Sabtu, 17 Februari 2018

Memoar Matahari Terbit #1; Padang Peutua Ali

Memoar Matahari Terbit #1; Padang Peutua Ali
Village @bbc.jpg
Lanskap yang menunjukkan kondisi alam pedesaan. Foto dari bbc.com
Desa itu, Padang Peutua Ali namanya, dalam ingatanku adalah sebuah surga. Sulit sekali melepasnya dalam ingatan meskipun nyaris dua puluh tahun tak lagi tinggal di sana. Sejak beberapa tahun terakhir malah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana. Inilah punca kerinduan bertubi-tubi, sehingga kerap hadir di dalam mimpi.
Ya, mimpi menjadi semacam medium tertentu buatku. Ketika aku memikirkan sesuatu, ketika aku mengingat seseorang yang jauh, yang kupikir dan kuingat itu kerap hadir di alam mimpi. Bunga-bunga tidur. Begitulah rindu menyelesaikan persoalannya di dalam hidupku.
Tak terkecuali Padang Peutua Ali, sebuah desa nun di pedalaman Aceh Timur sana. Masih kerap mampir di mimpi-mimpi indahku hingga hari ini. Mimpi-mimpi itulah yang menggerakkan aku untuk melahirkan catatan ini. Hm, tidak, pedalaman itu dulu, ketika jalan masih berlubang, ketika listrik belum ada, ketika moda transportasi belum massal seperti sekarang. Tapi kabarnya, jalan menuju Padang Peutua Ali sampai sekarang masih bopeng-bopeng. Namun jaringan listrik sudah tersedia (kembali).
Secara administrasi, Padang Peutua Ali masuk ke Kemukiman (kelurahan) Lhok Leumak di Kecamatan Darul Ihsan (setelah dimekarkan dari Kecamatan Idi Rayek), Aceh Timur. Desa ini terdiri dari beberapa lorong, di antaranya Lorong Mampre, Lorong Binjai, dan Lorong Pelita. Di lorong yang terakhir inilah kenangan masa kecilku banyak terserak. Dan aku sedang berusaha mengumpulkan kembali kenangan yang terserak itu.
Ayah dan ibuku berdarah Pidie, walaupun keduanya sama-sama lahir dan besar di Aceh Tamiang. Orang tua mereka sama-sama berasal dari Teupin Raya sebelum merantau ke timur Aceh. Tempat aku menumpang dilahirkan, sebelum dibawa pulang ke Idi Rayek, dan dibesarkan di Padang Petua Ali. Di sanalah Ayah dan Ibu menguji kemandirian mereka dalam berumah tangga.
Ingatanku akan desa itu tak pernah pupus. Konturnya berbukit-bukit. Yang sejauh mata memandang dibungkus pemandangan hijau berupa kebun-kebun penduduk. Umumnya kelapa dan kebun kakao. Jalannya berlapiskan tanah dan dipenuhi rerumputan. Nyaris tak ada beda antara jalan utama dengan jalan menuju kebun. Kalau hujan sudah pasti becek dan licin. Padang Petua Ali adalah desa transmigrasi yang heterogen. Belakangan kusadari, keheterogenan ini memberikan dua dampak sekaligus; positif dan negatif.
Di tahun 90-an, saat aku masih duduk di sekolah dasar. Saban pagi aku bangun karena kicauan Ibu dan kicauan burung-burung. Uap hangat mentari pagi merambati rumah kami yang kecil. Paru-paruku yang kerap dibelit asma selalu berlimpah udara segar. Pengalaman bangun tidur paling indah adalah ketika hidungku menangkap aroma dari kuah Indomie yang sedang mendidih.
Rupa rumah kami itu tak lebih dari sebuah kotak dengan sebilah ruang tamu, dua bilah kamar tidur yang sempit, dan sebilah ruangan berlantai tanah sebagai dapur. Ruang tamu dan kamar tidur, sudah beralaskan semen namun kondisinya mengenaskan. Pecahan-pecahannya mirip cermin retak. Rumah itu dipayungi atap dari daun rumbia, yang di sudutnya kerap bolong karena tertimpa buah kelapa yang pohonnya tumbuh persis di sudut dapur.
Rumah itu adalah rumah pertama yang ditempati Ayah dan Ibu. Aku masih ingat detailnya sampai sekarang. Di ruang tamu, cuma ada satu perkakas, yaitu lemari (hias) warna kuning pucat dengan kombinasi hijau di sudut-sudutnya. Sebuah tempat tidur berangka besi dipasangkan Ayah di kamar untuk aku dan adikku yang nomor dua. Itulah istana kami. Sebelum tidur kami kerap bermain rumah-rumahan. Kadang Ibu ikut bergabung bersama kami dan menceritakan cerita zaman. Tempat tidur rangka besi itu menjadi saksi bagi perkembangan imajinasi kanak-kanakku.
Belakangan lemari hias di ruang tamu itu menjadi tempat bertenggernya sebuah televisi hitam putih second ukuran 14 inci merk Fuji Electric yang dibeli Ayah. Di tumpuk kami, Ayah adalah orang pertama yang membeli televisi ketika itu. Televisi bertenaga aki itu menjadi saksi bagi sejumlah warga untuk menonton acara hiburan seperti Kamera Ria, Safari, Irama Masa Kini. Dan yang paling sukar dilupakan adalah acara film G30 SPKI yang diputar saban 30 September setiap tahunnya.
fuji elektrik.jpg
Seperti inilah rupanya televisi Fuji Elektrik di rumah kami dulu. Foto dari jayaserviselektronik.blogspot.co.id
Terkikik-kikik aku jika mengenang akan hal ini. Pernah suatu kali, saat sedang asyik menonton film G30 SPKI, tiba-tiba baterai aki itu habis pula dayanya. Televisi yang besarnya tak lebih dari laptop yang kita pakai sekarang itu akhirnya seperti tersuruk-suruk sebelum padam. Lalu muncullah inisiatif jitu, aki di rumah Wak Sabar yang baterainya sedang habis, diambil dan digandengkan dengan aki di rumah kami. Inilah makna sebenarnya dari rumus minus (-) tambah (+) minus (-) sama dengan (=) plus (+). Televisi ini juga menjadi saksi dari serial kartun Jepang seperti Doraemon, Ultraman, Satria Baja Hitam, dan lainnya.
Nyaris seratus persen warga Padang Peutua Ali adalah petani. Rumah-rumah warga memiliki bentuk yang serupa walau tak sama. Penghuni desa ini hanya berkisar puluhan KK saja yang tersebar secara berkelompok di beberapa titik. Di tahun 90-an itu, Padang Petua Ali masih gelap gulita. Sumber energi untuk menerangkan rumah-rumah penduduk masih mengandalkan lampu sumbu dan minyak tanah. Harganya masih Rp300 perliter. Harga sebungkus Indomie waktu itu masih Rp250. Ayo... siapa yang masih ingat? Harga emas satu mayamnya masih berkisar seratusan ribu. Tapi tak juga sanggup membelinya.
bunga.jpg
Di Lorong Pelita tempat kami tinggal inilah berdiri sebuah rumah sekolah. Pada tulisan berikutnya akan aku tulis dengan detail bagaimana kisah mula berdirinya sekolah ini. Di sekolah ini aku belajar tulis baca. Itu di era kejayaan black board. Era di mana kapur tulis masih berdiri tegak di papan tulis hitam. Lalu sisa puntungnya menjadi rebutan bocah-bocah SD kemaruk belajar. Modal belajar kembali di rumah. Daun pintu, dinding, atau daun jendela adalah papan tulis kami di rumah.
Kesulitan utama warga desa adalah kebutuhan akan air bersih. Memang susah mendapatkan mata air dengan kondisi desa yang berada di dataran tinggi. Parit-parit menjadi andalan utama setiap warga. Jika musim kemarau tiba, tak jarang jarak berkilo-kilometer harus ditempuh demi satu ember atau satu dua jeriken air bersih. Sumur-sumur kecil digali di pinggir-pinggir parit di dekat pohon pisang untuk menampung air.
Tapi warga di sana tetap hidup bahagia. Aku, pun sering kutanyakan pada Ibu, mengapa kadar kebahagiaan kami terasa berbeda ketika tinggal di Padang Peutua Ali dulu dengan di kampung yang sekarang? Kata Ibu, karena silaturrahmi antarwarga di sana terjalin dengan akrab. Sesama warga saling membudayakan tradisi memberi satu sama lainnya. Entah itu makanan, sayuran, hasil panen, atau apa pun. Setiap lebaran tiba, nyaris tak ada rumah yang terlewati untuk dikunjungi. Kue-kue disajikan, minuman dihidangkan. Meriah!
Laiknya bayi, Padang Petua Ali tumbuh menjadi balita yang sehat dan menggemaskan. Perlahan tapi pasti, ia mulai bertumbuh. Kebun-kebun yang ditanami tanaman tua mulai memasuki masa panen, sehingga berdampak langsung pada perekonomian warga yang membaik. Sembilan tahun kemudian Lorong Pelita tiba-tiba berubah gelap gulita. Kehidupan berhenti berdenyut. Nadinya terputus. Meninggalkan trauma dan luka di hati kecil kami.[]

