Minggu, 13 Juli 2014

Jika Tak Percaya Cinta

Masih ingatkah kamu ketika kita sama-sama menyibak tirai dan membiarkan mentari meninggi mengikuti petunjuk waktu? Di lain waktu kita sama-sama menggulirkannya ke ufuk, dan lautan menelan cahayanya yang menguning telur. Saat itu, kurasa bukan ombak saja yang bergemuruh. Tapi juga hati kita yang berdentum-dentum bagai sedang membadai.

Jika cinta pada akhirnya hanya membuat kita tidak percaya pada cinta, mengapa kita masih ingin jatuh cinta? Mengapa kita masih ingin merasakan rindu yang berdebar-debar, nyeri, tapi terasa sangat manis dan membuat kita ingin merasakannya lagi.

11 Fakta Menakjubkan Tentang Gaza

Masyarakat Aceh menggelar aksi simpatik untuk mendukung Palestina, Minggu 13 Juli 2014.
Foto by ATJEHPOSTcom

1). Ternyata warga negara asing yang disegani oleh warga di sana adalah warga negara Indonesia! Selain karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (semoga warga Palestina tidak mengetahui kondisi keIslaman Indonesia supaya tidak kecewa ), juga karena Indonesia selalu memberikan dukungan moriil dibandingkan dengan negara lain, baik negara di Timur Tengah lain sekalipun.

2). Walaupun tinggal di area konflik, anak-anak di Gaza tidak ada yang trauma sedikitpun. Wajah mereka selalu riang dan ceria!.

Jumat, 11 Juli 2014

Wahai, Palestina!


Hatiku tergerus melihat duka di sekujur tubuhmu wahai Palestina
Mengalir darah sebagai rupa kepiluan yang tak dapat kubendung
Air mataku mengalir deras berbungkus nafas tersengal-sengal
Aku tak bisa bicara!
Aku tak bisa bicara!
Aku tak bisa bicara! 
Sebab kesedihan ini terlalu rumit untuk kujabarkan

Aku ingin semua ini hanya mimpi buruk belaka
Tapi tangisan yang kusaksikan itu nyata
Darah yang mengalir karena luka di tubuh-tubuh tak berdosa itu nyata
Rumah-rumah yang hancur berkeping-keping itu nyata
Hujan peluru itu nyata
Ketakutan yang terpancar di wajah-wajah suci itu nyata
Bising riuh suara pelontar itu nyata
Dan jasad-jasad kaku yang terbujur pasi itu juga nyata adanya. 
Bukan mimpi!

Aku tak ingin menangis, tapi air mata ini jatuh dengan sendirinya
Aku tak ingin bersedih, tapi kesedihan ini muncul dengan sendirinya
Sungguh, ada yang tak sempurna dari sucinya bulan yang sedang kami lewati ini. 
Semata-mata karena penderitaan yang kalian rasakan merasuk dalam sanubari kami

Tetapi surga adalah janji Allah untuk kalian wahai para syahid dan syahidah!


Permata Punie, 05:23 | 11 Juli 14


Jumat, 04 Juli 2014

Sepasang Burung Liar

ilustrasi @kutilang.co.id

Hei, apa kabarmu di sana? Semoga kau jauh lebih baik dariku. Semoga senyummu tak pernah berubah, senyum penuh goda yang selalu melekat di ingatanku. Senyum menyenangkan dan menenangkan yang pernah kulihat dan akan selalu kurindukan.

Juni baru saja berakhir, bersamaan dengan gugur terakhir kelopak angsana kuning. Juni pernah memekarkan kuncup-kuncup bunga di hati kita. Berawal dari musim panas bulan Maret yang kering. Memasuki Juli baru aku sadar bahwa kelopak angsana terakhir yang gugur itu adalah kamu.

Kau tahu apa yang tersisa sekarang? Rindu, rindu menggebu-gebu yang memaksaku menghadirkan wajah ranum dan senyum matangmu di setiap pejaman mata. Rindu yang memaksaku untuk bergumul dengan kata-kata karena itulah reinkarnasi terakhirmu.

Selasa, 01 Juli 2014

Mengapa Mudahnya Pria Menganggap Perempuan Tak Ada?

ilustrasi

Mengapa laki-laki mudah sekali untuk tak 'menganggap' perempuan ada? Saya tidak pernah membuat penelitian khusus soal ini, tapi cerita di bawah ini mungkin bisa sedikit menjelaskan.

Sepasang suami istri yang cukup saya kenal, punya tiga anak dengan usia sekitar 14 tahun, 12 tahun dan 1 tahun. Mereka bukan keluarga yang berlebihan, tapi juga tidak terlalu kekurangan. Sudah punya rumah sendiri, dan punya kios kecil yang dikelola untuk membantu menopang kehidupan sehari-hari. Suaminya bekerja di sebuah bengkel dengan penghasilan yang tidak terjadwal.

Belum lama ini keluarga kecil itu mengalami cekcok. Masalahnya sepele, si istri rupanya membuka usaha sampingan tanpa sepengetahuan suaminya. Awal saya juga tak setuju dengan cara ini, bagaimanapun sepasang suami istri haruslah saling terbuka. Tak boleh ada yang ditutup-tutupi, begitulah salah satu 'trik' kelanggengan rumah tangga yang sering saya baca di buku-buku motivasi.

Senin, 23 Juni 2014

Anak yang Dihukum Ibunya

ilustrasi
Aku sedang tidur. Di antara sadar dan tidak kudengar suara langkah kaki orang dewasa masuk ke kamar. Diikuti suara langkah anak kecil sambil menangis terisak-isak. Lalu mengempaskan pantatnya di ranjang tempat aku meluruskan badan.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pukulan, tamparan -tidak begitu kuat- di pipi si bocah tadi. Akhirnya aku benar-benar terbangun tapi sengaja tidak membuka mata. Aku pura-pura tidur, sedikit pun tidak berkutik.

Orang dewasa itu - aku langsung mengenalnya begitu mendengar suaranya- sepertinya sangat kesal. Ia mencubiti anaknya berkali-kali, memukuli pantatnya, sampai-sampai anaknya yang berusia delapan tahun menangis hingga suaranya hilang. Beberapa makian yang diucapkan sambil berdesis turut kutangkap. Si anak meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi ibunya saat itu juga. Lalu si ibu menghukum anaknya dengan hukuman fisik seberat itu.

Aku belum menikah, jadi belum tahu bagaimana rasanya menjadi ibu. Walau aku punya keponakan dan sepupu yang masih balita dan sangat kusayang, tentu rasanya berbeda dengan mengurus anak sendiri. Dalam tidur siang itu, aku berpikir, seorang ibu-atau ayah- apakah pantas memperlakukan anaknya seburuk itu. Apakah karena mereka 'memilikinya' lantas merasa boleh memperlakukan anak-anaknya sesuka hatinya?

Apa yang salah dengan permintaannya?
Kukira yang salah justru kita para orang dewasa, yang terlalu terburu-buru emosi dan menganggap anak-anak kita mampu memahami kondisi orang tuanya. Yang meminta mereka memahami kondisi kita sementara kita tidak mau memahami kondisi mereka. Yang meminta mereka menjadi anak baik sementara kita tidak menunjukkan sikap baik kepada mereka.[] 

Minggu, 15 Juni 2014

Arti Kehilangan

Arti Kehilangan
Tak kuasa kuhalangi senja agar tidak menelan sosokmu. Setelah malam-malam kemarin, mungkin kita hanya akan bertemu dalam mimpi. Atau tidak sama sekali?

Aku belajar menerjemahkan perih yang bukan berasal dari goresan mata belati, tak perlu kukatakan lagi, sebab nyeri itu begitu menusuk-nusuk. Tak ada luka yang menganga, tak ada darah yang mengalir, tapi sakit.

Di senja yang sebentar lagi sempurna gelap aku belajar arti kehilangan, bahwa kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah kumiliki, jauh lebih menyakitkan dari pada pasir yang kugenggam kemudian diterbangkan angin.