Langsung ke konten utama

Mimpi Menik

Mimpi Menik
Menik memperhatikan bapaknya yang sedang asyik menonton berita, sesekali berkomentar perihal kedatangan bush pada tangal 20 november nanti. Jelas sekali ia geram dan berang. Tapi sebagai rakyat kecil dia tidak bisa berbuat apa-apa, sama seperti tukang becak dan pedagang yang biasanya mangkal disekitar istana kepresidenan.
Bocah kelas dua sekolah dasar itupun geli sendiri dan tertawa terpingkal-pingkal melihat bapknya. Tidak lama kemudian pak Ali mengipas-ngipasi badannya dengan bajunya. Keringat-keringat kecil tampak tak beraturan didahinya.
“panas…”. Begitu komentarnya. “Menik! Menik!”. Ia mulai teriak-teriak, Menik yang dari tadi berdiri dibalik pintu makin geli melihat bapaknya.
“ada apa sih pak, teriak-teriak.”.
“coba kamu lihat listirknya mental atau enggak. Kok AC nya mati, panas bapak nih….”.
“hahahahah……”. Menikpun tak kuasa menahan gelak tawanya, buru-buru ia menutup mulutnya saat matanya bersibobrok dengan bapaknya.
“udah cepet sana lihat…kok malah ketawa.”
“ih..bapak ini gimana sih..klau listriknya mati mana bisa bapak nonton.”. tawanya pecah lagi, kali ini bukan Cuma menik tapi juga pak Ali.
“idupin AC nya gih…bapak kepanasan ini…”.
“Ac nya rusak pak. Tukangnya belum datang, tadi udah ditelepon sama ibuk.”
“oh…”.
“bapak geram ya lihat bush mau datang ke Indonesia?” Tanya menik.
“iya..sebel bapak, kesel. Tapi bapak bisa apa?”
“disantet aja pak”.
Pak Ali kaget mendengar ucapan menik, anak yang satu ini memang kritis. Tapi dari mana idenya menyuruh nyantet orang nomor satu di amerika itu. “Bapak kan dukun.” Menik menambahi sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“bapak ngga pernah nyantet orang.”
Pak ali memang dukun, tapi dari style nya sama sekali tidak menggambarkan sosok dukun seperti yang sering Nampak di tv-tv, dia cenderung trendy dan gaul. Tidak banyak yang tahu kalau dia para normal selain keluarga dan teman-teman dekatnya. Ia pun tampaknya tidak mau memperdalam bakat paranormalnya itu.
Wajar kalau dia kaget mendengar menik menyuruhnya menyantet bush, selama ini dia tahunya Cuma mengobati orang bukan mengguna-gunai atau menyantet.
“coba aja pak, kali aja bapak berhasil.”
“waduh..kamu ini, berdoa aja deh.” Pak ali menjawab apa adanya agar anak bungsunya itu diam dan tidak bertanya macam-macam.
“berdoa udah sering pak, menik mau yang real lho pak. Pas bush datang ke Indonesia trus dia kejet-kejet karena disantet bapak, trus mati. Kan ngga ada lagi perang pak.”
Entah apa yang ada dipikiran bocah es de itu. Pak ali benar-benar bingung mau menyampaikn isi kepalanya yang tentu saja akan sulit dipahami oleh anak seumuran itu.
“Menik, dengerin bapak ya…nyantet orang itu dosa lho, sama aja dengan membunuh. Masuk neraka nanti…”.
“tapi bush kan jahat pak, lagian yang ngga suka sama dia kan banyak, mending dia ilang aja dari dunia ini. Dari pada kita juga dibikin dosa sama dia, gara-gara ngejekin dia terus. Masuk neraka juga kita kan pak?”
Pak ali benar-benar kehilangan kata-kata dibuatnya.
“ambilkan minum sana…bapak haus”. Suruhnya, padahal niat yang sebenarnya untuk menghentikan obrolan ini.
“pak…”
“ya, ada apa?”
“kalau ngga gini aja…bapak sihir menik jadi kecil aja, trus nanti menik kan bisa masuk ke kantongnya bush, klitikin dia…gitu aja pak.”
Kali ini pak Ali benar-benar tak berkutik dibuatnya.
@@@
Demo menolak bush makin ramai saja, dari barat sampai ke timur penuh dengan orang-orang dijalanan yang membawa puluhan poster dan spanduk-spanduk menentang kehadirannya ke Indonesia. Berikut sound-sound yang menggema kemana-mana.
Suasana seperti ini membuat menik harus menutup kedua telinganya, ia pun menyusup dengan sigap. Melewati kerumunan orang-orang yang tinggi-tinggi dan besar-besar. Melewati pagar betis dan berhasil menerobos kawanan aparat yang berjaga di depan istana. Selanjutnya dia memanjati pagar dan segera masuk ke rombongan para petinggi negara yang sedang menunggu kedatangan bush. Dia mencari posisi yang strategis agar kemunculannya tidak diketahui oleh orang-orang. Meski sudah berubah menjadi kecil ia tetap khawatir dan harus ekstra hati-hati. Takut kalau-kalau ada setan-setan bawaan bush yang juga kecil, bagaimana kalau nanti dia dikeroyok dan mati tanpa ada yang tahu. Bapaknya pasti kewalahan mencarinya.
“Hupp…!!” menik berhasil melompat dan sekarang dia duduk di sebuah kanvas yang ada di sudut ruangan. Hampir saja tadi dia terpijak oleh sepatu lars seorang tentara. Hatinya berdegub kencang sekali. Tapi sekarang dia sudah agak tenang. Dia mengeluarkan botol air mineral yang juga sudah disulap menjadi kecil oleh bapaknya.
“indah sekali disini, aku pasti akan betah kalau disuruh tinggal disini.” Batin menik. Seolah tidak mau membuang-buang waktu diapun segera turun dari kanvas dan berkeliling istana. Melihat-lihat dari satu ruangan ke ruangan lain, dan sampailah dia ke ruang makan.
“woooowwwwwwww……..amazing!!!” teriaknya berulang-ulang. Beragam makanan ada disana, dan tidak ada satupun yang dia tahu namanya.
Menik mencari-cari orak arik kangkung, sambal terasi atau lalapan tapi tidak ada. Udang goreng mentega kegemarannya juga tidak ada, apalagi tempe dan tahu yang menjadi menu wajib dirumahnya.
“hm….enak banget…”. Menik mencicipi salah satu makanan yang ada di meja dengan telunjuknya. Tapi sayang perutnya sedang kenyang, dia Cuma mengambil beberapa strawberi dan pergi dari tempat itu.
Ketika kembali keruangan utama hampir saja menik kelabakan, pasalnya disana sudah banyak orang-orang. Ada yang berkulit sawo matang, yang ini orang Indonesia dan ada juga yang putih-putih. Ini pasti rombongan bush sudah datang pikirnya. Ia pun mengeluarkan selembar foto yang diambilnya dari internet. Menyamakan orang yang ada di foto dan yang tengah duduk disamping bapak presiden.
Menik manggut-manggut dan yakin dialah george w bush, presiden amerika yang dibenci banyak orang itu. Ia pun menyusun rencana, segera mengendap-ngendap dari balik kursi dan segera mendekati bush. Dan sekarang ia berada persis dibelakang bush.
Tak ingin buang-buang waktu ia segera menjawil pinggangnya.
“ow…!!!” bush kaget dan reflek berteriak.
“ada apa?” Tanya SBY
Suasana pun nyaris menjadi riuh.
“tidak ada apa-apa, mungkin otot saya ada yang kaku, maklum…lelah setelah melakukan perjalanan jauh.” Bush nyengir kuda. Menik jadi geli melihatnya.
Menik segera mengeluarkan bubuk merica dan meniupnya kearah hidung bush. Kontan saha bush menjai bersin-bersin.
“achiiiim…achiiiiiim….”.
Menik lompat-lompat kegirangan diatas sofa, dalam hati ia berterimakasih pada bapaknya yang telah menyulapnya menjadi kecil. Ia pun sangat menikmati melihat suasana yang mulai riuh melihat presiden bush yang tidak tenang dari tadi. Kalau tidak bersin pasti dia goyang kekiri atau kekanan karena dijawil menik.
“mungkin anda lapar…maklum setelah perjalanan jauh, kalau begitu mari kita makan dulu.”
Tanpa banyak Tanya bush pun mengikuti sby menuju ruang makan. Dalam hati dia berterimakasih atas pengertian sby yang mengajaknya makan. Perutnya memang lapar, apalagi setelah sampai ke Indonesia, laparnya jadi bertambah-tambah mendapat smbutan yang luar biasa hangat dari masyarakat Indonesia. Syukurlah ia sudah tidak lagi bersin.
Kesenangan bush tidak bertahan lama, karena sebelum ia sampai ke ruang makan menik sudah menunggunya disana. Saat dia makan takhenti-hentinya menik mengusilinya dan membuat bush menghentikan makannya. Ia pun menjadi berang.
“saya rasa di istana ini ada setannya. Sejak tadi saya tidak merasakan kenyamanan sedikit pun.” Ucapnya sambil berdiri dan melap mulutnya dengan sapu tangan. Pun begitu dia masih sempat mengambil sebuah srawbery yang tadi diambil menik.
“setannya kan anda sendiri.” Teriak menik sambil cekikikan.
“hei…siapa kamu?” teriak tentara-tentara yang sangar mukanya sambil memegang tangan menik. Tampaknya mereka heran dengan kemunculan seorang anak kecil yang tiba-tiba.
“aaaaaaaaaaaaaaaa….bapak….bapak….tolong……” menik yang menyadari tubuhnya telah kembali normal berteriak meminta tolong. Ia pun diseret keluar istana dengan paksa oleh tentara-tentara itu. Dalam hati ia menyesali keteledorannya, bapaknya sudah mewanti-wanti, dia Cuma bisa mengecil selama dua jam, setelah itu akan kembali normal seperti semula. Menik pun menangis sekuat-kuatnya sambil berteriak.
“tolong!!! Tolong!!!”.
“menik….bangun sudah siang…apa kamu ngga mau sekolah?”
“ibuk…” napas menik terengah-engah.
“tolong…tolong…memangnya kamu mimpi apa sih?”
“yah…Cuma mimpi….”.
Menik menarik selimutnya lagi.
“hei..dasar anak manja, ayo bangun, mandi sarapan dan berangkat sekolah. Sudah siang nanti ngga ada yang ngaterin.”
Menik tersenyum-senyum mengingat mimpinya tadi.
“mendebarkan…” ucapnya lirih.

19 November 2006
11:51 wib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis