Langsung ke konten utama

Mencintai Dengan Luka

Entah sejak kapan tiba-tiba saja bumi mulai lain aromanya, padahal sejak beberapa hari yang lalu sampai tadi pagi aku mencium aroma bunga dimana-mana, aku berjalan kebelakang rumahku disana ada kebun bunga yang menebarkan aromanya hingga kesudut rumahku yang lain. Aku berjalan ke kota untuk membeli perlengkapan sehari-hari ku kawanan kembang-kembang melati turut menyertaiku dan tak henti-hentinya menyenyumiku dan mengatakan “ sebentar lagi kau akan bertemu dengan kekasih mu”. Tentu saja aku senang dan berbinar-binar mendengar itu.
Bahkan ketika mobil perlahan-lahan meninggalkan kota tempatku selama ini menetap aroma wangi itu semakin semerbak, membuatku terlelap karena buaiannya yang lembut dan menenangkan. Angin-angin yang masuk dari kaca jendela mobil seperti tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kuatnya sengatan wangi bunga-bunga melati, kenanga dan bunga cempaka. Angin-angin itu membuatku dingin tapi sama sekali aku tidak mengeluh. “sesaat lagi kau akan bertemu dengan kekasihmu”. Begitu terus menerus suara-suara lembut dari wangi bunga-bunga yang tidak terlihat itu. Aku semakin sumringah jadinya, dalam tidurpun aku bisa merasakan bibir ini tersungging dan hatiku berdegub tak karuan.
Entah sejak kapan tiba-tiba saja wangi bunga-bunga itu hilang, aku tidak menyadarinya. Mungkin setelah aku bertemu dengan kekasihku pagi tadi, dia berjanji akan menemuiku lagi dan nyatanya sampai hari ketiga aku disini dia tak muncul-muncul juga. Seiring dengan kerinduanku yang menguap menjadi marah dan benci pulalah barangkali yang membuat wangi-wangi melati itu hilang. Aku menunggunya sampai siang, lalu sore dan haripun menjadi gelap. Aku telah membasuh aroma itu dengan air mata yang kukeluarkan hingga ia menjadi luntur dan sama sekali tak berbekas.
Yah…tak ada lagi iringan kembang melati ketika pagi tadi aku menjejakkan kaki menyusuri trotoar menuju mesjid terbesar dikota itu. Mesjid peninggalan kerajaan terdahulu yang namanya begitu tersohor kemana-mana. Tidak ada lagi bisikan-bisakan halus yang mengatakan aku akan menemui kekasihku melainkan kata-kata lain yang sama sekali tidak ingin kudengar dan membuatku takut. “kekasihmu meninggalkan mu…kekasihmu meninggalkanmu”.
Ku tutup kedua telingaku sembari mempercepat langkah memasuki halaman mesjid. Segera aku membasuh kedua tanganku secara beraturan dan ku akhiri dengan menyirami kedua kaki ku hingga sebatas mata kaki, aku telah selesai berwudhu.
“Mau sholat ya?” Tanya seorang ibu, usianya mungkin sekitar enam puluhan.
“Iya, tapi saya tidak bawa mukena”. Jawabku
Aku duduk didekatnya dan memperhatikan barang-barangnya yang banyak, ada dua buah tas sedang yang diisi dengan baju-baju dan sebuah kantong plastik besar yang aku tidak tahu entah apa isinya. Pikirku pastilah ibu ini seorang musafir atau seorang tuna wisma yang tinggal di mesjid untuk beberapa waktu tertentu.
“Ibu tinggal dimana?” kuberanikan diri untuk bertanya dan berdoa semoga ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku. Mungkin dia akan berfikir aku ingin tahu tentangnya, tapi memang begitu, aku penasaran dengan ibu itu.
“Saya dari Jawa Timur, sekarang saya tinggal di Mesjid ini sudah beberapa hari.”
“Oh…” aku pun tidak perlu bertanya lebih lanjut lagi.
