Langsung ke konten utama

jatuh cintalah untuk bisa menulis

kalau ditanya pada saya, apa yang membuat mu semangat menulis? jawabannya karena saya sering jatuh cinta.
lho? kok bisa?
iya, mengenal BC membuatku sering menulis, melahirkan ide-ide kecil untuk ditulis walau waktu itu cuma sebatas pada lembar-lembar diary saja. kebiasaan ini akhirnya jadi kenikmatan tersendiri, saat lama tidak menulis sepertinya ada yang kosong dan hilang. aku semakin senang ketika mendapat kan job menulis diary dari teman untuk diberikan kepada mantan pacarnya, sampai tengah malam aku mengulik lembar demi lembar untuk menuliskan isi hati teman ku itu. aneh juga kalau dipikir-pikir, dia yang putus cinta kok isi hatinya disuruh tulis pada saya. inilah kelebihan orang-orang yang bisa menulis, kerahasiaan hati terjamin dengan aman.
kemudian ketika mengenal Z ide ku seperti tidak pernah kering lagi, setiap malam selalu saja ada puisi atau cerita untuk ditulis. begitujuga saat mengenal U, mengenal N...hidup ini semakin hidup dengan cerita-cerita yang terinspirasi dari mereka.
cinta tidak harus cinta yang sempit maknya, tidak terlepas dari ruang lingkup hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling menyukai satu sama lainnya. tapi cinta yang luas dan tidak terbatas pada sekat-sekat. mencintai keluarga, mencintai sahabat, mencintai alam, mencintai sang Pencipta.
lalu apa yang bisa ditulis dari mencintai tersebut?
banyak sekali, tulislah kekesalan mu, tulislah kerinduanmu, kegilaanmu, kenakalan dan kekurang ajaran mu. tulis semuanya tanpa memberi ruang pada ketiadaan kata-kata. jatuh cintalah pada lawan jenismu dan saya yakin sampai tengah malam pun mata akan sanggup menjaga. jatuh cintalah pada alam, dan kau tidak akan pernah kehabisan ide untuk menuliskan keindahan laut, keindahan sungai, juga alam yang semakin rusak. jatuh cinta lah pada teman-teman mu maka kau tak akan pernah lelah menuliskan puisi persahabatan.
tapi...
seorang kekasih, seorang teman, dan alam adalah sesuatu yang tidak kekal. suatu saat dia akan musnah, maka cintailah yang kekal agar ide untuk menulis juga tidak punah.
jatuh cintalah setiap hari pada Allah, dan Dia akan memberikan kucuran ide setiap waktu untuk mu. setiap langkah yang berjalan akrena Allah akan menjadi langkah penuh hikmah dan berkah, begitu juga menulis.
menulislah karena Allah karena itu akan menjadi amal yang tidak tergantikan sampai kapanpun, selamat menelurkan ide dan jangan lupa menetaskannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis