapi yang kedua akan mendapatkan value yang berbeda. di sanalah letak kenikmatannya. hidup akan terasa sangat bermakna dan penuh tantangan yang menggairahkan. darisanalah kebahagiaan bermuasal. ketika apa yang kita inginkan terwujud dengan kerja keras dan perencanaan yang baik.

so...bagaimana dengan anda????