Minggu, 12 Januari 2014

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi
TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang putih kemerahan itu dia sudah memiliki 'standar' kecantikan seperti yang sering dikampanyekan di tv. Wanita cantik adalah yang berkulit putih!

Rabu, 08 Januari 2014

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

wikipedia
Pengarang: HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
Bahasa : Bahasa Indonesia, Melayu
Genre : Novel
Penerbit : Bulan Bintang
Tanggal    : 1938
Halaman : 224 (cetakan ke-22)
ISBN : 978-979-418-055-6 (cetakan ke-22)

++++++

TENGGELAMNYA Kapal Van Der Wijck. Judul buku ini tidak asing lagi bagi saya. Sejak tahun 90-an saya sudah mendengar namanya. Saat itu roman itu terkesan sangat berat bagi saya sehingga terlewatkan begitu saja.

Jelang akhir 2013 buku ini kembali ramai dibicarakan. Tak lain setelah Ram Soraya mengangkat kisah haru birunya ke layar lebar. Setelah melihat trailernya, saya pun 'kelimpungan' dan sangat ingin membacanya. Beruntung, seorang teman mau meminjamkan buku pinjamannya kepada saya. Rasanya tak sabar untuk segera melahap dan menghabiskan halaman demi halaman novel mega bestseller itu.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menceritakan kesatiran hidup tokoh utamanya Zainuddin. Pemuda itu berayahkan seorang Minang dan ibu seorang Bugis. Ia telah yatim piatu sejak kecil dan diasuh oleh seorang ibu angkat. Setelah dewasa Zainuddin yang merasa keturunan Minang merasa perlu mencari kampung asal ayahnya. Maka dengan menumpang kapal laut mulailah ia berlayar dari Sulawesi melintasi Jawa hingga sampai ke Sumatera untuk mencari Kota Batipuh di tanah Minangkabau.

Selasa, 07 Januari 2014

Karena Kami Tak Punya Bioskop

foto by tribunnews
SELAMA dua pekan ini 'demam' film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk sepertinya sedang mewabah. Di time line Facebook sering muncul entah itu ulasan, resensi, status, capture foto, bahkan tiket nonton di bioskop.

Pelan-pelan rasa iri menyelinap di hati saya. Saya tahu ini tak baik, tapi kali ini rasa iri tersebut telah menjangkiti saya dan parahnya tak sanggup saya tangkal. Betapa tidak, Tenggelamnya Kapal VDW disebut-sebut sebagai film sastra terbaik penutup tahun 2013. Buncahan perasaan ingin menonton film itu membuat saya benar-benar iri pada mereka yang punya bioskop di kotanya.

Kamis, 02 Januari 2014

Tahun Baru

foto by republika
APA yang berbeda pada hari terakhir di bulan Desember setiap tahunnya? Jika saya boleh berasumsi, tentulah kesibukan orang ramai dalam menyambut suka cita datangnya 1 Januari sebagai awal tahun baru Masehi. Bagi saya pribadi kesibukan ini terasa sangat menggema lebih kurang satu dekade terakhir. Sejak saya pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu ke ibu kota provinsi; Banda Aceh.

Agaknya telat saya menulis tentang catatan tahun baru. Tapi ini memang sengaja saya lakukan, karena bagi saya semua hari, bulan dan tahun sama saja.

Dua hari menjelang pergantian tahun bibi -istri adik ibu saya- masuk ke kamar saya. Waktu itu saya baru pulang kerja. Badan masih terasa lelah, tungkai minta diistirahatkan, tapi demi melihat bibirnya tersungging saya dudukkan tubuh saya di ranjang. Inti dari pembicaraan singkat itu adalah bibi meminta uang untuk tambahan biaya membeli ayam dan jagung. Keduanya akan menjadi santapan untuk hidangan di malam pergantian tahun. Saya berjanji akan memberinya besok malam.

Hari terakhir Desember. Di kalender tertera angka 31. Saya tiba di rumah selepas Isya. Saat saya pulang tadi rintik-rintik hujan masih jatuh dari langit. Genangan air masih bertebaran di mana-mana. Udara dingin, langit tak berbintang, angin berhembus tenang. Saat pulang -selama perjalanan- saya hanya melihat ada seorang penjual terompet di dekat Taman Putroe Phang.

Sampai di rumah, bibi dan sepupu serta beberapa anak tetangga sedang menonton tv. "Tidak jadi bakar-bakarnya..." ia berceloteh riang. Bakar yang dimaksud tentu saja bakar ayam dan jagung. Saya hanya tersenyum. Saya tahu bibi sedang bercanda. "Iya, hujan sih..." jawab saya datar. "Kakak ngga ada ekspresi jawabnya," celetuk sepupu yang baru kelas dua SMP. "Kakak memang selalu begitu kan?" jawab bibi saya lagi. Singkatnya malam itu kami 'berpesta' ayam dan jagung bakar. Suasana menjadi lebih ramai karena tetangga depan rumah ikut bakar-bakar bersama.

+++
Terlepas apakah itu untuk menyambut tahun baru atau apapun, saya bukanlah penyuka pesta. Jangankan yang besar, pesta kecil pun saya tidak suka. Seolah punya dunia sendiri saya sering tidak nyaman jika harus berkumpul dengan orang-orang (terutama yang tidak saya kenal) dengan durasi waktu yang lama. Sering saya merasa hanya sebagai pelengkap saja jika berkumpul di tengah keluarga besar. Mungkin karena saya kekurangan bahan jika bersama mereka, tapi apa yang mereka obrolin seringkali masuk di luar daftar minat saya. Misalnya tentang fashion, gosip selebritis, gosip tetangga, perkakas rumah tangga, dll. Jika bersama mereka, saya memilih untuk banyak diam.

Kembali ke cerita tahun baru. Sebenarnya bukan hanya menyambut 2014 saja sikap saya 'dingin'. Bertahun-tahun sebelumnya, saya merasa tak perlu merayakan malam pergantian tahun. Apalagi harus menunggu pukul 00:00 teng untuk kemudian berteriak-teriak histeris. Sambil meniupkan terompet, menyalakan kembang api, dan berkerumun di tengah kota. Saya lebih memilih tidur, mengistirahatkan badan saya selama 'setahun'. Agar besok pagi kembali segar saat beraktivitas. Hidup di tahun-tahun mendatang tidak dibangun dari eforia sesaat. Namun semua itu berpulang ke pribadi masing-masing.

Soal sikap yang dingin-dingin ini, juga tidak merujuk pada pandangan agama atau karena imbauan ini itu. Sebagai makhluk yang dibekali otak dan akal, saya tentu saja punya pemikiran sendiri.[]

Selasa, 31 Desember 2013

Di Pintu Terakhir

AKU melongok ke luar jendela. Mataku liar menatap langit yang kelabu. Agaknya langit masih mengandung, mungkin sebentar lagi anak-anak hujan akan lahir dengan bobot berlebih. Aku masih menatap langit. Daun-daun bergoyang digoda kesiur angin. Lengang. Di cerobong masjid kudengar lantunan ayat suci dikumandangkan dengan merdu.

Jika bisa kujadikan sebagai ibarat, bolehlah kukatakan bahwa hari ini aku sedang berdiri di pintu terakhir. 364 pintu berkelir dua belas bulan telah kulalui dengan segala macam warna. Berawal di Januari dan berakhir di Desember yang saban hari basah dan lembab.

Sabtu, 28 Desember 2013

(Membunuh) Anak di Depan TV

foto dari google
DI hari Sabtu -karena tidak bekerja- saya sering memanfaatkan waktu untuk memasak, membaca buku/novel, menonton, dan tidur. Itu saya lakukan jika tidak ada kegiatan lain di luar rumah. Aktivitas pagi hari saya awali seperti biasa dengan bersih-bersih rumah. Setelah itu sembari menunggu jadwal masak saya manfaatkan untuk tidur-tiduran sambil menonton TV. Program favorit saya adalah saluran TVRI yang mengusung selogan Saluran Pemersatu Bangsa.

Sebelum mengenal saluran lain saya sudah mengenal TVRI sejak seperempat abad silam. Siarannya yang pernah menjadi favorit saya adalah Keluarga Cemara, Haryati, Combat dan telenovela Hati Yang Mendua. Nah, menonton TVRI di hari Sabtu adalah upaya saya untuk menghadirkan kenangan di masa lalu.

Kamis, 26 Desember 2013

Pagi Itu, Sembilan Tahun Silam

Pagi Itu, Sembilan Tahun Silam
PAGI itu, aku sedang mengaduk adonan agar-agar di tungku kayu. Asap dari kayu bakar tak hanya membuat mataku perih dan berair, tapi juga hidung jadi beleran. Abu bekas kayu bakar sebelumnya di sekitar tungku beterbangan. Percikannya menempel di bajuku.

Tak lama kemudian, kukira adonan di panci belum sempurna mendidih. Atap rumah yang terbuat dari daun rumbia tiba-tiba bergoyang. Tiang-tiang dapur yang berupa kayu (beroti) kecil berderik-derik. Goyangan yang semula hanya berupa hentakan berubah menjadi goncangan yang begitu hebat. Aku menancapkan kaki di lantai dapur yang sepenuhnya berupa tanah. Ujung-ujung kaki menancap kuat. Di atas tungku adonan bermuncratan dari dalam panci.

Setelah beberapa saat aku mendengar suara nenek dari luar rumah. Ia berteriak-teriak menyuruhku keluar. Ia khawatir rumah akan roboh karena guncangan yang demikian hebatnya. Aku menurut karena goncangannya memang sangat kuat. Hampir saja membuatku limbung.

Di luar kulihat nenek berdiri di halaman samping. Ia berpegangan pada sebatang pohon kendondong hutan yang besarnya tak sampai sebesar lenganku. Tertatih-tatih aku menggapai pohon itu. Kami berdua bertumpu pada sebatang pohon,  tetapi tetap terayun-ayun mengikuti gerakan goncangan dari dalam tanah. Sembari itu kami juga berzikir.

Seumur hidup rasanya sulit sekali bagi saya melupakan pagi itu. Minggu, 26 Desember 2004. Waktu itu umur saya baru 19 tahun. Itu adalah pagi di mana saya merasakan gempa yang sangat kuat. Belakangan saya tahu gempa pagi itu berkekuatan 8,9 SR. Ada yang mengatakan 9 SR. Dahsyat! Menghilangkan nyawa masyarakat Aceh hingga ratusan ribu jiwa.

Waktu itu saya masih kuliah. Mestinya pagi itu saya berada di Banda Aceh, tapi karena dua hari sebelumnya libur Natal, saya memutuskan untuk berlibur ke tempat nenek di Teupien Raya, Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Pidie. Entah bagaimana nasib saya jika hari itu saya berada di Banda Aceh.

Setelah gempa berhenti saya kembali ke dapur, menyalakan api yang sudah padam. Lalu memasak adonan hingga matang. Beberapa menit kemudian dari luar saya mendengar suara ribut-ribut. Penasaran saya pun keluar untuk mencari tahu. Rupanya para tetangga nenek sudah mengetahui adanya kabar air laut naik (tsunami) di beberapa tempat seperti Banda Aceh, Sigli dan Pante Raja. Kabar tersebut ditambah dengan berita duka bahwa banyak orang yang meregang nyawa, terutama di Banda Aceh. Nenek ikut-ikutan panik, saya juga, pasalnya siang itu saya harus balik ke Banda karena besoknya masuk kuliah. Yang bikin saya tambah panik, tugas mengetik manual yang diberikan tiga hari lalu belum selesai. Saya urung kembali di Banda Aceh karena ada teman yang mengabarkan Ibu Kota Provinsi itu telah porak-poranda. [bersambung]