nostalgia dipagi hari

pagi ini, sebelum matahari tinggi sekali. sebelum memulai menulis memoar cinta orang biasa yang super panjang itu aku ingin sedikit bercerita tentang hari ini dan kemarin. bangun tidur pagi tadi sebelum ke kamar mandi untuk mandi tentunya pikiran telah direcoki kerudung apa yang akan kupakai nanti. tidak seperti biasanya, dari kemarin persoalan kerudung apa yang akan dipakai hari ini terus kepikiran. pasalnya gamis berwarna hijau lembut telah tergantung sejak kemarin siang.
"sudah lama tidak memakai gamis." batinku ketika menyetrika baju kemarin. entah kenapa tiba-tiba keinginan untuk memakai gamis begitu kuat kemarin.
setelah mandi, buka lemari, lama kubiarkan pintunya menganga. "tak ada yang cocok." gumam ku lagi.
kerudung krem yang biasanya ku padukan dengan gamis hijau itu belum disetrika, kemarin belum kering dan pagi ini aku tidak mau direpoti dengan urusan setir menyetir alias menyetrika.
***
memakai kerudung memang bukan lagi satu hal yang istimewa di negeri ini, dari anak taman kanak-kanak sampai nenek-nenek memakainya, yang istimewa adalah hakikat dari memakai kerudung itu sendiri. setidaknya itulah yang ada di kepalaku sampai sekarang, untuk apa aku berkerudung? sekedar menghilangkan panas sengatan matahari saja kah? mungkin iya, atau cuma ingin ikut trend saja? maklum, sekarang kerudung juga bisa jadi ajang gaya-gaya an. atau...karena takut ketangkap WH? yang jelas alasan yang terakhir ini bukan, karena jauh sebelum aku tahu apa itu WH insyaAllah kerudung sudah kupakai.
sejak sltp aku sudah mengenal kerudung, itupun karena diwajibkan memakainya di sekolah. tapi sepulang sekolah kerudung menjadi pajangan di gantungan belakangan pintu. begitu seterusnya sampai sekolah menengah selesai. tidak ada yang mengesankan dari cerita kerudung selain sedikit kenangan di awal tahun 1999 lalu. ketika orang-orang gerakan mulai muncul kepermukaan. razia baju ketat dan kerudung sangat santer ketika itu. tapi tidak untuk saya yang sehari-hari sama sekali tidak peduli dengan penutup kepala itu. ketika sltp keluyuran dijalan dengan baju you can see dan celana pendek diatas lutut memang menjadi pilihan, ketika lebaran jelan jeans dan kemeja laki-laki menjadi kewajiban, plus kerudung yang ukurannya cuma 90 cm. awal-awal smu kegemaran memakai pakaian minimalis masih berlanjut meskipun kalau pergi jauh sudah memakai kerudung 90 cm itu.
back to orang gerakan. ketika smu aku tinggal bersama nenek, setiap sabtu siang pulang kerumah orang tua karena esoknya libur. seperti biasa, celana pendek selutut, dan baju kemeja puntung jadi pilihan.
"tidak pakai jilbab?" begitulah tanya nenek sekaligus mengingatkan, kalau sekarang sedang heboh rajia jilbab oleh mereka.
"enggak nek."
"nanti dipotong rambut lho heheh..." nenek sedikit melucu
"enggak." jawabku yakin.
begitulah...keras kepala. rambut memang sudah pendek, apanya yang mau dipotong lagi. begitu pikirku waktu itu.
malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, bukan malang sebenar-benar malang memang. hanya sedikit teguran barang kali bagi si keras kepala ini.
ketika akan sampai kerumah entah darimana datangnya serombongan orang gerakan, mereka naik mobil carry waktu itu. melihatku yang tidak memakai kerudung dari jauh mereka sudah memberi aba-aba agar segera memakai kerudung. gawat!!!
"cepat pake jilbab" komando bang Yon, saudara yang mengantarku pulang sore itu.
"ngga ada." jawabku dari belakang.
"apa yang ada ajalah."
apa yang ada gimana? protesku dalam hati. terus kalaupun kepala ditutu lutut tetap kelihatan, sama aja batinku kesal.
"udah?"
"belum."
aku jadi panik juga dibuatnya, sementara jarak dengan mereka sudah makin dekat. dalam kepanikan itu tiba-tiba teringat kalau ditas ada jilbab sekolah yang udah kotor, niatnya tadi dibawa pulang untuk dicuci, itu pun jadilah pikirku. sedangkan lutut ku tutup dengan tas sekolah.
setelah mereka lewat dan udah aman untuk melepas kerudung dadakan itu meledaklah tawa kami. pun begitu kaki masih agak gemetaran juga.
***
awal-awal kuliah masih betah dengan kerudung 90 cm itu. plus jeans cowok dengan baju-baju kaos yang enak dan nyaman dipakai. aku memang kurang menyukai celana-celana jenas perempuan, lebih nyaman dan pd pakai jeans cowok yang panjang menutup mata kaki, plus sepatu sport yang keren abis...bisa jalan cepat sih, ngga perlu angkat-angkat rok kalau mau nyebrang jalan. alasan yang terlalu berlebihan untuk membenarkan diri sendiri.
entah gimana caranya, dari yang awalnya mau masuk mapala kok malah jadi nyasar ke rohis. untuk ikut diklat dasarpun harus minjem rok punya teman se kost. dan gamis pertama pun kupakai pada lebaran di tahun itu. mantan pacar pun kaget melihat perubahan itu...heheheh...soalnya dulu waktu masih pacaran sama dia sering kali diingatkan untuk pakai kerudung, tapi aku tetap keukeuh dengan celana pendek, aku paling tidak suka diatur-atur.
***
kupandangi gamis hijau lembut ku dengan kagum, rindu sekali rasanya. sudah beberapa bulan terakhir tidak pernah kupakai lagi. akhirnya ku temukan juga kerudung yang bisa dipadukan dengannya. matahari mulai tinggi. dan aku selesai bernostalgia

Komentar