Langsung ke konten utama

Arisan

Sudah pukul dua belas lebih, malam mulai sepi tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Sejak tadi aku hanya bisa bolak balik kekanan dan kekiri sampai aku merasa lelah sendiri. Kepalaku terasa berat dan berdenyut.
Sementara hujan semakin lebat, bayangan kilat merembes masuk kekamarku melalui lubang ventilasi. Aku bergidik dan merasa ketakutan berada sendiri dirumah sebesar ini. Ketiga anakku menginap dirumah ibu mertuaku karena besok libur. Sedangkan pembantuku minta ijin menjenguk orang tuanya yang sedang sakit. Aku jadi merasa kesepian karena kak Evandra suamiku tidak ada dirumah. Dia baru akan pulang dua mingu lagi.
Ku tarik selimut dan kupejamkan mata, tapi sama sekali tidak berhasil. Aku meraih hand phone ku dan mencoba menghubungai kak evandra tapi sampai sepuluh kali aku menekan nomornya tetap saja tida bisa. Aku kesal dan tanpa terasa air mataku menetes. Ingin rasanya ku banting hand phone ini kalau saja tidak mengingat ini adalah hadiah dari suamiku. Aku mengirimkan shoert messege service tapi lagi-lagi gagal. Aku semakin kesal.
Aku memaki-maki diriku sendiri dan juga kak evan, aku marah karena sudah empat hari dia tidak menghubungiku dan tidak ada kabar. Tidak biasanya dia begitu, emailku pun tidak ada yang dibalasnya. Tangisku makin besar dan aku merasa kecewa atas sikapnya.
Ah, tiba-tiba saja aku teringat dengan Harry, lelaki berumur 32 tahun yang belakangan ini dekat denganku. Tanpa pikir panjang akupun menelfonnya.
“hallo selamat malam.” Sapaku begitu tersambung
“ada apa Alice? Tumben kamu menghubungiku malam-malam begini.” Suara harry kedengaran agak cemas. Aku diam dan menarik nafas berat.
“aku kesepian, aku perlu teman ngobrol Ry, kamu maukan temenin aku ngobrol?”
“baiklah…”.
@@@
Aku kenal Harry sejak tiga bulan yang lalu secara kebetulan, tepatnya sejak aku ikut arisan bersama teman-teman. awalnya arisan kami biasa saja, siapa yang menang mendapatkan uang dan berlian. Tapi lama kelamaan teman-teman ingin membuat arisan dengan konsep yang beda.
“kalau menang uang dan berlian itu sudah biasa”. Begitulah komentar Vivian waktu itu. Ide gila ini memang dari dia datangnya tapi entah kenapa teman-teman yang lain ikut menyetujuinya, hanya aku saja yang tidak menerima waktu itu. Tapi akhirnya aku ikut juga karena desakan mereka.
“trus gimana nih biar arisan kita lain dan ngga monoton”, Tanya Sila
“aku punya ide, tapi….” Sengaja Vivian menggantungkan suaranya, untuk menarik perhatian yan lain.
“apa”.
“ayo cepetan dong Vivian…”.
Aku diam saja menunggu komentarnya, Vivian memang suka membuat orang penasaran dan dia akan semakin suka kalau kalau yang lain semakin penasaran.
“bagaimana kalau yang menang arisan kencan”.
“kencan?!” aku terbelalak
“maksudnya gimana Vi?”
“begini, biasanya kan kita kalau arisan hadiahnya uang atau berlian. Tapi kedepan kita sediakan saja laki-laki, jadi siapa yang menang berkencan dengan laki-laki yang udah kita siapkan tadi.”
“nyari laki-lakinya dimana?” Tanya Sila dengan polos
“itu sih gampang, biar aku yang cari.” Vivian merasa senang karena mulai ada respon dari teman-teman.
“gila kamu Vi, apa kamu ngga tahu kalau sebagian dari kita sudah menikah. Aku ngga setuju, ini ide gila.” Aku tidak senang. Raut muka Vivian langsung berubah.
“tenang Lice…maksud ku begini lho, kita kan tahu suami-suami kita orang sibuk. Dan kita sering kesepian dirumah…jadi apa salahnya kalau kita cari hiburan dengan cara seperti ini.”
“aku tidak ikut.”
“ikut saja lah Lice…diantara kita-kita semua kan suami mu yang paling jarang dirumah, dia kan kerja di luar negeri. Kamu pasti sering kesepian”. Aku mendongak mendengar ucapan Vivian, tidak menyangka dia akan mengeluarkan ucapan seperti itu.
“ide bagus nih kayaknya. Kapan kita mulai?”
“lebih cepat lebih bagus”.
Entah apa yang ada dikepalaku waktu itu, aku ingin marah tapi sama sekali tidak bisa. Ingin pergi dari sana juga tidak bisa. Dan akhirnya akupun ikut dan sialnya lagi ketika dikocok aku mendapat giliran pertama. Dunia seperti gelap saat itu. Bayangan kak evandra tak pernah mau berhenti dimataku sampai aku berada dikamar hotel berdua dengan Harry.
“jangan sentuh aku”. Tolak ku ketika Harry berusaha memelukku.
Harry tentu saja kaget dan ia menatapku tak berkedip. Dia menggeleng lantas duduk di sofa.
“aneh…kamu benar-benar aneh….oh ya, siapa nama mu?”
“Alice”
“nama yang indah, orangnya juga cantik.”
“nama mu siapa?”.
“Harry.”
Nama yang gagah…se gagah orangnya batinku. Harry bukan Cuma tampan tapi juga tampak berpendidikan. Tapi kenapa dia mau melakukan semua ini?
“kenapa kamu menolak ku, bukahkah kamu sudah mengeluarkan uang banyak untuk memenangkan arisan ini?”
Aku menatap harry sekilas, bayangan kak evandra lagi-lagi memenuhi ruangan mewah ini. Dia seperti mendiamiku namun dari tatapan matanya aku tahu sedang menghakimiku. “istri yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.” Begitu sepotong kata yang dikatakan bayangan kak evandra.
“aku tidak bisa mengkhianati suami ku, dia terlalu baik untuk kuperlakukan seperti ini. Kamu bisa mengerti aku kan?”
“iya, tapi…untuk apa kau ikut arisan gila ini kalau hanya akan membuatmu merasa berdosa dan menyakiti dirimu sendiri.”
“aku terpaksa, karena desakan teman-teman. Aku sudah berusaha menolak tapi aku tidak berhasil. Dan sialnya aku mendapat giliran pertama. Aku tahu ini gila, tapi aku tidak mau semakin gila dengan bercinta dengan mu.”
“oke, apa rencanamu?”
“kita mengobrol saja.”
“baiklah.”
@@@
Sejak saat itu aku jadi sering bertemu dengan Harry, tapi kami tidak lebih dari sekedar mengobrol. Ketemupun paling Cuma di café atau di mall.
“kenapa kamu mau dijadikan kunci arisan?” tanyaku suatu hari saat aku bertemu dengan Harry.
Harry tidak langsung menjawab, dia melihatku dengan senyumannya yang khas. Ia menyeruput kopinya lalu diam beberapa saat. Aku menunggu.
“aku juga sebenarnya tidak ingin seperti itu, tapi ngga taulah waktu membawaku kemari. Awalnya aku terjebak dengan hutang dan perlu uang banyak, aku bertemu seseorang dan kemudian dia menawarkanku pekerjaan ini. Lumayanlah menurutku”.
Harry tersenyum kecut, tidak bisa dipungkiri jauh dilubuk hatinya tersimpan seribu perasaan bersalah dan penyesalan.
“kamu sudah menikah?”
“belum”.
“kenapa?”
“tidak ada perempuan yang layak untuk dinikahi dan dijadikan istri.”
“maksud mu?”
“setiap hari aku melihat perempuan yang mengkhianati suaminya, itu membuatku berubah image tentang kesetiaan perempuan. Tidak ada yang bisa dipegang omongan mereka, mengaku setia pada suami tapi tetap saja bermain dibelakang.”
Aku terdiam. Mungkin secara tidak langsung harry tengah mengataiku. Aku merasa terpojok.
“suatu saat nanti kau pasti akan temukan pasanganmu, Ry. Yakinlah pada kebesaran Tuhan, asalkan kau juga berusaha untuk terus memperbaiki diri. Yang terbaik hanya untuk orang-orang pilihan. Yang kita lihat baik belum tentu baik, sebaliknya yang menurut kita tidak baik bisa jadi itulah yang baik. Yang penting kau harus berani membuat keputusan.”
Lama aku terpekur setelah sampai dirumah. Aku merasa malu dan tidak berarti. Bayangan-bayangan kak evandra semakin berkelebat dan menghakimiku. Aku merasa tidak pantas mengajari Harry sedang diriku sendiri hancur berantakan. Aku sendiri belum bisa menjadikan diriku panutan sebagai istri yang baik dan taat pada suami. Setidaknya didepan Harry.
@@@
“aku mau keluar dari arisan ini.”
Kabar itu ku sampaikan ketika ada arisan berikutnya di café tempat biasa. Semua teman-teman melihatku, ada yang sinis ada juga yang biasa-biasa saja.
“kenapa Lice?”
“ini bukan dunia ku, aku tidak bisa terus-terusan mengkhianati suami ku.”
Vivian mencibirku dan memandangku dengan pandangan yang tidak menyenangkan. Aku menduga setelah ini pasti mereka akan menjauhi ku tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak mau kehilanan suami dan anak-anak ku gara-gara ide arisan yang gila ini.
Aku menjajali langkah dengan seribu perasaan lega dihati. Langit agak mendung diatas sana, tapi hatiku berbinar-binar. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan dan aku tidak peduli. Aku ingin berjalan kaki menyusuri lorong rumahku. Benar saja, hujan turun dan aku basah kuyup.
“dari mana Yang kok basah-basahan…”.
Suara kak evandra mengagetkan ku.
“kakak…kapan pulang?”.
“kamu lupa kalau hari ini harus menjemput kakak ke bandara?”
“masyaAllah….”.
Serta merta aku memeluk suamiku dengan air mata yang berurai. Tak kupedulikan dia yang terkaget-kaget melihat sikapku yang aneh. “aku mencintaimu kak”. Dan suamiku semakin tidak mengerti.

Rumah Hilman
12:00
17/11/06

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis