Rabu, 16 Juni 2010

Aku Lelah Memanggilmu Cutbang

Aku Lelah Memanggilmu Cutbang
Entahlah. Sejak pertama kali melihatmu aku merasa bahwa kita akan menjadi dekat. Dan ketika kita semakin sering bertemu aku bertambah yakin kalau kamu adalah jodohku. Tapi saat itu belum ada rasa cinta untukmu. Hanya sebatas rasa suka dan kagum. Kekaguman yang memaksaku untuk bersikap dingin terhadapmu.

Kita jarang bertukar sapa. Kecuali jika memang sangat-sangat kepepet seperti saat berpapasan di pintu masuk atau ada keperluan lainnya yang tak dapat didelegasikan. Kaupun, sepertinya memang tak begitu menganggapku penting. Aku menduga-duga saja karena sebagai ketua kelas kau jarang sekali meminta bantuanku yang waktu itu kebetulan menjadi sekretaris kelas. Tapi aku senang, kecanggungan yang tercipta di antara kita membuatku terbebas dari berbagai kesibukan sekolah. Dan aku bisa fokus sepenuhnya pada pelajaran.

Itu cerita belasan tahun silam. Saat kau dan aku masih duduk di bangku sekolah menengah ekonomi atas. Kupikir cerita tentang rasa kagum itu akan hilang begitu saja setelah kita menamatkan sekolah. Rupanya tidak karena kita berdua masih harus bertemu lagi. Kita berdua mendapat undangan khusus masuk salah satu Universitas favorit di negeri ini.

Kita. Aku dan kamu yang tadinya jarang bertegur sapa kini mendadak menjadi akrab. Apalagi saat-saat terakhir di sekolah. Banyak hal yang menyangkut dengan kelanjutan pendidikan kita, kita urus berdua. Seperti menyusun jadwal keberangkatan ke Jogja bersama, persiapan untuk mendaftar ulang, mencari rumah kost dan lain sebagainya.

Singkatnya, kita memilih jalan darat untuk bisa sampai ke Jogja. Dan untuk itu kita harus rela menempuh perjalanan yang berhari-hari dan tentu saja melelahkan. Tapi sangat menyenangkan. Karena kita mengisi seluruh waktu dalam perjalanan untuk bertukar cerita. Dengan sendirinya rasa canggung itu menguap bersama angin kering di dalam bus.

“Boleh aku memanggilmu Cut Bang?” tanyaku ketika kita telah melewati waktu seharian di dalam bus.

“Kenapa?” kau tampak heran.

Kenapa? Akupun tak terlalu paham mengapa harus demikian. Tapi, seketika aku teringat cerita Mak bertahun-tahun yang lalu. Panggilan Cut Bang seorang perempuan kepada seorang lelaki katanya adalah wujud cinta kasih yang dalam dan besar. Rasa hormat yang dipadukan dengan keikhlasan dan ketulusan untuk menyayangi. Begitu kata Mak. Kebudayaan dalam masyarakat Aceh memang begitu, seorang suami diperlakukan sangat istimewa dan cenderung sangat di dewakan.

“Hai kenapa bengong?” sentakmu.

Ah! Aku terkejut sekaligus bingung. Akan kujelaskan bagaimana? Rasanya tak mungkin menjelaskan sedetil itu terhadapmu tentang perasaanku yang sesungguhnya. Benar rasa kagum itu telah tumbuh menjadi cinta. Benar rasa cinta itu melahirkan rasa sayang dan benar rasa sayang itu telah menyuruhku untuk bersikap hormat dan menyangjungmu. Tapi aku perempuan. Tak boleh terlalu mengumbar perasaan.

“Karena kamu orang Aceh. Maksudku lelaki Aceh.” Jawabku sekenanya.

“Iya, tapi mengapa harus Cut Bang, kan bisa saja kamu memanggilku Bang atau Abang. Atau jika kamu memanggilku nama saja aku tidak keberatan. Setiawan! Apalagi kita sebaya, selisih umurku dengan umurmu cuma setahun.” Pungkasmu seperti keberatan.

Kau tak mengerti. Batinku.

“Karena kita akan merantau. Panggilan seperti itu setidaknya akan sedikit mengurangi rasa kangenku pada kampung halaman.” Jawabku mengelak.

Kubuang pandanganku ke luar kaca. Pohon-pohon sawit tampak berjajar di sepanjang jalan. Satu dua orang pekerja terlihat tengah memetik buah-buah bersuku palm tersebut. Tandan-tandannya terlihat merah dan ranum. Dan ini pertanda kita telah sampai diperbatasan antara Aceh dan Medan.

“Terserah kamu.” Jawabmu akhirnya. Kita tertawa. Perjalanan itu terasa begitu menyanangkan.

Dan sejak saat itu sampai hari ini aku terus memanggilmu Cut Bang. Sampai kita menjadi suami istri. Aku tak ingat lagi bagaimana awalnya hingga kita menjadi sangat dekat. Seingatku selama di perantauan kita tak pernah membuat komitmen apapun. Yang aku tahu setahun setelah kita kembali ke Banda Aceh orang tuamu datang melamarku untuk menjadi istrimu.

Hari itu aku merasa bahwa dunia benar-benar milikku. Hidupku terlampau indah untuk diceritakan. Menikah denganmu adalah impian terbesar yang telah kupendam selama bertahun-tahun lalu. Bukankah mukjizat namanya jika kemudian kita benar-benar duduk bersanding di pelaminan?

“Panggil aku Cut Dek.” Pintaku di malam pertama pernikahan kita.

“Mengapa harus itu?” tanyamu pendek.

Mengapa? Aku kembali teringat pada cerita Mak belasan tahun yang lalu. Bahwa seorang suami yang memanggil istrinya Cut Dek berarti ia benar-benar mencintainya. Cut Dek adalah panggilan sakral yang begitu diidam-idamkan oleh setiap perempuan. Maka tak salah bila aku meminta suamiku memanggilku begitu. Bukankah ia mencintaiku?

“Karena aku istrimu, Cut Bang.” Jawabku serius sambil memandangnya mesra.

“Sayang, aku lebih nyaman bila hanya memanggil namamu saja; Sarah. Terdengar lebih mesra dan romantis.” Jawabmu.

“Tapi aku ingin kau memanggilku Cut Dek.”

Begitulah, kita nyaris bertengkar di malam itu hanya gara-gara soal panggilan. Pun begitu suamiku tetap memanggilku Sarah bukan Cut Dek seperti yang aku inginkan. Aku mengalah. Tak ingin merusak suasana bahagia yang sedang melingkupi kami.

***

Hidup terlampau singkat untuk dinikmati, pun dengan pernikahan kami. Tak terasa hampir berjalan dua tahun kami berumah tangga. Semuanya begitu menyanangkan, kami punya karir yang bagus di dunia perbankan. Orang tua kami sangat bangga dengan apa yang kami capai dan kerap membangga-banggakan kami di depan teman maupun kerabatnya. Satu-satunya yang membuat kebahagiaan itu kurang lengkap adalah belum hadirnya anak di antara kami. Tapi lagi-lagi aku merasa beruntung sebab suamiku tak pernah menuntut agar aku segera mempunyai anak.

Tapi rupanya kebahagiaan ini tak berlangsung lama. Pelan-pelan keharmonisan seperti menyusut di antara kami. Aku merasa kembali ke masa-masa SMEA dulu. Kami mulai jarang berdiskusi. Suamiku terasa semakin jauh dan sibuk dengan dunianya. Kami jarang makan bersama. Kesibukan seperti menyerobot waktu yang kami punyai.

Entah sejak kapan aku mulai merasakan perubahan dalam diri suamiku. Tiap kali aku mengajaknya berbicara ia selalu menghindar. Kalaupun kebetulan kami makan bersama semuanya terasa biasa dan hambar. Tak ada pembicaraan yang hangat seperti waktu-waktu dulu. Satu-satunya yang masih bisa membuat kami bersama-sama hanyalah ketika di tempat tidur.

“Cut Bang?” panggilku suatu pagi, saat kami sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia tak menjawab hanya melenguh saja dan memandangku acuh.

“Aku ingin makan di luar nanti malam, pulanglah agak cepat kalau bisa.”

“Kerjaan di kantor masih banyak, lain kali saja. Atau kalau kamu mau makan sendiri silahkan.” Jawabmu kaku.

Ah. Hatiku sakit sekali mendengar jawaban seperti itu. Aku tidak keberatan kalau ia tak mau tapi jawabannya yang menyuruhku pergi sendiri itu yang tak kuterima.

“Aku mau makan bersama dengan Cut Bang, kalau sendiri di rumah juga bisa.” Jawabku lagi.

“Sarah!” ia memandangku tajam. Biji matanya berkilat-kilat. Sesuatu yang tak pernah kulihat sepanjang aku mengenalnya. “ Aku ini suamimu, kau harus dengar apa yang aku katakan, kubilang lain kali ya lain kali.” Ucapnya setengah menghardik.

Aku tak menjawab lagi. Tak ada gunanya meneruskan debat kusir yang hanya akan memperuncing masalah saja. Mungkin dengan segera berangkat kerja pikiranku bisa menjadi lebih tenang. Selama ini hanya ruangan kerjalah yang selalu menjadi tempat bagiku untuk menenangkan diri bila ada selisih paham di antara kami.

Rupanya tidak untuk hari ini, hingga hari menjelang petang seluruh aktivitas pekerjaan tidak membuat sakit hatiku sembuh. Yang ada justru malah perasaan tertekan dan nyeri berkepanjangan bila mengingat rumah.

Aku tak ingin melihat wajah suamiku, tak ingin mendapat tatapan dingin dari pandangannya yang tajam. Aku tak terima dengan sikapnya yang sering mendiamiku tanpa sebab.

Maka aku memutuskan untuk mengelilingi kota setelah menyelesaikan tiga rakaat magrib di Mushola kantor. Memasuki butik-butik langgananku, memasuki toko aksesoris, mengunjungi toko buku dan terakhir memasuki rumah makan vegetarian yang terkenal itu.

Tak ada firasat apapun saat aku memasuki ruangan yang dingin dan bersih ini. Bahkan saat kakiku melangkah naik ke lantai dua didampingi oleh pelayan yang ramah sambil membawakan daftar menupun, aku masih tak punya firasat apa-apa tentang sesuatu. Hingga sampai aku duduk di pojok ruangan dekat akuarium yang besar.

Namun saat aku sedang asyik memilih-milih menu suara lengkingan perempuan membuatku terusik. Aku menoleh, mencari arah suara tadi. Ia tampak melambai-lambaikan tangannya memanggil pelayan. Aku terhenyak, bukan karena sikap perempuan itu yang terkesan tak peduli. Tapi pada sosok yang kulihat menemani perempuan itu.

Mereka terlihat begitu akrab, bertukar tawa dan cerita meski tak jelas apa yang mereka ceritakan. Aku menduga-duga tentu bukan masalah pekerjaan karena mereka sangat santai kelihatannya. Lelaki itu suamiku.

“Mau pesan yang mana bu?” teguran lembut si pelayan membuatku tersadar dari lamunan singkat ini.

***

“Cut Bang?” panggilku lembut begitu suamiku pulang, tentunya setelah ia membersihkan diri dan mengganti dengan pakaian rumah yang santai. Menjelang tengah malam.

Ia tak segera menjawab. Wajahnya terlihat letih tapi jelas rona-rona bahagia terpancar di sana. Hatiku bagai teriris-iris menyaksikan itu.

“Cut Bang?” ulangku. Kutahan suaraku agar terdengar biasa. Padahal kemuncak amarah telah menggelora dalam jiwaku.

“Ya.” Jawab suamiku malas sambil naik ke tempat tidur dan menarik selimut.

Ingin aku mencekiknya untuk meluapkan kemarahanku yang tadi. Rasa sakit hati yang membuncah seketika menimbulkan rasa benci dan jijik terhadapnya.

Begitulah seterusnya, aku nyaris tak punya waktu lagi untuk berbicara dari hati ke hati dengan suamiku. Meja makan yang dulu kerap menjadi tempat favorit kami kini menjadi sepi dan masakan yang kumasak kerap berakhir di tempat sampah.

Seiring dengan itu suamiku mulai sering tugas ke luar kota karena ada promosi jabatan untuk jadi pimpinan cabang di sebuah bank swasta terkemuka. Kami jadi semakin jauh saja. Dan gap yang tercipta semakin terbentang luas. Sikapnya semakin dingin. Bila sedang di luar kota ia tak pernah menghubungiku untuk memberi kabar. Bila aku berinisiatif untuk menghubunginya maka ia akan menjawab dengan enggan, suaranya terdengar tregesa-gesa, seperti keberatan.

Pesan-pesan pendekku tak pernah dibalas. Aku sedih, kesal dan marah. Rasa cinta yang besar ternyata tak mampu membuatku bisa menerima sikap dan perlakuannya yang semena-mena. Mungkin betul seperti kata Mak belasan tahun yang lalu. Bahwasannya banyak istri-istri yang mengganti panggilan mereka terhadap suaminya karena rasa cinta yang berkurang. Tapi aku tak berharap begitu. Aku ingin selalu menjadi istri yang baik, yang tak pernah kekurangan stok cinta dan sayang untuk suamiku. Aku ingin selalu memanggilnya Cut Bang.

Dan kuharap pikiranku tak berubah sekalipun kudapati suamiku yang baru sampai dari luar kota terlihat tergesa-gesa. Mandi, ganti pakaian, ia terlihat rapi dan gagah, dan juga wangi.

“Cut Bang?”

“Ya.”

“Mau ke mana? Kan baru pulang. Apa tidak sebaiknya makan malam dulu. Aku memasak makanan kesukaanmu.”

“Nanti saja makannya, ada meeting jam delapan dengan klien. Aku pergi.”

“Cut Bang?”

Suaraku tercekat bersama angin, sebelum aku selesai berbicara suamiku telah melesat dalam gelam malam. Menemui kliennya. May!

Suamiku. Cut Bangku. Yang telah sekian lama kusimpan cinta hanya untuk dia teganya menyakiti perasaanku. Mengertilah aku sekarang mengapa ia tak pernah mau memanggilku Cut Dek. Karena ia memang tak benar-benar mencintaiku. Pahamlah aku sekarang mengapa ia tak pernah bilang cinta padaku, meski kerap kali ia berkilah bahwa cinta tak perlu pengucapan hanya pembuktian.

Ya, suamiku memang telah membuktikan semuanya. Bahwa ia tak mencintaiku. Ia hanya mencintai May. Perempuan yang kulihat malam itu di restoran. Tentu saja aku tak lupa dengannya, suaranya yang melengking, sikapnya yang manja, tawanya yang ramai dan tentu saja usianya yang terpaut beberapa tahun dengan suamiku. Mungkin itu pulalah yang membuat suamiku akhirnya memilihku untuk dijadikannya istri, karena orang tuanya tak setuju ia menikahi May yang lebih tua darinya.

Aku lelah. Kusapu bulir bening yang terus berjatuhan meski berkali-kali kuusap dengan jemariku yang lentik. Mungkin benar seperti kata Mak belasan tahun yang lalu. Bila rasa cinta sudah tidak ada, bila rasa hormat telah berkurang, dan bila keikhlasan telah menjadi bara. Tak ada gunanya lagi memanggil Cut Bang.

Aku menutup layar-layar di notebook suamiku, selama aku mengenalnya baru sekali ini aku mendapatinya ceroboh terhadap sesuatu. Kututup semuanya, juga pintu-pintu cinta yang dulu terbuka lebar untuknya.(*)


Ihan Sunrise
__________________________
_______
Banda Aceh, 27 April 2010

Dalam Gerimis

Dalam  Gerimis
Di hujan gerimis itu, kulihat kau berjalan pelan. Matamu lurus menerjang butir-butir hujan, badanmu melayang-layang terkibas angin yang kencang. Sementara langit yang merah kian menenggelamkanmu dalam silau yang panjang. Kau tersaruk-saruk dalam desau angin yang liar.

Aku menyusurimu di belahan jalan yang lain, mengamatimu, mengikuti gerakmu yang mistis, menyeimbangkan diri dengan liukan angin yang begitu nakal. Aku ikut tersaruk, dalam desau angin, ikut tenggelam dalam silau yang dahsyat.

Kita berjalan beriringan, namun dalam ritme badan jalan yang berbeda, aku melihatmu, memanggilmu, tapi suara lengkingku hilang sebelum resonansi suara sampai ke telingamu. Kau tetap berlalu dan aku terus mengejar. Setiap kali aku akan meraih lenganmu yang terapit-apit, setiap kali pula kau terlempar pada jarak yang begitu jauh. Seperti apa kau berjalan, secepat kilat yang sesekali datang bersamaan dengan gemuruh yang resah. Aku ternga-nga, ada apa gerangan denganmu?

Masih dalam hujan yang gerimis, kali ini agak sedikit lebat, dan kau mulai terlihat basah, rambutmu sujud di atas cangkang yang melindungi otakmu. Langit tak lagi merah, cahaya telah meredup, kini gelap yang hadir memasung, dunia dan cakrawala. Tapi kita masih bertahan, kau terus berjalan dan aku terus mengikuti.

Kupanggil namamu sekali, kau menoleh tapi tak menjawab, aku lega, tak sia kuikuti kau sejak tadi. Cemasku hilang, gundahku berkurang. Kau lempar senyum, senyum yang telah membuatku tak alpa mengingatmu sejak bertahun-tahun yang lalu. Hatiku merekah. Gelap ini adalah gelap terindah sepanjang hidupku, sepanjang hariku menunggumu, hingga kutemukan kau di tengah gerimis matahari yang merah hingga gelap mencengkeramnya.

Kupanggil lagi namamu, berkali-kali, tapi kau tak lagi menoleh, pergi dan terus pergi, aku terkapar dalam halusinasi yang kejam, Tuhan menjemputku dengan cara tak biasa, Tuhan mempertemukan kita di saat aku sangat ingin melihatmu, walaupun aku hanya mampu melihatnya dengan imajinasiku, bahkan hingga jasadku hancur berkeping-keping dan darahku bercampur air hujan, aku masih bisa memanggil namamu, nama yang akan membuatku selamanya hidup. Kamu!



17.31 pm
16-06-2010

--------------------
Ihan Sunrise

Selasa, 25 Mei 2010

Di ambang pintu

Di ambang pintu
Melihatmu berdiri di ambang pintu, menjelang malam, sekilas kau melempar senyum ketika mata kita saling bertemu. Memakai baju motif kotak-kotak, dipadu celana jeans, kau terlihat muda dan energik sekalipun usiamu tak lagi cukup muda. Apalagi dengan potongan rambutmu yang pendek sehingga telingamu kentara terlihat.

Aku masih tersenyum, ketika kulihat seseorang turun dari mobil lalu menuju ke arahmu, mataku mencari-cari manik matamu untuk menanyakan sesuatu. "Diakah?" tanyaku dengan pandangan mata memberi isyarat. Kau tersenyum pertanda iya. "Benar", aku yakin itulah jawaban yang kau beri ketika itu sekiranya kita dekat. Sayang, aku hanya dapat melihatnya sebentar saja, sebab senja semakin gelap dan aku harus segera pulang.

Aku kembali tersenyum ketika hampir satu jam kemudian melewati rumahmu. Tapi kali ini sedikit rasa satir dan getir. Pintu rumahmu kulihat terbuka, menganga, tapi kalian sama sekali tak mampu kutangkap bayangnya. Ah...mungkin saja kalian sedang asyik bercengkerama, seperti biasa yang sering kalian lakukan. Aku terus berlalu...

Seharusnya...kau tak harus berlaku begitu, tak harus berdiri di ambang pintu menyambutnya, apalagi kerap tergesa-gesa menjelang kedatangannya, kau yang begitu bersemangat, merasa istimewa dan kehangatan yang menjalari lekuk hati dan jiwamu, tapi diam-diam sering kau pertanyakan mengapa begitu. Harus kah aku menjawab? Haruskah aku bercerita? Haruskah aku memberi tahu bahwa sebaiknya kita sudahi saja semuanya. Kau menyudahi lakonmu, dan aku menyudahi peranku. Menurutku, masing-masing kita sudah punya jawaban.



12:12 pm
25 Mei 2010

Senin, 10 Mei 2010

Laut*

Laut*
Laut!

Oleh: Ihan Sunrise

Angin selalu bertiup seperti ini. Dingin. Beku. Sepoi yang kirimkan sendu dan kemirisan. Leguhan kesakitan yang tak pernah usai.

Tatkala mataku tertahan pada kerlip lampu nelayan di tengah lautan, akumulasi kesedihan dan kemarahan mengorgasme dalam jiwa. Pemberontakan yang tak pernah menemukan jalan keluar. Sebab bunda selalu bisu. Bungkam atas setiap tanya yang kulontarkan. Mulutnya terkunci. Mungkin juga pikirannya.

Maka aku merasa tak lebih hidup sebagai pecundang yang sarat keraguan. Imajinasi yang terus menerus tersekat perasaan. Aku tak bisa berkhayal dengan sempurna. Hidupku tak bergradasi.

Tiap kali kudapati bundaku mematung di ambang pintu, maka setiap kali pula resah menggelantung dalam benakku. Tanda Tanya besar menggelinjang-gelinjang dalam pikiran. Apakah yang disaksikan bunda saban hari dari ambang pintu itu? Tak pernah kutemukan jawabannya selain diam-diam kulihat ia menyeka air matanya.

Lain waktu, aku berdiri di tempat yang sama. Membuang jauh pandanganku ke tengah laut. Tidak ada apa-apa. Sejak belasan tahun yang lalu hanya itu-itu saja yang kudapati. Gundukan pulau-pulau di seberang sana. Apakah itu yang selalu menarik perhatian bunda?

Bila pada akhirnya aku harus menitikkan air mata bukanlah karena rasa sedih dan kecewa, tetapi karena kemuncak kekesalan yang terjadi atas semua ini.

Dan kegalauan itu begitu memuncak ketika kudapati wajah bunda dibalut kemendungan yang muram. Matanya sembab dan tatapannya begitu pias. Mukanya pucat seperti mayat. Tangannya sedikit bergetar, mungkin campuran rasa takut entah dengan apa. Ia bahkan tak berani memandangku yang tak bergerak di hadapannya.

“Laut.” Katanya sepatah.

Lalu ia kembali diam. Aku menunggu. Apalagi yang akan diceritakan bunda tentang laut.

Laut. Sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Ketika lahir, bahkan sebelum mendengar suara azan aku sudah mendengar deburannya. Sebelum bunda memberiku makanan nasi bercampur pisang aku sudah lebih dulu mengecap asinnya air laut. Laut adalah hidupku. Jiwaku. Rasanya tak ada yang tidak kuketahui tentang lautan.

“Laut adalah…” lanjut bunda terbata.

“Laut adalah apa bunda?” sergahku tak sabar.

Kali ini kudapati air mata mulai menggenang di matanya yang bulat. Aku tak sampai hati karena telah memaksanya berbicara. Harusnya kubiarkan saja bunda dengan diamnya tadi.

“Laut adalah ayahmu.”

“Ayah?” mataku membulat.

***

Ayah. Adalah kata yang selalu membuatku tersekat. Yang mendindingi alam hayalku. Yang menggunting imajinasiku. Yang selalu membuatku berhenti setiap kali berfikir tentang kelengkapan sebuah keluarga. Yang selalu membuatku menangis diam-diam ketika memikirkannya. Yang sering membuatku berbeda dengan teman-teman sepermainan.

Seperti apa ayah? Lelakikah atau perempuan? Pertanyaan bodoh yang kerap menghinggapi pikiran masa kanakku. Dan juga tatapan kosong ibu yang selalu kuingat setiap kali aku merengek-rengek minta diceritakan tentang ayah.

Ah…ternyata begini rasanya mempunyai ayah. Senang. Bahagia. Takjub. Lega.

“Laut adalah jelmaan ayahmu, Mala.” Kata bunda kemarin pagi.

Maka kubiarkan tubuhku dipeluk ayah. Basahnya yang hangat masuk hingga ke pori terdalamku. Rambutku dipenuhi sisik-sisik pasir yang mistis. Maka kubiarkan saja semuanya. Aku pasrah dalam kerinduan yang panjang dan melelahkan selama ini. Kubiarkan jilatan ombak bergantian menerpa tubuhku. “Karena ayah sedang memelukku dengan kasihnya.”

“Apakah ayah berasal dari pulau yang selalu bunda pandang dari ambang pintu rumah kita?” tanyaku menyelidik melawan kegusaran. Bunda mengangguk. Pelan.

Seperti inikah senangnya ketika dulu bunda bertemu dengan ayah? Mereka yang bertemu dan berpisah di lautan. Ayah yang begitu mencintai laut, setengah hidupnya adalah gemuruh lautan, setengah jiwanya adalah debur ombak. Laut adalah pengasuh sejatinya. Maka ia relakan laut menjadi saksi bagi pernikahan jiwa mereka yang tak pernah terputuskan. Ayah dan bundaku. Pun ketika laut menenggelamkan jasadnya. Bunda tak marah. “Laut adalah reinkarnasi setelah kematianku. Datanglah kapan saja kau mau untuk melepas kerinduanmu.” Begitu dulu ayah pernah berpesan kepada bunda.

Mengertilah aku sekarang, mengapa bunda rutin mengunjungi lautan. Karena ayah selalu menantinya di sana dengan penuh cinta. Mereka begitu mesra, berdialog, mereka basah bersama deburan ombak, mereka larut dan kilauan pasir putih yang suci. Mereka bercinta dengan cara yang hanya mereka sendiri yang bisa memaknainya.

Barulah aku mengerti ternyata prosesi itu adalah pengulangan kesakralan cinta mereka. Hingga lahirlah aku. Jilatan buih-buihnya yang pecah kini kupahami bukan sekedar buih pantai yang tak berarti. Tapi buih yang lain. Buih cinta yang ke luar dalam jasad mereka.

“Maka temuilah ayahmu Mala. Perkenalkan dirimu.”

Kuturuti kata bunda tanpa sepotongpun bantahan. Pertemuan ini adalah penantian panjang belasan tahun. Maka aku tak ingin menundanya barang sedetikpun.

Mengertilah aku kini mengapa bunda kerap marah acap kali aku memaki lautan. Atau ketika wajahku murung ketika menghadapi lelautan. Atau ketika aku membuang sesuatu yang tak berharga di atasnya. Mengertilah aku kini. Semuanya.

“Ayah, perkenalkan aku Mala. Anakmu yang lahir tanpa kau ketahui hadirnya dalam rahim bunda.”

Aku melihat ayah mengangguk. Tangannya menggapai-gapai melalui ombak menyentuh kulitku. Bibirnya tersenyum, menyusuti butiran pasir yang terkikis. Matanya berbinar, adalah pantulan cahaya yang membentuk kilauan-kilauan maha dahsyat. Di lautan.(*)


Ihan Sunrise
Bilik hati, 5 april 2010


* Cerpen ini sudah pernah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad, 09 mei 2010

Kamis, 06 Mei 2010

Pertemuan dalam ruang Imaji

Pertemuan dalam ruang Imaji

Aku takjub! Tidak. Bukan. Tepatnya heran. Sebab baru kemarin aku berfikir tentang kalian. Menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer aku sengaja mengatup mata agar kalian bisa hadir bersamaan dalam ruang imajiku. Dan benar saja, kalian hadir begitu memikat, nyaris sempurna. Dan aku merasa senang, juga rasa puas yang begitu besar. Sebab aku bisa pertemukan kalian, walau hanya di ruang imaji yang terbatas.


Takdir berperan besar terhadap perkenalan kita, tentu juga perkenalan antara kau dan dia. Dan kedekatan yang tercipta di antara kita seratus persen aku yakin karena ruang gelisah yang kita punyai mempunyai panjang dan diameter yang sama. Pendeknya, kita bisa bertukar kenyamanan sehingga kita merasa cocok dan bisa bersahabat. Tentu itu tidak mudah bukan mengingat masing-masing kita adalah pribadi yang tertutup.


Tetapi kedekatanmu dengannya, aku yakin karena ikatan kimia yang lain, bukan untuk bertukar kegelisahan, bukan untuk bertukar kekhawatiran, tapi hanya tempat untuk mengeksplorasi rasa senang dan perasaan. Bahwa kalian membutuhkan satu sama lainnya.


Maka setelah itu kita sering bertukar kegelisahan yang sama, bertukar kesedihan, kekesalan hingga bertukar kesenangan. Semuanya seperti titik-titik air yang jatuh dan menyuburkan olah kata kita untuk tak lagi punya rahasia. Semua tentang akal, pikiran, hati dan perasaan, dan juga logika. Semuanya begitu nyata dalam pesan-pesan singkat yang kita terima.


Untuk itulah aku benar-benar takjub. Aku lebih suka mengatakannya kaget. Sebab baru kemarin aku mempertemukan kalian di ruang imajiku, baru kemarin kau bercerita tentang rasa suka citamu, baru kemarin kau berbagi tentang bagaimana kau menunjukkan rasa cintamu terhadapnya, baru kemarin, yah baru kemarin. Baru kemarin juga kau mengatakan bahwa kau menginginkan sesuatu yang tumbuh dan hidup dalam rahimmu, dan itu dari dia. Walaupun untuk itu entah bagaimana caranya. Dan memang baru kemarin aku mempertemukan kalian dalam ruang setengah sadarku untuk mewujudkan keinginan itu.


Kegelisahan itu semakin terasa saat kau mengatakan bahwa kamu mungkin sedang patah hati. Kau tahu, katup-katup jiwa kita mulai menyatu kurasa. Sehingga rasa patah hati benar-benar kurasa menyelinap dalam rongga jiwaku. Aku tergugu untuk beberapa saat. Urung memejamkan mata meski malam sudah sangat larut. Dan kelelahan yang seharian membalut jasad kurasa menghilang. Aku mengkhawatirkanmu. Aku tercenung. Benarkah kau patah hati?


“Tapi patah hati bukanlah bentuk lain dari sebuah kekalahan.” Kataku padanya, mungkin juga pada diriku sendiri.


Entahlah, kau tak butuh nasehat pastinya. Dan aku kesulitan ingin mengatakan apa. Jawabannya tentu saja ada pada airmatamu yang terus mengalir, pada pikiranmu yang susah sekali diajak berdamai, dan tentu saja pada jiwamu yang mulai rasakan bahwa sesuatu itu telah benar-benar tumbuh dan hidup dalam dirimu, meski bukan dalam rahimmu seperti yang kau inginkan.


“Aku hanya inginkan kebenaran atas semua keterusterangannya.” Jawabmu berkali-kali dengan kata yang berbeda.


Aku bukan sedang ingin menyimpulkan, tapi, apakah kebenaran bisa didapatkan tanpa pernah melihat gesturenya? Bahkan ketika ia berbicara, kau tak pernah bisa melihat seperti apa matanya yang ikut berbicara, lalu bagaimana anggota tubuhnya yang lain ikut menterjemahkan. Aku tak sangsi dengan apa yang kau rasakan, aku tahu bahkan sangat tahu bila kau benar menaruh rasa padanya. Bahwa kau sedang tak ingin bermain-main dengan perasaanmu, dan tentu saja perasaannya. Tapi, tapi aku bingung dengan arti kebenaran itu sendiri.


Langit yang kujunjung hari ini memang mendung, tapi semoga saja itu bukan representasi dari akumulasi kesedihanmu yang begitu dalam. Sedihmu adalah sedihku juga. Sebab, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya bahwa kita memiliki ruang kegelisahan dengan ukuran panjang dan diameter yang sama. Yang tentu saja bisa saling bertukar tempat. Percayalah, tak ada ketulusan dan keikhlasan yang sia-sia. Sekalpun hanya untuk sebuah pertemuan yang tercipta di ruang imaji.

Ihan Sunrise

Banda Aceh, 6-5-10

11.05 am


Senin, 26 April 2010

Meulinte*

Meulinte*

Meulintee

Oleh: Ihan Sunrise

“Mak tak habis pikir.” Kataku begitu kami tinggal berdua dengan anak gadisku. Nurul.

“Tak habis pikir apanya?” Tanya Nurul, anak perempuanku bingung.

“Dengan jalan pikiranmu.” Kataku cepat

“Memangnya kenapa dengan jalan pikir Nurul?”

“Seperti hana pikeran.”

“Lalu yang punya pikiran itu bagaimana, Mak?” Tanya Nurul agak tersinggung.

“Ya jangan bawa laki-laki itu ke rumah.” Pungkasku

Nurul yang sedang membereskan meja setelah memindahkan gelas dan piring kecil berisi kue untuk tamuanya tadi tak jadi beranjak. Ia duduk di tempat tamu tadi duduk. Di tangannya masih menggantung kain lap kecil yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja bekas tumpahan air teh.

“Terus bawa ke mana? Bang Jack kan mau berkenalan dengan Mak. Wajar kan kalau calon menantu mau berkenalan dengan calon Mak Tuannya. Masak Nurul bawa ke pasar dan pos jaga. Apa kata orang nanti? Masak anak gadis mak rayueng-rayueng lelaki ke sana ke mari tanpa mak kenal siapa orangnya.”

“Kalau itu benar terjadi berarti pikiranmu sudah dibutakan oleh dia.”

“Pikiran yang terang itu kiban Mak?”

“Ya tidak usah berhubungan dengan…si…siapa namanya tadi?”

“Bang Jack.”

“Dari namanya saja mak sudah tidak sreg.” Keluhku.

“Nama aslinya Zakaria. Namanya seperti nama Nabi mak.” Bela Nurul.

Kami terus beradu argumentasi. Tak ada yang mau mengalah. Baik aku maupun Nurul anak perempuanku. Bukan aku tidak setuju dia mau menikah, apalagi usianya sudah 24 sekarang. Sudah pantas. Akupun sudah ingin menimang cucu dari anak perempuanku itu. Tapi aku tidak suka bila ia menikah dengan si Jack itu.

Bila ditanya orang-orang siapa menantu Nyak Wa Fath guru mengaji itu? Aku pasti akan kesusahan menyebut namanya. Jack. Sedikitpun tidak mencerminkan keislaman. Namanya yang bagus malah dipelesetkan jadi Jack. Sungguh tak mengerti agama.

Tetapi sebenarnya bukan hanya soal nama. Si jack itu tak pantas dengan anakku karena dia terlihat sangat tua. Mereka terpaut 20 tahun usianya. Nanti kalau mereka menikah dan anakku ikut tua bagaimana? Maksudku, kalau mereka menikah lalu si Jack itu cepat meninggal dan anakku jadi janda bagaimana?

“Mak terlalu jauh seumike.” Protes Nurul

“Memang harus dipikirkan jauh-jauh. Menikah itu untuk sekali seuumur hidup. Mana bisa asal-asalan.” Tukasku.

Sebenarnya si Jack itu tidak demikian buruknya. Ia terlihat sopan, kata-katanyapun terlihat baik dan teratur. Ia datang dengan membawa oleh-oleh buah-buahan yang banyak. Tapi aku tak suka karena ia bekerja di luar negeri. Nanti kalau anakku dibawa jauh bagaimana. Sementara aku cuma punya satu anak perempuan.

Tapi…kengerianku sebenarnya adalah kehidupan si Jack selama ini di luar negeri. Siapa yang menjamin dia orang baik-baik. Kehidupan di luar negeri itu sangat bebas. Tidak ada aturan. Jangan-jangan dia sudah tidak perjaka lagi. Atau mungkin dia sudah pernah menikah dengan gadis-gadis di luar negeri sana. Siapa tahu?

“Kalau mak terlalu selektif Nurul bisa tidak menikah-menikah.” Nurul cemberut.

Aku menghela napas. Berat. Bukannya aku terlalu selektif. Tetapi sebagai orang tua tentu saja aku tidak ingin anakku kecewa nantinya. Di jaman seperti sekarang ini mencari orang yang baik dan bertanggung jawab itu susah. Apalagi yang pemahaman agamanya memadai. Langka.

“Kamu boleh menikah dengan siapa saja, asal bukan dengan si Jack.” Kataku akhirnya.

“Ya sudah, Nurul mau menikah dengan bang Haikal.” Jawab Nurul dingin. Raut mukanya tanpa ekspresi.

Aku terhenyak. Sesosok lelaki tinggi besar bermain di kepalaku. Alisnya tebal. Kulitnya coklat bersih. Matanya tajam dan bersinar. Giginya begitu rapi. Tapi ia agak gemuk dan berperut. Pun demikian tetap tidak mempengaruhi penampilannya yang enak dilihat. Senyumnya menawan.

Tak ada alasan untuk tidak menerimanya sebagai menantu. Ia berpendidikan, hidupnya berkecukupan, jiwa sosialnya tinggi, tetapi hanya satu kekurangannya.

“Mak tidak rela kamu jadi istri ke dua, Nak.” Kataku mengiba

Ada kesedihan di mata anak gadisku. Membicarakan Haikal tentu akan sangat melukai perasaannya. Sekuat apapun ia berusaha menutupi tapi aku tetap dapat melihat kalau ia sangat mencintai lelaki itu. Mata Nurul mengerjap-ngerjap. Kami terbuai dalam diam. Sibuk dengan perasaan masing-masing.

“Mak sayang sama kamu Nak. Mak tidak ingin hidupmu berantakan nantinya. Menikah bukan hanya soal kesenangan materi saja. Tapi kita harus pikirkan kesenangan hati, karena hanya kedamaian hati yang akan membuat kita dapat menikmati hidup.” Aku membelai rambut Nurul yang luruh dalam pelukanku. Tak terasa ia telah begitu cepat bertumbuh dewasa. Rasanya aku seperti baru kemarin menggendongnya dalam pelukanku.

“Bagaimana kalau dengan bang Fahmi mak?” Tanya Nurul sambil melepaskan diri dari pelukanku.

“Si Fahmi yang duda itu?” tanyaku kepalang kaget.

Gadisku mengangguk. Aku lemas. Terbayang wajah si Fahmi yang diceraikan istrinya beberapa bulan yang lalu, karena kerjanya cuma bersyair saja di pos jaga. (*)

Bilik Hati, 11:52 pm

07 april 2010

* Tulisan ini sudah pernah dipublish di website www.ababil.org
http://ababil.org/index.php/2010/04/meulintee/

Jumat, 23 April 2010

Untukmu, Untuk Lautan

Untukmu, Untuk Lautan

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sejak bertahun-tahun yang lalu. Kurasakan perbedaan dari caraku merindui dan mencintaimu. Rasa yang begitu melesak-lesak dalam jiwa, menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuimu.



Maka sebelum matahari tergelincir, ketika langit masih memerah saga. Aku telah berada di tempat itu, menyusuri jalan-jalan yang pernah kau lintasi beberapa waktu yang lalu. Menaiki bebatuannya yang bersusun. Merasakan lembutnya angin pantai yang tajam. Mendengar deru dentum ombak yang berkecipuk. Menyaksikan cicak-cicak laut yang menempel di bebatuan yang basah. Kepiting yang berlarian dan siput-siput kecil yang kecoklatan.



Aku takjub. Bukan pada diriku sendiri, tetapi pada yang melesak-lesak begitu kuatnya di dalam hati. aku berdiri menghadap lautan. Membentangkan kelopak tangan. Meliarkan pandangan mata. Meneriaki gemuruh. Ya, aku datang menemui lautan. Untuk bertemu dan berdialog denganmu. Laut! Dan juga engkau.



Sesuatu yang tak begitu kusukai sejak dahulu. Karena menurutku laut terlalu lantang untuk disahabati. Terlalu liar untuk diajak bercengkerama. Terlalu menakutkan untuk dijadikan pelipur hati. Terlalu mistis untuk disinggahi.



Tapi kerinduan terhadapmu mengubah segalanya, aku mencoba menyatu dengan lautan. Aku biarkan saja ketika ombaknya dari celah bebatuan menjilati hingga ke mata kakiku. Aku senang saat ombak-ombak itu seperti mengejar, dan aku berlarian di atas batu-batu berlapis itu. Aku tertawa. Aku berteriak. Hei…beginikah rasanya mencintaimu? Beginikah rasanya dekat denganmu? Beginikah rasanya dicandai olehmu? Beginikah rasanya, ya memang seperti ini rasanya.



Kesempurnaan itu terasa begitu lengkap, apalagi ketika setitik air menyapu lidahku. Asin yang menggoda. Asin yang melahirkan rasa ketidak puasan untuk mengecapnya terus menerus. Seperti rasa yang terus tumbuh dan tumbuh di dalam hati. Untukmu. Untuk lautan. Aku akan kembali lagi! Untukmu, untuk lautan, dan juga untuk engkau!



Ulee Lheu, 22-4-2010

Ihan Sunrise