Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Kamis, 16 Juni 2016

Sakitnya Dikhianati, Mengaku Duda Ternyata Masih Beristri


“Jangan pernah merasa terpuruk, meski di saat kau merindukan butir-butir embun di pagi hari, yang kau dapatkan justru uap dari air mendidih ~


Perempuan yang saya kenal itu, bisa jadi satu di antara banyak perempuan di dunia ini yang benar-benar berharap bahwa pernikahan adalah sumber kebahagiaan. Karena itulah dia menikah, hampir sepuluh tahun yang lalu. Dan saya turut menyaksikannya ketika itu.

Saya belum lupa bagaimana sepasang matanya yang indah menatap wajah suaminya manakala fotografer akan membidik mereka. Ya, sepasang pengantin baru dalam balutan baju pengantin. Tatapan itu sungguh membuat saya iri.  Bagai kelopak mawar yang merekah menebarkan aroma semerbak, penuh binar, kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Meski cukup mengenalnya tapi kami jarang bertemu. Belum tentu setahun sekali. Pun begitu ada banyak hal yang saya ketahui tentangnya.  Seperti hubungan mereka yang tidak mendapat restu dari orang tua si perempuan. Hal itu membuat resepsi pernikahan mereka terpaksa digelar di rumah neneknya. Dan pamannya  yang menjadi wali nikah. Kekuatan cintalah yang membuat mereka tetap bersatu. Lagi-lagi saya iri, sebab saya bel
um tentu berani melakukan hal senekat itu.

Pria itu berstatus duda. Itulah yang membuat ayahnya tidak setuju. Saya, atau beberapa orang yang tak mengetahui detil ceritanya barangkali akan bertanya-tanya. Apa yang salah dengan duda? Ya, apa yang salah dengan duda? Bukankah duda juga manusia?

Belakangan saya mengetahui, ‘salahnya’ karena si pria itu ternyata tidak bercerai secara resmi. Tidak ada surat cerai yang dikeluarkan lembaga terkait yang menjadi pegangan perempuan itu. Satu-satu yang menjadi pegangannya hanyalah ucapan si lelaki itu. Tapi bisakah ucapan yang tak berwujud itu bisa menjadi pegangan yang memiliki kekuatan di mata hukum kelak?

Jawabannya tentu tidak. Mungkin karena itulah perempuan itu tak pernah mengeluhkan apa yang belakangan menimpanya. Tanpa sepengetahuannya, diam-diam si pria rujuk dengan istri pertamanya. Anak pertama mereka lahir di waktu yang hampir bersamaan dengan anak dari istri pertama pria itu. Cerita ini saya ketahui bertahun-tahun setelah seremoni pernikahan mereka. Bahkan setelah anak kedua mereka lahir dan tumbuh besar.

Dan beberapa bulan terakhir saya seolah mendapat ‘konfirmasi’ dari semua cerita yang saya dengar selentingan itu. Suatu ketika saya bertemu dengan perempuan itu, tidak lama, tapi kami sempat berbincang-bincang. Matanya terlihat redup, wajahnya mengguratkan kelelahan batin. Senyum yang ia berikan tampak berat, nyaris terpaksa.

Perempuan itu bercerita jika suaminya hampir tak pernah pulang lagi ke rumah. “Paling sesekali untuk mengantar pakaian kotor saja,” katanya lirih dengan segaris senyum yang seolah meminta saya untuk memaklumi.

“Kamu masih mau mencuci bajunya? Kalau saya ogah!” saya langsung terbawa emosi.

“Entahlah,” jawabnya pasrah. “Sekarang saya tidak mengharapkan apa-apa lagi, kalaupun dia pulang kami sudah tidak tidur seranjang. Dia tidur bersama anak-anak, saya tidur di kamar lain, untuk menenangkan hati saya banyak membaca Alquran saja.”

Sikap suaminya sekarang berubah total. Selain abai pada dirinya juga abai pada sepasang buah hati mereka. Saban malam ia menahan sesak di dada manakala putra-putrinya menayakan di mana ayahnya. Mengapa ayahnya hampir tak pernah pulang. Perempuan itu tak bisa menjawab, selain air matanya yang mengapung di pelupuk mata. Ia harus berkedip lebih banyak agar air mata itu tidak jatuh. Atau diam lebih banyak, agar suara sengaunya karena menahan tangis tidak pecah.

Dulu, suaminya seorang pria yang sangat perhatian. Bahkan pada semua anggota keluarganya.  Tapi itu dulu, sebelum akhirnya berubah total sejak beberapa tahun terakhir, bahkan ia hampir tak mengenali dirinya sendiri.

“Keluarga bilang kalau dia diguna-gunai oleh mantan istrinya hingga akhirnya bersedia rujuk. Wanita itu marah saat tahu mantan suaminya akan menikah lagi. Aku.... antara percaya dan tidak, aku tidak terlalu mempercayai hal-hal mistis seperti itu...”

Soal hal-hal mistis itu, beberapa keluarganya memang pernah menceritakan. Bahkan neneknya sendiri pernah menyinggung soal ini. Parahnya lagi kata sang nenek, bukan hanya suaminya saja yang diguna-gunai, tapi si perempuan itu juga. “Dia dibuat supaya merasa jijik pada suaminya, jadi kalau suaminya pulang ke rumahnya dia menjadi acuh. Pikiran suaminya sudah dikuasai setan.” Begitu neneknya pernah bercerita dengan emosi yang meletup-letup. Meski begitu si perempuan tak pernah mencoba untuk 'berobat'.

Suatu hari, kepada kerabatnya perempuan itu pernah menumpahkan uneg-unegnya. “Apakah harus saya ceritakan semua pada anak-anak tentang ayahnya? Tapi saya tidak tega, tapi si sulung juga mulai besar, rasanya biar saja dia tahu yang sebenarnya.”

Baru-baru ini saya kembali bertemu dengannya, ia datang bersama kedua buah hatinya.
“Saya baru bertemu ayahnya anak-anak karena suatu urusan, sekarang saya tidak akan kesal lagi, saya tidak akan menunjukkan kemarahan dan rasa sakit hati saya, walaupun begitu saya tidak akan memintanya untuk pulang. Dengan begini minimal ia tetap memberikan uang belanja,” ujarnya dengan suara riang.


Saya cuma bisa termangu. Tidak ada sepatah katapun yang  saya lontarkan untuk merespons ucapannya. Hanya saja di dalam hati saya membatin, betapa perempuan adalah makhluk paling tak terjabarkan.[]

8 komentar:

  1. jadi ini salah siapa? salah cinta? atau salah rangga yang tak tahan jauh dari cinta?
    atau salah duda? atau salah poligami?

    ah iya.. ini salah purnama

    #halah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahha bukan salah bang Yudi yang terpenting

      Hapus
  2. campur aduk perasaan bacanya >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi si tokoh yang mengalaminya ya Mir?

      Hapus
  3. Idem sama mira. Ini gambaran nyata, apa sebab perlu kedepankan logika dan akal sehat dibanding nalar cinta saja.
    Tak ingin menyalahkan. Semoga diberi jalan agar hidupnya jadi lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bang Fadhil, ada kalanya kita tak bisa bilang apa-apa mana kala takdir berkata lain,

      Hapus
  4. Balasan
    1. komen dong Ubai, jangan no melulu :-D

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email