Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Kamis, 27 Oktober 2011

Ketika Jiwa Kita Bercinta (6)

“Apa ini?” tanyamu saat aku menyerahkan sebuah paperbag untukmu.

“Kau akan melihatnya sendiri nanti.” Jawabku dengan sepotong senyum datar, dengan air mata yang hampir terjatuh, tapi aku tidak boleh menangis. Sebab kau tak pernah ajarkan aku untuk menyerah, juga pada keadaan.

“Terimakasih banyak.” Katamu lagi. Aku mengangguk. Tak sanggup mengeluarkan walau sepotong katapun untukmu. Hanya tarikan nafas panjang yang kusodorkan untukmu satu persatu.

“Paling tidak ketika kita tidak bisa bersama lagi, ada sesuatu dariku yang bisa kau kenang.” Kataku kemudian. Kau tidak menjawab, mencoba untuk tersenyum tetapi terasa getir. Memang, di antara kita tidak ada yang menegaskan, tetapi kita sama-sama tahu inilang penghujung dari semua prosesi, jalan panjang itu telah menemui perhentiannya.

Ini adalah saat di mana aku harus menjadi penulis yang baik, agar tidak ada sesuatupun yang terlewatkan dari engkau, aku menulisi engkau dengan pandangan mata yang tak pernah beranjak dari dirimu.

“Apa ini?” tanyamu lagi.

“Bukalah, kau akan tahu.”

Kau merobek bungkusnya, sesaat setelah itu aku melihat senyum terindah dari bibirmu, saat kau melihat dirimu ada di hadapanmu. Aku tetap tersenyum meski ingin menangis, rasanya baru kemarin kita berkenalan, lalu kita saling jatuh cinta, lalu kita menjalani hari-hari sebagai kekasih.

“Kau semakin terlihat kecil saja.” Ucapmu setelah kita lama saling diam.

“Tubuhku tergerus rindu yang parah untukmu.”

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk cinta yang parah ini.”

“Di penghujung kebersamaan kita Tuhan mentakdirkan kita untuk menghabiskan separuh malam di bawah purnama.”

“Ya, terimakasih untuk pemberianmu.”

“Bahkan aku tidak bisa memberinya tepat waktu.”

Kau tidak perlu menjawab karena kita telah tahu jawabannya.

Maka, pagi ini ketika kudapati wajahku sembab dan basah aku segera menyesakimu dengan pertanyaan; Cinta, kapan aku menciummu lagi. Dan kau, dengan suaramu yang lembut dan parau mempersilahkanku untuk melakukannya kapanpun aku menghendakinya; ciumlah aku dengan hatimu.



09.00 am
11 oct 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email