Langsung ke konten utama

Dua Pertanyaan

dua pertanyaan sebagai pembuka. Pertama, siapa orang yang telah membawaku ke masa depan? Ke dua, masa-masa apa di masa lalu yang ingin terus kubawa di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Bila kedua pertanyaan itu dilontarkan kepadaku, maka aku akan menjawab bahwa orang itu adalah kamu, dan masa itu adalah masa bersamamu.

Tentang mengapa harus begitu, akupun tidak begitu mengerti, aku hanya tidak ingin melukai perasaanku saja, aku hanya ingin memberikan apa yang diinginkan oleh perasaanku yaitu kamu. Lalu, sebagai seorang yang dianugerahi akal dan pikiran, akupun mencoba mengawali perasaanku dengan sesuatu keabstrakan bernama logika. Walaupun, kadangkala kita seringkali menyepelekan hal yang satu ini, bila membicarakan tentang ini kita sering sekali mentertawakannya, takdir yang aneh.

Lalu, bila ada yang mengembangkan pertanyaannya menjadi di mana masa-masa itu akan dilalui? Dengan enteng aku akan menjawab; ada di ingatan dan pikiranku, juga di jiwa dan hatiku, mengapa? Karena aku ingin hidup bersamamu, tanpa atau dengan jasadmu.

Banyak yang tidak kupahami dalam hidup ini, kepercayaan, budaya, adat istiadat, kadangkala harus berperang melawan hati nurani, tidak tahu mana yang harus didahulukan, bila terlalu mengutamakan beberapa hal di atas maka hati nurani menjadi terbelenggu, aku tidak akan pernah menjadi manusia bebas seperti yang kuinginkan, terlalu banyak pantangan-pantangan yang diciptakan oleh kebiasaan turun temurun.

Tetapi bila menuruti hati nurani, maka akan menyerikan kebiasaan itu sendiri, maka mencintaimu biarlah menjadi rahasia hati yang menakjubkan, bila dengan itu aku hidup, mengapa aku harus memilih mati. Aku akan terus hidup dengan engkau yang terkurung di dalam hati.

Kukira, bukan kebetulan Tuhan mempertemukan kita, agar aku bisa belajar mencintai proses bagaimana menjadi dewasa, bahwa seorang yang dewasa tentu akan bisa menghargai dan menghormati perbedaan, dan, kita sendiri adalah perbedaan itu, jadi, kita adalah pelengkap dari semua rasa yang kita inginkan; persahabatan, saling mengasihi dan sesuatu yang hanya bisa aku katakana kepadamu saja.

Tapi, aku menemukan keajaiban dari perbedaan kita, kau yang tiba-tiba menjadi pantom di hadapanku, menyaksikanmu dalam diam, bergerak pelan, berbicara ringan hingga akhirnya kita tergelak, terpesona oleh kemistisan waktu yang tercipta setelah jeda yang cukup panjang.

Aku hanya ingin menjadi sederhana agar bisa mencintaimu dengan kesederhanaan itu sendiri, karena hanya kesederhanaanlah yang bisa memberikan kebersahajaan. Karena aku, ingin hidup tanpa atau dengan jasadmu, seperti hati yang nyata dan jiwa yang abstrak.

11.46 pm

01.04.11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n