Rabu, 29 Juni 2011

Bercinta dengan Narasi

Bercinta dengan Narasi

Seperti pertemuanku denganmu yang tak ingin kusudahi, maka bercinta dengan narasi adalah kesenangan maha panjang yang mampu membeliakkan mata, seperti pusaran angin yang mampu mengakumulasikan debu maka lelah terakumulasi di tempatnya, untuk tak hinggap di kelopak mata, dan malam adalah teman paling setia yang tak pernah mengeluh, atau melenguh.

Sunyi adalah rasa paling nikmat untuk melebur dalam mabuk kata, hingga kokok ayam pertama ternyata ‘sudah’ belum menemui hilirnya. Seperti percintaan pertama yang ingin kita ulangi pada setiap pertemuan, maka kata adalah selalu prosesi percintaan pertama untukku.

Pada helaan napas berikutnya belum juga kutemukan titik kulminasi nikmat, maka berhenti sejenak adalah ritual singkat untuk menghimpun imajinasi, dan kau hadir sebagai pelengkap, lelaki inisial yang telah menjadikanku begitu perempuan.

Permata Punie, 25-Juni 2011

02:11 am

Maafkan

Maafkan

Maafkan aku, bila masih menyimpan rindu untukmu, dan juga cinta, lengkap dengan cemburu yang setiap hari dikirimkan ‘angin’ kepadaku.

Ah, angin, adalah pemberi kabar yang taat, yang tak takluk pada ancaman isyarat yang sering kutabalkan, yah, angin tak pernah belajar bahasa sandi sehingga ia tak mengeri bahasa isyarat. Angin tak mengerti intonasi, sehingga pada suara yang tiba-tiba mengapung ia tak memaknai apa-apa, angin juga tak paham tentang mimik wajah, sehingga ketika tiba-tiba aku menjadi dingin, ia malah semakin riang dengan kabarnya.

Angin, adalah pengantar pesan yang dahsyat, yang sering mengulur gemuruh dalam hati lengangku, yang kerap memantik percik api hingga menjadi cemburu yang memerah saga, seperti senja yang dikulum mentari, maka hangatnya seringkali membuat sesak, dan embun tak menunggu subuh untuk hadir di pucuk mata.

Tapi angin tak pernah salah, ia terlibat tetapi bukan sebagai tersangka, dan angin tak berhak dihukum dengan diam, atau ditelantarkan tanpa pesan.

Maafkan, rindu untukmu datang dengan sendirinya, seperti cinta yang berhasil dipilih oleh hati, maka begitu lengkap ketika cemburu menjadi penyempurna, dan kepada angin aku patut berterimakasih. (*)

01.16 am

Permata Punie

21 Juni 2011

Datanglah Sebagai

Datanglah Sebagai

Seperti bulan dan gelap yang muncul bersamaan, dan tenggelam bersamaan, mereka masih bisa bercinta dengan ritme yang teratur, tak pernah ada yang membantah, atau menolak pada takdir yang telah ditentukan untuk mereka.

Pun aku, jika aku adalah gelap sempurna maka aku akan menemukanmu sebagai kekasih yang akan hadir sebagai terang dalam perwujudan bulan yang agung, bukan bagaimana engkau menjadi sempurna tetapi bagaimana engkau membuatku sempurna dengan segala keterbatasanmu.

Atau jika suatu waktu aku bertukar tempat menjadi bulan yang selalu mencapai purnama pada puncaknya, hanya engkau yang muncul sebagai gelap yang aku butuhkan, karena tanpa engkau aku justru tidak dapat mengenali diriku sendiri, aku tidak akan tahu bahwa aku bisa memberikan cahaya untukmu mencapai sempurna.

Seperti gelap yang membutuhkan terang, maka terang juga mengharapkan kegelapan, lalu mengapa kita sering kalut dengan kegelisahan masalalu? Itu kisah, dan akan menjadi sejarah, dan kita tentunya tidak akan menghancurkan prasasti waktu bukan?