Senin, 12 Februari 2018

Teman Bertengkar yang Tak Seru


Teras kost-ku yang sempit telah aku sulap menjadi small garden untuk beberapa pot bunga. Ada jeumpa, seulanga, beberapa jenis mawar, melati, kembang sepatu, lavender, krisan. Beberapa di antaranya sedang mekar. Menyiram bunga-bunga itu kini menjadi aktivitas baruku saban pagi dan senja.
Kini, setiap pulang beraktivitas di sore hari, aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Melainkan menyempatkan diri untuk membersamai bunga-bunga itu. Aku sempatkan untuk menyapa tanaman-tanaman itu dengan menyentuh daun-daunnya, memeriksa batangnya, melihat-lihat kelopak bunganya, hingga merapatkan hidungku dengan kuntum-kuntum bunganya. Menyesap wewangian yang berasal dari inti sarinya.
Aku juga sering memotret bunga-bunganya yang sedang mekar. Ini adalah ungkapan kasih sayangku kepada tanaman yang telah memberi kesenangan tersendiri setiap aku melihatnya. Begitu juga di pagi hari, hal terindah yang aku rasakan adalah setiap membuka pintu, bunga-bunga itu seperti mengucapkan halo dan selamat pagi. Kini, selain Zenja, bunga-bunga di teras rumah itu adalah sumber kebahagiaan baru buatku. Kadang-kadang aku berbagi kebahagiaan itu dengan mengirimkan Zenja foto-foto bunga di taman mungilku.
Menyebut nama Zenja, hatiku berubah mekar seperti bunga-bunga di atas. Ia adalah inspirasi yang menggerakkan aku dalam berkreativitas. Teman bertengkar yang tak seru. Sebab tak pernah mau meladeni rajukanku. Suatu ketika, dengan emosi di puncak kepala aku mengatakan, "aku masih ingin marah denganmu."
"Marahlah biar hatimu puas," jawabnya dengan santai.
"Mana bisa aku marah kalau kau tidak merespons."
Krik-krik. Zonk
Sore tadi kembali kami berbalas cerita di bilik chatting. "Kenapa harus selalu aku yang menyapa lebih dulu setiap kali setelah aku merajuk-rajuk."
"Karena kamu yang merajuk. Not me."
"Kau tahu aku merajuk, tapi kenapa tidak membujukku. Merajuk itu artinya aku rindu padamu."
"Tidak membujuk itu aku juga rindu artinya."
"Hmm..."
Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sebab cinta hanya meminta kita untuk merasakan. Maka aku merasakan setiap gejolaknya. Lalu memilih bahagia dengan caraku. Dengan cara mencintai tanpa syarat.[]

Kamis, 08 Februari 2018

Secangkir Kopi dan Seikat Krisan



Mari mengawali pagi dengan secangkir kopi panas dan seikat kembang krisan. Aku jepret khusus untuk kukirimkan kepadamu, agar harimu berwarna, untuk menunjukkan kalau hatiku sedang mekar. Seperti krisan-krisan di taman mungilku. 

Aku suka kopi yang pahit, rasanya seperti rindu yang terjepit. Meninggalkan candu di ujung lidah, persis seperti aku yang mencandui dirimu. 

Selamat pagi, untukmu yang kemarin sore memanggilku, Cinta. 