“kalau mau sholat, disana tempat mukenanya” tunjuknya ke sebuah lemari kecil dua pintu yang terletak dipinggir dinding mesjid. Aku tersenyum dan mengangguk. Beberapa tahun yang lalu aku sudah pernah masuk ke mesjid ini, jadi aku sudah tahu dimana tempat wudhuknya dan dimana tempat mukenanya.
“Kekasih mu meninggalkan mu!”.
Aku tersentak dengan suara bisikan itu. Ia kembali mengiang persis saat aku mengatakan Allahu Akbar pada takbir pertama. Konsentrasiku menjadi buyar, aku kembali bertakbir dan memejamkan mata. Menghalau bisikan-bisikan setan itu, yang aku yakin dikirim oleh orang yang bernama kekasihku. Entah mengapa aku menjadi sangat membencinya sudah tiga hari ini. Dia sudah mempermainkan perasaanku, dia menyuruhku datang kemari tapi setelah itu dia tidak mempedulikan ku. Aku kecewa, aku sakit hati, aku marah….aku benci dia!!!
@@@
Hari ke empat dikota ini, hari-hari yang sangat tidak mengenakkan. Hari-hari yang telah menorehkan sakit yang teramat sangat dihatiku. Tapi aroma itu mulai ada sedikit-sedikit. Telah ada satu dua bunga yang mengawalku ketika keesok sorenya aku kembali datang ke mesjid ini. Lalu duduk ditangga dan mengobrol bersama seorang bocah kecil bernama Aldi. Dia bertugas menjaga sepatu para pengunjung mesjid dan menerima imbalan seikhlasnya dari orang yang menitipkan sepatunya.
“Aroma itu datang dari rasa cintamu untuk kekasih mu”. Entah dari mana asalnya suara itu. Aku mencari-cari tapi tak tahu darimana arahnya, dia dekat, dekat sekali denganku. Suaranya begitu jelas.
“Aku tidak mencintainya lagi setelah dia memperlakukan ku begitu.” Ku seka air mata yang dari tadi keluar. Bantalpun sudah basah dan membuatku tak nyaman tidur. Mataku sembab.
“kau bohong!”
“Aku tidak bohong”
“kau bohong!”.
“Siapa kau berani-beraninya mengataiku pembohong!” aku sangat marah.
“Aku hati mu, aku tahu apa yang kau rasakan didalam sini. Mulutmu boleh saja bilang kau marah dan benci padanya, tapi kau tak bisa hohongi aku. Aroma-aroma wangi itu muncul dari sini. Cinta mu yang membuat seolah-olah kau melihat melati, mawar dan bunga-bunga yang lain saat kau berjalan. Tapi ketika kau sedang marah dia akan menghilang dan menjadi tak beraroma sama sekali. Lihatlah disekeliling mu, bukan kah bunga-bunga itu semakin tampak satu-satu? Itu artinya kau sudah tidak lagi marah pada kekasih mu, kau sudah memaafkannya. Kau mencintainya.”
Aku tertunduk disudut ranjang, tubuhku masih tanpa pakaian,
Benarkah aku masih mencintainya? Dan memang iya, aku teramat mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku pun heran darimana kekuatan cinta itu datang, padahal hampir dua tahun kami menjalin hubungan belum pernah sekalipun aku melihatnya secara langsung. Barulah pagi kemarin, tiga hari yang lalu dia muncul dan memelukku. Saat itu aku merasakan aroma melati yang begitu kuat. Ketika aku melihat matanya, ada cinta dan kerinduan yang dalam disana, dan aku tak ingin melepaskan diri dari pelukannya. Tapi pertemuan itu hanya sebentar, bahkan tidak sampai setengah jam. Bukankah menyakitkan, pertemuan yang dinanti-nanti selama hampir dua tahun hanya bisa ditunaikan selama waktu kurang dari setengah jam?
Aku lah yang paling sakit, karena setelah itu dia tak pernah menemuiku lagi, tak ada kabar bahkan sampai aku kembali lagi ke kamarku, tempat dimana aku memupuk cintaku untuknya.
Saat aku sedang asik melihat bunga-bunga yang kembali tumbuh satu-satu di tepi ranjang terdengar suara pintu diketuk. Saat itu aku sedang mengenang kembali perjumpaan kami, hatiku kembali senang dan aroma-aroma itu muncul lagi. Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku. Rambutku masih acak-acakkan.
“Masuk!” jeritku dari dalam. Aku memang tidak megunci pintu setelah selesai mandi tadi.
“Apa kabar?”
“Baik”.
“Suaramu sendu sekali, matamu sembab, kamu kelihatan pucat.”
Sayang sekali bukan kekasihku yang mengatakan itu. Aku tidak terlalu mempedulikannya dan dia maklum, aku tak lagi menyembunyikan persoalanku. Karena kedatanganku yang tiba-tiba dan tak mengabarinya kemaripun sudah cukup membuatnya bertanya-tanya. Aku tak ingin membuatnya terus merasa aneh dengan kedatanganku dan sikap ku yang aneh terus menanyai Elius, adik iparnya. Akhirnya aku menceritakannya dan berharap dia bisa sedikit memberiku solusi dalam hal ini.
“udahlah….tinggalkan saja dia, toh kamu masih bis cari yang lain, yang masih sendiri, yang sayang dan cinta sama kamu.”
Lagi-lagi aku tidak mempedulikan apa yang dikatakan Emiri, kubiarkan dia sibuk dengan nasehat-nasehatnya dan kubiarkan pula diriku larut dalam pikiran ku sendiri.
“kamu masih mencintainya?”
Entah yang keberapa kali dia bertanya dan kujawab dengan anggukan.
“sepertinya sangat dalam cintamu ke dia, sampai-sampai kau terus menangisi ketidak hadirannya.”
“kau putuskan saja dia ya?”
Aku diam
“sudahlah, kau putuskan saja dia! Aku tidak mau lagi lihat kamu menangis untuknya”
Semakin Emiri menyuruhku untuk memutuskan Elius aroma-aroma itu semakin menyengat saja rasanya. Kembang-kembang melati muncul dari balik selimut dan bantal yang kutiduri, dari dalam ranselku keluar kuntum-kuntum bunga mawar, entah darimana asalnya.
“bunga-bunga itu muncul karena kau masih mencintainya, kau masih menunggu kedatangan kekasihmu.”
“tidak mungkin!” aku berteriak
“Jane….apanya yang tidak mungkin?” Emiri meneliti wajahku dalam-dalam, dia sepertinya menemukan keanehan pada diriku.
“hm…tidak…tidak apa-apa”. Aku coba tesenyum, tapi gagal.
“kau menyembunyikan sesuatu dari ku?” selidiknya
“apa kau mencium aroma melati dan melihat bunga-bunga dikamar ini?”
“hahahaha….Jane….Jane….mana ada bunga dikamar ini.” Dia tertawa
Aku kembali diam.
“kapan kau pulang?”
“aku ingin menunggunya sehari lagi, bolehkan?” suara ku begitu memelas
Emiri mengangguk.
“boleh. Aku bisa merasakan kebesaran dan kedalaman cinta mu pada Elius. Jane…asal kau tahu, aku tidak ingin kau disakiti oleh Elius, kamu mau memaafkan Elius kan?”
“bukan kamu yang harus minta maaf.”
“aku meminta maaf atas nama Elius, karena dia adikku.”
“tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah memaafkan bahkan sebelum dia menyakitiku seperti ini.”
“itu karena kamu sangat mencintai Elius”.
“aku tidak tahu….”.
“Kau tahu! Kau Tahu!” lagi-lagi suara aneh itu muncul dan menyerobot pembicaraanku dengan Emiri.
“Siapa kau?” teriakku lagi
“Aku hati mu Jane…aku hati mu!”
Dan kekasih ku benar-benar tidak pernah menemuiku lagi setelah pagi itu sampai aku kembali ke kamar ini. Lalu buru-buru ku tinggalkan karena aku masih belum cukup kuat melihat namanya yang besar menggangtung di dinding kamar. Aku melarikan diri ke rumah bibiku untuk menenangkan hati. Dan bunga-bunga itu semakin banyak mensejajari langkahku setiap aku berjalan.
“hati ku benar…aku masih mencintai Elius.”

10:38
12/11/06
Rumah hilman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis