Kamis, 13 April 2017

Saus Kehidupan



BEBERAPA hari lalu bersama seorang teman, Astina, saya mendatangi kafe baru di Jalan Ali Hasyimi Banda Aceh. Namanya UK Lounge. Kafe ini baru dibuka beberapa hari sebelumnya. Saya sendiri baru mengetahui keberadaannya setelah direkomendasikan seorang teman. Padahal saban hari saya melewati jalur ini, karena kantor tempat saya bekerja berada satu jalur.

Tapi, ya begitulah! Kehadiran kafe atau kedai kopi baru hal yang lumrah di Banda Aceh. Sesuai julukannya, Negeri Seribu Warung Kopi, di sini kedai kopi tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak heran jika kehadiran satu warung kopi membuat kedai kopi lain mati suri.

Saya yang baru pertama kali datang ke kafe ini langsung menyukai suasananya yang didesain dengan konsep bernuansa British. Sama halnya dengan saya, Tina juga menyukai dekorasi kafe ini. Meski hanya terdiri dari satu pintu toko, kafe ini terasa nyaman dan lega karena memanfaatkan ruang kosong di bilah samping dan teras toko.

Kursi-kursi ditata apik. Antara satu meja dengan meja lainnya tidak saling berdekatan, sehingga mempunyai ruang yang cukup bagi pengunjung untuk hak privasi mereka. Perpaduan warna bata dan hitam juga menjadi daya tarik tersendiri. Saya dan Tina, yang memang terlahir sebagai generasi milenial memanfaatkan kondisi ini dengan baik. Bermodalkan kamera ponsel kami berfoto di setiap sudut yang menurut kami menarik mata.

Tina yang datang lebih dulu memilih tempat duduk di bilah samping. Posisi yang cukup nyaman untuk menyesap sajian chocolate mousse yang menjadi salah satu menu istimewa di UK Lounge. Dari sini kami bebas menyaksikan kesibukan di jalan protokol.

Tak lama setelah kami duduk hadir pelayan membawakan daftar menu. Seorang anak muda dengan setelan celana dan kemeja hitam. Senyumnya ramah. Hanya saja saat kami menanyakan beberapa menu di daftar, dia belum menguasainya. Wajar saja mengingat usia kafe ini baru terbilang hari.

Saya dan Tina kompak memesan chocolate mousse. Saya turut memesan seporsi nasi goreng regular untuk mengganjal perut. Berselang menit kemudian chocolate mousse yang disajikan dalam gelas jenjang terhidang di meja kami. Beberapa saat kemudian nasi goreng reguler pesanan saya hadir.

Nasi goreng ini ditata apik dalam piring datar berwarna hitam pekat. Di atas tumpukan nasinya ditangkupkan telur mata sapi. Ada dua iris timun, seiris tomat dan selada, serta sepotong makanan yang saya tidak ketahui namanya. Hanya nasi goreng biasa. Tetapi yang membuat saya tertarik adalah tambahan saus tomat yang menghiasi sebagian piring. Menambah kesan ramai dan semarak. Dan tentu saja menggoda selera makan saya untuk segera mencicipinya.

Sembari menikmati suapan demi suapan nasi goreng tersebut, pikiran saya terus berkelana. Membayangkan, ada kalanya kehadiran seseorang dalam kehidupan kita seperti tambahan saus tomat dalam sepiring nasi goreng ini.

Kehadirannya mungkin tidak akan mengubah banyak hal. Tapi setidaknya telah membuat hidup kita lebih bercitarasa, kaya warna, lebih semarak, dan kita lebih bersemangat melewati hari-hari yang bisa saja tidak sesuai harapan.

Hal ini mengingatkan saya pada Saddam, teman baru saya. Usia pertemanan kami baru lewat seminggu, dengan proses perkenalan yang lucu. Setelah beberapa kali gagal ketemuan, Sabtu lalu kami bisa ketemuan juga sambil lari pagi.

Rabu, 12 April 2017

Rahasia Tuhan

Foto @SaddamAlfiya


Kita tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan mengirimkan seseorang dalam kehidupan kita.
Dengan kehadirannya;
beban yang berat terasa menjadi ringan
wajah yang muram berangsung menemukan cahaya
bibir yang mengatup seketika merekah laksana sabitnya bulan

Tuhan punya banyak rahasia. 
Adakalanya kita pahami lewat seseorang;
melalui ucapannya yang bijaksana
lewat rengkuhannya yang menenangkan
lewat genggamannya yang menghangatkan
lewat senyumannya yang menggugurkan kegundahan
lewat kata-katanya yang jenaka namun meneduhkan

Kita juga tak pernah tahu, mungkin saja kita adalah 'rahasia' Tuhan untuk seseorang.
Yang ditemukan setelah melewati jalan panjang dan berkelok.
Ya, kita tak pernah tahu apa yang ada di ujung jalan sana sampai kita menyelesaikan perjalanan ini.

Selasa, 11 April 2017

Terbakarnya Rumah Kami

Atap menganga dari ruang tamu

Pada kayu yang menjadi arang //
Pada puing yang menjadi abu //
Ada luka yang kian menganga //
Kesedihan yang bertumpuk-tumpuk ini.... //
Apakah luka tak bisa disembuhkan tanpa luka baru? // 
Keude Dua, 15 Maret 2017
***

HATI mana yang tak hancur melihat rumah yang dibangun almarhum orang tua kita dengan susah payah, hangus terbakar? Begitu juga denganku.

Siang itu, Rabu, 15 Maret 2017, aku tak kuasa menahan emosi ketika melihat kerangka atap rumah kami telah menjadi arang. Plafon rumah yang terbuat dari asbes hancur berkeping-keping. Berceceran di lantai. Saat aku menginjaknya, terdengar seperti kerupuk yang diremas paksa. Bekas siraman air dari tangki mobil pemadam membuat lantai menjadi becek. Aku terpaksa berjinjit ketika melewati ruang demi ruang, takut ada paku atau terkena serpihan asbes yang tajam.

Atap yang terpaksa dibobol untuk memudahkan petugas memadamkan api, kini menjadi pintu masuk cahaya matahari yang siang itu sangat garang. Aku memandang gumpalan awan di ketinggian sana dengan hati yang terkoyak-koyak. Hatiku bergejolak hebat. Aku mengerjap berulang kali agar air mataku tak sampai jatuh.

Saddam; Sebuah Teka-Teki Baru

Saddam berlari menyusuri jalan yang menanjak di Mata Ie, Aceh Besar.


SADDAM. Mengeja namanya mengingatkanku pada seorang petinggi negeri di Irak yang berakhir di tiang gantungan. Perkenalan dengan teman baruku ini terbilang unik. Ngomong-ngomong hari ini satu minggu usia pertemanan kami. Usia pertemanan yang sangat muda.

Berawal dari sebuah gambar yang di-share Saddam di sebuah grup. Ia menawarkan mesin cuci second dengan harga yang sangat miring.  Terbersit rasa kasihan, kuberanikan diri menyapanya lewat jalur pribadi. Mungkin orang ini sedang butuh uang, begitu pikirku saat itu.

“Merk apa mesinnya?” tanyaku lewat pesan WhattsApp.

“Ini dengan siapa?”

“Ihan. Di grup...” aku menyebutkan nama grup yang kami ikuti.

“Oh iya ya ya. Lagi nyari mesin cuci ya?”

“Enggak juga sih. Itu berapa lama sudah dipakai?”

“Kurang tahu juga. Ni dikirim yang jelasnya yaaa.”

Jumat, 10 Maret 2017

Yang Tak Pernah Kembali

Ilustrasi @google

MENTARI baru saja pulang. Terburu-buru. Di kejauhan sang waktu berdiri sambil berkacak pinggang. Seolah berkata; kalau kau tak segera pulang, maka kau akan mendapat hukuman dari pemilik semesta. Mentari selalu patuh. Tak peduli bagaimanapun semua makhluk berharap agar ia bertahan lebih lama walau sedetik saja.
Mentari tak ingin mencuri jatah rembulan. Kekasih yang sudah dipasangkan pemilik semesta untuk menjadi temannya di dunia ini. Meski tak bisa terbit bersamaan, baginya justru itu merupakan bentuk ketulusan dan kerelaannya dalam memiliki.
Akupun beranjak. Menyudahi ritualku menyaksikan seremoni pergantian waktu dari terang menjadi gelap. Bersamaan dengan rapatnya daun jendela, bulan sudah menyembul di balik gumpalan awan. Semuanya menjadi senyap. Daun-daun berhenti bergemerisik. Burung-burung sudah kembali ke sarang.
Dering telepon mengagetkanku. Kulipat sajadah. Kemudian bangkit meraih smartphone di kasur. Panggilan masuk dari Julie.
"Ya, ada apa?"
"Suaramu lemas sekali. Apa kau sakit, Lila?"
"Tidak. Aku hanya sedang malas."
"Malas kenapa?"
"Malas menerima telepon darimu."
"Oh Lila manis, kau bisa kuwalat nanti bicara begitu padaku." Julie meringkik seperti kuda betina yang sedang dilanda asmara.
"Ada apa Julie. Kenapa magrib-magrib begini sudah menghubungiku, apa kau tidak salat?"
"Aku sedang cuti."
"Pantas saja..."
"Kau ada acara apa malam ini."
“Tidak ada. Aku mau tidur saja. Badanku letih,” refleks aku menyentuh tengkuk. Untuk memastikan kalau aku memang letih.
“Letihmu tidak akan hilang kalau kau bawa tidur saja, Lila.”
“Jangan bertele-tele.”
Julie kembali meringkik. Sahabatku yang satu itu seorang sanguinis sejati. Ia selalu ceria dan kadang aku iri padanya. Hidupnya seperti tidak pernah ada masalah. Julie sangat menikmati hidupnya. “Aku ingin mengajakmu minum kopi. Sudah lama kita tidak minum kopi bersama kan Lila. Tadi siang aku membuat cake, nanti akan kubawa sebagai teman minum kopi.”
“Mana sempat kau minum kopi denganku, sejak menikah kau berubah. Bisa kuhitung dengan jari berapa kali kau mengajakku bertemu,” jawabku pura-pura merajuk.
Julie sahabat terbaikku di kota ini. Kami berteman sejak masih kuliah. Kami saling mengunjungi dan berbagi cerita karena sama-sama anak rantau yang kekurangan uang jajan. Hobinya membuat kue dan membawanya pada takdir yang indah.
Sejak dua tahun lalu Julie punya toko kue. Ia punya pelanggan dari sejumlah instansi di ibu kota provinsi ini. Semua itu ia dapatkan berkat hubungan asmaranya dengan Faiz. Pegawai di sebuah instansi pemerintahan provinsi. Setahun terakhir mereka meresmikan cintanya sebagai sepasang suami istri. Sejak itu Julie sering menggodaku karena tak kunjungi mengikuti langkahnya.
“Lila, kau tahu kan ini akhir tahun. Bang Faiz sibuk dengan pekerjaannya. Kadang-kadang dia hampir lupa menjemputku di toko.”
“Malang sekali nasibmu kawan.”
“Ya begitulah. Tapi kurasa lebih malang lagi sahabatku yang setiap Sabtu malam harus buru-buru membentangkan kasurnya dengan alasan badannya letih.”
Aku ingin meninju Julie saat itu juga kalau saja kami tidak sedang berbicara di telepon.
“Katakan di mana aku harus menemuimu Julie,” jawabku dengan muka panas.

Selasa, 07 Maret 2017

4 Jurus Sarkas Menjawab Pertanyaan 'Kapan Nikah?'

Ilustrasi dari Google


SERING mendapatkan pertanyaan 'kapan nikah' ada kalanya memang menyebalkan ya, Ladies. Apalagi kalau pertanyaan itu datang pas masa-masa PMS atau tanggal tua, apa hubungannya ya hihihi.... Lebih-lebih kalau yang nanya itu temen sendiri yang nikahnya juga baru bulan kemarin. :-P

Tapi nggak perlu sewot sampai berewokan kok, Ladies. Santai aja. Telat menikah bukan berarti kamu nggak laku, bisa jadi jodohmu nanti adalah Shahrukh Khan atau Brad Pitt. Syukur-syukur bisa dapat pangeran Arab yang gantengnya bikin hati meleleh. Atau jangan-jangan malah Arap Maklum xixixixi.

Biasanya, kalau ada yang nanya begituan apa sih jawaban kamu? Diem aja, senyum-senyum aja, kedip-kedip, atau cengengesan sambil bilang.....'cariin dong' dengan muka memelas kayak daun talas keriting.

Minggu, 05 Maret 2017

Lentera

Ilustrasi @id.anawalls.com


Malam sudah terlalu uzur. Harusnya aku sedang terbuai mimpi sekarang. Tapi apa daya, kandungan kafein dalam kopi instan yang kuteguk usai magrib tadi masih membelengguku. Terus terang, aku membenci situasi seperti ini.

Tak bisa tidur artinya akan banyak kenangan yang melintas tanpa permisi. Melenggang bagai penyanyi di panggung murahan yang mengundang hasrat. Mau tak mau aku terpaksa mengingatnya kembali. Memejamkan mata bukan untuk tidur, melainkan untuk mengingat kenangan.

Kenangan paling mengusik itu adalah tentangmu, Tera. Pertama-tama aku akan terlempar ke Sabtu sore saat pertama kali kita berkenalan. Di sebuah taman peninggalan raja paling masyur negeri ini. Aku ingat sekali, kau mengenakan jeans pudar dengan atasan kemeja flanel kotak-kotak hitam dan merah. Simbol ketegasan dan keberanian. Dua warna yang juga amat kusukai.

Kau, dengan kamera ponselmu memotret semua objek yang menurutmu menarik. Aku memperhatikan gerakanmu dari jauh. Kadang kau berjongkok, ada kalanya duduk, atau merunduk. Tergantung posisi objek yang ingin kau tangkap. Sama sekali tak peduli pada keadaan di sekelilingmu. Tak sedikitpun kau merasa terganggu dengan lalu-lalang manusia yang memadati taman ini setiap sorenya.

Sampai kemudian kau duduk di bangku permanen di bawah pohon angsana yang sedang berbunga. Hanya berjarak beberapa meter dari tempatku duduk sejak tadi. Saat angin bertiup bunganya yang kekuningan berguguran. Menimpa dirimu.

Aku melempar senyum dengan kikuk. Kau merespons datar. Matamu fokus menatap ke layar gawai, sementara jari-jemarimu terus bergerak. Kau pasti sedang melihat-lihat hasil buruanmu tadi.

"Kau pasti brand ambassador untuk merk ponsel itu kan?" tanyaku kemudian. Bertanya sekenanya hanya untuk mengajakmu bicara.

Kau menoleh. Sempat kulihat keningmu berkerut. "Brand ambassador?" kau justru menjawab dengan pertanyaan.

"Kalau begitu kau pasti seorang blogger. Aku punya beberapa teman blogger yang hobi memotret dengan kamera ponselnya. Hasil jepretannya kemudian mereka unggah di website pribadi, salah satu trik untuk menarik pengunjung, dengan begitu mereka akan mendapatkan feedback financial dari penyedia jasa. Ya... something like that, kau pasti paham maksudku," kataku panjang lebar.

Di luar dugaanku, keningmu makin berkerut. Jelas memancarkan kebingungan.

"Apa itu blogger?" tanyamu polos.

Mendengar pertanyaan itu justru aku yang menjadi bingung. "Benarkah kau tak tahu apa itu blogger?" tanyaku dengan senyum terkulum.

Dengan menggigit bibir kau menggeleng. Matamu mendelik jenaka. Membuatku yakin kalau kau memang tak paham soal itu.

"Lain kali kita bicarakan soal itu. Oh ya, namaku Pagi. Pagi Semesta. Kau boleh memanggilku Egi atau Eta," aku menyodorkan tangan.

"Tera," jawabmu singkat.

"Tera? Hanya Tera?"

"Lentera."

"Namamu unik, Tera."