Bulan tak pernah bisa harmonis dengan matahari maka jangan datang dengan silau yang menyebar ke seluruh semesta, seperti halnya ketika gelap dan bulan muncul bersama sebagai gerhana, sebenarnya kita sedang mencari dalam kebungkaman perasaan, apakah kita saling mencintai?

Gelap hanya mengharapkan bulan datang, seperti kau yang kuharap mengerti maksudku. (*)

Permata Punie

12:54 am

21-Juni 2011

Senarai Puisi Sunrise (SPS)

Senarai Puisi Sunrise (SPS)
menikmati senja dengan sepotong cinta
dari engkau
19-Juni 11
06.02 pm
kekasih-kekasih yang menanti
serupa keinginanku untuk berdansa denganmu
namun pada waktu sebentar lagi
kita mesti bersabar
menunggu kepak sempurna membentang
18-Juni 11
09.11 pm
malam tanpa cahaya telah terlalui
dengan sempurna
tetapi karena dia sahabat sunyi
tetap saja dia hadir sebagai resah sepanjang malam
16-Juni 11
08.07 pm
hujan pagi ini adalah kelebat dari langit
yang meluluhkan semesta
seperti derai-derai rindu yang membelalakkan mata
untuk melipuri semua vandal resah
juga jelaga gundah
hujan pagi ini seperti aku yang ingin mengalir ke dirimu kekasih
15-Juni 11
08.14 am
memandang bulan di langit Tuhan
terbayang wajahmu yang penuh
matamu yang berbinar
senyummu yang membuat mabuk
dan pelukanmu yang serupa sayap merpati
14-Juni 11
09.21 pm
sabit yang seperti senyummu
menenangkan
memabukkan
membuat gelepar
serupa rebah di pelukmu
07-Juni 11
09.02 pm
harum yang merambati penciumanku
serupa aroma tubuhmu yang menguapi jagat
membumbung menyelinap di antara atmosfir
untuk kemudian merambati adrenalinku
06-Juni 11
09.19 pm
jika saja panas yang berpeluh ini
berasal dari sergap dekapmu
tentu tidak ada resah yang membuat galau
padahal membara denganmu
adalah kerinduan panjang
yang tak pernah ingin kusudahi
04-Juni 11
12.00 pm

Kakiku

Kakiku
mungkin bukan sekali ini saja aku mengalami kejadian ini, aku menyebutnya 'diskriminasi', uniknya diskriminasi ini dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, untukku, yang usianya terpaut jauh dengan mereka, apa aku marah? tentu tidak, mereka hanya anak-anak yang belum mengerti soal hormon.
menjelang magrib tadi saya mampir ke toko buah, untuk membeli bengkoang dan sekalian isi bensin, di depannya ada anak kecil dua orang berusia sekitar lima tahun, mereka ramah dan langsung menyapaku, akupun membalas seadanya sekedar untuk basa-basi, untuk orang yang tidak menyukai anak kecil sepertiku ditegur seperti itu rasanya kok aneh.
"Kak, kakak kok kakinya banyak bulu, kayak orang laki?" kata mereka sambil cengengesan."Banyak lagi." sambungnya.
"Kenapa kalau banyak bulu?" tanyaku dingin.
anak itu tidak menjawab dan masih cengengesan.
lain waktu, adik sepupu saya juga pernah mengatakan hal yang sama, umurnya masih sekitar tiga tahunan waktu itu, "Kaki kakak seperti kaki ayah." katanya polos. aku cuma bisa nyengir.
sebelumnya sepupu kecil yang lain juga pernah 'mengagumi' kelebihanku ini, sambil memperhatikan, kadang sambil membelai, dan ketika mereka merasa geli mereka tertawa terbahak-bahak.
bukan hanya mereka, ibu, adik,teman-teman juga sering membicarakan tentang hal ini, tapi apa saya peduli? tidak! apakah pernah muncul rasa minder? juga tidak! saya justru senang karena saya menjadi perempuan yang berbeda!

Bahagia dan Sedih

Bahagia dan Sedih

bahagia dan sedih hanya sebatas pergantian siang dan malam, terang dan gelap, keduanya mempunyai porsi yang sama, sehingga tak perlu dihindari. maka, ketika bahagia menghinggapi hati aku patut bersyukur sebagaimana mestinya, dan ketika kesedihan menghampiri aku akan berusaha menikmatinya, karena hidup tidak mungkin dibangun tanpa ke dua unsur tersebut.

kepada engkau yang selalu mengantar bahagia dalam nyiru kehidupan adalah terimakasihku dengan mendedikasikanmu dalam setiap narasiku, menyimpanmu dalam lemari ingat dan selalu menjagamu agar tidak teroksidasi dan dimakan karat waktu.

juga kepada engkau yang tak sengaja menyuguhkan kesedihan, selalu ada tempat untukmu di ruang batin, engkau adalah nutrisi untukku terus bertumbuh, dan sebagai pelecut untukku ke luar dari kenyamanan yang parah.

kepada bahagia dan sedih yang kerap datang silih berganti, kadang bersamaan, aku ucapkan selamat datang, hinggaplah selama sayapmu sanggup mengepak, dan pergilah jika memang takdir telah menyuratkan begitu.

bahagia dan sedih adalah cinta yang berbeda rupa, maka aku butuh keduanya!

Hingga Cahaya Berikutnya

Hingga Cahaya Berikutnya

Mungkin iya kemarin malam telah gerhana, dan bulan tak muncul sebagaimana mestinya, aku tak tahu menahu soal itu, yang kutahu malam itu aku pulang bersama rinai hujan yang tidak lebat tetapi tidak juga sebagai rintik-rintik, dan cukup membuatku gigil dan basah.

Yang kutahu angin tak begitu bersahabat ketika itu, bertiup cukup kencang dan membuatku hampir-hampir kehilangan keseimbangan, dan gelap adalah pelengkap yang sempurna.

Aku memandangi langit Tuhan, tak sebutirpun kudapati bintang terpantul di sana, dan mestinya bulan bulat penuh malam itu, mungkin serupa purnama atau sehari sebelumnya. Tapi langit malam itu adalah kosong yang sunyi.

Aku ingat pada keinginanku malam sebelumnya, untuk tak ingin menyaksikan purnama kali ini, karena pada purnama sebelumnya aku telah menggantung wajahnya di pucuk sempurna. Dan setelah itu ia padam serupa api yang menjadi bara, dan bara itu masih mengepul hingga saat ini di hatiku, bara yang melahirkan jelaga rindu dan debar-debar parah yang tak kunjung sembuh.

Itulah mengapa, aku tak ingin menyaksikan bulan mencapai puncaknya, karena aku yakin wajah samarnya akan kembali muncul dalam bias perak yang mistis. Seperti mistisnya ia yang raib dalam rahim tanpa permisi. Dan aku, tak ingin kembali menduga-duga.

Maka, pada gerhana kali ini aku juga tak ingin mengenang, “karena aku tidak menyukai fenomena alam apapun” kataku pada seorang teman yang memintaku untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Sebenarnya aku sedang tak ingin menyaksikan langit, karena di sana tempat bulan menggantung.

Kataku lagi “Malam ini aku tak ingin melihat cahaya apapun” pada seorang teman yang lain yang memintaku melakukan hal serupa. “Karena melihat cahaya seperti melihat wajahnya yang selalu membuatku rindu.” Aku bersyukur karena ia mafhum dengan alasanku.

Mungkin iya malam kemarin telah gerhana, dan bulan tak muncul sebagaimaa mestinya, yang kutahu langit gelap dan tidak ada cahaya apapun dan itu membuatku lega karena tidak mendapati wajahnya di pucuk langit.

Mungkin iya malam kemarin gelap mencapai sempurnanya, tapi yang pasti rindu untuknya demikian parah hingga cahaya di mataku tak dapat kupadamkan, dan aku terbeliak hingga cahaya berikutnya muncul di ufuk.

Teruntuk Seuramoe Meukah

21:29 pm

17-Jun 2011

Permata Punie