Kau tahu, seketika hatiku mengembang, seperti adonan yang diberi pengembang. Serupa es krim, kau melumerkannya dengan mudah. 

Good morning, 
Kecup sehangat kopi dan selembut bunga. 

Love you

Rabu, 07 Februari 2018

Aku Makhluk Kesunyian


Petang tadi aku mengunjungi Taman Wisata Krueng Aceh di sisi Jalan Cut Meutia, Banda Aceh. Taman ini selalu saja menarik perhatianku, tapi baru petang tadi niatku untuk bersantai di sini kesampaian. Beberapa bulan lalu aku pernah merapatkan tapak sepatuku dengan batu-batu alam yang melapisi trotoar di bantaran sungai. Numpang lewat menuju jalan pulang. Sambil berkejaran dengan waktu yang hampir sempurna gelap, dibantu Yelli, terekamlah beberapa gambar di ruang memori ponselku.
Tak lewat dari pukul setengah enam aku tiba di taman itu. Menaiki beberapa anak tangga, memijak kaki di trotoar, kemudian menuruni beberapa anak tangga lagi. Lalu berjalan menyusuri lorong setapak di antara taman bunga menuju salah satu kursi yang menghadap ke Krueng Aceh. Kursi-kursi yang dirancang khusus dan muat hanya untuk sepasang manusia berbadan ideal.
Dengan rancangan kursi seperti itu, tentunya menjadi pilihan paling nyaman bagi muda-mudi kasmaran untuk menghabiskan sore jingga mereka di taman ini. Sambil bercengkerama, tertawa malu-malu kala salah satunya menggoda, untuk menghabiskan sebungkus dua bungkus camilan sebagai bekal. Dalam diamku tadi, terlintas di benak, alangkah tak adilnya jika kemudian ada polisi khusus yang di waktu-waktu tertentu datang menghalau muda-mudi yang duduk di sini. Harusnya yang merancang kursi-kursi itu yang dihalau.

Aku memilih salah satu kursi. Mungkin karena bukan akhir pekan, sehingga taman ini tampak lengang. Dari tempatku duduk, di kursi sebelah kanan terlihat seorang pria duduk di sana, hanya ditemani ranselnya yang tergolek masai di sebelahnya. Pria ini bergerak meninggalkan taman pada pukul setengah enam lebih tujuh menit.
Di kursi di sebelah pria dengan ransel tergolek tadi, duduk seorang pria berkaus hijau berkerah, celananya bermotif tentara, dia juga sendiri. Duduk dengan kaki ditegakkan sebelah, dan jari-jari tangan kanan menjepit sebatang rokok. Di kursi di sebelah lelaki bercelana motif tentara itu, ada sepasang manusia di sana, lalu di kursi berikutnya hanya tampak seorang manusia teronggok di sana.
Di sini, di tempatku duduk, aku juga sendirian, tapi bertemankan sebuah buku karangan penulis berambut kriwil Andrea Hirata. Antara aku dan Andrea punya satu kesamaan; punya setitik tahi lalat di dekat bibir. Aku suka cerita-cerita yang ia tulis di dalam bukunya yang berjudul Sirkus Pohon. Aku pernah mengikuti kelas menulis dengannya pada 2007 silam. Di balik untaian kalimat yang jenaka, terselip pesan moral dan intisari cerita yang bikin mata batin terbuka. Andrea oh Andrea, bilakah aku mampu menulis sebohai itu?

Membaca bab demi bab dalam Sirkus Pohon seperti menghisap candu tak berkesudahan. Benar-benar terbuai kita (aku) dibuatnya. Cobalah sejenak kawan-kawan bayangkan, duduk di tepi Krueng Aceh ini saja sudah membuat senang hati luar biasa. Aku merasakan berulang-ulang kesiur angin lembut hinggap di kulitku. Di seberang sungai, punggung-punggung rumah toko terhalang pandang dengan tanggul, rerumputan, dan pohon di dekat bantaran sungai.
Saat aku membuang pandang ke bilah kanan, tampak jembatan Pante Pirak yang ramai oleh kendaraan. Sementara di sisi sebelah kiri, di kejauhan sana menjulang menara masjid di Peunayong yang hijau. Berada di sini membuatku teringat pada sepotong cerpen berjudul Di Tepi Sungai Pidra, karya pengarang terkenal Paolo Coelho. Aku pun teringat pada sungai Rhein yang membelah kota-kota di Benua Biru nun jauh dari tempatku berada. Juga potongan imajinasi pada Selat Bosphoros yang memisahkan Turki dengan dua benua sekaligus.
Ditambah dengan teman dalam wujud sebuah buku yang renyah dan berbobot seperti ini, bukankah berkali-kali lipat senangnya? Sesekali, saat mata lelah, aku menyantap buah langsat yang kubeli di Pasar Kampung Baru. Sore tadi, sebelum ke sungai, aku mampir ke warung Asahi untuk menikmati hidangan berupa nasi putih dengan sayur pakis, dan semur ayam. Plus tiga keping jengkol rendang yang dalam pandanganku dengan perut lapar, tampak seperti kepingan-kepingan mata uang digital Bitcoin yang sedang heboh itu.
Dalam suap demi suap itulah karangan buah langsat yang warna kulitnya menjadi dambaan banyak perempuan terlihat oleh mataku. Mungkin tanpa bantuan kacamata, buah-buah langsat itu takkan tampak. Aku menukar selembar dua puluh ribuan untuk sekilo langsat.
Ratusan burung-burung hitam bersayap kecil sempat mengusik kekusyukanku. Aku menoleh ke udara. Decit berdecit suaranya tembus ke telingaku. Burung-burung ini seketika mengingatkanku pada bungkus bubuk agar-agar merk Sriti. Maka kusebut saja dia burung sriti. Nama latinnya Collacalia esculenta.
Jika sedang tak hujan di hulu, air sungai ini biasanya berwarna kehijauan. Tidak keruh seperti tadi. Beberapa tumpuk sampah mengapung di permukaan. Permukaannya yang biasanya tampak berkilau-kilau, sore tadi hanya tampak beriak-riak kecil tanpa kilau cahaya. Sebab langit Banda Aceh memang agak dikulum mendong sore tadi. Tapi itu justru menambah kenyamanan duduk di tepi sungai.

Aku menikmati betul kesendirianku ini. Aku bisa menenggelamkan diriku sedalam-dalamnya ke berlembar-lembar buku yang sedang kubaca. Sesekali berbalas pesan dengan teman-teman di Whatsapp. Aku adalah makhluk kesunyian. Makhluk yang sangat mencintai suasana lengang dan sunyi. Perihal istilah 'kesunyian' ini, adalah kosakata baru yang kudapat siang kemarin dalam kelas Forum Aceh Menulis yang diampu seorang penyair muda Ricky Syah R.
Ricky mengatakan, seorang penulis umumnya dalah makhluk kesunyian. Karena mereka senang menyendiri untuk mengeksekusi ide-ide liarnya. Tak masalah mereka berada di mana saja, entah itu di warung kopi yang riuhnya bikin kita mengucap berkali-kali, mereka selalu bisa menghadirkan ruang sunyi itu untuk dirinya sendiri. Aku terinspirasi dengan kata kesunyian, dan lahirlah catatan ini; aku makhluk kesunyian.[]
Ditulis pada 25 Januari 2018. Telah dipublikasikan di Steemit

Kamis, 25 Januari 2018

Hantu



Aku tak pernah menduga jika akhirnya kamu hanya akan menjadi hantu di hidupku. Hantu yang terus bergerak, mengekori aku bahkan hingga ke alam mimpi. Membuat tidurku terganggu. Membuat nafasku memburu. Menerbitkan rindu berkali-kali.

Pada akhirnya, ya, pada akhirnya. Mengapa selalu harus berjeda dengan cara seperti ini? Siapa yang lebih egois, api kah, bara kah, atau percik api?

Aku melihat pesawat terbang melintas di atas kepalaku. Aku menyaksikan lampu-lampunya berkelap-kelip. Di perutnya. Di sayapnya. Di ekornya. Merah. Kuning. Hijau. Semoga semua gulana ini ikut terbang bersamanya. Melebur bersama awan yang paling rakus. Biar dia dimamahbiar hingga tak berbentuk.

Senin, 22 Januari 2018

Zelda Tak Pernah Datang


Aku masih di sini. Duduk menikmati angin pantai di pinggiran Ulee Lheue yang berpayung langit tanpa rembulan. Menikmati pendar-pendar cahaya dari lampu penerang jalan yang memantul ke permukaan air. Memunculkan warna pelangi semerah jingga, ungu, biru, kuning, hijau. Seperti garis-garis tak simetris di layar monitor penghitung denyut jantung pasien yang sekarat. Saat ini pasien itu mungkin adalah diriku sendiri.
Kulirik pencatat waktu digital dari layar ponsel. Hanya seperempat kurang dari pukul dua belas malam. Kusedot minuman ringan bersoda untuk membasahi kerongkongan. Rasa asam membuatku meringis. Ah, lidahku rupanya sudah tak bersahabat lagi dengan minuman seperti ini. Kucomot sepotong pisang bakar berlapis keju untuk menetralisir rasa asam.
Aku seperti tak adil pada diriku sendiri. Membiarkan jasadku termangu seorang diri seperti ini. Dikepung angin malam. Digigit nyamuk-nyamuk liar haus darah. Sementara hatiku terbang melayang jauh. Entah ke mana. Hmm, sebenarnya aku tahu. Hati dan pikiranku tertuju pada sebuah pesan elektronik yang masuk ke kotak masuk sepuluh hari yang lalu.
"Tunggu aku di kotamu. Aku akan datang menemuimu, sebelum kelopak-kelopak angsana bermekaran. Aku akan menghubungimu nanti."
Pesan itu telah mengusikku. Saban pagi usai membaca pesan itu, aku terbangun dengan hati dan perasaan penuh debar. Memeriksa ponselku, kalau-kalau ada panggilan masuk yang terlewatkan olehku.
Nyatanya hingga hari ini, belum ada tanda-tanda seseorang itu akan menghubungiku. Sementara itu aku tahu tanggal kedatangannya semakin dekat. Aku bersikukuh menahan diri untuk tidak membalas pesan tersebut, ataupun menghubunginya lewat ponsel.
"Dik, warungnya mau tutup."
Ucapan pria tua penjual jagung bakar di tepi pantai ini mengacaukan lamunanku. Aku terkesiap. Segera kulirik jam digital di ponsel. Oh, sudah lewat dua puluh lima menit dari pukul dua belas. Lampu-lampu di sekitar mulai dipadamkan. Pria itu sedang beres-beres menutup lapak dagangannya.
"Berapa, Pak?"
"Enam belas ribu saja," jawabnya ramah.
Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan. "Sisanya tak usah dikembalikan."
"Terimakasih, Dik. Semoga Allah membalasnya berlipat ganda."
"Aamiin. Bapak juga ya, semoga usahanya berkah dan lancar."
+++
Pagi ini lagi-lagi aku bangun dengan hati riuh bagai bunyi lonceng diterpa angin. Menanti kabar ini sangat menyiksaku. Memengaruhi aktivitasku. Aku jadi ingin malas-malasan saja sambil bermain puzzle block di ponsel.
"Seperti apa wajahmu sekarang, Zelda?" Tanyaku melalui pesan elektronik sebulan sebelumnya.
"Kau bahkan baru saja melihat foto terbaruku."
"Itu cuma foto, dan bisa saja menipu."
"Aku tidak pernah berubah. Setidaknya bagimu dan untukmu."
"Hmm..."
"Kamu?"
"Aku ingin berubah untukmu."
"Oh ya?"
"Ya."
"Seperti apa misalnya?"
"Aku ingin kau pangling saat melihatku nanti."
"Rima, kau selalu membuatku tak bisa bersabar untuk segera bertemu."
Hasrat ingin membuatnya pangling itulah yang mengayunkan langkahku menuju tempat spa di pusat kota. Aku menolak pintu kaca tempat itu dengan hati kian berdebar. Bukan karena aku tak pernah ke sini, melainkan karena aku merasa konyol.
Ada apa denganku? Mengapa aku harus repot-repot memastikan wajahku tidak kering dan tidak kusam saat bertemu Zelda. Aku ingin memastikan kuku-kukuku rapi dan terawat. Hal-hal yang sebelumnya sering kuabaikan. "Cinta. Itu karena cinta," secuil bisikan muncul dari sudut hatiku yang lain.
+++
12 Januari
Kicau burung dari rumah tetangga membangunkanku pagi ini. Kamarku yang sebelumnya gelap kini dipenuhi burai-burai cahaya. Aku meraih ponsel yang terselip di bawah bantal. Memeriksa pesan masuk, email, dan kotak pesan di sosial media. Hufff... tak ada satupun pesan dari Zelda. Aku menggerutu kesal.
Harusnya kemarin Zelda sudah ada di kota ini. Hari ini, 12 Januari adalah hari pertemuan penting yang harus dihadirinya. Ia akan menjadi salah seorang panelis untuk seminar bertopik energi terbarukan yang dibuat oleh salah satu instansi di tingkat provinsi. Aku sudah mendapatkan salinan materi yang sudah dipersiapkan Zelda jauh-jauh hari.
"Kau datang ya, Rima."
"Enggak, aku hanya mau bertemu denganmu. Bukan menyaksikanmu memberi ceramah di ruang dengan kerumunan orang-orang."
Perbincangan kami sebelumnya kembali membayangi.
Perbincangan itulah yang memaksaku datang ke hotel tempat pertemuan digelar. Sampai di lobi hotel, hatiku menjadi tidak karuan. Tanganku rasanya seperti menggigil, bukan oleh dinginnya ruangan karena mesin pengatur suhu. Tapi oleh rasa gugup yang tak sanggup kubendung.
Mungkin Zelda sengaja tak memberi kabar. Mungkin ia sengaja ingin memberi kejutan. Mungkin. Mungkin... Berbagai kemungkinan bermain di benakku. Berputar-putar bagai gasing.
Aku segera mendekati meja panitia. Dua perempuan muda berseragam cokelat menyambut ramah.
"Apa acaranya sudah dimulai?"
"Sudah, Bu. Dua jam yang lalu." Jawab salah satu di antara mereka.
"Oh. Hmm... sesi Pak Zelda pukul berapa?"
Seketika raut kedua perempuan itu berubah. Mereka saling pandang. Lalu seperti menggumamkan sesuatu. Aku bertanya dengan isyarat.
"Hmm... Pak Zelda... batal tampil, Bu."
"Kenapa?"
"Beliau mengalami kecelakaan beberapa hari lalu."
"Kecelakaan?"
"Iya. Kecelakaan mobil yang tabrakan dengan bus beberapa hari lalu, ada kok beritanya di koran."
Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Segera kubuka ponselku dan mencari-cari berita kecelakaan beberapa hari lalu melalui surat kabar online. Sembari berharap berita itu bukan kecelakaan yang dimaksudkan si perempuan tadi. "Yang ini?" Aku menunjukkan judul berita itu.
"Iya, Bu."
Aku membaca potongan berita itu secara cepat. Di paragraf ketiga tertulis salah satu nama korban meninggal dunia yang sudah sangat kukenal. Nama yang sudah melekat di ingatanku selama bertahun-tahun. Nama yang selalu kusertakan dalam doa-doa panjang. Nama yang selalu kuidam-idamkan untuk kutemui. Zelda Zulfikar.[]
Januari 2018

Senin, 04 Desember 2017

Traveling with My Boy Bike #2: Gagal Menaklukkan Pentagon



Menjadi seorang goweser, benarlah seperti yang aku duga. Membutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Itu kalau kita memang ingin menjadi pengayuh sepeda, yang bisa mengayuh ke mana pun hati inginkan. Si goweser pemula ini sudah kena 'batunya' gara-gara ingin menyaingi para senior. Kapok? Justru itu bikin semangat untuk gowes jadi kian berapi-api.
Ceritanya, dua minggu lalu aku mengajak teman untuk gowes di hari Minggu. Dia bilang ayuk. Kami sepakat untuk 'nebeng' sebuah klub sepeda yang hari itu sudah merencanakan mau ke Pentagon. Konfirmasinya aku dapat jelang tengah malam.
Saking semangatnya, aku lupa menanyakan di mana itu Pentagon, bagaimana rutenya, dan memungkinkan atau tidak buat pemula seperti aku. Pentagon adalah nama yang 'sexy' bagi sejumlah kalangan komunitas sepeda di Banda Aceh, khususnya komunitas sepeda gunung. Setidaknya, teman-teman di dua komunitas sepeda yang aku kenal, menyebutkan kalau Pentagon cukup berarti untuk dituju.
Lalu, di mana itu Pentagon? Bukan, bukan di Amerika, melainkan di pedalaman Indrapuri sana, di Aceh Besar. Di gugusan Bukit Barisan. Ini salah satu lokasi persembunyian tentara GAM di masa lalu. Wajar kan kalau aku jadi sangat penasaran dengan lokasi ini.
Besok paginya, usai salat Subuh aku langsung bersiap-siap. Pukul 06:30 WIB harus sudah kumpul di Blang Padang. Dari sini kami loading (pergi dengan mobil) menuju Indrapuri. Aku girang bukan kepalang, kegirangan yang hanya seusia es batu yang dikeluarkan dari freezer. Begitu cepatnya ia menyublim.
See... pemandangannya sangat menakjubkan bukan?

Sampai di Indrapuri, mobil berhenti di masjid. Parkir di sini. Inilah titik start kami. Usai berdoa kami semua mulai bergerak, pelan tapi pasti aku mulai mendayung. Mengekor senior yang menjadi kepala suku. Mula-mula tak ada kendala apa pun. Aku mengayuh dengan santai, sambil sesekali merasakan uap tubuh yang hangatnya terasa lain. Sisa demam tak jadi beberapa hari yang lalu. Meski begitu aku terus berafirmasi, i can do it, i can do it.
Tapi i can do it saja ternyata tidak cukup. Saat mulai memasuki area yang berbukit, aku mulai kewalahan. Napas mulai ngos-ngosan, keringat keluar segede-gede gaban. Bisa ditebak, posisiku jadi yang paling cembret. Terakhir, aku memilih turun dan mendorong sepedaku agar sampai ke puncak. Sementara yang lain asyik saja mendayung dengan santai.
Sampai akhirnya, untuk menuntun sepeda pun aku tak sanggup lagi. Jalanku bagai siput. Di saat yang tepat seorang senior yang sudah di puncak turun lagi untuk mengambil sepedaku. Aku? Ya ampuuuunnn... ini sebenarnya 'aib' untuk diceritakan, tapi tak apalah. Aku malah terkulai tak berdaya di pinggir jalan. Tiba-tiba pitam dan gelap. Kemudian muntah-muntah. Duh... betapa memalukan. Di tengah situasi itu, temanku malah usil meledekku. Dia bilang aku jadi begitu gara-gara nggak pakai helm dan sarung tangan. Ingin rasanya kutimpuk bokongnya dengan kerikil.
Setelah pitamnya hilang aku dan teman tadi menuju ke bukit tempat yang lainnya sudah menunggu. Kalimat yang pertama kudengar adalah: gimana, mau lanjut atau balik aja?
Menyatu bersama embun
Tanpa memedulikan 'harga diri', aku langsung jawab, balik aja deh. Dan ini lagi-lagi jadi kesempatan buat si teman untuk menggoda. Ketika balik seorang diri aku baru tahu, rute yang kami lalui tadi ternyata sudah jauh melewati Pesantren Umar Diyan. Hanya saja kami masuk dari jalur yang berbeda. Walaupun gagal ke Pentagon, tapi ada rasa puas yang hinggap di hati. Oh, ini puas yang sebenarnya, bukan dalam rangka hanya untuk menghibur diri.
Pulangnya karena sudah sendiri, kecepatan gowesnya jadi suka-suka dong. Kalau lelah aku berhenti, sambil foto-foto, atau tiduran di rumput sambil merasakan embun yang tersisa. Hhh... inilah kedekatan paling tak berjarak dengan alam. Ada kedamaian yang merasuk ke jiwa. Sisanya, aku harus menempuh jarak Indrapuri-Banda Aceh yang jauhnya lebih dari 25 kilometer. Menghabiskan hingga tiga jam waktu karena harus berhenti hingga di beberapa tempat.
Mengayuh sepeda ibarat terus mengulang-ngulang doa, suatu saat kita akan sampai pada titik yang dituju. Buatku, bersepeda bukan sekadar untuk mendapatkan 'lelah'. Tetapi cara mudah untuk bersyukur kepada Pemilik Semesta.[]